Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab. 59. Wanita seksi


__ADS_3

(POV). Zahra


Hari ini aku akan memberi kejutan pada suamiku, sebab hari ini adalah hari ulang tahun kan Dewanta. Pagi-pagi sekali aku sudah memesan kue ulang tahun kepada mbak Mita langgananku. Rencananya sekitar jam sebelas siang kue itu akan diantar oleh mbak Mita langsung ke rumahku. Seusai pulang mengajar aku langsung mampir kesekolah Zahwa untuk menjemputnya. Saat baru masuk kerumah aku mendengar suara Mesin kendaraan di depan rumah. Karena rasa penasaran, akupun buru-buru melangkah menuju ruang tamu, kemudian membuka pintu. Saat aku buka pintu tampaklah mbak Mita membawa kue dengan menggunakan box untuk menempatkan kue ulang tahun agar tidak rusak di perjalanan.


"Tidak salah saya berlangganan kue dengan mbak Mita ternyata datangnya on time," ucapku senang karena kue pesananku sudah datang. Aku pun langsung membayar kue sesuai harga yang sudah kami sepakati. Setelah mendapatkan bayaran mbak Mita pun kemudian pamit pulang.


Aku segera menghubungi mertuaku agar mengirimkan mobil dan supirnya karena hari ini aku akan pergi ke kebun sawit milik kami. Dimana kak Dewanta sedang bekerja mengawasi para pekerja kami, ada yang sedang memanen sawit. Ada yang sedang menyemprot gulma yang tumbuh liar disekitar tanaman ada yang sedang memupuk dan juga melakukan kegiatan pemeliharaan tanaman lainnya yang semuanya dihandle oleh suamiku. Karena mertuaku sudah memutuskan istirahat dan dirumah saja.


Setelah mobil beserta supirnya datang ternyata ibu mertuaku pun ikut serta di dalam mobil.


"Ibu ikut ya Zahra, ibu mau ikut merayakan ulang tahun Dewanta biar tambah seru. Ini ibu sudah beli kado, Zahwa mana kado kamu buat Abi," ucap ibu mertuaku. Mendengar ibu mertuaku menyebut-nyebut kado aku baru ingat. Kado aku buat kak Dewanta ternyata belum sempat aku bungkus.


"Astagfirullah, Zahra baru ingat, kado Zahra belum dibungkus, " ucapku sambil melangkah tergesa-gesa masuk kekamar untuk membungkus kado yang baru saja aku beli kemarin Dipasar. untuk kado Zahwa sudah siap dari kemarin-kemarin.


Semua telah siap, aku, ibu mertua dan Zahwa masuk kedalam mobil, kami segera berangkat menuju ke kebun sawit dimana Kak Dewanta sedang bekerja.


Tak berapa lama akhirnya aku, ibu mertua dan Zahwa telah sampai di kebun dimana kak Dewanta berada disana.

__ADS_1


"Abi Zahwa datang Bii!!, selamat ulang tahun bii, selamat ulang tahun semoga panjang umur," Zahwa yang masih dimobil berteriak-teriak mengucapkan selamat ulang tahun kepadaa abinya.


Aku yang masih duduk dimobil melihat kearah kebun dimana kak Dewanta sedang memberikan pengarahan kepada beberapa pekerja. kulihat ada tiga orang pekerja perempuan. Ada yang memakai topi merah, topi biru, netraku menatap perempuan yang memakai topi berwarna ping, sepertinya dia berbeda dari yang lain. Aku langsung mengamati pakaian yang dikenakannya. perempuan itu mengenakan sepatu bot, terus dia mengenakan celanan jins yang kentat, dua batang pahanya terpampang sempurna, bongkahan pantatnya yang membuat kaum adam enggan untuk mengalihkan pandangannya kearah lain. Kalau dipandang dari depan tampaklah bongkahan segitiga diantara dua pangkal paha yang membuat laki-laki yang lemah iman langsung klepek-klepek tak berdaya. Aku terus menyoroti pakaian atas yang berbahan kaos tipis yang kentat dengan belahan dada yang yang rendah dan bongkahan dua gunung kembar yang seakan melambai-lambai minta dibelai.


Dia terus memandang kerah suamiku yang sedang memberikan pengarahan, sesekali kulihat dia tersenyum manja kepada kak Dewanta. Namun kulihat muka kak Dewanta datar-datar saja, menanggapi tingkah polahnya yang menurutku sangat menjengkelkan.


Ibu mertua dan Zahwa turun dari mobil, mereka sama-sama menenteng sebuah kado yang akan diberikan kepada orang terkasih. Sedangkan aku keluar dari mobil, membawa box berisi kue yang telah aku buka tutupnya kemudian aku nyalakan lilinnya. Kami melangkah mendekati kak Dewanta sembari bernyanyi lagu selamat ulang Tahun.


Kak Dewanta pun memandang kearah kami, senyum langsung tersungging dari Bibirnya, ikhlas dan tulus terlihat dari hatinya yang tercipta hanya untukku, katanya he... he... . Dia melangkah kearah kami, kulihat sang supir membawa meja kecil diletakkan didepanku, aku pun langsung meletakkan kue ulang tahun itu diatasi meja. Aku melangkah menyongsong kedatangan kak Dewanta.


"Terimakasih sayang, ini so sweet baangeet buat aku. cup... cup..., " dia mencium dan memelukku.


"Selamat ulang tahun putra tampan ibu, doa ibu selalu mengiringi langkahmu nak, semoga rumah tanggamu selalu diberkati, senantiasa bahagia sepanjang hayatmu," ucap ibu mertuaku seraya memeluk kak Dewanta.


"Terimakasih bu, sudah melahirkan, membesarkan aku hingga aku terlihat tampan seperti sekarang ini. Dulu ibu kemana-mana selalu menggendongku, se karang izinkan Dewanta menggendong ibu," tiba-tiba kak Dewanta menggendong ibu mertua lalu berputar sejenak dan menurunkannya. kami yang melihat pemandangan itu langsung tertawa terbahak-bahak.


"Abi selamat ulang tahun, abi, kenapa Zahwa dicueki, Zahwa juga mau digendong kaya nenek. Nenek enggak usah di Gendong, nenek kan sudah besar, " ucap Zahwa sambil mengulurkan tangannya meminta Gendong sama abinya.

__ADS_1


Selanjutnya kami dan para pekerja berkumpul mengelilingi meja dimana diletakkan kue ulang tahun. Kami semua menyanyikan lagu selamat ulang tahun sambil bertepuk tangan. Setelah menyanyikan lagu selamat ulang tahun, acara selanjutnya adalah potongn kue.


Kak Dewanta segera mengambil pisau yang sudah aku sediakan dari tadi. Dia memotong kue dan meletakkan diatas piring kecil yang sudah aku sediakan.


"Potongan kue pertama, untuk cinta pertamaku. ujar kak Dewanta sembari memberikan piring kecil berisi potongan kue Pada mama mertua. Kemudian dia memotong kue lagi dan meletakkan kedalam piring kecil kemudian memberikan kepadaku.


"Potongan kue kedua, aku berikan untuk cinta terakhirku, " kemudian dia motong kue yang ketiga dia berikan kepada Zahwa dan dia bilang potongan ketiga untuk buah cintaku. Sungguh hatiku merasa bahagia sekali hari ini.


Saat hatiku sedang merasa tersanjung dengan perlakuan suamiku. Tiba-tiba perempuan berpakaian seksi yang sejak tadi aku perhatikan selalu mencuri perhatian kak Dewanta, dia melangkah perlahan dengan membusungkan dadanya yang besar, mendekati suamiku dan menepuk bahu suamiku seolah mereka teman akrab.


"Pak kue untuk saya mana, saya juga mau mendapatkan sepotong kue dari bapak," katanya dengan gaya manjanya.


"Santo, tolong potong-potong kue ini dan kasih juita sepotong, " ucap suamiku sambil menyerahkan kue itu kepada Santo lengkap dengan pisaunya. Wanita berpakaian seksi yang ternyata bernama Juita itu tampak kecewa. Namun ku lihat mas Dewanta tampak tidak perduli. Dia menggandeng tanganku serta mengajak ibu mertua dan Zahwa pergi meninggalkan para pekerja yang akan menikmati kue yang aku bawa tadi. Kak Dewanta mengajak kami masuk ke dalam mobil lalu dia pun melajukan mobil nya pergi meninggalkan kebun.


" Sebaiknya kita rayakan ulang ditempat yang nyaman tanpa terganggu oleh siapapun. Maaf ya, kuenya kakak kasihkan kepada para pekerja, soalnya kakak kurang suka dengan sikap lebay si juita. orangnya terlalu agresif, kakak jadi merasa risih dan terganggu bila dekat dia," kak Dewanta mengeluh dengan kelakuan Juita.


*********

__ADS_1


__ADS_2