Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab. 92. Syukuran tujuh bulanan


__ADS_3

(POV) Marni.


"Hallo sayang, tumben pagi-pagi sekali kamu menelepon, ada kabar apa yah?"aku menjawab telpon dari Fira, tidak biasanya pagi-pagi buta dia menghubungiku.


"Ma....rencananya Fira sama Galih ingin mengadakan syukuran tujuh bulanan, malam tadi kami semua rundingan, bagaimana kalau acaranya dikampung saja maksudnya dirumah mama, soalnya Fira ingin dilaksanakan dengan adat tradisional, kalau dikampung kan masih kental, menurut mama bagaimana apa mama setuju," ucap Fira di seberang sana. Aku sangat senang mendengar rencana Fira dan Galih.


"Tentu saja mama setuju, mama boleh kan nanti mengundang teman-teman dan para tetangga dekat, " tanyaku pada Fira. Fira pun mengijinkan aku mengundang teman dan semua tetangga sekitar. Dia juga memintaku mengundang keluarga Dewanta, keluarga Zahra, keluarga Yunian dan mertuanya. Tentu saja dengan senang hati aku akan mengundang mereka.


Acara tujuh bulanan Fira dilaksanakan sekitar seminggu lagi. Akupun mulai melakukan persiapan, mengumpulkan apa saja yang diperlukan untuk acara mandi-mandi tujuh bulanan nanti. Aku juga menelpon bu Retno mama Dion, besanku yang ada dikota. Sedangkan untuk para undangan yang ada dikampung sekitar sini aku akan langsung mendatangi mereka kerumahnya sebagai wujud penghormatanku pada mereka.


"Hallo bu Marni, bagaimana kabarnya Bu, sehat-sahat saja, tumben nih ibu pagi-pagi begini menghubungi kami, ada yang bisa dibantu mungkin bu Marni?" Suara bu Ratna menyapaku dengan ramah. Hubunganku dengan keluarga mertua Yunian memang baik-baik saja. Namun berbicara dengan bu Retno dan pak Dirgantara tidak sehangat dengan keluarga mertua Galih yang selalu diiringi canda dan tawa.


Kedua mertua Yunian selalu berbicara serius dan terbilang kaku, tidak pernah bercanda. Tidak seperti keluarga mertua Galih yang selalu bertingkah lucu dan konyol walaupun mereka orang kaya dan terhormat. Pak Langit dan bu Dinda sangat disegani dan ditakuti baik oleh para karyawannya maupun rekan bisnisnya. Namun bila sudah berkumpul bersama keluarga mereka sangat berbeda sekali, pokoknya sangat merakyatlah. Itulah sebabnya aku lebih akrab dengan Fira dan kedua orang tuanya dibanding Dion dan kedua orang tuanya. Bukan maksud aku ingin membeda-bedakan lho yah, tapi pada dasarnya mereka semua baik.


"Begini bu Retno, saya ingin mengudang bu Retno sekeluarga untuk hadir di acara syukuran tujuh bulanan kehamilan Fira istrinya Galih pada minggu depan. Kalau ada waktu datang ya bu, Dion dan Yunian sekeluarga juga dan anak ibu yang lain juga kami undang semua," ucapku pada bu Retno besanku.


"Masa Fira hamil, bukannya dia mandul, dulu waktu jadi istrinya Dion dia mandul, makanya saya suruh Dion kawin lagi sama Santi, biar Dion punya keturunan yang sah secara hukum negara. Tapi nikahnya kan baru saja, kok sudah hamil aja. Sambil dicek lho bu, berapa bulan kehamilan Fira dan berapa bulan mereka menikah. Siapa tahu hamil duluan, soalnya si Fira waktu nikah sama Galih kan janda siapa tau sudah kebelet banget. Amit-amit ya Bu Marni punya menantu murahan begitu," Jujur aku sangat emosi mendengar ucapan mama Dion, kenapa wanita berkelas seperti beliau bicaranya seperti ibu-ibu julid di gang sempit.

__ADS_1


"Fira nikahnya sudah sepuluh bulan bu dan kehamilannya baru tujuh bulan,"ucapku. Setelah berbasa basi sedikit, aku pun mengakhiri panggilanku dengan alasan ingin menghubungi yang lain. Malas ngobrol sama bu Retno rasanya aku tidak terima menantuku kebanggaanku dijelek-jelekan olehnya.


Selesai menelepon besan, aku mengajak suamiku untuk pergi ke desa Padang sawit kerumah Dewanta dan Zahra, lalu ketempat pak Sukaria yaitu orang tua Dewanta.


"Papa turun pa!!...lihat sepertinya itu rumah Dewanta, ciri-cirinya sama seperti yang disebutkan Ibu-ibu yang kita tanyai di perempatan tadi, rumah yang paling besar, didalam pagar tembok dan atapnya berwarna biru," ucapku pada papa Galih sembari menepuk-nepuk punggungnya agar berhenti. Papa Galih pun langsung berbelok masuk kehalaman rumah yang kebetulan pagarnya tidak dikunci.


Kami berdua segera turun, aku naik ke teras rumah Zahra, memencet bel yang ada dan tak lama kemudian muncullah Zahra sambil menggendong bayinya dari balik pintu.


"Assalamualaikum, kamu yang namanya Zahra Bukan? " aku langsung menebak saja, soalnya aku selama ini tidak pernah bertemu Zahra.


"Aku mama Galih, mertuanya Fira, aku kasini mau mengundang kalian sekeluarga untuk hadir diacara syukuran tujuh bulanan Fira," aku langsung saja menjelaskan pada Zahra.


"Oh bu Marni dan pak Warjito, maaf bu soalnya saya baru kali ini bertemu ibu dan bapak," Mendengar aku adalah mertuanya Fira, Zahra langsung menyebut namaku dan nama papa Galih seolah dia sudah sangat mengenal kami. Tangannya langsung terulur tuk menyalami dan mencium punggung tangan kami berdua.


"Maaf ya bu.... saya baru tahu kalau ini papa dan mama mas Galih, ayo bu, pak... ..mari silakan masuk," Zahra menggandeng tanganku dengan begitu akrab untuk masuk kedalam rumahnya. Dia mempersilakan duduk dan memanggil asisten untuk menyuguhkan minum.


"Jadi kamu yang namanya Zahra, pantesan saja Galih rela ditolak sampai tiga kali demi bisa memiliki, ternyata kamu memang cantik, menarik dan sangat ramah," ucapku spontan saja memuji Zahra apa adanya.

__ADS_1


"Ibu bisa aja, mungkin kami bukan jodoh bu, jadi sekeras apapun mas Galih memperjuangkan saya, tetap saja saya menikah dengan mas Dewanta," ucapnya seraya tersipu, kami pun tertawa bersama.


"Betul sekali kamu Zahra. Sekarang pun Galih mendapatkan jodoh yang setara sama kamu. Kita memang tidak perlu menyesali masa lalu karena Tuhan selalu punya rencana indah untuk kita, " suamiku yang sejak tadi diam saja akhirnya menimpali.


"Silakan bu, pak diminum tehnya, ini ada cemilan seadanya," Zahra mempersilakan kami minum setelah ART meletakkan minuman dan beberapa toples camilan diatasi meja ruang tamu. Kalau melihat wanita yang dulu dicintai putraku dan melihat Fira yang sekarang menjadi istrinya. Ternyata selera Galih memang tidak kaleng-kaleng, semuanya bibit unggul. Zahra, wanita anggun, cantik, ramah dan paham agama dari keluarga baik-baik pula, sedangkan Fira, wanita, cantik, elegan, berkelas, baik, riang dan kaya dari keluarga pebisnis handal yang tersohor dinegeri ini. Dan dia pun terus belajar mendalami agamanya.


"Kalau boleh tahu apa Dewanta sedang tidak ada dirumah," tanya suamiku," Ia pak, kak Dewanta sedang bekerja di kebun. Kebetulan saya lagi cuti melahirkan," jawab Zahra sambil sesekali pandangannya menuju kearah salah satu kamar dimana bayinya tertidur disana.


Setelah berbincang-bincang sebentar, kami pun pamit untuk melanjutkan perjalanan, rencananya kami akan kerumah pak Sukarta ayah Dewanta yang merupakan pengusaha sawit terkenal didesa ini.


Dengan mengikuti petunjuk arah yang dikasih tahu Zahra, kami pun menyusuri jalan-jalan desa yang belum diaspal namun sudah dilakukan pengerasan jalan dengan menggunakan batu gunung. Jarak dari rumah yang satu kerumah yang lain rata-rata sekitar dua puluh lima meter, karena setiap warga didesa ini mempunyai pekarangan yang luas yang ditanami aneka buah lokal.


tidak berapa lama, sampailah kami dirumah yang terlihat paling megah diantara rumah warga yang lain, itulah rumah pak Sukarta dan ibu Wajirah orang tua Dewanta.


Seorang wanita setengah baya yang terlihat sehat muncul dibalik pintu yang baru saja dibuka, beberapa saat setelah aku memencet bel yang terdapat di dekat pintu.


**********

__ADS_1


__ADS_2