
(POV) Santi
"Baiklah kamu saya terima bekerja sebagai pembrondol dikebunku," ucap pak Dewanta sambil menyerahkan kembali berkas lamaran kepadaku dan berlalu pergi meninggalkanku.
"lho kenapa berkas dikasihkan saya lagi pak," sahutku sembari melangkah dengan cepat menyusul langkah pak Dewanta yang panjang-panjang dan cepat.
"Sejak kapan kerja jadi pembrondol sawit memerlukan berkas lamaran. Kamu bawa pulang saja. Ingat besok mulai bekerja, jam delapan harus sudah dikebun, harus pakai pakaian yang sopan jangan seperti Juita. Kalau tidak bersedia berpakaian sopan, silakan kerja di lain saja," ucap pak Dewanta sambil naik kendaraan dan melajukan kendaraannya entah kenapa.
Akhirnya satu langkah terlewati. senang rasanya hari ini bisa diterima kerja pak Dewanta, walaupun hanya sebagai pembrondol. Sekarang susah-susah tak mengapa demi mengapai tujuan bahagia, hidup bergelimang harta bersama pak Dewanta. Setelah semua urusanku telah selesai, aku segera melajukan kendaraanku dengan penuh semangat menuju rumahku di desa Mentereng.
Sebelum sampai di desaku aku berhenti sejenak mencari tempat yang sepi dan nyaman untuk menelepon Juita untuk sekedar bertukar kabar. Jika sudah dirumah aku tidak bisa bebas bicara dengan Juita untuk membicarakan rencana-rencana kami selanjutnya.
Setelah beberapa saat, aku menemukan tempat yang nyaman dipinggir jalan yaitu dibawa pohon beringin dengan dahan yang rindang dan akar-akar yang menjuntai kebawah. Udara dingin berembus walau cuaca sedang panas terik. Aku duduk senyaman mungkin diatas jok kendaraan. Segera aku buka resleting tas slempangku dan kukeluarkan hand phone jadulku. Mungkin tidak lama lagi hand phoneku akan berganti menjadi hand phone tercanggih yang dimiliki warga didesa ini, setelah aku resmi diperistri oleh pak Dewanta.
kriiiing....
__ADS_1
kriiiiing...
Baru saja aku mau membuka aplikasi hijau untuk menghubungi Juita. Tiba-tiba saja hand phone aku berbunyi tanda ada panggilan masuk. Setelah aku lihat di layar monitor ternyata orang yang akan aku hubungi menghubungiku. syukurlah aku tidak perlu menghubungi duluan, itung-itung menghemat kuota.
"Hallo Juita, ada kabar apa kamu menghubungiku, apa ada perkembangan atau hal penting yang harus di bahas,"ucapku pada Juita.
"Aku sudah memasukan lamaranku untuk bekerja disalah satu restoran milik pak Galih. Namun belum ada panggilan," ucap Juita diseberang sana.
"Kamu seharusnya melamar jadi asisten rumah tangga Galih, mungkin sebaiknya kamu temui Fira, nanti aku coba mencari tahu alamat rumah Galih sabar ya, oh ya..Juita!! Aku sudah diterima kerja jadi pembrondol dikebun pak Dewanta, besok aku mulai bekerja," ucapku pada Juita.
Aku melajukan kendaraan metik yang dibelikan oleh ibuku, melewati jalan-jalan berdebu, terkadang melewati hamparan kebun karet, terkadang kebun sawit dan ada kalanya hamparan tanaman padi yang menghijau membentang luas disebelah kanan dan kiriku. Kini aku telah memasuki gerbang rumah bude Marni. Seorang asisten kepercayaan bude Marni yang sepertinya baru pulang dari pasar karena membawa sekeranjang barang kebutuhan dapur menyambutku dengan ramah.
"Nak Santi tambah cantik aja, bagaimana kabarnya, kebetulan bude Marni ada dirumah, bibi panggilkan ya?" Asisten bude menawarkan ingin memanggilkan bude Marni, akupun mengiyakan sembari duduk dikursi teras rumah.
"Santi, tumben kamu menemui bude, kangen atau ada maksud lain, nih sekalian bude bawakan es degan kesukaanmu," bude Marni datang membawa segelas es degan kesukaanku dan meletakkan diatas meja. Lalu bude duduk dikursi yang ada disampingku.
__ADS_1
"Terimakasih bude, bude tau aja kalau Santi lagi haus. Ini lho bude, boleh nggak aku minta alamatnya Fira dan Galih, rencananya aku mau jalan-jalan ke kota cari kerjaan bude, nanti kalau sempat aku mau mampir, ya sekeder menyambung tali silaturrahmi, enggak apa-apa kan bude ," ucapku setelah meminum beberapa teguk es degan pemberian bude Marni.
"Ya, tentu boleh, apa sih yang enggak buat keponakan bude yang cantik ini!! semoga kamu cepat dapat kerjaan yang gajinya besar," jawab bude Marni. Kemudian bude Marni masuk kedalam rumah untuk mengambil hand phone dan mengirimkan alamat tempat tinggal Galih dan Fira melalui pesan singkat Whats Aap. Setelah mendapatkan alamat rumah Galih dan Fira akupun langsung berpamitan kepada bude Marni untuk pulang karena hari sudah semakin Siang. Sesampainya dirumah aku langsung meneruskan mengirim alamat rumah Galih dan Fira kepada Juita.
Pagj-pagi sekali aku telah siap dengan pakaian rapi, seperti biasa aku mengenakan celana jins, kalau biasanya aku selalu mengenakan kaos lengan pendek yang kentat, sekarang aku mengenakan baju kaos lengan panjang yang longgar dan berkerah agar terlihat lebih sopan seperti yang di inginkan pak Dewanta. Sementara untuk atribut lain seperti sepatu boat dan topi purun aku masukan kedalam ransel milikku.
Kamu yakin mau bekerja dikebun jadi pengawas, Santi!!...kerja dikebun itu panas lho, kenapa kamu tidak cari kerja dikota saja nak!!" ucap ibuku. Aku memang tidak mengatakan bekerja sebagai pembrondol sawit pada ibu, takutnya ibu curiga, karena ibu tahu aku sama sekali tidak mau bekerja panas-panasan, apalagi sebagai pembrondol sawit yang harus banyak berjalan kaki hingga sejauh kiloan meter. Kalau tidk ada misi tersembunyi, aku juga ogah melakukan semua ini.
"Nanti saja lah bu, aku masih ingin tinggal didesa agar bisa antar Kiran kesekolah. Setelah semua siap, aku mengantarkan Kiran kesekolah dan langsung menuju desa padang Sawit, tanpa sepengetahuan ibuku dan ayahku tentunya, karena setahu mereka aku bekerja di perkebunan milik BUMN sebagai pengawas lapangan.
Hari ini aku lalui pekerjaanku dengan begitu berat, gimana tidak berat!!, Aku yang tidak terbiasa memakai sepatu boat. Harus berjalan kaki puluhan kilo meter untuk memungut bulir-bulir sawit yang tercecer dibawah pohonnya dan memasukannya kebakul yang selalu aku tenteng kemanapun aku pergi. Sinar matahari bersinar begitu terik menembus sela-sela dedaunan dan pelepah-pelepah pohon sawit sehingga terasa menyengat permukaan kulit. Walaupun sinar matahari tidak mengenaiku secara langsung namun sudah membuat keringat sebiji-biji jagung mengalir deras diwajah dan seluruh tubuhku. Terkadang dengkulku sedikit bergetar, badanku juga terasa lelah, kepalaku pun ikut berputar-putar, mungkin tadi pagi aku hanya sarapan sedikit roti sebagai pengganjal perut. Namun aku tidak boleh menyerah demi impianku menjadi istri pak Dewanta, agar bisa hidup bergelimang harta. Jika hari ini aku menyerah maka sudah pasti pak Dewanta akan memberhentikanku karena di anggap tidak sanggup untuk bekerja di kebunnya
Hingga tepat jam dua belas siang, kami semua menghentikan pekerjaan dan mulai memasuki jam istirahat. Aku terduduk kelelahan menyandar pada pohon sawit sambil sesekali meneguk minumanku. Kulihat teman-teman seprofesiku duduk santai dibawah pohon sawit sambil sesekali bercanda ria. Mereka semua terlihat ceria dan bahagia, seperti tak ada beban. Beberapa dari mereka mulai menyantap bekal yang dibawa dari rumah. Karena kita tidak mungkin membeli makanan, jarak tempat kami membrondol dengan wilayah pemukiman sangatlah jauh. Akupun mulai membuka bekal yang tadi dibungkuskan oleh ibu, rasanya sudah sejak tadi perutku terasa melilit minta diisi.
Dengan menu sederhana, sesuap demi sesuap, rasanya makanan ini begitu lezat, mungkin karena dimakan dalam keadaan lapar dan tidak ada makanan lain sebagai pembanding.
__ADS_1
*******