
(POV) Juita
Hari ini adalah hari pertamaku kerja, sesuai arahan bi Rasmi, pagi-pagi sekali, aku bertugas menyapu dan mengepel seluruh lantai dirumah pak Galih. Aku harus bekerja dengan giat dan harus bisa mengambil hati tuan di rumah ini. Selesai ngepel lantai aku langsung mandi dengan bersih dan bersolek karena sebentar lagi pak Galih akan bangun dari tidurnya. Aku mengenakan pakaian yang paling indah dan menarik yang aku miliki. Sebuah parfum keluaran terbaru beraroma mawar yang dapat menjadi stimulan **** yang kuat bagi pria kusemprotkan keseluruh tubuhku.
Sekarang waktuku untuk menyusun makanan dimeja makan. Sesekali aku melirik kearah tangga yang menghubungkan lantai satu dan lantai dua tempat dimana kamar pak Galih dan bu Fira berada. Aku menyusun makanan seindah yang aku bisa. Aku harus mengerjakan dengan sebaik-baiknya, mengenai hasilnya kita serahkan saja pada yang Kuasa.
Samar-samar terdengar suara sepatu menapaki anak tangga, yang semakin lama semakin jelas. Suara itu berasal dari lantai dua dimana bu Fira dan pak Galih sekarang berada. Pandanganku menyoroti asal suara tadi. Benar dugaanku, itu adalah suara bu Fira dan pak Galih yang sedang turun dan melangkah kearah meja makan, tempat dimana aku tengah menyusun gelas dan piring untuk makan mereka berdua. Aku segera merapikan penampilanku dengan menggunakan tanganku. Mengibaskan rambutku agar lebih mengembang, memperbaiki belahan dadaku agar terlihat lebih menawan, aku berkaca dicermin yang ada didekat meja makan, untuk melihat kembali apakah pakaian yang aku kenakan sudah memperlihatkan lekuk tubuhku yang indah.
"Woaaah, sepertinya masakannya nikmat sekali pagi ini, selamat pagi Juita, bibi Rasmi mana?" bu Fira menyapaku sembari menghentakan bokongnya dikursi yang ada dimeja makan. Sedangkan pak Galih duduk perlahan dengan sangat elegan tepat disamping bu Fira.
"Pagi bu, bi Rasminya masih mandi, ucapku sembari melirik kearah pak Galih yang duduk tenang tanpa sepatah katapun. Kulihat bu Fira memindahkan nasi, lauk dan sayur kepiring yang ada dihadapan pak Galih. Pak Galih pun tersenyum seraya mengucapkan terimakasih kepada bu Fira. Suatu pemandangan yang sangat romantis sekali. Sayang saat ini pak Galih sama sekali tak memandangku, padahal aku sudah berhias diri dengan maksimal. Mungkin aku harus lebih bersabar lagi, sepertinya butuh waktu dan perjuangan yang panjang untuk bisa menaklukan hati pak Galih.
__ADS_1
"Setelah ini kalian berdua makan dulu ya, setelah itu baru lanjutkan pekerjaan yang lain," ucap bu Fira dengan lembut sambil meletakkan sepotong daging dipiring suaminya dan meminta suaminya agar banyak makan daging agar staminanya terjaga. Pak Galihpun membalas ucapan bu Fira dengan tersenyum dan mengelus punggung bu Fira. Sungguh sikap bu Fira terlihat begitu manis dalam memperlakukan suaminya. Suatu saat aku harus mencontoh sikap manis bu Fira saat aku sudah menjadi istri pak Galih.
"Aku hanya mengiyakan saran bu Fira kemudian pamit untuk kembali kedapur. Rasanya aku merasa sangat cemburu melihat keromantisan mereka berdua. Ya..walaupun dapat aku pastikan, perlakuan manis pak Galih kepada bu Fira tidak akan berlangsung lama karena sebentar lagi pak Galih pasti akan terpikat kepadaku saat melihat bodyku yang bohay, apalagi kalau sudah mencium harum tubuhku yang selalu menggunakan parfum beraroma mawar yang meningkatkan gairah jiwa lelakinya.
Sore seperti biasa aku mencari-cari kesempatan untuk bisa dekat dengan pak Galih. Biasanya pak Galih selalu pulang lebih awal dibanding ibu Fira, namun setelah sampai dirumah, beliau langsung masuk kedalam kamarnya dan tak pernah keluar lagi hingga bu Fira datang. Sehingga aku tidak punya kesempatan untuk mendekati pak Galih.
Tapi hari ini pak Galih sepertinya hanya bekerja setengah hari saja. Setelah pulang pak Galih duduk dimeja makan sambil mengerjakan sesuatu di lap topnya. Mumpung bi Rasmi sedang tidur sebaiknya aku menggunakan kesempatan ini untuk mendekati pak Galih. Dengan pakaian yang menurutku cukup seksi yaitu rok sebatas lutut dengan belahan hingga sebatas paha dan dipadu dengan kaos ketat dengan belahan dada yang turun kebawah, tak lupa pula aku semprotkan parfum beraroma mawar andalanku.
"Oh...boleh....boleh, gulanya sedikit aja ya, kalau kamu tidak sibuk sekalian buat dua cangkir, temani aku minum!!," ucap pak Galih sambil memandangku lekat-lekat dari ujung kaki hingga ke ujung rambut. Kemudian pandangannya kembali menatap lap top yang ada dihadapannya. Aku segera beranjak menuju dapur, dengan penuh semangat segera aku buat dua cangkir, satu untukku dan satu untuk pak Galih. Aku pun segera memasukan obat perangsang dalam minuman tersebut yang dikasih Santi sebelum aku berangkat ke kota. Ternyata selama ini pak Galih terlihat dingin kepadaku hanya dihadapan bu Fira saja, padahal dia selalu mencari-cari kesempatan agar bisa dekat denganku.
Dengan langkah yang aku buat seanggun mungkin, aku menyuguhkan secangkir kopi dihadapan pak Galih dan secangkir lagi aku letakkan dihadapanku. Akupun langsung duduk disamping pak Galih. Tubuh pak Galih ternyata harum sekali, rasa-rasanya aku ingin terus menghirupnya.
__ADS_1
"Tolong aku ambilkan cemilan didapur Juita," ujar pak Galih, aku pun segera bangkit dan melangkah kedapur untuk mengambil beberapa cemilan.
Setelah aku kembali ke meja makan, kulihat pak Galih mulai menyeruput kopi susu buatanku. Hatiku sangat senang, sebentar lagi pak Galih pasti akan memintaku untuk melayaninya diatas ranjang. Untung tadi aku sempat merapikan tempat tidurku. Sebaiknya nanti aku ajak saja pak Galih untuk berhubungan intim di dalam kamarku, aku bisa menguncinya, kemudian kami akan melakukannya berkali-kali. Paling mereka mengira aku tengah tidur dikamarku dan pak Galih masih dikantornya. Kali ini aku akan mengeluarkan segala kemampuanku untuk melayani pak Galih, pokoknya aku harus buat pak Galih ketagihan hingga ingin lagi dan lagi. Aku akan tunjukan kalau kemampuan bu Fira diatas ranjang tidak ada seujung kukunya dibanding aku.
"Kopinya enak, kayanya aku akan sering menyuruhmu untuk membuatkan kopi he...he..., ayo punyamu diminum juga cemilannya dimakan juga itu," titah pak Galih. Dengan penuh semangat aku menyeruput kopi susu milikku. Pak Galih memperhatikan aku sambil tersenyum, rupanya dia sudah mulai tertarik kepadaku.
Deg...deg....suara detak jantung, aku merasa gugup karena sebentar lagi aku akan melepaskan baju yang dikenakan pak Galih, meraba dadanya yang bidang, perutnya yang berotot seperti roti sobek.
"Ayo cepat dihabiskan, sayang kan kalau disisain, nih lihat punyaku sudah habis, habisnya kopi susu buatanmu bikin aku ketagihan," ucqp pak Galih sambil memperlihatkan isi cangkirnya yang telah kosong. Akupun segera menghabiskan kopi susu milikku. Rupanya pak Galih sudah tidak tahan ingin menikmati tubuhku. Pasti saat ini gairahnya sedang memuncak, namun sepertinya dia masih gengsi atau mungkin malu-malu untuk memintaku menemaninya di tempat tidur. Sabar juita, tinggal menunggu beberapa menit lagi, obatnya pasti akan bereaksi.
***********
__ADS_1