Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab. 29. Ternyata


__ADS_3

(pov) Fira


Tuhan maha membolak balikan hati manusia ternyata benar adanya. Sebulan yang lalu hatiku dipenuhi oleh nama Dewanta, aku nekat menghalalkan segala cara demi untuk mendapatkan cintanya kembali. Rasanya malu sekali bila ingat hal itu.


Hari ini tak lagi kurasakan sedikitpun cinta Dewanta bersamayam dibenakku. Sedikit demi sedikit nama itu digantikan oleh Galih. Ternyata hidup ini memang misteri, kita tidak pernah bisa menduga kedepannya kita akan seperti apa.


cinta datang tanpa dapat direncanakan, padahal aku tidak pernah memohon kehadirannya, dia juga tidak pernah ada dalam setiap doa-doa yang senantiasa aku panjatkan. Namun dia hadir begitu saja tanpa mampu aku menolaknya.


Walau cintaku kepada Galih mulai tumbuh namun aku masih ragu untuk memulai kembali, luka yang ditorehkan kedua lelaki yang pernah menjalin cinta denganku sungguh telah meninggalkan trauma besar dalam hidupku.


Ting...


Sebuah pesan masuk, aku segera mengambilkan ponsel yang ada di dalam tasku. Ternyata dari Galih. tadi aku memang sempat bertukar nomor ponsel dengannya.


"Aku sudah sampai diapartemenku, kamu sudah mandi?," ternyata Galih yang mengirim pesan padaku.


"Aku, sudah mandi, sudah makan, sekarang mau siap-siap bobo,"balasku.


"Sama ternyata, aku mau bobo, kamu hadir ya dalam mimpiku nanti aku juga akan berkunjung kedalam mimpimu," pesan Galih membuat aku tersenyum-senyum sendiri. Cinta oh cinta, begitu indahnya. Aku segera menarik selimutku hingga sebatas dada, kupejamkan mataku sembari membayangkan wajah Galih dengan senyum yang tersungging dibibirku.


Ting....


Ada satu pesan masuk lagi.


"Kenapa enggak dibalas?,"Galih mengirim pesan lagi.


"Ini lagi memejamkan mata, membayangkanmu agar kita bisa bertemu kembali didalam mimpi," balasku.


"Cepat buat jadwal kamu untuk berkunjung kedesaku . Aku tadi sudah telepon mama dan bercerita tentang kamu, mama senang sekali beliau bu menunggu kedatanganmu," Galih kembali mengirimkan pesan.

__ADS_1


"Tapi aku malu, kalau mama kamu tahu, kalau aku seorang janda," balasku


"Bagi mama tidak masalah aku akan menikah dengan gadis atau janda. Kata mama yang penting laku dari pada jadi jomblo seumur-umur,". emot tertawa.


Aku terbangun saat seberkas sinar mentari menembus ventilasi kamarku. rupanya aku bangun kesiangan. aku segera mandi dan bersiap-siap untuk pergi kekantor.


"Ini makanan darimana bi, pagi-pagi bibi sudah belanja," tanyaku pada bi Rasmi sambil melihat nasi kotak yang ada dihadapanku.


"Itu makanan buat non, tadi ada seorang anak muda mengantarkan makanan kesini. Gebetan non ya, ganteng banget non, kalau ada satu lagi yang kaya gitu buat bibi ya," jawab bi Resmi.


"Bibi ini ada-ada aja, masih niat nih, mau menikah lagi, "selorohku sambil Membaca tulisan yang ada dalam nasi kotak yang isinya nasi goreng.


"Ini asli buatanku, semoga kamu suka dari Galih," ternyata Galih sosok laki-laki yang perhatian dan romantis


Aku telah mengambil cuti selama beberapa hari. rencananya aku ingin pergi berlibur dengan Galih pulang Ke desanya. Semua pakaianku sudah siap, kebetulan kemarin aku membeli beberapa oleh-oleh untuk mama dan papa Galih. pagi ini sekitar jam sembilan rencananya Galih akan menjemputku.


"Kamu Sudah siap Fira, sudah minum obat mabuk perjalanan, " ucap Galih menggodaku.


"Kaya aku suka mabuk perjalanan saja," ucapkan manja, entah kenapa aku merasa nyaman berbicara dengan gaya manja dihadapan Galih.


"Oh, kamu enggak suka mabuk perjalanan, berarti sama dong dengan aku. Kalau aku sukanya mabuk Fira, " ucap Galih seraya tersenyum.


"Mas Gaaliiih!!, " aku mencubit lengan Galih.


Tepat pukul sembilan pagi, aku dan Galih berangkat menuju ke desa dimana Galih dilahirkan.


"Nama desanya apa mas?," tanyaku pada Mas Galih sembari menikmati cemilan yang sengaja aku bawa dari rumah.


"Desa Mentereng," Jawab Galih singkat matanya fokus menatap kedepan melihat jalanan aspal yang sudah mulai rusak.

__ADS_1


"Penduduknya orang jawa semua,"tanyaku lagi. Ya enggalah, campur, terdiri dari banyak suku. kok bisa kamu berfikir kalau penduduk didesaku orang jawa semua?," tanya Galih.


"Dari namanya Mentereng kosa kata dalam bahasa jawa yang artinya indah," jawabku yang dibalas anggukan oleh Galih .


"Perjalanan masih sekitar satu jam lagi, kalau kamu ngantuk tidur aja, nanti kalau sudah sampai aku bangunin, "Ucap Galih.


"Sayang kalau ditinggal tidur, rugi rasanya, mumpung jalan sama cowok ganteng, tatap terus wajahnya!!," ucapku yang membuat Galih tertawa terbahak -bahak sembari mengacak-acak rambutku dengan menggunakan tangan kirinya sementara tangan kanannya sibuk memegang kemudi.


Jam di pergelangan tanganku menunjukkan tepat pukul satu siang. Kami sudah memasuki gerbang desa Mentereng. Tak terasa empat jam telah kami lalui, Dekat dengan Galih ternyata membuatku mampu melupakan kepahitan hidup yang telah aku lalui. Terkadang hati ini ingin sekali merasakan kembali manisnya cinta yang dulu pernah kurasakan. Namun ketakutan akan gagalnya jalinan cinta yang ku alami membuat keberanianku menerima cinta yang datang menghampiri menjadi menciut.


"Akhirnya kita sampai," Ucap Galih setengah berteriak dan membelokkan mobilnya memasuki halaman sebuah rumah beton yang berdiri kokoh diatas tanah seluas seratus dua puluh meter persegi. Galih segera memarkirkan mobilnya di carport rumahnya. kami berdua keluar dari mobil dan berjalan menuju ke teras rumah. Disana berdiri seorang laki-laki dan wanita berusia sekitar empat puluh lima tahun sedang menyambut kedatangan aku dan Galih.


"Ini yang namanya nak Fira, ucap papa Galih sembari menyalami kami. aku segera menyalami dan mencium punggung tangan kedua orangtua dihadapanku. Galih pun melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan.


"Fira, ternyata benar apa yang diceritakan oleh Galih, kamu cantik sekali. Pantas anak kesayangan tante langsung terpesona pada pandangan pertama," ucap mama Galih seraya merangkulku dan mengajak masuk kedalam rumah.


"Kalian pasti cape setelah menempuh perjalanan jauh, sekarang kalian kalian makanlah dulu, mama sudah memasak makanan khas daerah kita hari ini. Nih ada sayur sulur, pepes patin, aseng-oseng mandai, sama iwak wadi. Tapi maaf ya, kalau Fira tidak cocok dengan makanan kampung, bilang aja minta dimasakan apa, soalnya saya belum tahu makanan kesukaan nak Fira," ucap mama Galih.


"Saya dikota juga suka makanan seperti ini tante," jawabku Saat sedang asyik mengobrol, tiba-tiba ada seseorang mengetuk pintu diruang tamu. Mama Galih pamit kepada kami untuk membuka pintu.


beberapa saat kemudian, mama Galih kembali keruang makan dibelakangnya seorang wanita seusiaku bersama seorang anak perempuan.


"Fira, kenalkan ini Santi sepupunya Galih, sedang yang ini Kiran anaknya Santi," aku sangat terkejut bertemu Santi yang ternyata dia adalah sepupu Galih. Aku berusaha menyembunyikan rasa terkejutku dengan mendatangi Santi dan Kiran, kemudian menyalami mereka satu persatu seolah-olah belum pernah mengenal mereka.


"Dia apanya Galih bude," tanya Santi kepada mama Galih.


"Dia teman dekatnya Galih dari kota, dia kesini ingin berkenalan dengan pakde dan bude," Jawab mama Galih.


"Mama, dia kan pelakor, pelakor yang sudah merebut papa Kiran, dia yang sudah membuat papa dan mama bercerai," ucapan Kiran membuatku terperangah, bagaimana mungkin dia bisa menuduhku seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2