Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab. 60. Juita Ke Rumah


__ADS_3

(POV) Dewanta


Sebenarnya aku sudah lama merasa muak dengan kelakuan Juita yang sok cari perhatian. Kadang terfikir olehku ingin memecatnya namun aku tidak mungkin memecat dia tanpa sebab. Walau bagaimana pun aku harus bisa menjadi pemimpin yang adil biarpun perkebunan ini adalah perkebunan keluarga. Aku sangat terkejut dengan kedatangan Zahra ke kebun tanpa memberi tahu terlebih dahulu. Tapi aku juga senang karena istriku begitu perhatian kepadaku. Namun lagi-lagi Juita ikut nimbrung kebersamaan aku dan keluargaku dengan meminta potongan kue dariku. Akhirnya muncul ide untuk menyuruh Santo memotong kue dan dibagikan keseluruh pekerja termasuk Juita. Puas rasanya melihat wajah kesal juita, salahnya sendiri mencari perhatian lelaki beristri. Dia fikir aku lelaki murahan yang memandang wanita lain lebih cantik dari istri dirumah. Wanita diluar memang terkadang lebih cantik, tapi mereka hanya nampak cantik luarnya saja. Sedangkan istri dirumah cantik hatinya, karena dialah yang paling mengerti suami walaupun kita dalam kondisi di titik terendah sekalipun.


"Kak, ini kopinya, tadi sotonya enak banget ya, kakak tahu darimana ada warung baru yang jualan soto seenak itu," ucap Zahra istriku sambil membawa secangkir kopi. Aku segera menyeruput kopi buatam Zahra yang rasanya nikmat sekali. Baru saja aku menghabiskan setengah gelas kopi buatan Zahra, terdengar suara ketukan pintu ruang tamu.


"Sayang siapa itu yang datang, bukakan pintu dong, aku lagi nanggung nih, mau menghabiskan kopi dahulu," ucapku pada Zahra.


Tak berapa lama Zahra kembali dengan wajah muram. Tampaknya dia kesal sekali, tidak biasa dia bersikap begitu, pasti ada sesuatu yang membuat suasana hatinya tidak baik-baik saja.


"Siapa yang datang sayang, kenapa mukamu dilipat seperti itu?" tanyaku pada Zahra.


"Itu lho pekerjamu yang pakaiannya seksi, lipstik merah menyala seperti habis minum darah tetangganya, katanya ada yang ingin dibicarakan dengan kita,"ucap Zahra sambil menghentakkan pantatnya disofa tepat disebelahku. Rasanya aku gemas melihat tingkahnya.


"Kita?, maksudnya aku dan kamu," tanyaku pada Zahra, dia pun menganggukkan kepala. Aneh sekali si Juita itu, semoga tidak ada hal buruk yang dia rencanakan. Setelah menghabiskan secangkir kopi buatan istriku, aku dan Zahra melangkah menuju ruang tamu untuk menemui Juita. Disana Juita telah duduk menunggu kami. Dia menggunakan pakaian terbuka sama seperti biasanya. Padahal dengan menggunakan pakaian terbuka, dia justru menjadi bahan olok,-olokan para pekerja yang lain.

__ADS_1


Aku dan Zahra segera duduk berdampingan tepat dihadapan Juita. Aku mencoba melihat tingkah lakunya. Baru aku sadari ternyata Juita pakaian juita sangat tidak layak, terlalu kekurangan bahan.


"Ada perlu apa kamu pagi-pagi kerumahku Juita?, kalau kamu ingin kue ulang tahun, kebetulan di rumah tidak ada, Zahra hanya memesan satu yang dibawa ke kebun kemarin, bukanya kamu sudah dikasih sama Santo." ucapku pada Juita.


"Tidak pak Dewanta, bu Zahra, saya sedang tidak ingin minta kue, tapi begini, sepeda motor saya kan rusak. Bolehkah saya minta izin untuk mbonceng sepeda motor bapak, enggak mungkin kan kalau saya berjalan kaki ke kebun," jawab Juita. Sejenak kukirim wajah Zahra, tampaknya dia cukup jengah dengan tingkah polah Juita. Aku langsung mengambil hand phone. Segera kutelpon Edwin, salah satu anak buahku yang belum beristri.


"Assalamualaikum, ada apa pak, apa ada yang bisa saya bantu? " Edewin yang ada dirumahnya menjawab telepon dariku. kemudian aku pun menjawab salamnya, lalu kuceritakan masalah Juita yang datang kerumah ingin ikut nebeng denganku, jujur saja aku sama sekali tidak berkenan. Akupun menyuruh Edwin untuk mengajak kekebun bersamanya. Tapi Edwin bilang sepeda motor Juita tidak masalah, tidak rusak alias baik-baik saja.


"Aku tidak peduli Edwin, yang penting kamu sekarang kesini jemput dia. Antar dia kekebun, kamu juga sekalian ke kebun kan? " ucapku pada Edwin. Akhirnya diapun menyetujui


"Bagaimana pak, apa kita berangkat sekarang," ucap Juita.


" Kenapa tidak dengan bapak saja, saya dan bapak lebih serasi. Bu Zahra kalau ada keperluan biar berangkat sendiri saja atau minta antar anak salah satu pekerja bapak,"sahut Juita.


"Juita kamu tahu kan, aku ini laki-laki beristri, tidak pantas bepergian denganmu seorang wanita yang bukan istriku.

__ADS_1


"Bapak ini enggak usah sok jaim mentang-mentang di dekat istri. Diluar sana banyak kok yang jalan bareng walaupun hubungan mereka bukan suami istri. Lagian saya dengan Edwin juga bukan suami istri, kenapa bapak menyuruh kami jalan bareng," Juita mulai mendebatku. Jujur aku sudah merasa jengah dengan ucapan Juita, siapa dia memang berani mengaturku. Kulihat muka Zahra mulai merah padam menahan rasa kesal.


"Juita, kamu ini kan perempuan juga seperti istriku, kok bisa kamu mengajak aku ke kebun sama-sama, apa kamu tidak berfikir kalau apa yang kamu lakukan akan menyakiti sesama wanita, bagaimana seandainya kamu ada di posisi dia, " ucapku bertanya pada Juita.


"Saya ikut sama bapak kan karena sepeda motor saya rusak, harusnya bu Zahra senang punya suami yang peduli dengan kesusahan orang lain, bukannya malah sakit hati atau cemburu. Coba kalau ibu Zahra disposisi saya, mau kerja motornya rusak, kalau ibu mending seorang guru gajinya gede, bisa panggil ojek, kalau saya cuma tukang brondol, saya lebih baik numpang sama atasan untuk bekerja dari pada bayar ojek karena bayaran saya kan kecil." Zahra berdiri lalu melangkah mendekati Juita. sepertinya dia sangat marah kepada Juita, aku bingung takut terjadi pertengkaran antara Zahra dan Juita. Secara bersamaan masuklah dua unit kendaraan memasuki halaman rumahku. Aku segera mengarahkan pandanganku kepintu keluar. Tampaklah Santo datang bersama Edi yang mengendarai kendaraan Juita.


"Pak Dewanta apakah Juita ada disini, soalnya tadi dia menitipkan kendaraan pada saya," ujar Edi.


"Bukannya kata pak Dewanta kendaraan Juita rusak, ini aku mau ajak dia kekebun sama-sama," Santo menimpali. Kulihat Juita nampak tegang, tangannya terlihat gemetar. Kemudian dia berdiri dan berjalan kearah Edi. Lalu dia merebut kunci kontak kendaraan yang ada di tangan Edi kemudian melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi meninggalkan Rumahku. Kami semua yang ada di situ menggeleng-gelengkan kepala.


"Apa sebenarnya niat dia berbuat seperti itu, kaya enggak ada kerjaan saja," ucapku pada semua yang ada disitu


"Tentu saja dia ingin jadi pelakor pak, bapak harus hati-hati. Jaga hati bapak jangan sampai terkena oleh godaan sang pelakor. Saya yang sudah merasakan bagaimana rumah tangga saya hancur, karena terbujuk rayuan wanita seperti Juita," ucap Santo.


"Masa rumah tanggamu berantakan karena ulang pelakor Santo, aku kok baru tahu, yang aku tahu istrimu yang mendadak minta cerai,"sahut Edi.

__ADS_1


"Istriku minta cerai karena setiap hari dia diteror oleh pelakor . Jadi wanita itu adalah seorang janda, dia tetanggaku. Setiap hari dia selalu mendatangiku, meminta tolong ini dan itu, hingga pada suatu waktu dia minta antar kerumah temannya, disana saya disuguhi minuman. Setelah meminum beberapa teguk, kepala saya pusing dan saya tidak ingat apa-apa lagi. Setelah saya bangun sepertinya tidak pernah terjadi apa-apa, semuanya normal-normal saja. Beberapa hari setelah kejadian itu, istri saya marah besar dan memperlihat foto-foto saya dengan wanita itu dalam kondisi tanpa busana dan seolah-olah sedang berbuat mesum. Dia juga kerap diteror oleh wanita itu agar meninggalkan saya. Karena saya harus bertanggung jawab untuk menikahi dia," Santo bercerita sambil tertunduk sedih, terlihat dia sedang menahan air mata agar tidak terjatuh.


********


__ADS_2