
(POV) Dion
Kita semua tidak pernah tahu bagaimana perjalanan hidup kita. Begitupun aku yang tidak menyangka akhirnya akan menikah dengan orang yang sangat aku cintai. Bertahun-tahun aku berjuang untuk melupakan Fira, wanita yang telah memutuskan hubungannya denganku akibat ulah Santi.
Aku sempat beberapa tahun menetap di Amerika, rasanya malas sekali pulang ke Indonesia, malas mengingat kenanganku dengan Fira. Sampai pada suatu ketika papa memanggilku untuk meneruskan kerajaan bisnisnya karena papa merasa sudah tua dan ingin segera pensiun.
Dengan berat hati aku resign dari pekerjaanku diAmerika untuk kemudian pulang ke Indonesia. Beberapa bulan diIndonesia aku hanya fokus mengurus perusahaan orang tuaku. Tidak ada niat sedikitpun dihatiku untuk jalan-jalan sekedar melihat keindahan kota. Tapi pada suatu hari mama memintaku untuk membelikan gaun dibutik langganan yang terletak disebuah mall terbesar dikota ini.
Dulu memang aku sering menemani mama membeli gaun, jadi aku sudah faham gaun apa saja yang disukai mama. Saat tengah asyik memperhatikan gaun-gaun cantik aku berfikir, gaun seperti apa kira-kira yang disukai Fira mantan kekasihku.
Saat aku memalingkan pandangan kesebelah kiri, aku melihat seorang gadis tengah memilih gaun begitu santai. Aku seperti mengenal wanita ini ternyata dia adalah Fira, wanita yang baru saja aku fikirkan. Sejenak aku berfikir untuk pergi dari tempat itu, tapi bagaimana dengan gaun pesanan mama.
Aku tidak tahu ada keberanian dari mana tiba-tiba bibirku memanggil namanya dan menyapanya. Akhirnya kami terlibat obrolan serius, aku asal saja bertanya tentang suami atau pacarnya untuk sekedar berbasa basi, dari situ aku tahu Fira tengah sendiri, dia baru putus dengan kekasihnya.
Sepertinya ini adalah kesempatanku untuk mengambil kembali hatinya yang dulu pernah kumiliki. Aku langsung mengajaknya jalan ketempat-tempat kenangan kami dulu. Niat hati ingin membeli gaun untuk mama aku abaikan. Aku tidak perduli mama marah. Aku tidak ingin membuang kesempatanku untuk kembali mengejar kebahagiaanku.
Aku sangat bersyukur karena kini aku bisa memiliki kembali cinta Fira. Cinta yang dulu telah hilang kini kembali lagi. Kami sudah sama-sama dewasa, sudah waktunya menjalin hubungan yang lebih serius.
Pada suatu malam aku menyampaikan niatku untuk menghalalkan hubunganku dengan Fira kepada papa dan mama saat mereka tengah bersantai dibalkon rumah orang tuaku. Mereka pun menyetujui niat baikku dengan bahagia.
"Kapan papa dan mama bisa menemui pak Langit dan bu Dinda untuk melamar putrinya secara resmi," tanya papa yang begitu antusias.
__ADS_1
Bebarapa hari lagi papa dan mama Fira akan pulang keIndonesia. Kita bisa datang kesana untuk melamar Fira, tapi waktu tepatnya nanti Dion bicarakan dengan Fira tunggu informasi selanjutnya Dion, rasanya papa sudah tidak sabar ingin berbesan dengan pak Langit," ucap papa bangga.
Kini kami semua, papa mamaku dan papa mama Fira sedang duduk bersama di kediaman Fira. Setelah selesai acara lamaran dilanjutkan dengan membicarakan rencana resepsi dengan konsep pesta kebun yang akan dilakanakan di villa papa yang letaknya tidak jauh dari pusat kota ini dan semua sudah menyetujui.
Untuk EO dihendle oleh mama karena kebetulan ada teman baik mama yang punya usaha dibidang itu. Sedangkan catering di tangani oleh mama Fira yang mempunyai usaha catering, untuk perlengkapan lainnya adalah urusan kak Gading kakak dari Fira.
Aku dan Fira hanya mengurus berkas pernikahan diKUA.
"Dion aku takut disuntik, " ujar Fira yang duduk disampingku yang sedang mengemudi mobil menuju puskesmas. Sesuai prosedur dari KUA seorang pengantin harus menjalani imunisasi CATEN ( Calon Penganten).
"Engga usah panik jarumnya kecil aja kok, enggak terlalu sakit cuma kaya digigit semut," ucapku yang berusaha menenangkan Fira.
"Pelan-pelan aja ya dok, saya takut disuntik," ujar Fira kepada dokter yang akan menyuntiknya.
Aaaa...
"Sudah selesai," ujar dokter. dengan santainya. Fira pun dengan polosnya bertanya kenapa kok nyuntiknya sebentar sekali. Kemudian dokter menjelaskan kepada Fira.
"kalau disuntik sama jarum kecil tidak usah lama karena sakit, nanti kalau sudah nikah disuntik sama jarum yang besar baru yang lama biar puas," ucap dokter sembari tersenyum. Sepanjang perjalanan pulang Fira terus penasaran kenapa orang menikah harus disuntik dengan jarum yang besar sampai akhirnya dia pun mengungkapkan rasa penasarannya itu kapada Dion. Namun lagi-lagi Dion hanya tersenyum.
"Tidak usah banyak pikiran. Memikirkan yang kamu belum tahu, nanti kamu akan tahu dan aku pun akan menunjukkan bagai mana rasanya disuntik jarum besar, aku jamin kamu ketagihan," ucapku sambil menahan tawa.
__ADS_1
Hari pernikahan yang kami nantipun akhirnya tiba, aku duduk berhadapan dengan pak Langit. semua berkas pernikahan telah lengkap di meja ijab, penghulu dan para saksi pun sudah hadir. Kulihat Fira dituntun oleh mama Dinda dan mama Retno melangkah menuju kearahku. Kemudian dia duduk disampingku, sekilas aku melirik kearahnya, dia begitu mempesona dalam balutan kebaya warna putih. Selanjutnya dibacakan sighat taklik yang berisi tentang hak dan kewajiban suami dan istri.
Papa Fira menjabat tanganku, ada rasa gugup yang teramat sangat, namun aku secepatnya berupaya untuk menenangkan perasaanku dengan cara menarik nafas secara teratur beberapa kali, kutatap wajah pak Langit dengan penuh hormat. Dengan suara yang berat dan berwibawa pak Langit mengucakan kalimat ijab dan langsung kujawab dengan kalimat Qabul dalam satu kali tarikan nafas.
"Bagaimana saksi, sah?," pak penghulu bertanya kepada para saksi dan semua yang hadir. Dengan serentak semua menjawab sah.
Lega rasanya hatiku saat ini, Fira segera menyalamiku dan mencium punggung tanganku, aku membalas dengan mencium keningnya. Setelah itu aku menyematkan cincin kawin dijari manis Fira begitu juga Fira, diapun menyematkan cincin kawin dijari manisku. Aku melihat tangan Fira gemetar, beberapa kali cincin itu meleset hampir jatuh dan menjadi bahan candaan semua yang hadir.
Setelah itu kami menanda tangani berkas pernikahan. Selanjutnya kami berdua berfoto dengan memperlihatkan cincin kawin dan buku nikah.
Aku segera menggandeng istriku untuk sungkem kepada kedua orang tua kami. Pertama yang kami datangi adalah papa Langit dan mama Dinda orang tua Fira. Kami segera bersimpuh tuk meminta doa restu kepada beliau.
"Nak Dion, selamat ya, kamu sekarang sudah sah menjadi suami Fira dan menantu kami. Kamu sekarang sudah menjadi bagian dari keluarga ini, selamat datang dirumah kami, bimbing dan didiklah anak kami Fira agar bisa menjadi istri yang senantiasa taat kepada suami dalam hal kebaikan," ucap papa Langit. Dan dilanjutkan oleh mama Dinda yang ikut serta memberikan petuah.
"Selamat ya Fira kamu sekarang sudah jadi seorang istri, taatilah suamimu, mintalah ridhonya dalam setiap langkahmu. Sekarang surgamu telah berpindah yang semula dibawah telapak kaki ibu maka sekarang dibawah telapak kaki suami, ingat itu nak," ucap mama Dinda.
Selesai meminta doa restu kepada orang tua Fira kemudian aku Dan Fira melangkah menuju ketempat papa dan mamaku duduk. Kami segera bersimpuh seperti yang kami lakukan kepada kedua orang tua Fira. papa tiba-tiba menepuk pundakku.
"Kamu tahu Dion, telah lama papa menanti hari ini. Hari dimana kamu mengikrarkan janji suci untuk meresmikan hubunganmu dengan wanita yang kamu cintai. Doa papa selalu untukmu, untuk keluarga kecilmu. Selamat ya nak," ucap ayah yang tak mampu lagi membendung air matanya.
"Rasanya mama tidak mampu lagi berkata apa-apa nak, saking bahagia melihat kamu menikah dengan wanita pujaanmu. Akhirnya doa-doa yang mama panjatlan dipertiga malam terkabul. Terima kasih Tuhan..
__ADS_1
********