
(POV) Juita
"Laki-laki kalau sudah dimabuk wanita memang seperti itu bu, tidak bisa membedakan mana wanita yang baik, mana yang tidak, mana wanita yang cintanya tulus dan mana yang cuma menginginkan hartanya saja," wanita yang lain menyahut.
"Apalagi kalau laki-laki sudah merasakan belaian wanita apa itu namanya....pelakor! ...ya pelakor!....susah lepasnya, yang diingat cuma apamnya wanita pelakor yang hangat itu saja," kali ini wanita yang pertama kali bicara menimpali. Aku terus melangkah kulihat ibu mertuaku duduk disebuah kursi sambil menitikkan air matanya. Dadaku benar-benar perih melihat tetesan air mata diwajah mertuaku.
"Ada apa ini kalian mencari Juita istriku. Tolong bicara baik-baik, jangan teriak-teriak dan membuat onar di acara sakral kami," ucap mas Edi.
"Kalian duduk lah dulu kita selesaikan masalah ini dengan kepala Dingin," pak Dewanta mengambil dua buah kursi untuk duduk pasangan suami istri biang keributan tadi. Yang lain pun ikut mengambilkan kursi untuk aku dan suamiku duduk. Bu Zahra datang membawa dua botol air mineral dan menyerahkannya pada pasangan suami istri tersebut.
"Bapak, ibu minum dulu ya, selesaikanlah masalah kalian dengan hati tenang dan fikiran jernih agar mendapat solusi terbaik dan tidak ada yang merasa dirugikan," ucap Zahra sembari mempersilakan pasangan suami istri itu untuk minum.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada rumah tangga ibu, sehingga ibu datang kesini marah-marah pada Juita yang baru saja melangsungkan akad nikah.
"Begini pak, akhir-akhir ini saya selalu mendapat pesan dari seseorang. Dia mengaku selingkuhan suami saya dan akan menikah dengan suami saya saya, kayanya saya tidak becus jadi istri. Karena saya tidak pandai merawat diri sehingga suami saya lebih mencintai wanita lain daripada istrinya, perempuan itu mengaku bernama juita. coba bapak fikir bagaimana perasaan saya tidak hancur," tangis wanita itu pun pecah.
"Apa benar yang dikatakan oleh istri bapak," tanya Dewanta pada suami wanita itu yang terlihat lesu.
"Saya tidak pernah berselingkuh dengan wanita manapun pak, saya memang berniat menceraikan istri saya, tapi bukan karena saya memiliki wanita lain. Saya ingin menceraikan istri saya karena saya sudah tidak sanggup memberi nafkah karena dia selalu menuntut agar saya memenuhi keinginannya untuk bergaya hidup gelamor dan berfoya-foya dengan teman-teman arisannya. Saya hanya bekerja sebagai pendodos sawit. Saya tidak mau uang saya, hasil jerih payah saya hanya digunakan untuk beli pakaian mahal, jalan-jalan yang tidak bermanfaat. Lebih baik uang saya ditabung untuk biaya pendidikan anak-anak saya di kemudian hari. Maka dari itu, menceraikan dia dan mengembalikan kepada orang tuanya adalah jalan terbaik, agar saya bisa fokus bekerja dan mengurus anak-anak saya," ungkap suami wanita itu menjelaskan.
__ADS_1
pak Dewanta kemudian memandang kearahku dan suamiku.
"Apa benar yang diucapkan ibu ini Juita, kalau kamu sudah mengirimkan pesan padanya tentang hubunganmu dengan suaminya," tanya pak Dewanya padaku.
"Sebaiknya kita periksa saja ponselnya pak, apakah nomor saya yang masuk keponsel ibu itu. Ini ponsel saya, bisa dicek kalau saya hanya menggunakan satu kartu dan tidak pernah mengirim pesan apapun padanya, gimana saya mau mengirim pesan padanya, nomor dia saja saya tidak tahu," ucapku tegas. Kulihat beberapa pasang mata memandangku, termasuk suamiku yang tersenyum menyejukkan hati.
"Bapak, Juita, apakah sebelumnya kalian saling kenal," tanya pak Dewanta, kami pun serentak menjawab tidak. Akhirnya pak Dewanta memeriksa ponsel ibu-ibu yang membuat keributan tadi dan juga memeriksa ponselku.
"Begini bu, kalau melihat nomor yang masuk kepesan ibu, yang mengirim pesan keibu sih bukan Juita, tapi mungkin perempuan lain yang menggunakan nama Juita untuk merusak reputasinya.
"Coba aku lihat, siapa tahu aku kenal nomornya," Santi langsung menyerobot ponsel yang sedang diberikan ke pada ibu pembuat onar tadi, dia langsung memeriksa pesan yang masuk.
"Iya benar bu, nomornya sama dengan nomor Meri yang mengatakan kalau dia Juita. apa ibu mengenal Meri," tanya pak Dewanta lagi setelah dia menyeruput teh hangat yang baru saja dihidangkan ibuku.
"Meri itu teman arisan saya, kurang ajar sekali dia, telah membuat saya malu dipernikahan orang.
"Mbak Juita saya minta maaf karena saya sudah mempermalukan mbak diacara nikahan mbak, maafkan saya ya," ucap ibu pembuat onar itu sembari menyalamiku dan ingin bersujud dikakiku, tapi aku langsung menahannya. Tak perlu dia bersujud segala untuk mendapatkan maaf dariku, karena itu hanya salah paham belaka.
Berarti ini masalahnya sudah selesai yah, kalau masalah pribadi kalian sebagai suami istri silakan selesaikan sendiri dirumah, mungkin bisa meminta keluarga dan sanak saudara agar mendapatkan keputusan yang tidak membuat kalian menyesal dikemudian hari.
__ADS_1
Akhirnya sepasang suami istri itu pun pamit pulang dan berkali-kali meminta maaf kepada semua yang ada disitu karena sudah membuat suasana tak nyaman.
Ibu mertuaku mendekatiku dan mengelus pundakku.
"Untuk menjadi orang baik memang banyak cobaannya nak, tapi jangan pernah menyerah. Karena perbuatan satu buruk yang pernah kita lakukan terkadang lebih diingat daripada puluhan perbuatan baik yang sudah kita kerjakan," ujar ibu mertuaku. Aku pun mengangguk seraya tersenyum.
"Rintangan seberat apapun yang menghadang dalam setiap langkahmu, jangan pernah membuatmu menyerah, tetaplah istiqomah dijalanNya," Zahra memberiku pencerahan seraya menepuk-nepuk bahuku.
"Terimakasih nak, ternyata kamu masih tetap pada pendirianmu, doa ibu selalu menyertaimu, semoga kamu selalu kuat menjalani ujian hidup. Dengar ya, untuk menjadi orang baik pasti ada ujiannya dan orang yang tidak baik pun selalu mendapatkan kemalangan seperti yang sering kamu alami. Jadi kalau difikir-fikir sama saja, cuma jadi orang baik itu hatinya senantiasa nyaman dan damai dan kamu juga sekarang sudah merasakan," ujar ibu. Kalau aku fikir-fikir itu memang benar, jadi orang baik atau pun jahat sama-sama susah. Jadi kalau harus milih ya mending jadi orang baik karena surga imbalannya.
Kini acara telah selesai, satu persatu para undangan pun sudah pulang.
"Aku akan pulang ke desa Mentereng sekalian ingin nyamperin si Meri. Aku mau labrak dia, apa sih maksudnya memfitnah kamu pada ibu tadi. Kesal banget aku rasanya kalau ingat peristiwa tadi," ujar Santi sembari menyalamiku dan pamit pulang.
"Sudahlah Santi, jangan buat masalah, nanti kamu bisa malu sendiri dihadapan orang kampung. Kita ini sudah mendapat penilaian jelek dari masyarakat, jadi apapun yang kita lakukan pandangan masyarakat terhadap kita tetaplah jelek. Lebih baik kita diam dan perbaiki diri.
Apa yang terjadi tadi siang, mungkin itu ujianku, agar semakin kuat menjalani kerasnya hidup. Dan terjadi pada wanita tadi itu kesalahan dia, kenapa dia datang dengan marah-marah. Coba seandainya dia datang dan bertanya baik-baik pasti semuanya juga akan baik-baik saja.
"Iya, betul juga kamu, kalau aku fikir-fikir kamu sekarang lebih pintar," ucap Santi sembari berlari menuju kendaraannya.
__ADS_1
***********