Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab. 74. shock


__ADS_3

(POV) Santi


Sebagai sepupu, aku tidak pernah akrab dengan Yunian, bahkan saat dia menikah sekalipun aku tidak datang, karena menurutku dia bukanlah levelku. Dia hanya gadis rumahan yang hanya bisa mengurus rumah tangga. Aku memang sudah tahu kalau nama suami Yunian adalah Dion, tapi aku sama sekali tidak pernah mengira kalau Dion suami Yunian adalah mantan suamiku. Karena memang setelah menikah mereka tinggal didesa Padang Gatah. Dan Dion pun jarang pulang, jadi Yunian dan Jordan putranya, mereka selalu berdua saja dirumah. Semula aku mengira kalau suami Yunian adalah seorang supir lintas propinsi, sehingga jarang punya waktu untuk keluarga.


Aku mengetahui suami Yunian adalah Dion mantan suamiku pada saat pertama Yunian diajak Dion menemui keluarganya. Disitulah terungkap kalau besan bude Marni adalah pak Dirgantara, seorang pengusaha terkenal seantero negeri dan sudah malang melintang di dunia bisnis.


Sepeninggal Dion dan Yunian aku langsung melajukan kendaraanku, membelah jalan nan sunyi sepi dan berbatu. Sesekali aku terbatuk karena terhirup debu jalanan. Namun aku tetap melajukan kendaraanku dengan kecepatan maksimal. Rencananya aku akan mampir kerumah bude Marni. Aku ingin mengorek keterangan dari bude Marni tentang bagaimana keadaan rumah tangga Galih dan Fira.


Tidak berapa lama, aku sudah memasuki gerbang rumah bude Marni. Pak Warjito yang tengah menyiram bunga-bunga dihalaman langsung menyapaku.


"Ponakan pak de, tumben mampir, pasti kamu kangen bude dan pakde disini yah... Ayo sana, temuin budemu, sepertinya dia lagi santai di ruang tivi, tapi bukan lagi nonton tivi melainkan lagi mbaca novel online"

__ADS_1


Mendengar sapaan dari pakde Warjito, akupun langsung menghampiri beliau untuk menyalaminya dan segera pamit untuk menemui bude Marni. Aku terus saja melangkah memasuki ruangan yang terlihat sepi, seperti tak ada kehidupan, akupun terus mengayunkan langkah kakiku menuju ruang tivi seperti arahan pakde Warjito, tapi lagi-lagi ruang tivinya pun kosong melompong. Akhirnya aku mencoba meneruskan langkahku keruang makan. Dugaanku ternyata benar, bude tengah diruang makan, duduk santai sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil mendengarkan musik. Sementara dihadapannya setengah toples kacang kulit beserta kulit kacang yang telah kosong berhamburan diatas meja.


"Bude apa kabar, kayanya lagi bahagia banget nih," ucapku sambil mendekati bude Marni kemudian memeluknya. Kalau ingin mendapat kabar yang akurat aku harus bertingkah semanis mungkin dihadapan bude Marni. Mendengar sapaanku, seketika bude Marni langsung mematikan suara musik dihand phone nya.


Perlahan beliau menatapku dengan tatapan tajam. Aku pun tersenyum membalas tatapan bude Marni. Namun wajah bude Marni beda dari biasanya, tampak, datar. Dingin dan tidak ramah seperti biasanya.


"Duduklah Santi, bude mau bicara," ucap bude Marni tanpa ekspresi. Aku pun langsung duduk dengan sedikit deg-degan, ada apa gerangan, sepertinya ada hal serius yang akan dibicarakan. Aku pun duduk dihadapan bude Marni sambil sesekali menatap beliau.


"Apa maksud kamu menjebak Galih sepupumu sendiri dengan obat perangsang," ucap bu Marni, yang seketika membuat jantungku seperti akan lepas dari gantungannya.


"Kamu memang tidak menjebaknya, tapi kamu telah mengirim Juita untuk merusak rumah tangga Galih dan Fira. Bude tidak menyangka, hatimu begitu busuk. Menyesal bude selama ini berbuat baik sama kamu. Tidakkah kamu sadar atas apa yang telah kamu perbuat pada rumah tangga Dion dan Fira dimasa lalu. Dan kamu lihat apa hasilnya. Dion sekarang menikah dengan Yunian dan mereka hidup bahagia. Sedangkan Fira menikah dengan Galih dan mereka juga bahagia. Sekarang lihat dirimu yang suka merusak rumah tangga orang dan membuat kecewa banyak orang. Hidupmu sekarang sengsarakan, kerja sebagai pembrondol sawit dengan gajih jauh dari ekspektasimu. Yang lebih parah lagi kamu selalu berusaha mendekati Dewanta bosmu, dan berusaha menjebaknya dengan obat perangsang."

__ADS_1


Ucapan demi ucapan bude Marni benar-benar membuat aku shock. Darimana bude Marni mengetahui semua yang telah aku perbuat. Rasanya aku tidak pernah bercerita kepada siapa pun. Hanya Juita yang mengetahui semua rencanaku.


"Santi, bude mohon berhentilah mengganggu rumah tangga orang lain, cobalah berfikir jernih, apa yang kamu dapat dari semua itu!!... Tidak ada, hanya kekecewaan dan sakit hati yang akan membuat hidupmu semakin terpuruk. Coba lihat Fira, dia menemukan lelaki yang dicintainya kala dia sadar dan berusaha memperbaiki diri, Dion dan yang terakhir Juita orang yang kamu utus mengganggu rumah tangga anakku Galih. Sekarang dia sudah bekerja dengan nyaman dan tentram, rajin ke pengajian, cara berpakaiannya pun sopan. Ingat Santi sekali lagi kamu mengganggu rumah tangga Galih, Yunian dan Dewanta, bude adalah orang pertama yang akan membuat perhitungan denganmu," ucap bude Marni tegas.


"Tapi bude, bude jangan menuduhku sembarangan begitu, bude tidak punya bukti kalau aku berniat menghancurkan rumah tangga mereka," jawabku sambil duduk dihadapan budeku.


"Kalau untuk rumah tangga Dion dan Yunian memang belum menjadi targetmu. Tapi rumah tangga Dewanta dan Galih sudah ada dalam rencanmu bukan!... Ingat Santi, Dewanta dan Galih sudah memegang bukti rekaman pembicaraanmu dengan Juita dan ditambah lagi dengan kesaksian Juita. Bude kira sudah cukup bukti untuk menjebloskanmu kepenjara. Tapi sebelum itu terjadi, berhenti dan sadarlah bahwa usahamu untuk menghancurkan pernikahan mereka akan sia-sia. Walau bagaimanapun mereka telah mengucapkan janji suci dalam sebuah pernikahan dihadapan manusia dan Tuhannya. Ada cinta yang begitu besar dan suci dihati mereka untuk pasangan tercintanya. Tidak mudah untuk menghancurkan mereka. Karena selama kejahatan dan keburukan tidak akan pernah menang melawan kebaikkan. Pikirkan itu Santi, hidup cuma sekali maka gunakanlah sebaik-baiknya untuk mencari bekal kelak diakherat. percuma hidup kalau hanya digunakan untuk sebuah kesia-siaan, kamu sendirilah yang akan rugi," Bude Marni mengelus pundakku dengan penuh kasih dan sayang.


Aku menunduk, menyadari kegagalan demi kegagalan yang aku alami. Bude benar sepertinya nasib baik tidak pernah berpihak kepadaku, apakah semua ini karena perbuatanku. Atau karena aku yang kurang keras dalam berusaha.


Hari sudah menjelang magrib, akupun pamit dengan bude Marni. Bude marnipun berpesan agar aku berubah untuk memperbaiki diri dan kembali melangkahh dijalan yang benar, jalan yang diridhoi oleh Allah. Jangan biarkan fikiran buruk menguasai hatiku, kata bude itu adalah ulah syaitan yang ingin menghancurkan masa depanku. Agar bude Marni tidak terus menasehatiku, akupun mengjyakannya dan berjanji untuk berubah menjadi lebih baik

__ADS_1


Setelah sampai dirumah, aku langsung mengambil handuk dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Rasanya tubuh sudah lengket sekali setelah seharian terpapar sinar matahari. Belum lagi hati ini beberapa kali shock karena menerima kenyataan bahwa semua rencanaku gagal. Aku tidak menyangka, mereka semua telah memgetahui rencanaku dan Juita. Bahkan semua rencana yang belum terealisasi pun meraka telah mengetahui. Kini bude Marni dan mungkin juga seluruh keluarga sudah mengetahui bagaimana aku sebenarnya. Mudah-mudahan saja mereka tidak membenciku dan membuatku kehilangan pekerjaan mencuci baju ditempat tetangga. Karena sepertinya aku sudah tidak sanggup lagi bekerja dikebun pak Dewanta. Aku akan mengundurkan diri lewat telepon saja, karena aku males sekaligus malu ketemu dengan pak Dewanta.


********


__ADS_2