Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab. 24 . Pencarian Zahwa


__ADS_3

(pov) Dewanta.


Hari menjelang petang namun tidak ada tanda-tanda Zahwa akan ditemukan. Polisi dan tim SAR yang diturunkan untuk melakukan pencarian ditempat-tempat ekstrim diseputaran kebun sawit seperti jurang, sumur dan lubakan yang besar, serta semak belukar telah diperiksa. Bahkan beberapa sumur pun telah mereka kuras. Namun tak ada tanda-tanda Zahwa akan ditemukan.


Kring...


Kring...


Telepon Fira berbunyi, aku melihat tangan Fira menggapai-gapai tas yang tidak jauh darinya, aku merasa ia sedang mencari perhatianku agar aku mengambilkan


tas miliknya yang sebenarnya bisa dia ambil sendiri. Akupun enggan untuk mengambilkannya, aku hanya sibuk memikirkan kemana sebenarnya Zahwa. Sampai pada akhirnya Fira mengangkat telponnya.


Hallo, bagaimana?," tanya Fira pada sang penelepon.


"Telah ditemukan tas anak sekolah tergantung dipelepah pohon sawit, di kebun milik warga,berjarak sekitar dua kilometer dari sekolah TK Kebun Sawit, " ujar penelepon tadi yang ku dengar, karena Fira me loud speaker ponselnya.


" Foto tas itu dan kirimkan ke aku kemudian share lokasi ditemukannya " ucap Fira. Beberapa saat yang lalu Fira memang menyuruh anak buahnya untuk ikut membantu mencari keberadaan Zahwa.


"Ada tas anak sekolah ditemukan tergantung diantara pelepah sawit dikebun milik warga, coba lihat ini fotonya," ucap Fira. Fira menyerahkan hand phonenya kepadaku. Namun tiba-tiba Zahra langsung merebutnya.


"Sini aku yang lihat, kak ini kan tas Zahwa," ucap Zahra yang seketika tangisnya pecah. Kami segera menuju ketempat dimana tas Zahwa ditemukan. Aku.segera menghubungi polisi dan juga tim SAR agar memusatkan pencarian dimana ditemukan tas Zahwa.


Jam sudah menunjukan jam sembilan malam, pencarian Zahwa pun dihentikan dan akan dilanjutkan besok pagi. Aku dan Zahra pulang diantar Fira, sepanjang jalan Zahra terus terisak menangisi Zahwa anak semata wayang kami.


"Sabar bu Zahra, kita semua sedang berusaha mencari Zahwa, ibu sebaiknya terus berdoa agar Zahwa terus ditemukan," ucap Fira yang sejak tadi terlihat begitu tenang, bahkan beberapa kali aku lihat dia diam-diam tersenyum sendiri. Apa dia merasa senang dengan hilangnya zahwa, tapi kenapa dia mau bersusah-susah ikut membantu kami bahkan sampai mengerahkan anak buahnya.

__ADS_1


Malam ini aku sengaja pulang kerumah ayah dan ibu di desa Padang Sawit untuk meminta pendapat ayah dan ibu kemana lagi kita harus mencari puteri kami tercinta.


Mobil Fira yang kami tumpangi berhenti dihalaman rumah, aku dan Zahra segera keluar.


"Terima kasih Fira, kamu sudah meluangkan waktumu untuk membantu kami mencari keberadaan Zahwa," aku yang dari siang tadi hanya mendiamkan Fira mengucapkan rasa terima kasihku atas bantuannya dengan mengesampingkan egoku.


"Sama-sama mas, bu, saya senang bisa membantu kalian sekeluarga. Tolong kabari saya kalau ada kabar yang menyangkut soal zahwa, siapa tahu saya bisa bentu mencarikan solusi.


Mobil Fira meluncur meninggalkan halaman orang tuaku. Kulihat ayah dan ibu berdiri diteras menyambut kedatangan kami.


"Ibu segera berlari turun dari teras memeluk Zahra begitu juga ayah yang langsung memelukku. Kalian yang sabar, yang tabah, mungkin ini adalah salah satu ujian rumah tangga kalian. Mari kita doakan semoga Zahwa dalam keadaan sehat wal afiat dimanapun dia sekarang berada. Kita titipkan dia kepada sang pemilik kehidupan agar jiwa dan raganya senantiasa terjaga.


Kami berempatpun masuk kedalam rumah dan langsung diajak keruang makan."Kalian dari siang pasti belum makan, sekarang makanlah, tadi ibu hanya membeli makanan saja, rasanya ibu tidak berdaya untuk memasak ," ucap ibu, sambil mengaut nasi, Sayur Dan Lauk kedalam piring Zahra Dan jugs piringku.


"kalau kamu tidak makan bagaimana kamu besok mencari Zahwa, dipaksakan untuk makan agar kalian tidak jatuh sakit. dengan susah payah kami memakan nasi yang dihidangkan oleh ibu, akhirnya separuh makanan yang disuguhkan ibu berhasil masuk kelambung kami.


"Ini adalah hari ketiga pencarian Zahwa, hari ini kami menemukan topi Zahwa yang terletak sekitar dua kilo meter dari tempat ditemukannya tas Zahwa. Ibu Markonah mertuaku bahkan jatuh sakit sejak hilangnya Zahwa, karena merasa shock dengan hilangnya cucu semata wayangnya.


malam ini aku, Zahra, ibu dan ayah berkumpul dimeja makan.


"Apa kalian tidak ada firasat apa-apa beberapa hari sebelum hilangnya Zahwa," ucap ayah bertanya pada kami, pertanyaan ayah mengingatkanku akan kebersamaan aku dan Zahwa.


"Aku ingat ayah, pada malam sebelum hilangnya Zahwa. Saat itu Zahwa minta ditemani tidur, malam itu dia merasa takut tidur sendirian karena selalu bermimpi buruk, dikejar-kejar.laki-laki yang mempunyai gambar dilengan dan lehernya. kemudian dia bertemu kakek dan nenek dan dibawa kerumah yang banyak kaki-kakinya, lantainya tinggi dan terbuat dari kayu," aku menceritakan mimpiku pada ayah.


"Kakak kenapa tidak cerita tentang mimpi Zahwa padaku, bukankah kemarin bu Fira ketemu Zahra sedang berjalan diiringi oleh dua orang laki- laki bertato yang satu tatoya dileher dan yang satu dilengan," ucap Zara. Ucapan Zahra mengingatku tentang rumah panggung terbuat dari kayu yang digambarkan Zahra dengan rumah berlantai tinggi dengan kaki yang banyak yang aku lihat beberapa hari yang lalu, Akupun menceritakan semuanya pada ayah.

__ADS_1


"Dewanta akan datangi rumah itu ayah, Dewanta masih ingat tempatnya. ucapku sembari berlari mengambil jaket, dompet dan hand phone kemudian melangkah menuju garasi dengan tergesa-gesa.


"Tunggu Dewanta, apa Tidak sebaiknya menunggu besok pagi saja,"ucap ayah.


"Tidak ayah lebih cepat lebih baik, jangan sampai kita terlambat, takutnya akan berakibat fatal," ucapku pada ayah.


"Kalau begitu biar ayah telpon polisi untuk mengawalmu," lalu ayah mengambil hand phone dari saku celananya kemudian beliau menekan aplikasi hijau dan melakukan panggilan kepada salah satu rekannya yang bekerja dikepolisian bagian kriminal. Ayah menceritakan semua yang aku alami.


Selang setengah jam kemudian, beberapa polisi datang dengan menggunakan pakaian preman. mereka semua berangkat menggunakan sepeda motor roda dua, menuju lokasi dimana aku melihat rumah dengan ciri - ciri seperti yang ada dalam mimpi Zahwa.


**********


Sementara Zahra dan bu Wajirah menan?tuanya menunggu di rumah. Zahra merasa gelisah, memikirkan keselamatan suami dan semua orang yang barusan berangkat mencari Zahwa.


"Bu apakah Zahra perlu menghubungi seseorang untuk membantu mereka," Zahra meminta pendapat mertuanya.


"Sebaiknya jangan menghubungi siapapun dulu Zahra, takutnya ada pihak-pihak tertentu yang ingin menggagalkan rencana yang telah disusun polisi. kita cukup diam saja menunggu dirumah. Percayakan tugas ini kepada mereka, seandainya nanti ada sesuatu yang membahayakan, polisi pasti akan menghubungi rekan - rekannya," ucap bu Wajirah kepada sang menantu. Zahrapun mengangguk dan mengikuti saran sang ibu mertua.


Sementara itu Dewanta yang membonceng ayahnya terus melaju membelah jajan-jalan sepi diperkebunan sawit. untaian doa terus terucap dari bibirnya, semoga sang anak tercinta bisa ditemukan dalam keadaan sehat tanpa kurang suatu apapun. Sedangkan dibelakangnya beberapa polisi berpakaian preman menggunakan kendaraan roda dua terus mengikutinya.


Dewanta menghentikan laju kendaraannya. sekitar lima puluh meter dihadapannya sebuah rumah dengan ciri - ciri seperti yang diceritakan Zahwa dalam mimpinya. Beberapa polisi berpakaian preman yang tadi bersamanyapun ikut berhenti dan Memarkir kendaraannya. Kemudian melangkah mendekati Dewanta dan ayahnya.


Sejenak mereka berbicara menyusun rencana. beberapa saat kemudian, mereka semua melangkah menuju rumah panggung yang ada di hadapannya. Sekarang mereka berada tepat didepan pintu rumah panggung itu. Lalu mereka mengamati suasana didalam rumah tersebut.


******

__ADS_1


__ADS_2