Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab. 102. Rasa Bahagia


__ADS_3

(POV) Juita.


Hari bahagia yang aku nanti-nanti pun akhirnya tiba.


"Sah"


Suara serentak yang berasal dari ruang tamu dimana ijab qabul dilaksanakan. Suara itu sontak membuat hawa panas disekitar pelupuk mata hingga butiran kristal bening mengalir melewati pipiku. Rasa haru dan bahagia kini aku rasakan.


Kulirik ibuku duduk menunduk sembari meneteskan air mata. Aku tahu itu bukanlah air mata kesedihan melainkan air mata bahagia.


"Selamat Juita sekarang kamu sudah sah menjadi istri Edi. Bagaimana rasanya menyandang gelar seorang istri?" Santi yang sejak aku dirias oleh perias pengantin hingga kini terus berada disisiku, memberikan selamat dan pelukan hangat.


"Entahlah.... Yang jelas saat ini hantiku rasanya sejuk dan bahagia sekali. Terimakasih ya kamu sudah menemaniku dari pagi.


"Anakku kamu sudah menyandang gelar seorang istri, kamu sekarang milik suamimu, surgamu kini telah berpindah yang semula dibawah telapak kaki ibu sekarang dibawah telapak kaki suami. Maka dari itu taat dan patuhlah senantiasa padanya. Layani dia dengan setulus hatimu, mintalah ridhonya dalam setiap langkahmu," sambil berlinang air mata, ibu menasihatiku panjang lebar.


"Selagi seorang suami bertanggung jawab dan taat menjalankan perintah Allah maka sudah menjadi kewajibanmu untuk menuruti setiap perintahnya. Jangan pernah membantahnya dan jangan pernah menyakitinya," lanjut ibu.


Tiba- tiba pintu kamar terbuka, datanglah ibu mertuaku, melangkah kearahku dengan begitu anggun dan senyum yang menyejukkan hati, berbalutkan busana muslim yang sedang tren saat ini. Sementara di belakangnya, seorang wanita bermata teduh dengan jilbab yang lebar, tersenyum kearahku dengan senyuman penuh pesona.

__ADS_1


"Selamat ya nak, kamu sekarang resmi menjadi menantuku. Tidak banyak yang ibu minta darimu diantaranya, aku titipkan anakku, jagalah dia, sayangilah dia dan cintailah dia baik dalam kondisi sehat atau pun sakit, miskin atau pun kaya senang atau pun susah. Doa ibu senantiasa menyertai setiap langkah kaki kalian berdua, semoga rumah tangga kalian selalu sakinah, mawaddah dan warohmah," ibu mertuaku lalu memelukku dan mencium kedua pipiku.


"Terimakasih bu, sudah mau menerimaku sebagai menantu ibu. Saya berjanji akan selalu melayani, mencintai dan menyayangi putra ibu dalam kondisi apapun," ucapku membalas nasihat ibu mertuaku.


Setelah itu, wanita bermata teduh yang tadi dibelakang ibu mertuaku ternyata bu Zahra istri pak Dewanta, mantan bos aku sewaktu jadi pembrondol sawit.


"Selamat menempuh hidup baru ya Juita, semoga rumah tanggamu samawa selalu hingga tua renta bersama," bu Zahra menyalamiku dan memberikan pelukan. Aku langsung teringat perbuatan busukku yang ingin merebut suami bu Zahra dan menghancurkan rumah tangganya. Betapa hinanya diriku bila ingat masa itu.


"Bu saya mau minta maaf sama bu Zahra, rasanya saya malu sekali jika ingat perbuatan saya waktu itu, saya mohon ampun bu, sekarang saya sangat menyesal atas perbuatan saya dimasa lampao," aku ingin berlutut mencium kaki bu Zahra namun bu Zahra langsung menahannya.


"Tidak perlu kamu berlutut seperti itu, yang penting kamu tidak mengulangi perbuatan buruk lagi baik pada rumah tanggaku dan kak Dewanta maupun pada rumah tangga orang lain," ujar bu Zahra.


Aku hanya bisa menahan tangis menerima nasehat dari bu Zahra yang sedemikian baik.


Aku pun melangkah menuju ruang tamu dengan diiringi ibu mertuaku, bu Zahra Santi dan beberapa istri tetangga mas Edi. Sampai diruang tamu, semua mata memandang kearahku. Ibu mertua menggandeng tanganku melangkah mendekati seorang pemuda tampan mengenakan kemeja putih dilapisi jas warna hitam dan peci warna senada. Dialah mas Edi suami yang barusan menikahikku. Dia tersenyum dan menyambut kedatanganku dengan merentangkan kedua tangannya lalu memelukku, aku pun mencium punggung tangannya dengan penuh rasa haru dan dia membalas dengan mengecup keningku.


Selanjutnya kami segera duduk dihadapan penghulu untuk menandatangani berkas pernikahan dan mas Edi membacakan perjanjian pernikahan yang bertujuan untuk melindungi hak-hak istri juga menjelaskan hak dan kewajiban suami. Kemudian kami berdua menyalami dan memohon restu pada kedua orang tua mas Edi dan Juga ibuku.


Berjalan berdampingan dengan mas Edi kekasih halalku kami menyalami dan memohon restu kepada semua tamu yang hadir dalam acara pernikahan kami yang dilangsungkan dengan cara sederhana namun terasa sangat membahagiakan.

__ADS_1


Kini semua tamu dipersilakan mengambil makanan yang kami hidangkan secara prasmanan dimeja yang telah disediakan.


"Ayo kita ikut makan," suamiku menggandeng tanganku menuju ke meja prasmanan. Tiba-tiba dari halaman rumah terdengar suara ribut-ribut, aku pun langsung mengarahkan pandanganku ketempat dimana terjadi keributan.


"Aku ingin ketemu Juita, wanita sialan, yang sudah membuat suamiku meninggalkanku," Seorang wanita mengenakan Gamis warna marun dengan jilbab warna senada sedang marah-marah ingin menerobos masuk.


"Jangan buat keributan bu, kalau ibu punya masalah sama Juita sebaiknya diselesaikan secara baik-baik," Kulihat pak Dewanta menasehati ibu yang sedang marah tersebut.


"Ayo bu pulang saja, ibu salah faham, aku tidak pernah punya hubungan sama perempuan manapun," Ujar seorang lelaki yang menggunakan celana Jins dan baju kaos oblong berwarna putih.


"Bohong, aku sudah punya bukti, kamu tidak usah mengelak, akui saja kalau kamu itu penjahat kelamin yang doyannya daun muda," wanita itu terua saja marah-marah. Jujur aku sama sekali tidak kenal wanita tersebut, tapi kenapa wanita itu menuduh seolah-olah aku telah mengganggu rumah tangganya.


"Siapa sayang? Kamu kenal wanita dan suaminta itu," mas Edi bertanya sembari menatapku.


"Aku sama sekali tidak mengenal pasangan suami istri itu, sepertinya ini ada kesalah pahaman," jawabku jujur. Sudah lama aku tinggal dikota, dan selama aku berniat menjadi wanita baik-baik, tak sekalipun aku mendekati suami orang apalagi merayunya. Aku benar-benar serius telah meninggalkan dunia hitam.


"Ayo kita kesana, sebaiknya kita selesaikan masalah ini secara baik-baik, kamu harus jelaskan kalau kamu tidak pernah mengenal suami wanita itu, apa lagi sampai berbalas pesan. jangan sampai ada keributan sekecil apapun diacara pernikahan kita," ujar suamiku sembari menggandeng tanganku menuju ketempat sepasang suami istri yang menjadi sumber keributan. Kulihat beberapa ibu-ibu memandangku dengan pandangan sinis dan terdengar bisik-bisik diantara mereka.


"Si Edi itu bodoh apa bodoh sih, wanita perusak rumah tangga orang kok dinikahi. Seperti sudah tidak ada perempuan saja. Padahal banyak lho, perempuan yang kepingin nikah sama Edi, tapi Edinya menolak," suara seorang ibu sedang membicarakanku, aku tidak tahu suara siapa itu, karena aku hanya menunduk tanpa berani menatap siapapun.

__ADS_1


Aku tidak menyangka dalam acara pernikahanku yang begitu bahagia ada insiden yang sungguh mempermalukan keluarga suamiku. Kalau soal perasaanku dan ibuku, mungkin kami sudah terbiasa mendengar cacian dan makian para tetangga. Tapi keluarga mas Edi adalah keluar yang cukup disegani dan di hormati oleh para tetangga disekitarnya. Semoga saja, aku mampu membuktikan kalau aku tidak pernah mengganggu rumah tangga mereka. Hari pertama aku menjadi menantu dirumah ini, ternyata aku telah membuat kedua mertuaku malu. Mudah-mudahan mas Edi dan kedua orang tuanya bisa memaafkan masa laluku.


*********


__ADS_2