
(POV) Marni
"Maaf ya mbak, kalau aturan jualan kami memang seperti itu, jadi tidak bisa seenaknya saja berubah," ujarku langsung menimpali pembicaraan mereka saat sudah dekat dengan wanita itu. Kulihat papa Galih hanya tersenyum.
"Kamu siapa tiba-tiba nimbrung, enggak sopan banget, pembantunya pak Warjito?" ucap wanita itu sambil memandangku dengan pandangan meremehkan.
"Apa kamu bilang!! apa terlihat aku ini seperti pembantu, saya ini istrinya pak Warjito orang yang dari tadi kamu godain terus," ucapku naik pitam.
"Oh.. tidak mungkin kamu istrinya pak Warjito, pasti kamu cuma ngaku-ngaku aja, ngarep kali kamu kepingin jadi istri beliau, ingat ya kamu kalau mimpi jangan ketinggian, kalau jatuh sakit tau," ucap wanita itu sambil menjulurkan lidahnya untuk mengolokku. Dia benar-benar tidak percaya, emosiku sungguh sudah sampai diubun-ubun, aku mengangkat tanganku hendak menamparnya, agar bibir monyongnya berhenti menghinakan, namun papa Galih segera berlari menghalangiku.
"Sabar ma...jangan emosi. Mbak dia ini memang istri saya, dia jujur dan tidak ngaku-ngaku. Mbak kalau tidak setuju dengan aturan pembelian sayur ditempat saya lebih baik cari juragan sayur yang lain," ucap suamiku.
"Oh...saya setuju kok mas, apapun aturan mas, saya akan setujui, enggak masalah buat saya, yang penting saya bisa sering ketemu dengan mas Warjito. Soalnya saya sudah sangat tertarik sama situ, " ucap wanita itu. Aku yang sudah mulai melangkah hendak meninggalkan wanita itu dengan digandeng oleh papa Galih seketika langsung berhenti dan menoleh kepada wanita tadi. Namun papa Galih langsung merangkulku untuk menenangkanku.
"Mbak, sebaiknya jaga ucapan mbak, tidak sepantasnya seorang wanita mengungkapkan rasa tertariknya kepada seorang laki-laki didepan istrinya, tolong kalau sudah tidak ada perlu tinggalkan rumah kami," suamiku mengusir wanita itu dengan ramah.
__ADS_1
"Oh ya, saya akan segera pulang, sampai jumpa besok subuh saya akan datang ketempat mas jualan sayur, tapi ingat mas, tidak usah membawa istri mas. karena akan mengganggu saat saya ingin mengungkapkan perasaan saya, "ucap wanita itu sambil berlalu meninggalkan rumah kami. Aku langsung berlari masuk kekamar, telungkup diatasi ranjang menangis sejadi-jadinya.
"Sabar ma.. tidak usah diambil hati ucapan wanita seperti itu, masa mama begitu aja cemburu sih, papa jadi merasa seperti pengantin baru," ucap papa Galih sambil terkekeh.
Aku semakin menangis tersedu-sedu. lagi-lagi papa Galih meremehkan perasaanku. Apa itu tandanya papa Galih sudah mulai tertarik sama wanita itu.
"Papa tega sekali berkata seperti itu, apa papa sudah mulai jatuh cinta pada perempuan itu, papa tega menghianati mama, keluaaarr.... keluaarrr pa!!! biarkan mama sendiri. Mama tidak mau dekat-dekat dengan seorang penghianat," ucapku berteriak mengusir papa Galih dengan mendorongnya keluar kamar dan menutup pintu kemudian menguncinya.
"Maaaa!! buka pintunya maa!! mana mungkin papa bisa jatuh cinta sama perempuan itu, papa cuma cinta sama mama, dihati papa cuma ada mama, bahkan andai papa masih lajang sekalipun papa lebih baik jadi jomblo seumur hidup daripada harus menikahi perempuan seperti itu, dia bukan tipe papa, dia tidak mungkin mampu menggeser posisi mama dihati papa, keluarlah maaa!! kita bicara baik-baik, selesaikan masalah dengan kepala dingin jangan dengan omosi, " ucap papa Galih. Aku hanya diam saja mendengar ucapan papa Galih. Tapi setelah aku fikir-fikir betul juga yang ucapkan papa Galih, akhirnya dengan berat hati kulawan seluruh emosi yang menyesakkan dada, aku melangkah mendekati pintu kemudian membukanya.
ceklek.... kretekkk..
"Maafkan aku ma!! bukan maksud papa meremehkan perasaan mama, bukan maksud Papa juga tidak peduli dengan perasaan mama. Tadi papa hanya bahagia melihat papa cemburu, karena jika mama cemburu itu artinya mama masih cinta sama papa. Papa sangat bahagia karena mama ternyata cinta sekali sama papa," ucap papa.
plaakk!!
__ADS_1
Aku melepaskan pelukannya, buku novel yang baru saja aku baca langsung aku pukulkan kebahunya.
"Jadi papa mengira selama ini, mama enggak cinta sama papa!! perlu papa ketahui mama tuh cinta mati sama papa, makanya mama tidak suka kalau ada perempuan yang dekat-dekat sama papa, mama tidak suka kalau papa beramah-ramah sama perempuan lain.
"Iya ma.. iya, papa sekarang percaya kalau mama cinta banget sama papa. Terimakasih atas cinta mama yang begitu besar buat papa, terimakasih sudah menjadi ibu dari anak-anakku, nenek dari cucuku," ucap papa Galih sambil memeluk dan menciumiku bertubi-tubi. Mulai sekarang kita harus saling percaya kalau kita adalah pasangan yang saling mencintai, mama jangan pernah curiga sama papa, karena semua ruang dihati papa hanya terisi oleh mama. Papa tidak ingin memberi kesempatan kepada perempuan lain untuk masuk kehati papa," ucap papa. Aku hanya mengangguk menanggapi ucapan papa, kuseka sudut mataku yang basah.
"Iya papa, tapi bagaimana dengan perempuan tadi, besok dia akan datang menemui papa, " ucapku merasa khawatir.
"Ma, perselingkuhan itu terjadi karena memang kedua belah pihak sama-sama menginginkannya. Sedang mama tahu kan kalau papa hanya mencintai mama. Papa tidak ada niat menjalin hubungan sama dia. Papa hanya ingin menikah sekali seumur hidup. Biarkan saja dia datang membeli sayur-sayuran kita, dengan harga normal dan aturan seperti biasa tentunya. Kalau dia suka sama papa, itu hak dia, kita tidak bisa mengatur perasaan orang lain. Tapi hak papa juga untuk menolaknya. Seberapa pun banyaknya perempuan yang mengejar-ngejar papa, selama papa tetap setia sama mama maka perselingkuhan itu tidak akan terjadi, iyakan ma?, " tanya papa Galih, aku hanya mengangguk sambil berusaha mengendalikan rasa cemburu yang begitu menyesakkan dada.
"Kita ini sudah tua, dulu waktu kita muda, hidup kita susah, kita berdua berjualan sayur dari pasar tungging yang satu kepasar tungging yang lain menggunakan sepeda motor roda dua. Dulu mama menerima papa walaupun papa tidak punya apa-apa. Dulu kita pernah berjanji akan selalu setia dalam keadaan apapun dan kondisi bagaimana pun. Sekarang usaha papa sudah sukses masa papa mau ninggalin mama yang sudah nyata menerima papa apa adanya demi wanita yang hanya menginginkan uang papa, wanita seperti itu pasti akan meninggalkan papa seandainya suatu saat papa tidak punya apa-apa, kita tidak pernah tahu apa yang terjadi bukan? Hanya Laki-laki bodoh yang mau meninggalkan istrinya yang begitu baik demi memilih wanita lain yang hanya mencintai uangnya saja," ucap suamiku. Sekarang aku menyadari sikapku yang begitu berlebihan, aku terlalu cemburu melihat suamiku digoda oleh perempuan lain. Padahal selama ini papa Galih begitu baik dan setia kepadaku.
"Papa, maafkan mama yang telah meragukan kesetiaan papa, mama cuma terlalu cinta sama papa, mama takut kehilangan papa," ucapku sembari memeluk suamiku.
"Papa pasti maafin mama, karena papa sayang mama. Ayo kita siap-siap tadi kan rencananya kita akan pergi kerumah Yunian. Cuci muka sana biar enggak ketahuan habis menangis, malu sama Yunian, nanti dikira kita habis berantem," ucap suamiku.
__ADS_1
*******
.