Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab. 106. Perselisihan


__ADS_3

(POV) Dirgantara.


Sudah puluhan tahun aku menikahi Retno, seorang anak pejabat yang kaya raya. Di sebuah kegiatan kampus kami dipertemukan. Retno gadis yang cantik dan perhatian, aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Hubungan kami berlanjut hingga kami menyelesaikan kuliah S1. Ayah dan bundaku menginginkan aku untuk melanjutkan kuliah diAmerika. Karena cintaku pada Retno yang begitu besar dan tak ingin terpisah oleh jarak dan waktu. Aku dan Retno memutuskan untuk menikah sebelum kami berdua berangkat ke Amerika.


Kami menjalani hidup sebagai suami istri jauh dari kedua orang tua. Mertuaku memberikan kami modal untuk aku dan Retno merintis usaha, sedangkan orang tuaku membiayai semua kebutuhan kami mulai dari biaya kuliah hingga kebutuhan hidup sehari-hari. Dengan dibantu seorang asisten rumah tangga yang kami bawa dari negara asal kami, Retno istriku menjalani profesinya sebagai seorang istri dan ibu dari putra dan putri kami. Sementara aku sibuk berjibaku dengan tugas kuliah dan usaha yang aku rintis dari modal pemberian mertua.


Segala permasalahan dalam rumah tangga, seperti pembayaran listrik, air, sampah dan lain-lain Retno selesaikan sendiri tanpa melibatkan aku sebagai kepala rumah tangga. Dia benar-benar wanita yang enerjik dan mandiri. Aku hanya fokus bekerja dan kuliah


Beberapa tahun kemudian kuliahku pun selesai. Aku mengembangkan usahaku diIndonesia dibidang perkebunan karet. Saat anak-anakku mulai dewasa, Retno memutuskan untuk bekerja membantuku mengurus perusahaan. Disitulah sifat egois dan ingin menang sendiri mulai muncul. Mungkin karena selama ini dia merasa mampu mengurus segalanya seorang diri, sehingga cenderung menginginkan orang lain mengikuti jejaknya untuk bisa mengerjakan segalanya atau mengikuti semua yang diperintahkan dan diinginkannya.


Sebagai suami, kesalahanku adalah kurang memberikan kasih sayang dan perhatian, akibat kesibukanku.


"Papa ayo bangun, sudah siang pa...biasanyakan bangun pagi. Jangan malas-malasan, biar badanmu sehat dan bugar pa," istriku menarik tanganku dan mengajakku kekamar mandi untuk membersihkan tubuh dengan air yang sudah dia sediakan. Sudah menjadi aturan Retno, setiap pagi aku harus bangun tepat waktu, jika aku lambat bangun maka Retno akan marah dan menarikku kekamar mandi.

__ADS_1


Jika hati sedang dalam kondisi normal, aku tak pernah mempermasalahkan apa yang dilakukan Retno namun disaat kondisiku kurang Fit akibat usia tua, rasanya aku kesal sekali. Namun Retno tak pernah perduli seberapa pun besarnya kemarahanku. Baginya aku harus mengikuti keinginannya karena keinginannya itu adalah baik menurut pendapatnya.


"Nanti lah mama, badanku cape sekali, pegel-pegel, tidur lagi satu jam yak....please." ujarku memohon.


"Tidak papa!!.. Papa harus selalu mandi pagi agar tubuh papa segar kembali. Tidak baik bermalas-malasan papa," itulah Retno. Tidak bisa menerima penolakan dari orang lain.


Saat Fira menantuku tak kunjung hamil dia memaksa putraku Dion untuk menikahi Santi ibu dari anak putraku diluar pernikahan. Santi adalah wanita dengan kepribadian tidak baik menurutku. Namun menurut Retno bagaimanapun kepribadiannya yang penting bisa hamil tak masalah baginya. Sampai pada akhirnya apa yang dilakukan berakibat Dion putraku pergi selama bertahun-tahun lamanya.


Kini Dion sudah kembali dengan membawa anak dan istri yang dinikahi tanpa sepengetahuan kami. Beberapa bulan ini Dion juga sudah berhasil membawa Kiran anaknya dengan Santi diluar pernikahan, untuk tinggal bersama kami. Lengkap sudah kebahagiaan putraku Dion, istri yang cantik dan baik hati, sepasang anak putra dan putri yang sehat. Yunian istrinya tidak pernah membeda-bedakan anak kandung dengan anak sambungnya. Keduanya mendapat kasih sayang yang sama darinya.


"Papa... mama selalu berdoa, semoga rumah tangga Fira dan Galih tidak lama, semoga mereka segera bercerai, agar Dion bisa segera pendekatan dengan Fira, kemudian melamarnya untuk menjadi istri keduanya. Yunian wanita yang baik dan penurut, dia pasti tidak akan keberatan jika Dion menikah lagi," ungkapnya disuatu malam saat kami berada dipembaringan sebelum tidur. Sesak rasanya dada ini mendengar ucapan Retno istriku.


Tuhan.....apakah prahara dalam keluarga ini yang dulu pernah terjadi akan terulang lagi, akibat kebodohan istriku. Masih teringat jelas waktu itu, Kala Dion prustasi saat Fira pergi dari rumah, seseorang mengirimkan surat gugatan cerai dari pengadilan agama atas nama Fira Anastasya dan tergugat atas nama Dion Putra Dirgantara.

__ADS_1


Tanpa fikir panjang Dion menceraikan Santi dan mengusir Santi dan Kiran anak kandungnya sendiri tanpa sedikitpun rasa kasihan. Bolak-balik kami membawanya kerumah sakit, dan berulang kali pula kami memohon kepada Fira yang waktu itu berada di Paris bersama orang tuanya, agar membatalkan gugatan cerainya. Namun Fira sama sekali tak bergeming. Dia begitu mantap ingin berpisah dengan Dion. Pak Langit dan bu Dinda pun dengan tegas tidak ingin kembali berbesan dengan kami.


"Apa menurut mama, Fira masih mau menjadi menantu mama, bukankah dulu mama dan Dion juga pernah meminta Fira membatalkan perceraiannya, ingat enggak, Fira dengan tegas menolak, dia lebih suka hidup jadi janda daripada jadi istri Dion putra tercintamu. Apalagi sekarang dia sudah bahagia dengan Galih dan hampir mempunyai momongan, mana mau dia jadi mantu mama," jawabku. Mencoba membuka jalan fikiran istriku.


"Dulu Dion belum sukses seperti sekarang ini pa...., dulu Dion masih bekerja mengurus perusahaan orang tuanya. Sedangkan sekarang Dion sudah punya perusahaan sendiri ditambah beberapa perusahaan yang kita wariskan kepadanya. Dijamin Fira pasti ngiler jika dia tahu seberapa besar harta kekayaan Dion," ujar istriku percaya diri.


"Fira bukan wanita matrealiatis seperti Santi, dia tidak akan mungkin tertarik pada harta Dion, seberapapun besarnya," ujarku.


"Papa lihat saja nanti, percayakan semua menjadi urusan mama, Fira pasti akan jadi istri Dion, nama Dirgantara akan semakin tersohor seantero negeri ini, karena perkawinan putranya Dion dengan Fira putri dari pak Langit Perkasa," ujarnya dengan mantap dan begitu bangga. Aku hanya geleng-geleng kepala menanggapi celotehannya.


"Sementara Yunian, dia anak yang baik, dia akan selalu patuh pada keputusan suami, karena dia wanita yang faham agama, bahwasannnya diapun menyadari bahwa seorang anak laki-laki itu milik ibunya dan harus patuh kepada ibunya. Apalagi kalau uang nafkah ditambah dua kali lipat, dibelikan rumah supermewah dan perhiasan mahal. Kemudian orang tua Yunian dikampung kita belikan beberapa hektar tanah perkebunan sawit yang sudah panen. Mereka semua akan patuh pada kehendak mama. Papa sebaiknya mengikut saja. Tidak usah kebanyakan protes. Peristiwa beberapa tahun yang lalu tidak akan terulang kembali. Mama sudah belajar dari masa itu, dimana letak kebodohan dan kecerobohan mama, kali ini mama akan bertindak lebih hati-hati," ujarnya lagi.


"Bagaimana seandainya mama Berada diposisi Yunian, apa mama tidak merasa sedih dan sakit hati," tanyaku.

__ADS_1


"Kesedihan Yunian akan terobati dengan uang dan kemewahan, papa fikir saja, wanita mana di dunia ini yang tidak suka uang," sahut istriku.


********


__ADS_2