Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab. 9. Mengejar Cinta


__ADS_3

Seketika tawa Dion pecah mendengar perkataan Fira, sudah lama dia tidak tertawa lepas, rasanya hari ini hatinya begitu lapang. Beban berat yang selama ini iya rasakan kini hilang entah kemana.


"Istri, istri yang mana, istri yang masih dalam khayalan. Jangankan punya istri dekat sama perempuan aja rasanya males. Aku belum berani menjalin cinta dengan siapa pun, bahkan aku takut andai suatu saat aku jatuh cinta lagi," ucap Dion yang wajahnya berubah sendu.


"Oh gitu, " ujar Fira dengan cueknya. Tangannya asyik memilih gaun yang terdisplay rapi dihadapannya.


"Fira, Gimana kalau kita ngobrol, sudah lama sekali kita enggak ngobrol bareng, apa kamu enggak kangen aku," ucap Dion sambil menyentuh bahu Fira.


"Ya ini kita kan lagi ngobrol, eh tadi kamu bilang kangen, kaya orang pacaran aja, nyadar enggak kamu itu siapa?," ucap Fira sambil berlalu pergi. Namun tangan Dion langsung menahan agar Fira tidak jadi pergi.


"Tunggu Fira, ayolah kita nyantai dikafe Mentari langganan kita dulu. Aku kangen suasana disitu, aku tahu, kamu lagi bad mood gara- gara habis putus sama pacar, kamu bisa jadikan aku teman curhat atau apalah!!, jadi tempat pelampiasan kemarahan kamu juga aku mau," ucap Dion dan langsung menarik tangan Fira keluar dari mall menuju keparkiran mobil. Dion membawa Fira kemobilnya dan membukakan pintu mobil bagian depan lalu meminta Fira untuk duduk disamping kemudi. Kemudian menutup pintu mobil dan berlari memutari mobil setelah itu duduk dikursi kemudi.


Beberapa menit kemudian sampailah mereka disebuah kafe yang megah dengan suasana yang begitu tenang karena pengunjungnya yang diatur begitu tertib. Fira dan Dion duduk santai diiringi alunan musik romantis yang membawanya pada kenangan indah saat SMA.


"Kenapa kamu putus dengan kekasihmu?, curhat dong, jangan diam aja, emang berapa tahun kalian pacaran?," tanya Dion. Fira segera menceritakan kisah cintanya dengan Dewanta yang telah enam tahun ia jalani hingga Dewanta memutuskan hubungannya karena dijodohkan oleh orang tuanya.

__ADS_1


"Aku kagum sama mantan kamu, segitu taatnya sama orang tua, kamu sangat beruntung mempunyai kekasih seperti dia yang begitu taat sama orang tuanya, laki-laki seperti itu kalau sudah jadi suami pasti akan setia kepada istrinya. Tapi kamu juga belum beruntung karena ternyata dia memutuskan hubungannya denganmu," ucap Dion sembari terkekeh.


"Kalau dengar omonganmu pusing aku, tadi katanya aku beruntung tapi ujung-ujungnya aku tidak beruntung, yang bener yang mana," ucap Fira sewot.


"Yang benar ya kamu balikan lagi sama aku," ucap Dion kembali terkekeh. Kayanya kita saat ini pasangan yang serasi. Kamu sedang galau karena putus cinta dan aku juga sedang galau karena ketemu mantan," ucap Dion sembari menatap manik hitam milik Fera. Tak lama kemudian pesanan yang mereka pesan pun datang. Mereka akhirnya menikmati hidangan dengan diiringi obrolan ringan dan sesekali tertawa kecil.


"Kamu masih seperti yang dulu doyan makan dan seleranya juga masih sama, sapi lada hitam. Oh iya kira-kira tukang bakso gerobak yang ditaman dulu kita sering makan bareng masih ada nggak yah?," Dion teringat kembali saat mereka sering mengisi waktu santai dengan makan bakso yang murah meriah ditaman kota.


"Dulu aku sering makan bakso disana.


Saat aku ingat kamu, tapi semenjak aku jadian sama Dewanta mantan kekasihku. Aku tidak pernah kesana lagi karena Dewanta tidak suka bakso," ucap Fira.


"Karena waktu itu aku bertekat ingin melupakanmu dan dengan kehadiran dia aku tak pernah lagi mengingatmu. Tapi setelah aku berhasil melupakanmu justru dia memutuskan hubungannya denganku. Kadang aku bingung dengan lika-liku hidupku, apa gerangan yang kini tengah dirancang oleh sang sekenario hidup," ucap Fira.


"Kita memang tidak pernah tahu kedepannya akan seperti apa, seandainya semua sesuai dengan apa yang kita rencanakan, mungkin sekarang kita sudah menikah dan hidup bahagia bersama Qiani dan Qiano buah cinta kita, namun takdir berkata lain. Santi tiba- tiba datang bertamu keapartemenku dia membawakan oleh-oleh semangkok bakso kesukaanku. Dia bilang kalau dia akan pergi keluar pulau dan tidak ingin menggangguku lagi dan dia ingin aku memakan bakso pemberiannya. Karena dia bilang untuk yang terakhir kalinya, makanya aku langsung mengabulkannya. Namun beberapa saat aku tidak ingat lagi apa yang terjadi. Saat aku sadar ternyata ada kamu di apartemenku.

__ADS_1


Aku sangat terpukul saat kamu memutuskan hubungan kita, aku berusaha kembali namun sudah tiada maaf darimu. Aku berusaha menerima kenyataan dan melupakan semua kenangan kisah cinta kita dan menetap di Amerika. Berulang kali aku menjalin hubungan dengan wanita bule namun selalu kandas. Mereka memutuskan hubungan denganku dengan alasan karena merasa terabaikan.


Sampai pada suatu waktu aku bosan dengan semua kisah cintaku yang begitu rumit dan aku memutuskan untuk sendiri sampai pada papa memintaku pulang ke Indonesia untuk mengelola bisnisnya yang ada disini. Aku tidak menyangka kita akan bertemu kembali disaat kita sama-sama berada dipuncak kesedihan," ucap Dion dengan susah payah menahan air matanya yang hendak jatuh.


"Iya kita kayanya sekarang senasib, tapi ngomong-ngomong kamu masih ingat dengan nama-nama calon anak kita yang ada dalam hayalan kita dulu, Qiani dan Qiano, nama yang menggemaskan," ucap Fira, hari ini hatinya mulai bahagia setelah sebulan lebih meratapi kehancuran cintanya dengan Dewanta.


"Bagaimana kalau kita pergi ketaman untuk makan bakso, jam segini biasanya abang Bakso sudah mulai jualan. Aku sudah lama tidak makan makanan favoritku itu," ujar Dion.


"Tapi kita kan baru saja selesai makan, apa kamu tidak takut kekenyangan," ucap Fira yang tangannya sudah digandeng oleh Dion menuju kasir untuk membayar makanan yang mereka pesan.


"Demi kamu aku rela mati kekenyangan, lagian kata-katamu berlebihan. kita kan emang sama-sama doyan makan, oh ya mobilmu biar asistenku yang mengantarkan ke rumahmu. kamu biar satu mobil aja denganku. Tenang saja aku akan mengantarkanmu sampai rumah dengan selamat," ucap Dion sambil mengambil hand phonenya disaku celananya kemudian menelpon asisten kepercayaannya.


Sekitar lima belas menit perjalanan sampailah mereka disebuah taman yang begitu asri. Berbagai macam jajanan dijual oleh pedagang kaki lima disepanjang pinggir trotoar. Diantara deretan pedagang jajanan itu tampaklah sebuah gerobak bakso tempat Dion dan Fira makan bakso sewaktu SMA.


"Abang baksonya dong, dua mangkok pedasnya sedang, saosnya jangan banyak-banyak," ucap Dion sambil duduk dikursi plastik yang sudah disediakan sama abang bakso yang diikuti oleh Fira.

__ADS_1


Abang bakso langsung mamandang kearah mereka dan terdiam sesaat, memperhatikan kearah Fira dan Dion bergantian.


"Kalian Fira dan Dion langganan abang dulu kan, wah... mimpi apa abang ketemu pelanggan setia abang, oh iya bagaimana kabar Qiani dan Qiano, calon anak kalian, mereka sudah lahirkan?," ucap pedagang bakso yang masih mengingat semua rencana-rencana kami dahulu.


__ADS_2