
(POV) Juita
"Tapi saya tidak seperti ibu Fira yang terlahir sebagai orang kaya, sejak lahir saya sudah miskin, bagaimana saya bisa hidup bahagia kalau saya tidak memiliki harta," aku mencoba mengeluarkan unek-unek yang menjadi beban hidupku dan yang memicu aku melakukan perbuatan menghalalkan segala cara
"Juita, takdir manusia itu berbeda-beda, ada yang ditakdirkan kaya ada juga yang ditakdirkan miskin , tapi bukankah tujuan akhir kita sama, yaitu akherat dan berharap masuk surga. Bagi yang kaya kami diuji agar tidak sombong dan merendahkan orang lain, bagaimana membelanjakan uang kita agar bisa kita nikmati diakherat nanti. Harta yang kita miliki bisa membawa kita kesurga. Bisa pula membawa kita ke neraka, jika kita tidak menggunakan dengan benar, jika kita gunakan harta itu untuk kesombongan bahkan untuk menyakiti orang lain.
Sedangkan orang yang ditakdirkan tidak memiliki harta dia akan diuji, dengan mencari harta dengan cara yang tidak benar, seperti mencuri, merampok atau mengambil harta yang bukan haknya. Jika kamu menikah hanya untuk memiliki harta laki-laki yang telah beristri itu sama saja kamu telah mengambil hak istri dan anak-anaknya. Karena harta yang didapat oleh seorang suami adalah rezeki istri dan anak-anaknya.
Mendengar nasihat dari bu Fira, kini hatiku benar-benar terbuka. Ternyata apa yang aku lakukan selama ini telah menyakiti banyak orang. Seperti yang ku lakukan pada pak Dewanta, aku telah menyakiti bu Zahra dan putrinya, bahkan juga para orang tua mereka. Kenapa aku tidak pernah menyadari dan bahkan sedikit saja berfikir bagaimana perasaan mereka. Aku hanya berambisi mendapatkan harta berlimpah, padahal harta itu sama sekali bukanlah hakku. Harta pak Dewanta adalah hak anak dan istri serta orang tuanya. Rasanya aku malu sama diriku sendiri. Pantas selama ini aku tidak pernah merasakan bahagia atau tepatnya tidak memberi kesempatan kepada diriku untuk bahagia. Kerena aku hanya sibuk mengejar ambisiku, ingin memiliki harta milik orang lain.
"Hari ini saya sangat beruntung, ketemu dengan ibu Fira dan pak Galih, karena saya mendapat pencerahan tentang bagaimana menjalani dan memaknai hidup dan kehidupan yang benar. Saya serius bu ingin bertobat dan hijrah dari jalan yang dilaknat Allah ke jalan yang di ridhoi Allah. Saya ingin mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akherat," ucapku sungguh-sungguh. Aku menyeruput teh hangat yang tadi disuguhkan oleh bi Rasmi. Aku pasrah jika memang ini adalah teh terakhir yang saya minum dirumah ini. Saya akan kembali kedesa mencari pekerjaan dan hidup menjadi wanita baik-baik.
__ADS_1
"Saya sekarang pasrah jika ibu dan bapak ingin melaporkan saya kekantor polisi. Saya akan ikhlas menjalankan hukuman atas perbuatan yang telah saya lakukan. Semoga hukuman didalam penjara dapat mengurangi dosa-dosa yang telah saya perbuat," ucapku dengan mantap. Karena aku sudah yakin dengan hidup yang aku jalani.
"Kalau memang kamu benar-.benar ingin bertobat, tentu saja kami tidak akan melaporkanmu ke kantor polisi, justru kami akan mendukungmu agar lebih mudah menuju jalan yang baik. Tapi untuk tetap mempekerjakanmu dirumah ini sebagai asisten rumah tangga sepertinya saya tidak bisa. Karena keputusanmu untuk berubah menjadi lebih baik belum teruji, masih sebatas niat dan rencana," ucap bu Fira. Sudah ku duga pak Galih dan bu Fira tidak mau lagi mempekerjakanku dirumah ini. Mungkin mereka tidak mau ambil resiko, takut aku mengulangi perbuatan burukku lagi. Aku menerima keputusan itu dengan lapang dada.
"Tidak apa-apa bu Fira, saya cukup tahu diri, apa yang saya lakukan memang benar-benar fatal. Saya sudah sangat berterima kasih karena ibu dan bapak tidak menjebloskan saya ke penjara. Saya juga mengucapkan banyak-banyak terimakasih karena berkat nasihat ibu Fira, pak Galih dan bi Rasmi saya sadar sekarang atas perbuatan buruk yang selama ini saya jalani. Setelah ini mungkin saya akan pulang kampung bu, karena disini saya tidak punya keluarga. Saya akan mencari pekerjaan sebagai buruh tani, saya sudah ikhlas menerima takdir saya untuk hidup sederhana," ungkapku kemudian.
"Kalau boleh tahu kamu lulusan apa?," tanya bu Fira, aku pun langsung menjelaskan kalau aku hanya lulusan SLTA. Dikota aku bingung dengan hanya berbekal ijazah SMA bisa kerja apa!!, rata-rata karyawan dikota lulusan S1.
"Tentu saja saya mau bu, saya akan ikut trening besok, tapi kemana saya harus melamar," Aku sangat bahagia mendengar tawaran bu Fira, aku berjanji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Malam ini kamu masih saya kasih kesempatan untuk tidur dirumah ini, dan malam ini juga kamu buat lamarannya. Besok ikut saya kepabrik. Kemungkinan treningnya hanya setengah hari saja. Setelah tengah hari kamu boleh pulang untuk berkemas dan mencari kontrakan, kalau perlu bantuan kamu bisa minta tolong pada bi Rasmi. Ini ada uang hasil kerja kamu selama disini, bisa kamu gunakan untuk kamu bayar kontrakan,"
__ADS_1
Aku menerima uang dari bu Fira kemudian berterimakasih atas semua kebaikan bu Fira. Setelah selesai bicara, pak Galih dan bu Fira masuk kekamarnya. Sedangkan aku membantu bi Rasmi menyiapkan makan malam.
"Semoga kamu tidak salah jalan ya Juita, bibi doakan semoga kamu cepat mendapatkan jodoh laki-laki yang baik, laki-laki yang tidak mudah terpikat wanita lain. Ingat Juita mencari jodoh tidak harus kaya, yang penting dia baik, jujur. Setia dan tanggung jawab. Kalau kamu misal nih yaah... Kamu menikah dengan suami orang yang tergoda rayuanmu, maka suatu saat dia juga akan tergoda wanita lain dan pergi meninggalkanmu karena laki-laki seperti itu adalah tipe laki-laki yang tidak setia. Jadi lebih baik kita hidup sederhana tapi bahagia, punya suami dan anak-anak yang benar-benar tulus menyayangi kamu. Karena disaat tua nanti, anak-anakmu akan bertemu jodohnya dan pergi meninggkanmu. Hanya suamimu yang akan selalu setia menemani hari tuamu. Tapi kalau laki-laki yang tidak setia, disaat kamu terlihat sudah tidak menarik lagi maka dia akan mencari wanita lain yang lebih muda dan lebih mempesona," nasihat bi Rasmi disela-sela kami memotong sayur.
Keesokan harinya aku ikut bu Fira didalam mobilnya. Kebetulan pak Galih pergi kerestoran dengan diantar supir, dengan menggunakan mobil restoran. Sampai disana kami segera turun dan melangkah memasuki kantor untuk memasukkan lamaranku.
Bu Fira mengantarkan ku kebagian personalia untuk menyerahkan berkas lamaran.
"Sekarang silakan ke pabrik untuk mengikuti serangkaian kegiatan, seperti pengolahan, pengemasan dan pelabelan makanan ringan yang kami produksi dipabrik kami. Pabriknya ada dibelakang, kamu temui saja ibu Siska sebagai menejer lapangan" ucap menejer personalia.
Bu Fira ikut mengantarku bertemu ibu Siska dan kemudian baru pamit pergi setelah aku bertemu bu Siska, meninggalkanku untuk menuju kantornya.
__ADS_1
**********