
(POV) Juita
Malam semakin larut akhirnya mas Edi pun pamit pulang. Sebenarnya aku sudah sering ngobrol dengan mas Edi, hubungan kami pun lumayan akrab. Selama ini aku menganggapnya sebagai teman karena hanya dialah orang yang tidak pernah mencibir kelakuanku, dia tidak pernah menghinaku dan dia begitu mengerti aku. Masihkan Tuhan berbaik hati kepada orang yang hina sepertiku untuk menggerakkan hati mas Edi hingga jatuh hati padaku. Apakah pantas aku mengharapkannya dan menginginkan dia bersanding denganku dipelaminan. Ah sudahlah sebaiknya aku tidak perlu banyak berandai-andai. Ikuti saja garis takdir yang sudah semestinya aku jalani. Teruslah memperbaiki diri agar pantas berada di sampingnya. Harus percaya rencana Tuhan jauh lebih indah dari yang kita kira, selama kita tetap melangkah dijalannya.
Setelah kepulangan mas Edi aku langsung merebahkan tubuhku dipembaringan. wajah mas Edi masih terus terbayang dipelupuk mataku, namun aku berusaha menepisnya dengan sekuat tenaga agar tidak larut dalam indahnya senandung cinta mas Edi yang belum tentu dipersembahkan untukku. bisa jadi untuk wanita lain.
Sudah sekitar satu bulan mas Edi bekerja dikota ini, hampir setiap hari kami selalu berukar kabar, baik melalui pesan singkat maupun melalui panggilan telepon. Aku merasa hubunganku dengannya semakin dekat. terkadang ada rasa takut jika suatu saat nanti dia berhenti menghubungiku, berhenti memberikan perhatian-perhatian kecil kepadaku, yang membuat kini hari-hariku penuh warna. Saat ini sepertinya aku sudah sangat ketergantungan sama dia. Sehari saja dia tidak memberi kabar rasanya seperti ada yang kurang, ada yang terasa hampa dan ada rasa takut jikalau dia tak memberi kabar dan tak pernah muncul lagi dihadapanku.
Saat muncul notifikasi pesan darinya, rasa bahagia dan rasa syukur menyelimuti relung jiwaku. Besok adalah hari minggu, aku dan mas Edi berencana pulang ke desa bersama. Kebetulan desaku dan desa mas Edi jaraknya tidak begitu jauh. Mas Edi berada didesa Padang Sawit dan aku tinggal di desa Padang Getah, hanya perlu waktu sekitar dua puluh lima menit perjalanan jika menggunakan kendaraan roda dua. Rencananya kita akan berangkat sepagi mungkin, agar bisa bertemu orang tua kami dalam waktu yang lebih lama, sehingga bisa lebih puas untuk melepaskan rindu.
Pagi ini, hari minggu aku bangun dengan penuh semangat, seusai shalat subuh aku langsung berkemas menyiapkan diri untuk pulang menengok ibu dikampung halaman, setelah beberapa bulan ini bekerja dikota, aku belum pernah pulang.
Tok...
Tok...
__ADS_1
Itu pasti mas Edi yang datang menjemputku. Aku segera melangkah dengan cepat menuju pintu depan, sejenak ku intip dari balik horden, benarkah mas Edi yang datang, tampaklah seseorang yang aku rindukan berdiri dibalik pintu kontrakanku yang tampak masih remang-remang.
Ceklek....kreeeert
Assalamualaikum, pasti baru bangun, maaf yah ngganggu, ujar mas Edi, dengan senyumannya yang khas. Akupun menjawab salamnya dan memintanya untuk menungguku dikursi yang ada di teras kontrakanku.
Aku bergegas masuk kedalam dan melanjutkan berkemas. Setelah semuanya telah siap. Segera kuhampiri mas Edi yang duduk menyandar dikursi teras kontrakanku.
"Ayo mas, aku sudah siap, mas pulang enggak bawa pakaian?" aku bertanya karena kulihat mas Edi tidak membawa barang apapun.
Tidak lama kemudian, taksi Online yang di pesan mas Edi pun datang. Mas Edi membantu membawakan tasku yang berisi pakaian dan perlengkapan lainnya masuk kedalam mobil. Kami berdua duduk dikursi nomor dua berdampingan tepat dibelakang supir.
"Kamu sudah kasih kabar emak, kalau hari ini kamu akan pulang, kalau aku sudah janji sama ibu kalau hari ini aku akan pulang. Semenjak aku kerja dikota, ibu sering kali marah-marah karena aku belum bisa pulang. Maklum selama ini aku tidak pernah berpisah sama ibu, jadi ibu merasa rindu berat katanya," ucap mas Edi sambil sesekali memandang keluar melihat hamparan hijau tanaman padi yang luas.
"Jujur aku merasa malu sama kamu, hubungan kamu sama orang tuamu begitu baik, sepertinya orang tua mas Edi begitu bangga mempunyai anak seperti mas. Beda banget sama aku, orang tuaku mungkin malu punya anak sepertiku yang selalu jadi gunjingan para tetangga karena perbuatanku yang tidak terpuji. Selama ini aku tidak pernah menghubungi emak, karena memang emak tidak punya hand phone dan hubungan kami memang tidak begitu akrab seperti ibu dan anak pada umumnya. Mungkin ema menyesal telah melahirkan anak sepertiku, atau mungkin emak selalu merasa menjadi orang tua yang gagal mendidikku," hatiku sangat pedih setiap kali terbayang wajah emak yang sudah tua. Aku benar-benar merasa khawatir takut tidak bisa ketemu emak lagi. Semoga Tuhan masih memberi aku waktu untuk berbakti kepada emak di akhir usianya.
__ADS_1
"Jangan sedih, sudah seharusnya kamu bersyukur, karena Allah telah memberikan hidayah hingga hatimu terbuka dan menyadari kalau perbuatanmu selama ini salah. Meminta maaf dan bersujudlah pada emak kemudian berbaktilah padanya, aku yakin emak akan bangga punya anak sepertimu, seperti bangganya ibuku padaku," ucap mas Edi seraya menggenggam tanganku dan memeluknya. Akupun menyandarkan kepalaku dipundaknya. Rasanya hatiku merasa begitu tenang berada di dekatnya.
Sekitar jam sepuluh pagi kami memasuki desa Padang Sawit, hatiku merasa khawatir, takut ibu mas Edi tidak suka melihat kedekatanku dengan putranya, mengingat bagaimana citraku yang tidak begitu baik dimata masyarakat.
Kini kami sudah masuki halaman rumah mas Edi, mobil Online yang kami tumpangi pun telah berhenti. Aku dan mas Edi turun dari mobil, ternyata diluar seorang wanita berumur sekitar empat puluh lima tahun dan seorang lelaki berumur sekitar lima puluh tahun telah menyambut kedatangan kami. Beliau tersenyum menyambut kedatangan aku dan mas Edi.
"Juita kenalkan ini ibu dan ayahku, beliau bernama pak Joko dan ibu Minah, ibu kenalan ini yang namanya Juita," ucap mas Edi. Kami pun segera menyalami dan mencium punggung tangan kedua orangtua mas Edi.
"Oh jadi ini yang namanya Juita, ternyata cantik sekali, pantas saja putraku rela hidup jauh dari ibunya demi bisa dekat denganmu," ucapan bu Minah sontak membuatku terharu, benarkah mas Edi pindah ke kota demi dekat denganku, tapi... ah mungkin itu cuma gurauan bu Minah saja.
"Ibu, jangan bicara yang aneh-aneh bu, jangan buat aku malu, " mas Edi langsung memotong ucapan ibunya. Ibu Minah pun membalas ucapan anaknya dengan menepuk-nepuk pundaknya.
"Sudah bu, ngomongnya dijaga jangan asal, malu sama calon mantu, ayo semua kita masuk aja, mari nak Juita jangan sungkan anggap aja dirumah calon mertua, " ucap pak Joko sembari merangkul mas Edi yang wajahnya terlihat merah padam menahan malu membawanya masuk kedalam rumah. Sementara bu Minah pun merangkulku mengajak masuk dan melangkah dibelakang pak Joko dan mas Edi.
Aku tidak menyangka sambutan orang tua mas Edi begitu ramah terhadapku. Mereka benar-benar menghargaiku seperti menghargai wanita baik. Aku jadi merasa sungkan. Apakah aku pantas menjadi bagian dari keluarga mereka.
__ADS_1
******