Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab. 17. Ternyata


__ADS_3

Hari sudah sore, Fira sedang duduk dimeja kerjanya sembari menyerup secangkir kopi susu kesukaannya. Dia baru saja mengerjakan setumpuk berkas yang masih teronggok dimejanya. Sesaat dia ingin istirahat sejenak, melepaskan rasa lelah setelah seharian bekerja.


Dia mengambil ponselnya dan kemudian berselancar dimedia sosial. Ada sebuah kisah yang sedang viral.


Seorang laki-laki bernama Sasmito seorang pengusaha karet dari desa Padang Gatah telah mengalami mati suri. Beliau terbangun dari kematiannya saat berada dalam pangkuan Dewanta menantunya yang ingin memasukannya keliang lahat. Disitu juga ada foto pak Sasmito dan istrinya serta anak dan menantunya yaitu Dewanta yang membuat Fira mengernyitkan dahinya.


"Mas Dewanta akhirnya aku mengetahui kabarmu mas, ternyata kamu ada didesa Padang Getah. Dulu papa ingin mengembangkan usahanya dibidang perkebunan karet. Tapi karena harga karet terus anjlok maka papa pun mengurungkan niatnya untuk membeli lahan karet. Aku justru tertarik dengan komoditi sawit. Karena bisa dihandle dari jarak jauh, asalkan kita mempunyai orang kepercayaan. Ini menurut pengamatanku setelah aku mempelajari dua komoditi yang sedang eksis dinegri ini," batin Fira


Hari sudah sore akhirnya Fira pun berkemas- kemas untuk pulang. Tadi Dion mengirim pesan kalau dia sedang berada dirumah mertuanya. Dari pada pulang dirumah sendirian. Lebih baik menyusul saja kerumah mertua fikir Fira. Menjelang magrib diapun sampai dikediaman pak Dirgantara, sengaja dia masuk lewat pintu samping yang tembus keruang makan dan langsung menuju kekamarnya.


Saat melintas diruang makan dia mendengar suara Santi dan Dion sedang ngobrol santai ditemani oleh Kiran putri mereka. Mereka sudah seperti sebuah keluarga yang utuh, entah mengapa dadanya begitu perih menyaksikan pemandangan didepan matanya. Padahal ini sudah beberapa kali Dion bersenda gurau dengan Santi dan Kiran, tapi tetap saja yang namanya hati tidak bisa dibohongi.


Tampaknya mereka tidak menyadari kehadiran Fira dan Fira pun enggan menyapa mereka dan langsung masuk kekamar.


Sampai dikamar Fira langsung membersihkan tubuh dan shalat. Rasanya dia enggan untuk turun kebawah sekedar mengisi perut.


"Hari ini papa dan mama pergi keluar kota berarti Dion dan Santi hanya berdua. Tapi rasanya mereka tidak mungkin berbuat yang aneh-aneh, soalnya kan ada Kiran,"batin Fira.


Akhir-akhir ini tingkah Kiran serasa begitu menyebalkan bagi Fira. Bagaimana tidak, beberapa kali di menuduh Fira telah mengambil papanya dari mamanya. Dan berulang kali pula dia memanggil Fera dengan sebutan pelakor.


Sementara sang ibu mertua begitu menyayangi Kiran sehingga papapun yang diperbuatnya tidak pernah membuatnya marah dan selalu dianggap lumrah. Justru mama mertua menyalahkanku jika aku menasihati Kiran.


"Sayang kamu kapan datang, kok enggak bilang-bilang, tadi masuknya lewat mana," suara Dion tiba-tiba mengejutkanku.

__ADS_1


"Ya lewat pintulah, kamu sih terlalu asyik sama mama anak kamu jadi tidak ngelihat aku lewat," ucapku kesal.


"Tadi siang Kiran minta jalan-jalan kemall jadi ya aku turuti, kan enggak mungkin aku cuma sama Kiran, jadi sekalian aku ajak Santi. Kamu enggak papa kan?,"ucap Dion Santai.


"Deg... aku tak menyangka ternyata mereka sudah semakin dekat, apakah Santi akan membuktikan ancamannya, merebut apa yang aku miliki, dia sudah mampu mengambil hati mertuaku, sekarang dia mulai mengambil perhatian Dion.


"Fira, kenapa melamun, maaf ya karena aku enggak sempat minta izin kamu," ucap Dion dan Fira hanya menjawab dengan senyuman, walaupun hatinya terasa nyeri.


Hari terus berlalu, bulanpun terus berganti, kini setehun sudah usia pernikahanku. Namun tanda-tanda kehamilanpun belum nampak. Berulang kali ibu mertua mulai menyindirku. Sampai pada suatu malam saat aku diam-diam menyusul Dion dirumah mertuaku. Sengaja aku masuk diam-diam karena disana ada Santi, Kiran , mama dan papa mertua.


"Sebaiknya kalian menikah saja, biar Kiran punya orang tua yang lengkap Dion," ucap mama mertua.


"Tidak segampang itu ma, aku harus minta izin pada Fira, biar bagaimanapun dia istriku, aku sangat mencintainya, aku tidak mau dia meninggalkanku," ucap Dion.


"Kalau kamu menikahi Santi, ceraikan saja aku, bagiku tak masalah hidup sendiri daripada harus dimadu dengan wanita ular seperti dia," ucap Fira tiba-tiba sembari menunjuk kearah Santi.


"Kamu jangan menghina Santi seperti itu Fira, dia sudah insaf dan dia sekarang wanita baik-baik bahkan dia lebih sempurna dari kamu karena kamu mandul," ucapan mama mertua Fira sungguh menyakitkan, Fira tidak menyangka wanita yang selama ini selalu bersikap lembut dan menyayanginya sanggup mengucapkan kata-kata itu.


"Aku tunggu surat ceraimu Dion," ucap Fira sambil berlari keluar menuju mobil dan melajukan mobilnya menuju kerumahnya. Dion langsung berlari mengejar Fira.


"Dion!!, biarkan saja dia pergi, kamu tidak perlu ambil pusing, ceraikan saja dia," ucap bu Retno.


"Tidak bisa ma, aku tidak mau kehilangan Fira, aku sangat mencintainya," ucap Dion sembari berlari menuju mobilnya untuk mengejar Fira. Bu Retno terus memanggil Dion, namun Dion tak memperdulikannya.

__ADS_1


Dion terus melajukan mobilnya menuju apartemennya. Setelah sampai dia langsung membuka pintu apartemennya dengan menggunakan keycard. Dia periksa semua ruangan sambil memanggil nama Fira, namun Fira tak ada diapertemennya.


"Kalau tidak ada diapartemen kemungkinan dia dirumahnya yang dulu ditinggali sebelum menikah denganku," batin Dion. Dion segera melajukankan mobilnya menuju kekediaman Fira.


"Assalamu allaikum," Dion mengetuk pintu sembari mengucapkan salam. Tak lama kemudian bi Rasmi pembantu dirumah Fira membukakan pintu sembari menjawab salam.


"Firanya ada Bi, tanya Dion dan bi Rasmi mempersilakan masuk lalu memberitahu kalau Fira ada dikamarnya. Dion langsung masuk kedalam kamar Fira yang ternyata tidak dikunci.


"Fira maafkan aku Fira, aku mohon Fira jangan tinggalkan aku, aku sangat mencintaimu, apalah artinya aku hidup tanpa kamu Fira," Dion memeluk Fira yang sedang duduk diranjang sembari memeluk kedua kakinya.


"Sudahlah kamu tidak perlu minta maaf sebagai laki-laki kamu harus gentle. Kalau kamu mau menikahi Santi ceraikan aku, kalau kamu masih ingin bersamaku maka jauhi Santi, jangan serakah, ingin memiliki dua-duanya" ucap Fira marah.


"Tentu aku lebih memilihmu, karena aku sangat mencintaimu. Aku janji akan menolak keinginan mama untu menikah dengan Santi. Tapi janji jangan pernah tinggalkan aku," ucap Dion. Akhirnya Dion dengan tegas menolak keinginan mama untuk menikah dengan Santi. Hubungan Fira dengan orang tua Dion pun kembali harmonis.


Beberapa hari ini Dion dan Fira menginap dirumah Fira. kebetulan hari ini adalah hari libur, karena pembantu sedang izin untuk pulang kampung maka Fira mencuci pakaiannya dan pakaian Dion sendiri.


Semua pakaian yang kotor telah dikumpulkan, seluruh isi kantongnya dikeluarkan. Saat memeriksa kantor celana kerja Dion. Dia raba isi kantongnya, sepertinya ada buku kecil dan tipis, kemudian dia keluarkan.


"Surat nikah siapa ini," Fira buru-buru membuka dua buah surat nikah yang dia temukan dicelana kerja suaminya. Fira sangat shock saat membaca nama yang tertera dalam surat nikah tersebut adalah nama Santi dan suaminya. Dia langsung lemas tak berdaya. Terduduk disamping mesin cuci seraya bergumam.


"Jadi diam-diam mereka telah menikah tanpa sepengetahuanku. Awas kamu Dion, aku akan membuat perhitungan denganmu," ucap Fira dalam hati sembari memasukkan surat nikah kedalam tas kerjanya.


*****

__ADS_1


__ADS_2