
(POV) Fatimah
Saat mendengar cerita bu Fira seorang wanita cantik dan kaya raya dari kota kalau mantan kekasihnya bernama Dewanta. Aku ingat kisah kak Dewanta saat kami sama-sama berterus terang tentang masa lalu kami. Waktu itu kak Dewanta bercerita kalau dia telah memutuskan hubungannya dengan kekasihnya yang bernama Fira demi untuk menikah denganku, wanita yang dijodohkan orang tuanya.
Hari ini diacara pengantin saat kak Dewanta bertemu bu Fira, ternyata benar kalau mereka dulu adalah sepasang kekasih. Terus terang aku merasa minder bila berada didekat bu Fira, dia benar-benar wanita yang nyaris sempurna kalau dibandingkan aku dan dia bagaikan bumi dengan langit.
Apa benar kak Dewanta telah melupakan bu Fira. Wanita yang begitu mempesona hanya karena aku wanita desa. Sekarang aku jadi ragu dengan cinta kak Dewanta kepadaku, apa benar kata-kata bu Fira tempo hari kalau Dewanta hanya pura-pura mencintaiku demi kebaikkan kita semua. Kalau memang itu benar betapa tersiksanya hidup kak Dewanta selama ini, hidup dengan wanita yang tak dicintai dan memendam cinta pada wanita lain.
Permasalahan ini benar-benar membuatku dilema. Tuhan apa yang mesti ku perbuat. Apa aku harus diam saja pura-pura tidak tahu dan tak perlu perduli dengan perasaan mereka berdua, tapi rasanya aku tak tega. Jika aku melepaskan kak Dewanta untuk bahagia dengan bu Fira, kok rasanya aku tidak sanggup, membayangkan mereka bersama rasanya sakit sekali, belum lagi bagaimana perasaan Zahwa dan kedua orang tuaku.
Membiarkan kak Dewanta poligami itu lebih menyakitkan, rasanya aku tidak sekuat itu. aku jadi ingat kalau bu Fira bersedia jadi yang kedua karena cintanya yang begitu besar pada kak Dewanta.
"Sayang kenapa sih kamu murung terus semenjak kita pulang dari pengantin tadi," ucap kak Dewanta sembari berbaring disampingku dan memelukku.
"Sepertinya ada sesuatu yang kamu sembunyikan, cerita, siapa tahu aku bisa ngasih solusinya," kak Dewanta membelai rambutku.
"kak, apa kakak masih cinta dengan ibu Fira," aku bertanya pada kak Dewanta karena aku sudah tidak sabar mendengar pengakuan kak Dewanta, namun kak Dewanta malah tersenyum.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu, apa kamu cemburu, apa aku nampak seperti masih mencintainya atau dia yang seperti mencintaiku," jawaban kak Dewanta seolah sedang meledekku, atau dalam hati dia aku hanya wanita bodoh yang gampang dibohongi.
"Aku tahu kalian masih saling mencintai, aku juga tahu kakak selama ini hanya pura-pura mencintaiku," tangisku pecah, rasanya aku sudah tak sanggup menyimpan perasaanku.
__ADS_1
"Sayang kenapa kamu sedemikian tidak percayanya kepadaku. ingat sebuah biduk rumah tangga yang kokoh harus dilandasi rasa saling percaya satu sama lain. Aku tulus mencintaimu, bahkan aku jatuh cinta padamu sebelum kita menikah," ucap kak Dewanta seraya merengkuh tubuhku masuk dalam pelukannya.
"Itu tidak masuk akal kak, mana mungkin kakak semudah itu jatuh cinta dan melupakan dia yang begitu sempurna, cantik, berkelas, kaya raya sedangkan aku cuma perempuan desa yang begitu gampang dikelabuhi oleh kakak dengan pura-pura cinta demi menyenangkan orang tua kakak.
"Zahra, kenapa kamu bicara seperti itu, kenapa kamu jadi meragukan perasaanku yang selama ini aku jaga hanya untukmu. Memang dia cantik dan kaya, dulu aku cinta sama dia, tapi itu dulu sebelum aku mengenalmu," teriak kak Dewanta.
Seandainya dia datang ingin kembali pada kakak, apa kakak akan menerimanya," tanyaku pada kak Dewanta.
Tentu saja tidak, karena aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup. Aku telah memilihmu dan aku telah mengucapkan janji suci pernikahan maka pantang bagi aku untuk menghianati janji yang pernah aku ikrarkan dihadapan Tuhan dan juga manusia," ucap kak Dewanta masih dengan nada tinggi.
"Tapi dia masih mencintaimu kak, bahkan dia pernah berucap dia rela menjadi yang kedua demi cintanya pada kakak," ucapku ingin tau bagaimana tanggapan suamiku.
"Itu hak dia, hak dia untuk mencintai siapapun yang dia mau. Yang penting dia tidak memaksaku untuk kembali padanya dan andai dia memaksapun hak aku untuk menolak demi utuhnya biduk rumah tanggaku, Zahra, kamu tidak perlu khawatir aku akan berpaling darimu. Karena bagiku cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang ada setelah pernikahan, cinta yang ada sebelum pernikahan itu namanya nafsu. Aku tidak mungkin meninggalkan wanita yang halal bagiku demi wanita yang haram untukku. Kamu tahu sesungguhnya dia bukan mencintaiku, dia cuma berambisi untuk memilikiku," ucap kak Dewanta. Sudahlah sayang kamu jangan kebanyakan fikiran. Jangan sia-siakan hidupmu untuk memikirkan masalah yang belum terjadi.
Saat murid-murid berbaris ingin masuk kelas, kulihat bu Fira mengantarkan Dianti dengan mata sembab.
"Apa semalaman dia menangisi kak Dewanta, apa dia masih berniat menjadi istri kedua suamiku setelah mengenal aku sebagai istri kak Dewanta. Hatiku terus berkecamuk. Tapi aku ingat pesan kak Dewanta kalau aku harus percaya bahwa dia akan selalu setia pada janji yang dia ucapkan.
Saat pulang sekolah tiba-tiba bu Fira menemuiku.
"Bu Zahra, saya ingin bicara empat mata sama ibu bisa kan," ucap bu Fira.
__ADS_1
"Oh bisa bu, mari kita bicara didalam kelas, Diantinya diajak saja bu kasian kalau harus nunggu diluar," jawabku.
"Kebetulan tadi Dianti dijemput mamanya. Begini bu Zahra, bu Zahra kan tahu kalau aku dan mas Dewanta dulu pasangan kekasih, kami saling mencintai," bu Fira diam sesaat, sepertinya dia ragu-ragu untuk mengucapkan kalimat selanjutnya.
"Mas Dewanta kan menikah sama ibu karena dijodohkan bukan karena cinta. Aku yakin Mas masih mencintai saya dan begitu juga saya," ucap bu Fira yang ucapannya langsung aku potong.
"Terus maksud ibu apa? Langsung kepokok masalah ya bu," ucapku sedikit emosi.
Saya ingin meminta kerelaan dan keikhlasan ibu, mohon kiranya ibu merestui saya dan mas Dewanta menikah. Sabagai kompensasi saya akan menghibahkan sebagian harta yang saya miliki untuk menjadi milik ibu Fatimah.
Deg....
"Apa begini cara wanita kota berbicara, seolah semuanya akan beres dengan uang. Padahal menurut cerita dia,dia bercerai dengan suaminya karena dia tidak mau dimadu. Tapi seenaknya saja dia mau masuk kedalam rumah tangga orang lain. Apa dia sudah lupa bagaimana sakitnya saat tahu suaminya menikah lagi.
"bu Fira, apa ibu sudah memikirkan masak-masak dalam mengambil keputusan ini, ibu sudah memikirkan baik dan buruknya?," aku bertanya pada bu Fira.
"Tentu sudah bu Zahra, saya ikhlas memberikan sebagian harta saya demi laki-laki yang aku cintai, demi kebahagiaan yang selama ini aku impikan," ucap bu Fira dengan mantap.
"Jujur ya bu Fira, saya tidak tertarik dengan harta ibu, saya tidak mau menukar suami saya dengan harta. saya mau tanya sama ibu, dulu ibu bercerai dengan suami ibu kan karena suami ibu ketahuan menikah lagi, bagaimana perasaan ibu saat tahu suami ibu sudah menikah lagi?
"Tentu saja sakit bu, karena wanita itu merebut suami saya karena tertarik dengan harta suami saya. Makanya saya meminta izin secara baik-baik kepada ibu untuk mengijinkan saya dan mas Dewanta menikah, karena saya menghormati dan menghormati ibu sebagai istri sah mas Dewanta bahkan saya rela melepaskan sebagian harta saya miliki untuk ibu," ucap bu Fira mantap.
__ADS_1
"Begini saja bu, sebaiknya ibu datang saja kerumah saya besok sekitar jam sembilan untuk berbicara langsung sama kak Dewanta kebetulan besok hari minggu, nanti saya sharlok dimana saya tinggal. Kalau begitu saya pamit pulang dulu ya bu Fira," ucapku sambil berlau pergi meninggalkan bu Fira.
********