Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab 7. Malam Pertama 2


__ADS_3

(POV) Dewanta


"Entahlah kak, akhir-akhir ini aku selalu ingat kakak terus dan malam ini hati aku rasanya damai sekali, aku bahagia kak," ucap Zahra. Aku segera memutar badannya perlahan agar dia menghadapku. Kini kami saling berhadapan, mata kami saling menatap, jantung kami saling berdetak. Aku membaringkan istriku, melepaskan kain yang melekat pada tubuh kami dan melemparkan kesegala arah. membiarkan sebagai selimut lantai.


Sementara diluar bunyi jangkrik saling bersahut-sahutan menambah indahnya suasana. Seperti yang kami rasakan sebagai sepasang suami istri yang baru saja mengikrarkan janji suci untuk senantiasa selalu bersama dalam suka maupun duka.


Sunyi....


Tak ada suara, hanya samar-samar terdengar desahanku dan Zahra yang sedang menyemai benih-benih kehidupan. Dua insan yang sedang mereguk manisnya madu surga dunia yang konon selalu membuat penasaran bagi orang yang belum pernah merasakan dan membuat ketagihan bagi yang sudah merasakannya.


Kini tubuh kami terkulai lemas dan saling berpelukan, mensyukuri apa yang telah terjadi. Aku mengelus perut istriku sembari berdoa semoga apa yang telah aku tanam barusan membuahkan hasil, lahirnya generasi penerus kami.


Tiba-tiba tubuh istriku menggeliat, tak sengaja menyentuh bagian sensitif dari tubuhku. Ada sesuatu yang berontak di dalam sana membuat aku kembali memeluk istriku dan mengulang kembali menyesap madu-madu pernikahan yang begitu memabukan. Ronde kedua pun dimulai tuk kembali menguras sisa-sisa tenaga dironde pertama.


Terima kasih Zahra atas semua yang telah kau berikan. Terima kasih telah menyuguhkan madu terbaikmu untukku. Detik ini aku ingin jujur kalau aku telah jatuh cinta padamu, saat ini di ruang hatiku hanya ada namamu, dan akan selalu aku jaga rasa ini tak akan aku berikan kepada wanita manapun kecuali...,"ucapanku terhenti sesaat namun kulihat mata Zahra melotot.


"Katakan kak, kecuali siapa?,"ucap Zahra.


"Kecuali ibuku, cinta pertamaku, wanita yang telah melahirkanku," ucapku seraya tersenyum.


"Aku kira siapa," ucap Zahra sembari tersipu dan menarik selimutnya sampai sebatas leher. Aku langsung memeluknya sambil menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuhku. Aku terbangun saat mendengar suara azan subuh dari masjid yang terletak sekitar satu kilo meter dari rumah mertuaku. Kulihat disampingku istriku masih tertidur pulas, aku kembali memandang wajah istriku yang begitu menenangkan hati.


Andai aku tahu kalau menikah itu begitu menyenangkan, mungkin aku sudah melakukannya dari dulu. Perlahan aku turun dari ranjang menuju kekamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai mandi aku kembali ketempat tidur untuk membangunkan istriku.

__ADS_1


"Sayang bangun, ayo bangun sudah subuh, ucapku sambil membelai rambut Zahra. Namun Zahra hanya menggeliat dan akhirnya tertidur kembali. Aku segera mengambil handuk kecil membawanya kekamar mandi kemudian membasahi dan membawa ketempat dimana istriku. tertidur. Perlahan handuk kecil yang sudah aku basahi kuelapkan kemuka Zahra.


"Kakak ngapain sih usil banget tahu, buat aku terkejut aja," ucap Zahra sewot.


" Ayo bangun, cepat mandi kita shalat berjemaah," ucapku sambil menarik tangan Zahra. Zahra langsung bangun dan menuju kamar mandi, dia masih menggunakan selimut yang di lilitkan ditubuhnya. Dengan langkah teramat sangat pelan dia melangkah menuju kamar mandi.


"Kamu kenapa berjalannya seperti itu sayang, ada yang sakit," ucapku terkekeh.


"Ini semua gara-gara kakak," ucap Zahra sembari menyeringai.


"Bukannya kita sama-sama mau, tapi ngomong-ngomong kejadian malam tadi benar-benar susah untuk dilupakan, jadi ingin lagi dan lagi," ucapku didekat telinga Zahra,


"Apa kakak puas dengan pelayananku malam tadi?," ucap Zahra dengan gaya genit bak wanita penggoda. Seketika tawaku pecah, aku tidak menyangka dia bisa bertingkah seperti itu. Aku segera mendekatinya, ingin sekali aku mengerjai istriku yang lucu, namun dia sudah keburu mempercepat langkahnya menuju kamar mandi.


Aku segera merapikan tempat tidur dan mengganti seprai bekas kita bergumul malam tadi sembari menunggu istriku yang sedang mandi. Selesai mandi kami langsung shalat berjemaah kemudian kami keluar menuju meja makan dimana mama sedang menyiapkan sarapan ditemani abah yang sedang menyeruput secangkir kopi.


"Mama, maaf Zahra baru bangun," ucap Zahra sembari tersipu.


"Kalian ini katanya tidak saling cinta, tapi kok rambutnya basah semua," ucap abah meledek kami.


"Anu bah, malam tadi kami langsung jatuh cinta, jadi langsung tancap gass," ucapku menyahut untuk meladeni ledekan abah. Tak disangka tawa mama dan abah langsung pecah.


"Itulah kalau menikah karena Allah. Allah akan memberikan ridhonya dan menghadiahi kalian rasa cinta. Cinta itu akan tumbuh subur bila dipupuk dengan kesabaran dan ketabahan. Tidak ada pernikahan yang tidak ada ujiannya. Maka hadapilah ujian itu dengan penuh kesabaran dan keikhlasan," ucap abah menasehati kami.

__ADS_1


"Oh ya, kalian ini mau KB dulu atau mau punya anak," tanya mama sembari menyusun makanan diatas meja di bantu oleh Zahra.


"Tidak usah KB ma, kasian para calon kakek dan nenek menunggu kelahiran cucu kesayangan," ucapku sembari tersenyum. Abah langsung mengacungkan jempol tanda setuju dengan senyuman yang khas.


"Kamu memang menantu yang faham dengan perasaan kami yang kesepian ingin menimang cucu," jawab mama sembari terkekeh.


"Oh iya, setelah ini abah mau ke kebun mengawasi pekerja yang sedang menyadap karet dan ibu juga kayanya ada jadwal arisan, kalau kalian tidak ada acara kan di rumah aja, lanjut buat cucu saja biar cepat jadi," ucap abah sembari memandang ke arah aku dan Zahra sembari terkekeh.


"Rencananya hari ini aku akan mengajak Zahra pindah ke rumah yang sudah disiapkan ayah untuk tempat tinggal kami di desa Padang Sawit," ucapku.


" lho kalian mau pindah, kenapa tidak tinggal disini aja, biar mama tidak kesepian," ucap mama meraju.


"Biarkan saja mereka pindah ma......


mereka kan juga mau mandiri, karena mereka juga harus fokus membuat cucu tanpa terganggu mendengar celotehan mama dan kita juga lebih fokus buat adiknya Zahra," kami semua langsung tertawa mendengar pemaparan abah. Namun mama masih saja cemberut. Zahra kemudian langsung memeluk mama.


"Padang Sawit sama Padang G) atah kan tidak jauh ma, cuma beberapa menit perjalanan. Nanti Zahra usahakan setiap pulang mengajar mampir kesini, lagian kak Dewanta pulangnya sore juga, ya kan kak," ucap Zahra meminta izin kepadaku dan ku balas dengan anggukan kepala.


Selesai makan aku dan Zahra berkemas-kemas untuk pindah ke rumah baru kami. Aku menyarankan kepada Zahra untuk tidak membawa pakaian terlalu banyak. Secukupnya saja.


Setelah menempuh perjalan sekitar dua puluh menit kami sampai dirumah baru kami hadiah dari ayah. Tampaknya Zahra terkejut melihat rumah ini, aku tidak tahu apa yang ada dihatinya. Aku hanya bisa berharap dia suka dengan pemberian kami ini. Aku menyerahkan sertifikat ini atas nama Fatimah Azzahra.


"Ini sertifikat rumah ini, kamu simpan baik-baik dan Zahra langsung menerimanya.

__ADS_1


"Kok ini atas namaku kak apa ini tidak salah," ucap Zahra kemudian. Ayah dan ibu ikhlas memberikan ini untukmu, semoga kamu suka rumah ini," ucapku sembari memeluk Zahra dari belakang.


__ADS_2