
(POV) Santi
Pagi ini aku bersama orangtua angkatku pak Tono dan bu Tini berangkat untuk menemui kakek dan nenek kandungku. Ibu dan ayah naik sepeda motor berdua. Sedangkan aku naik motor sendiri mengikuti mereka dibelakangnya.
Aku terus memutar gas menambah laju kecepatan sepeda motorku, agar tidak ketinggalan oleh ayah. Ayah sudah tua, tapi kalau naik sepeda motor tidak bisa pelan seperti anak muda saja. Kami berkendara dijalan-jalan berdebu dan berbatu karena aspalnya sudah rusak. Ratusan Hektar kebun sawit milik warga telah kami lalui. Aku seperti mengenal jalan ini. Sejenak aku berfikir. Oh....bukankah ini masih masuk area desa Padang Sawit.
Saat ini kami berada dipersimpangan, jika kami berbelok kearah kiri maka kami akan menemui pemukiman warga desa Padang Sawit, namun jika berbelok kekanan maka kami akan melalui ratusan atau bahkan ribuan hektar kebun sawit milik warga dan juga perusahaan.
Ternyata ayah dan ibu belok kanan, aku jadi penasaran, dimana nenek dan kakakku tinggal, seharus dipemukiman warga, ini kok malah kearah hamparan sawit yang luas dan tidak ada pemukiman warga. Masa sih kakek dan nenekku bukan manusia, tapi tidak mungkin soalnya tidak ada yang aneh dengan diriku sebagai keturunannya.
Setelah beberapa saat ibu dan ayahku pun berbelok memasuki halaman rumah yang ada pohon beringinnya yang tumbuh dengan rindang membuat udara disekitar sini terasa sejuk. Aku juga langsung berbelok mengikuti ayah dan ibu. Sekitar lima puluh meter dari badan jalan tampaklah sebuah rumah panggung yang sederhana berbahan kayu dan beratap seng yang sudah berkarat.
Tok... tok... tok...
"Assalamualaikum nenek Sumilah, kakek Warjo" ibu mengetok pintu sekaligus mengucapkan salam. Setelah menunggu beberapa menit pintu pun terbuka dan muncullah nenek tua renta dengan memakai kain jarik dan kebaya yang sudah usang.
__ADS_1
"Tono, Tini kalian datang ayo masuk, kekkkk.... kekkkk ayo bangun!!, ini Tono dan Tini datang, " nenek-nenek itupun langsung mempersilakan kami untuk masuk.
"Mari silakan duduk, itu kakek baru bangun, sini kek, " sambung nenek. Kamu bertiga pun langsung menyalami dan mencium punggung tangan kakek dan nenek dengan begitu takzim.
"Nek, kek kami kesini ingin mengenalkan Santi cucu kalian, dia sudah mengetahui dari mana asal-usul dia dan ingin bertemu dengan kalian. Santi ini kakek dan nenekmu yaitu nenek Sumilah dan kakek Warjo," ucap ayah. Aku dan nenek Sumilah langsung berpelukan.
"Ya.. ampuuuunnn, cucuku sudah besar dan cantik, aku percaya kalian pasti sudah mendidik Santi dengan baik," ucap nenek Sumilah dengan mata berkaca-kaca. Setelah itu aku juga menyalami kakek Warjo dan mencium punggung tangannya, kakek juga langsung memelukku.
"Maafkan kakek cucuku!!, kami memberikanmu pada Tono Dan tini karena menurut kami itu yang terbaik untuk keselamatan dan masa depanmu," ucap kakek. Pandangan kakek mengarah kepada wanita tua belahan jiwanya yang menemaninya selama puluhan tahun.
"Ayo kalian semua silakan di minum airnya dan ini juga cemilannya, cuma ada singkong rebus," ucap nenek Sumilah. kami semua pun mencicipi suguhan nenek Sumilah dengan hati penuh rasa syukur.
Aku memandang keseluruh sudut ruangan rumah nenek Sumilah dan kakek Warjo, rumah ini tampak sudah tua sekali, dinding-dindingnya mulai terlihat jabuk, atapnya pun sepertinya banyak yang bocor bila hujan. sungguh miris sekali kehidupan nenek. Apalagi rumah ini tampak terpencil, tak ada tetangga, kalau ada orang jahat tak ada yang menolong mereka. Sayangnya, aku tak dapat membantu mereka, keadaanku juga seperti ini. Andai aku mempunyai banyak uang, mungkin aku akan membelikan rumah yang layak dan berada di pemukiman penduduk.
"Nek, kek, kenapa kalian tinggal ditempat sepi seperti ini, tak ada tetangga, bagaimana kalau ada bahaya. Tak ada yang akan menolong kalian, " tanyaku pada kakek dan nenekku, namun mereka hanya diam bahkan nenek terlihat menitikkkan air mata.
__ADS_1
"Sebenarnya dulu kami tinggal di desa Padang Sawit yang banyak penduduknya. Namun saat ibumu membunuh pak Hamdan dan menyebabkan istrinya juga ikut meninggal, semua tetangga mencemooh dan membenci kami, kehidupan kami menjadi tak tenang. kemanapun kami melangkah sorot mata tetangga selalu mengawasi, mencurigai dan memandang sinis terhadap kami. Belum lagi kedua anak laki-laki pak Hamdan yang selalu datang meneror dan mengancam ingin membunuh kami berdua. Akhirnya kami pun meninggalkan desa Padang Sawit dan memilih tinggal ditempat tersembunyi. Sesungguhnya sekarang penduduk desa sudah kembali baik dan tidak ada lagi yang membenci kami, namun rumah kami yang ada didesa Padang Sawit sudah hancur karena termakan usia. Kami tak mampu membangunnya kembali karena pekerjaan kami sebagai pembrondol sawit hanya cukup untuk makan," ungkap kakek.
"Sekarang bagaimana kabarmu nak, apakah kamu sudah bekerja atau sudah berumah tangga," tanya nenek sembari menatapku. Pertanyaan nenek membuatku teringat segala kelakuanku yang tidak terpuji. Seandainya aku bekerja dengan tekun dikota, mungkin aku sudah bisa hidup nyaman dan ketemu jodoh lelaki yang baik kemudian kami membina rumah tangga yang bahagia. Namun dimana pun aku berada aku selalu membuat hati para istri takut kehilangan suaminya. Berulang kali aku diberhentikan kerja karena terlibat skandal dengan para petinggi perusahaan dan hasil akhirnya selalu saja, para lelaki itu kembali kepada anak dan istrinya, mereka lebih takut kehilangan keluarga kecilnya dibandingkan aku.
Akupun lantas menceritakan semua pengalaman hidupku yang terbilang sangat memalukan kepada kakek dan nenek. Dan aku berjanji tidak akan mengulangi perbuatan bodoh lagi. Aku ingin memperbaiki diri mengikuti nasihat kedua orangtua angkatku. Aku juga menceritakan kalau aku mempunyai anak diluar nikah dari hasil perbuatan busuk yang aku lakukan terhadap laki-laki. Sekarang anakku ikut papanya.
"Baguslah kalau kamu segera menyadari semua perbuatanmu dan Tuhan masih memberi umur panjang untuk kamu memperbaiki diri. Meminta maaflah kepada orang-orang yang telah kamu sakiti. Ada baiknya kamu mengetahui siapa orangtuamu sebenarnya, sehingga bisa kamu jadikan pelajaran pengalaman buruk almarhumah ibumu,, semoga juga anakmu kelak tidak mengikuti jejakmu," ucap nenek. Aku pun membenarkan ucapan nenek dengan menganggukan kepala.
Setelah berbincang-bincang cukup lama, kami pun pamit untuk pulang, aku meninggalkan beberapa lembar uang berwarna merah hasil aku menjadi buruh cuci dan setrika baju dirumah tetangga. Semula kakek dan nenek menolaknya, namun karena aku terus memaksa akhirnya mereka pun menerima pemberianku.
Setelah ini karena Kiran tak lagi bersamaku, maka aku akan pergi merantau ke kota untuk melamar pekerjaan. Sebenarnya dulu karirku lumayan bagus. Atasanku sangat menyukai kinerjaku yang cekatan dan aku juga mempunyai otak yang lumayan cerdas, namun sayangnya dulu aku memanfaatkan situasi itu untuk berbuat yang tidak baik.
Sebelum pergi mencari pekerjaan, hal yang pertama aku lakukan adalah meminta maaf kepada orang-orang yang pernah aku sakiti, seperti keluarga pak Dewanta, keluarga Galih dan Fira dan juga Juita. Aku memang tidak pernah menyakiti Juita, namun aku selalu mempengaruhi Juita untuk memanfaatkan situasi dengan mencari keuntungan pribadi demi kebahagiaan di masa mendatang. Karena Juita terbilang labil diapun selalu mengikuti saranku. Padahal apa yang kami dapat dari perbuatan ini, bukan kebahagiaan tapi justru kehancuran dan penyesalan tiada akhir. Semoga pengalaman hidupku ini menjadi pelajaran bagi orang lain yang menginginkan memiliki kekayaan secara instan.
*******
__ADS_1