
(POV) Yunian
Tumben mama mertuaku mau nginap dirumah besannya, mungkin kepepet kali, karena aku tidak meminjamkan kunci rumahku yang di Padang Gatah. Biasanya mama Retno lebih suka menginap di Padang Gatah dibandingkan dirumah besannya. Mungkin karena dia merasa tak selevel dengan mama, papa dan juga keluargaku yang lain. Maklum mama mertua lebih suka bergaul dengan ibu-ibu kaum sosialita ketimbang bergaul dengan tetangga rumah.
"Ayo masuk ma!!..jangan sungkan, ayo papa masuk... semuanya sudah datang, Fira dan keluarga pak Langit semuanya ada," ucapku sambil menggandeng tangan mama masuk kerumah menemui para para keluargaku dan keluarga Fira.
"Mama, Papa, om Tante ini mama mertua aku sudah datang, " Aku berseru pada seluruh keluarga yang sedang minum teh diruang tamu. Semua keluaga pun menyalami mama dan papa mertua termasuk mama dan papaku, pak langit dan bu Dinda. Setelahnya aku langsung pamit membawa mama dan papa mertua bersama dua buah koper berisi pakaian untuk masuk kedalam kamarku.
"Mama, sama papa sebaiknya tidur dikamarku aja ma, biar aku sama mas Dion tidur di kamar tamu," ujarku.
"Kenapa tidak mama aja yang tidur dikamar tamu Yunian, kasian kamu kalau harus pindah kamar, " ujar mama.
" jangan ma, di kamar tamu tidak ada kamar mandinya, nanti kalau mama, sama papa mau ke kamar mandi harus berjalan jauh ke belakang, kalau kami sudah biasa," ucapku menjelaskan. Mama mertua terbiasa hidup dengan fasilitas nyaman aku tak tega kalau harus tidur dikamar tamu karena tidak ada kamar mandi dan tidak ada AC. Aku mempersilakan kedua mertuaku untuk istirahat dikamarku dan aku segera membawa koperku yang berisi pakaianku, mas Dion Jordan dan Kiran. Kebetulan kami cuma membawa beberapa pasang pakaian karena kami bisa mengambil pakaian ganti dirumah kami yang ada di desa Padang Gatah.
Selesai meletakkan pakaian kami sekeluarga, aku pun masuk kedapur bergabung dengan yang lain, yang sedang mempersiapkan makan siang.
__ADS_1
"Bu Retno tidak ikut gabung kita-kita ngerumpi Yunian," mamaku bertanya sambil mengupas mangga muda, kesukaan Fira. Dari semenjak Fira datang, mama memang sangat memanjakanya, selalu melayaninya dan sesekali menanyakan kepingin apa? , mama bisa bantu apa?. Seperti saat aku hamil, mama memang tidak membeda-bedakan antara anak kandung dan menantu.
"Mertuaku lagi istirahat ma, mungkin kelelahan setelah perjalanan jauh," aku mencoba mencari alasan, karena sangat tidak mungkin mama mertua mau bergabung dengan mereka yang hanya orang kampung. Dia terbiasa bergaul dengan kaum sosialnya.
Tiba-tiba Fira memgambil kedondong, mama pun langsung menawarkan diri untuk mengupaskannya dan dijawab anggukan kepala oleh Fira, dia pun menyerahkan kedondong yang ada ditangannya.
Sekarang sudah jam setengah satu sebentar lagi akan dilakukan makan siang secara tradisional. Yaitu dengan mengampar daun pisang diruang tengah, sementara meja dan kursi diangkat keruangan lain agar ruangan terlihat luas.
"Kami pun membagi nasi, sayur dan lauk diatas daun pisang yang sudah di ampar. Selesai membagi semua nasi, sayur dan lauk diatas lembaran daun Pisang. Akupun memanggil mama dan papa mertua, untuk makan siang, bergabung dengan keluarga yang lain. Tapi aku ragu apakah mama mertua mau keluar untuk bergabung dengan orang kampung seperti kami. Aku pun lalu mengambil nasi secara terpisah tidak bergabung dengan yang lain rasanya aku sungkan pada mamaku. Takut mama mengira aku lebih perhatian kepada mertua, bukan kepada dirinya.
"Ma, pa, ayo kita makan sama-sama di luar, sudah ditunggu sama yang lain, kita makan pakai cara tradisional dengan meletakkan nasi, sayur, ikan di atas daun pisang yang diampar di ruang tengah, "ucap mas Dion kepada mama dan papanya. Mama dan papaku pun mengikuti kami menuju keruang tengah bergabung dengan keluarga yang lain.
Saat sudah sampai dan duduk diantara mereka, tiba-tiba mama mertua bangkit berdiri tanpa sepatah katapun, aku tau mama sedang tidak baik-baik saja, mungkin dia tidak biasa makan bersama dalam satu wadah dengan menggunakan tangan yang terkesan jorok. Aku sengaja meminta mas Dion untuk mengejar mama dan memberi pengertian. Sengaja aku mengikuti dibelakang namun tidak ikut masuk kamar, sengaja ingin tau apa keluhan mama selama di sini sehingga terlihat tidak bahagia, agar aku bisa mengerti perasaan mama.
"Mama ada apa sih, kenapa waktunya makan bareng dengan mereka mama malah pergi begitu saja tanpa alasan yang jelas, tidak enak sama yang lain ma, kesannya kita tidak mau bergabung dengan mereka," ucap suamiku.
__ADS_1
"Mama tidak menghormati mereka kamu bilang, lihat apa yang mereka lakukan pada mama Dion, mama sebagai istri seorang pengusaha tersohor dinegeri ini, disuruh makan satu tempat dengan mereka semua, tidak tahu tua, muda, bahkan anak-anak jadi satu, dimana letak harga diri mama kalau mama ikut makan bersama mereka," ujar mama dengan nada teramat kesal.
"Itu namanya kebersamaan mama, mama bisa lihat di situ, yang tua, yang muda, anak-anak, bahkan yang kaya dan miskin, yang terpandang seperti pak Langit dan bu Dinda pun ikut bergabung. Di dunia ini mungkin harta dan kedudukan kita berbeda, tapi ingat ma... dihadapan Allah kita semua sama. Justru yang membedakan kita adalah amal perbuatan kita.
Kalau mama merasa kedudukan mama lebih tinggi daripada mereka, karena mama merasa ditakdirkan menjadi orang kaya dan memiliki banyak harta. Apa mama tidak malu pada Allah yang telah memberikan rizki berupa harta dan kesehatan, ingat semua harta yang mama miliki itu titipan Allah, jika Allah murka dengan mama karena selalu menyombongkan harta yang Dia titipkan pada mama kemudian Allah mengambil kembali harta, - harta itu, maka mama bisa apa?, Sekarang terserah mama, kalau mama merasa tidak selevel dengan mereka, mama juga tidak selevel dengan aku Yunian. Karena kami sama seperti mereka," Kulihat suamiku meninggalkan kamar dengan langkah cepat dan kaki setengah dihentak-hentakkan.
"Kulihat dengan sangat terpaksa mama pun ikut keluar dari kamar dan melangkah menuju ruang tengah.
"Bu Retno, sini bu duduk dekat saya, ini masih ada tempat kosong, jarang-jarang loh kita makan bersama," bu Dinda berseru memanggil mama yang sedang terbengong memperhatikan para anak-anak saling berebut lauk.
"Ma... ini Yunian bawakan nasi dan lauk buat mama, mama makan dimeja makan saja yah, biar Yunian temani. Akupun menggandeng tangan mama untuk makan dimeja makan, aku tidak ingin mama merasa tertekan selama ada disini karena melakukan sesuatu yang tidak sesuai keinginannya.
"Mama memang tidak terbiasa makan dengan cara lesehan seperti ini tante, mungkin mama merasa agak asing," ku dengar mas Dion suamiku berbicara dengan bu Dinda, mungkin supaya beliau tidak tersinggung.
"Tidak apa-apa nak Dion, kebiasaan orang memang beda-beda, kalau aku sering main ke panti asuhan disana kami makan bareng sambil berbagi ala kadarnya, suasananya ya seperti ini, sangat menyenangkan, " ungkap bu Dinda. Aku tidak menyangka dibalik sifat ceplas-ceplos bu Dinda dan pak Langit beliau mempunyai sifat mulya dan pemurah terhadap sesama.
__ADS_1
***********