Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab. 52. Pulang kekota


__ADS_3

(POV) Langit


Akhirnya aku merasa lega melihat Dinda istriku tak lagi mengkhawatirkan rumah tangga Galih dan Fira kelak dikemudian hari. Dia sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana keluarga Galih dan sanak saudaranya. Apalagi sahabat kecilnya yang begitu dia percaya adalah budenya Galih.


Pagi - pagi setelah sarapan aku, Dinda dan Fira pamit untuk meninggalkan desa Mentereng kepada kedua orangtua Galih. Mereka memberikan banyak sekali oleh-oleh makanan khas daerah sini. Apalagi Rupiah, dia sengaja meluangkan waktunya untuk membuat sendiri makanan kesukaan Dinda.


Setelah semua oleh-oleh aku masukan kedalam bagasi mobil aku langsung menemui Dinda, Fira, pak Warjito dan bu Marni yang tengah berbincang-bincang diruang tamu.


"Sampai jumpa kembali diacara pernikahan anak-anak kita ya bu Dinda. Mungkin saya akan berangkat ke kota dua hari sebelum hari akad nikah Fira dan Galih bu, " ucap bu Marni sambil menyeruput teh hangat yang baru saja dihidangkan oleh asisten rumah tangganya.


"Iya bu Marni semoga semua acaranya berjalan lancar, tanpa ada hambatan yang berarti, ucap istriku kemudian dia berdiri dan berpelukan dan cipika cipiki. Fira pun melakukan hal yang sama pada calon mama mertuanya.


"Jaga dirimu dan hatimu baik-baik nak, demi anak mama, mulai sekarang latihan memanggil mama, papa ya," ucap bu Marni setelah acara pelukan dan cipika cipiki dengan calon menantu sambil mengacak rambutnya.


"Iya mama, dihati Fira hanya ada mas Galih seorang he... he... " ucap Fira manja. Aku jadi ingat tingkahnya saat masih taman kanak-kanak. Selalu ceria dan penuh senyum. Rasanya sudah lama aku tidak merasakan suasana seperti saat itu. Ah... kenapa aku jadi rindu anak kecil.


"Semoga aku bisa secepatnya menimang cucu" batinku. Aku memang sudah mempunyai empat cucu, namun kami jarang sekali bertemu. semoga nantinya anak-anakku rajin membawa cucuku kerumah.


"Hati-hati dijalan pak Langit, semoga selamat sampai tujuan,"pak Warjito menyalamiku yang tak sengaja melamun.

__ADS_1


" Terimakasih pak doanya, semoga kita dan anak-anak kita senantiasa dalam lindunganNya dan dihindarkan dari segala marabahaya, " jawabku membalas ucapan pak Warjito dengan ucapan doa juga.


Selesai berpamitan dengan calon besanku, kami bertiga langsung masuk kedalaman mobil. Fira duduk di depan disamping supir, sesuai kebiasannya sedangkan aku dan Dinda duduk dibelakang supir.


Mobil kami melaju meninggalkan desa Mentereng, rencananya kami ingin mampir kedesa Padang Sawit untuk melihat villa sekaligus melihat hasil kerja para karyawan yang ada dikebun yang dulu dikelola Fira. Sampai divilla aku langsung menuju ruang kerjaku untuk melihat pembukuan ditemani oleh Diono orang kepercayaanku yang aku tugaskan mengelola usahaku yang ada di sini. sedangkan Fira dan Dinda mengobrol asik dengan Yanti istri Diono yang sudah seperti saudara buat Fira.


Tepat jam satu siang aku dan keluargaku melanjutkan perjalanan menuju ke kota meninggalkan desa Padang Sawit. perjalanan menuju kota berlangsung lancar tanpa hambatan. Fira dan mamanya terus mengobrol ringan sepanjang perjalanan.


"Fira, sebaiknya kamu pergi kedokter kandungan untuk mengecek kesuburan, soalnya kamu ingatkan waktu kamu menikah dengan Dion, kamu susah untuk punya anak. Tanyakan kepada dokter apa penyebabnya agar kita bisa mengobatinya," ucap istriku tangannya sibuk memegang cermin dan memperbaiki bedaknya yang mulai luntur serta lipstiknya yang mulai berlepotan akibat makan es krim yang baru saja dibeli di sebuah minimarket yang kami singgahi.


"Tapi Fira takut menerima kenyataan kalau ternyata Fira benar - benar tidak bisa punya anak ma!!, Fira pasti akan sedih sekali. Dulu banyak orang mengatai Fira, percuma jadi perempuan kalau tidak bisa punya anak, " ucap putriku yang tiba-tiba sedih. Obrolan yang tadi santai dan penuh canda tawa kini mendadak serius.


"Tapi mamamu benar nak, sebaiknya kamu kedokter, kamu tidak perlu khawatir karena berulang kali Galih dan bu Marni berjanji tidak akan mempermasalahkan seandainya rumah tangga kalian tidak dikaruniai seorang anak. Nanti jika ada masalah serius dengan kondisi rahimmu kita akan mencari pengobatan terbaik, kita cari dokter yang hebat ke luar negeri," ucapku mencoba memberikan kekuatan kepada Fira.


"Bagaimana kalau malam ini saja, soalnya ini kan baru jam empat sore kita sudah memasuki kota. Sedangkan dokter kandungan langganan mamamu kebetulan jam lima buka praktik dijalan sebelum memasuki komplek perumahan kita, mama masih ingatkan ma?," ucapku pada istriku yang tengah membelai rambut Fira.


"Tentu saja mama masih ingat, dokter kandungan keren banget kan pa, bagaimana Fira? kamu bersedia kan, dokternya cakep lho, pandangannya tajam dan menenangkan," ucapan istriku membuat dadaku seketika terasa sesak.


"Mama kok gitu sih, tega memuji-muji ketampanan laki-laki lain dihadapan papa. Papa sadar ma!!, papa memang tidak tampan tapi papa mempunyai hati yang tulus, " sahutku sambil menarik nafas panjang dan memeperbaiki posisi dudukku agar lebih rileks.

__ADS_1


"Iya ma, kita kan kedokter mau periksa bukan mau cuci mata. Lagian mama sudah tua masih ngomongin orang ganteng didepan suami lagi. Tapi ngomong-ngomong, Fira mau Pa, mungkin lebih cepat lebih baik," kata Fira putriku yang mendadak tidak sedih lagi.


"Kamu mau periksa karena sudah siap menerima kenyataan atau karena dokternya tampan? " tanyaku agak ketus, terus terang aku masih kesal dengan ucapan mama Fira barusan.


"Terimakasih pa, atas kemarahan dan kekesalan yang ada dihati papa, mama bahagia mengetahui kenyataan ini," ucap Dinda sambil tersipu. Membuat keningku berkerut, hatiku bertanya - tanya apa gerangan yang ada dihati Dinda. Namun sengaja aku diam saja masing melipat


mukaku menjadi empat tanda masih marah.


"Kenyataan apa sih ma, jangan aneh-aneh mama. Kalian ini sudah tua, cucunya sudah banyak, sudah bukan waktunya ngomongin cowok ganteng, kebih baik mama fokus untuk membahagiakan papa. Agar kehidupan rumah tangga kalian kembali hangat seperti pengantin baru," ucap Fira menasehati mamanya. Dinda istriku yang duduk disisiku langsung memeluk dan menciumiku.


" Aku bahagia sekali sore ini mengetahui kenyataan kalau papa masih mencintai mama, terimakasih pa atas cinta yang papa berikan kepada mama" ucap Dinda, yang membuat aku terkejut. Kulihat kekaca spion sang supir tersenyum-senyum melihat kelakuan absurd istriku, matanya melirik kami yang ada dibelakangnya melalui kaca spion sedangkan Fira hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Dasar pengantin tua, bikin iri yang muda, awas nanti kalau aku dan Galih sudah resmi aku akan bakalan lebih romantis lagi daripada kalian, aku akan tunjukkan bagaimana kehangatan rumah tangga kami, " ucap Fira berapi-api tapi dengan suara pelan. Aku hanya tersenyum melihat kelakuan lucu putriku, yang membuat aku teringat saat meminjam boneka temannya, namun temannya tidak mau meminjamkannya.


"Belok kiri pak itu tempat praktik dokter gantengnya," titahku pada supir kami yang bernama pak panji, yang telah puluhan tahun bekerja mengantarkan aku dan keluargaku kemana saja. Pak Panjipun langsung ancang-ancang membelokan mobilnya dengan cara menghidupkan lampu sein kiri. Setelah sampai dihalaman supir langsung memarkirkan mobilnya dan kami bertiga pun keluar.


"Kami keluar dulu pak, pak Panji mau ikut kami periksa kandungan," ucapku pada supir sambil terkekeh.


"Tidak pak kandungan saya baik-baik saja. Saya mau istirahat saja sendiri, " ucapnya sambil terkekeh juga.

__ADS_1


******


"


__ADS_2