Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab. 34. Bertemu Bude


__ADS_3

(pov) Galih


setelah melihat air terjun diwisata air panas, aku langsung mengajak Fira pulang karena hari sudah sore. Aku terus mengendarai sepeda motorku menyusuri jalan-jalan yang sepi disepanjang pematang persawahan. Indahnya lembayung senja disore hari menghiasi langit biru, menambah indahnya suasana disore ini.


tangan Fira terus melingkar dipinggangku, membuat hatiku tenteram dan nyaman, ditambah udara yang semakin sore semakin terasa sejuk membuat kadar bahagia yang ada di dada kian melimpah.


"Mas itu anak membawa apa ya, kok pakaian anak itu penuh lumpur," ucap Fira sambil menunjuk kearah dua orang anak laki-laki yang berumur sekitar sepuluh tahun sedang berjalan berlawanan arah dengan kami.


"Itu kan anak yang tadi siang pergi mencari ikan, coba kita tanya Ikan apa? " ujarku seraya menghentikan laju kendaraanku. Aku memberi isyarat kepada kedua anak itu agar berhenti. Aku parkirkan kendaraannya dipinggir jalan dan melangkah mendatangi kedua anak tadi.


"Dapat ikan apa aja de, boleh lihat,"tanyaku kepada dua anak laki-laki tadi. Tanganku meraih bakul yang ada dalam genggaman anak tadi.


"Belut kak, besar-besar!!, kakak mau beli?murah aja kak , punya aku dua puluh ribu dan punya dia juga dua puluh ribu, buat beli buku sekolah" ujar anak laki-laki tadi menawarkan hasil tangkapannya.


"Oh ya kami beli, bentar ya, " Fira langsung menjawab, dia mengeluarkan uang pecahan seratus ribu sebanyak dua lembar. kemudian menyerahkan uang tersebut kepada dua anak laki-laki tadi.


"Maaf kak, tidak ada kembaliannya karena kami tidak membawa uang," ucap anak laki-laki tadi sambil menyodorkan kembali uang ratusan ribu yang tadi diberikan Fira pada mereka.


"Udah kembaliannya ambil aja buat kalian beli buku, kakak ikhlas kok, " ucap Fira sambil tersenyum ramah. seketika senyum merakah dari bibir mereka, deretan gigi-giginya yang putih terlihat kontras dengan bibir dan wajah mereka yang hitam karena polesan lumpur.


kami terus melanjutkan perjalanan, setelah beberapa meter aku baru ingat Bude Rupiah yang tinggal di desa Padang Gatah, dia paling pintar memasak belut.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita mampir kerumah bude Rupiah yang tinggal di desa Padang Gatah, beliau jago masak belut, kamu bisa minta tolong bude untuk memasak belut, bisa untuk oleh-oleh nanti kalau kita pulang ke kota," ujarku pada Fira. Fira pun menganggukkan kepalanya. Aku langsung mengendarai sepeda motorku menuju rumah bude Rupiah yang kebetulan sudah tidak jauh lagi jaraknya.


"Walah-walah keponakanku yang ganteng, kamu baru datang nak, darimana saja kalian?, apa ini yang namanya Fira," tanya bude Rupiah. Tangannya menyentuh bahu Fira dengan lembut dan menyalami kami berdua. Aku dan Fira lalu mencium punggung tangan bude Rupiah.


"Kami habis jalan-jalan keliling desa lihat pemandangan bude, kok bude tau kalau aku mengajak Fira main ke rumah Galih. Memang siapa yang memberi tahu, " tanyaku kepada Bude Rupiah.


"Tadi pagi Santi yang telepon bude, katanya kamu datang membawa perempuan yang sudah merebut suaminya. Jujur saja seratus persen bude tidak percaya. bude tau sekali selera kamu. Kamu mana doyan perempuan seperti itu," ucapan bude Rupiah membuat aku dan Fira tersenyum.


"Bude kalau ngomong ada-ada aja, sejak kapan Galih doyan perempuan. bude bicara seolah-olah Galih adalah seorang kanibal, " ucap Galih yang membuat bude Rupiah dan Fira tertawa.


"Fira, tadi kamu bawa apa dibakul," tanya bude Rupiah tangannya merai bakul yang dibawa oleh Fira.


"Tadi kami beli belut dijalan bude, mau minta tolong bude buat masakin belut, bude kan jagoan kalau masak belut," sahut Galih.


Setelah belut-belut itu dicuci, bude Rupiah mulai membakar belut-belut itu, untuk kemudian disuwir dan dioseng dengan bumbu yang sudah disediakan.


Sekitar satu jam kemudian, oseng - oseng belut pedas sudah masak.


"Ayo kalian coba rasa masakan bude, itu bude tadi sudah masak juga dipemanas," ucap bude rupiah sembari menata makanan dimeja makan.


"Assalamualaikum bu, ibu masak apa baunya harum sepertinya rasanya lezat sekali," seorang laki-laki berperawakan tinggi besar tiba-tiba masuk kedalaman rumah bude.

__ADS_1


"Bapak ini kebiasaan selalu Saja Kalau pulang kerja bikin ibu terkejut," ucap bude Rupiah sembari mengambil tas dari Badan pakde Dodo.


"lho Ada tamu rupanya, kapan kamu datang Galih, terus ini Fira teman kamu yang datang dari kota? bu tadi Santi nelepon, cerita apa saja tentang Fira sama ibu?, ibu belum cerita lo sama bapak, cerita Santi kan bisa jadi bahan ngerumpi kita," ucap pakde Dodo sambil menyantap nasi dan lauk yang sudah disiapkan oleh ibu. Mereka semua makan sambil bicara hal-hal yang tidak penting.


" Galih baru kemarin datang dari kota pakde. kenalan ini Fira, pacar Galih, baru tadi siang kami jadian. Kalau Santi menyebarkan cerita buruk tentang Fira, memang pakde percaya," tanya Gading.


"Gimana ya, Santi itu sudah tukang bohong dari kecil, memang dia cerita apa sih bu?," tanya pakde Dodo kepada istrinya.


Bude Rupiah kemudian menceritakan curhatan Santi ditelepon tadi pagi dan Fira pun menceritakan kejadian yang sebenarnya. Bude Rupiah dan pakde Dodo menyimak cerita Fira dengan serius sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Sungguh sangat keterlaluan sekali ya kelakuan Santi. Tapi lihatlah hidupnya tidak pernah berkah selalu susah. Apa yang terjadi pada Fira dan Santi bisa dijadikan pelajaran bagi kalian dan anak cucu kalian nantinya," ucap pakde Dodo.


"Eh ada yang bude ingin tahu tentang kalian Galih,Fira. kalian datang kesini dari kemarin. itu artinya kalian sudah kenal baik satu sama lain, tapi kenapa kok baru jadian?," tanya bude Rupiah. Gading dan Fira kemudian menceritakan mulai awal mula pertemuan mereka hingga mereka merasa saling tertarik, namun takut memulai suatu hubungan. Akhirnya mereka sepakat untuk menjadi teman dekat lebih dahulu agar tidak ada rasa saling terikat diantara mereka.


Siang tadi mereka sudah saling yakin dengan perasaan mereka, yang membuat mereka memutuskan untuk membina hubungan yang serius.


"Oh, jadi kamu itu sudah janda Fira," sahut bude Rupiah dengan ketus sembari menatap Fira yang langsung tertunduk.


"Memang kenapa bude, kalau Fira janda, apa jadi janda itu salah, Orang tuaku aja tidak pernah mempermasalahkan, aku mau menikah dengan janda atau perawan," ucap Galih tidak suka dengan ucapan budenya.


"Aku tahu kenapa kamu memilih Fira yang sudah janda, karena kamu malas ngajari dia dimalam pertama!! iya kan? kita sama-sama tahukan kalau Fira pasti sudah ahli diranjang dan kamu cuma ingin menikmati bagaimana Fira menunjukan keahliannya dalam berbagai gaya berenang. Jadi laki-laki jangan lettoy dong. kamu juga harus aktif dan kreatif dalam setiap ritual olahraga malam saat sudah menikah," ucapan bude yang sontak membuat kami semua yang ada di meja makan menahan senyum. Rasa kesal karena kata-kata bude kini lenyap tak tersisa. Aku hanya menggaruk-garuk kepalaku yang tidak terasa gatal.

__ADS_1


Bude gitu amat ngomongnya. Galih ini laki-laki normal bude. kalau untuk masalah yang begituan sudah dipastikan kami sama-sama ahli, ya enggak Fira," ucapku sambil menepuk bahu Fira, Fira hanya tersenyum malu-malu menanggapi ucapanku.


******


__ADS_2