
(POV) Juita
"Sudah beberapa hari ini mas Edi tidak pernah menelponku. aku pun iseng mencoba menghunbunginya karena sudah tidak bisa menahan rindu. Pura-pura menanyakan tentang pekerjaan yang aku tawarkan kemarin.
"Assalamualaikum mas Edi, gimana pekerjaan menjadi supir yang aku tawarkan kemarin. apakah mas Edi berminat," ucapku setelah mengetahui panggilan teleponku diangkat.
"Tentu saja, nih aku lagi nyetir, maaf yah belum bisa nemui kamu, soalnya setelah diterima kerja aku langsung disuruh kerja dan belum ada libur. Kira-kira kapan ya kita bisa ketemuan, kamu share ya alamat kost mu," suara mas Edi diseberang sana bilang kalau dia sudah bekerja, berarti dia sudah dikota ini dong, aku sangat bahagia mengetahui kabar ini.
"Jadi mas Edi sudah dikota ini, mas sudah kerja jadi supir direstoran pak Galih, " ucapku mencoba ingin tahu lebih jelas.
"Iya sayangggg..... eh maaf ya keceplosan," dadaku langsung berdesir, mendengar ucapan sayang dari bibir mas Edi. Padahal dulu aku sering mendengar ucapan seperti ini dari lelaki hidung belang, dulu rasanya biasa saja. Tapi kenapa sekarang aku jadi merasa sangat istimewa yah. Apa karena yang mengucapkan lelaki baik-baik. Atau itu artinya aku sedang jatuh cinta. Entahlah yang jelas sekarang aku bahagia, mungkin ini yang namanya bahagia itu sederhana.
"Juita.... Juita.... maaf yah kalau ucapanku tadi membuatmu tidak nyaman, aku benar-benar keceplosan," ujar mas Edi yang sepertinya merasa bersalah. Aku jadi tersenyum mendengar ucapan rasa bersalah mas Edi.
"Kenapa jadi merasa bersalah sih mas, aku justru senang mendengar ucapan mas Edi. Tapi sayangnya hanya keceplosan, andaikan beneran mungkin aku akan sangat bahagia," aku mencoba memancing bagaimana sebenarnya perasaan mas Edi terhadapku. andai dia benar-benar menaruh hati kepadaku, mungkin aku akan merasa sangat bahagia dan tidak akan menyia-nyiakan perasaan cinta yang dia berikan padaku. Tapi andai dia hanya menganggapku teman. Aku akan terima dengan lapang dada dan aku ingin menjadi teman yang baik untuknya.
"Ah yang benar, ya sudah kalau gitu aku enggak jadi keceplosan ha.... ha.... " suara tawa mas Edi diseberang sana terdengar begitu indah. Kami terus mengobrol hingga waktu istirahatku usai. Aku kembali melanjutkan pekerjaanku dipabrik dan mas Galih juga kembali mengantarkan pesanan restoran.
__ADS_1
Sore hari saat aku sedang santai setelah pulang kerja, aku mendengar notifikasi pesan masuk dari mas Edi. Dia menanyakan posisiku lagi dimana. Aku langsung menjawab kalau aku lagi ada dikontrakan. Setelah itu tak ada lagi pesan yang masuk, ternyata dia cuma ingin tahu posisiku. padahal aku berharap bisa ngobrol lebih banyak. Tapi yah.. sudahlah, mungkin dia sibuk.
Aku mencoba membaringkan tubuhku sembari berselancar di media sosial. Setelah beberapa saat terdengar pintu diketuk. Aku segera bangkit dari pembaringan, melangkah keruang tamu sambil merapikan rambutku yang sedikit acak-acakan.
Cekreeek.....
Kreeeeet....
Saat daun pintu terbuka, nampaklah seseorang yang selama ini mengisi hatiku. Dengan menggunakan kemeja kotak-kotak berwarna hitam dan lengan tiga perempat membuat penampilannya semakin menawan. Dia tersenyum padaku memperlihatkan deretan gigi-giginya yang putih bersih.
"Kamu juga semakin cantik dengan baju seperti itu, nampak anggun," mas Edi memuji gaya berpakaianku saat ini, mungkin karena aku tidak lagi mengenakan pakaian ketat seperti dulu. Ternyata lelaki baik-baik lebih menyukai wanita berpakaian sopan. betapa bodohnya aku saat itu, mengira semua lelaki menyukai wanita yang gaya pakaiannya memperlihatkan seluruh lekuk di tubuhnya.
"Ayo mas kita duduk diteras saja, aku buatin minum dulu yah," ucapku sembari terus tersenyum pada mas Edi, aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri kalau saat Ini hatiku sangat bahagia.
"Wah pas banget, nih aku tadi beli martabat telur, " jawab mas Edi sambil menyerahkan bungkusan plastik kepadaku. akupun menerimanya dengan senang hati dan membawanya kebelakang.
"Ayo mas dimakan, ini tadi aku membuat pisang goreng, dicicipi, kalau enggak enak boleh komentar kok, soalnya masih belajar," ucapku malu-malu. Mas Edi langsung mengambil pisang goreng yang aku suguhkan.
__ADS_1
"Enak kok, manis dan lezattt!, kaya yang buat " ucapnya sambil mengacungkan jempolnya.
"Kok yang buat lezat sih, kaya makanan aja, " ucapku pura-pura sewot.
"Habis aku sering dengar para lelaki mengatakan wanita yang diidamkan itu rasanya lezat sih, eh tapi itu bagi lelaki yang sudah menikah, tidak seharusnya aku ngomong seperti itu, maaf Yah!! " sungguh aku tersipu mendengarnya, dia bilang wanita yang diidamkannya, apa benar dia mengidamkan aku, tapi sudahlah tak perlu aku tanyakan. Takutnya jawabannya membuat aku GR atau sebaliknya.
"Bagaimana kabar orang tuamu, apa beliau baik-baik saja," pertanyaan mas Edi mengingatkanku pada sosok tua renta yang sering aku buat sakit hati. Emak memang sudah tua dan sakit-sakitan, selama ini aku memang tak begitu peduli. Emak juga sering kali sakit hati saat mendengar para tetangga yang sering mengguncingkanku yang suka merayu suami orang kaya. Sedangkan ayahku telah pergi meninggalkan ibu sejak aku masih dalam kandungan. Menurut Emak, mereka dulu hanya nikah sirih lantaran bapak masih terikat pernikahan dengan wanita lain. Dari latar belakang orang tuaku itulah mungkin sifat jahat orangtuaku diwariskan kepadaku. Rasa prustasi karena ingin sekali merasakan kasih sayang seorang bapak membuatku nekat ingin merusak rumah tangga orang agar anak mereka merasakan rasa sakit yang aku rasakan.
"Kenapa kamu nangis!! maaf yah kalau pertanyaanku membuat perasaanmu tidak nyaman hingga membuatmu menangis," ungkap mas Edi dengan penuh rasa bersalah.
"Tidak apa-apa mas, aku cuma sedang ingat emak dikampung. Baru kali ini aku merasakan sedemikian bersalah pada emak karena telah menyia-nyiakannya dan sering menyakiti hatinya dengan perbuatanku yang sama sekali tidak terpuji," ucapku sambil terus terisak. Aku tak kuasa menahan tangisku, aku benar - benar sangat menyesali perbuatanku pada emak.
"Kalau begitu bagaimana kalau pas libur kita tengok emak kamu, sekalian kamu meminta maaf pada beliau, semoga jalanmu dipermudah dan pintu rizkimu terbuka lebar, " doa mas Edi langsung aku balas dengan ucapan Aamiin. Aku juga menyetujui saran mas Edi yang mengajakku untuk mengunjungi Emak di desa. Ternyata mas Edi juga tipe laki-laki yang perhatian pada orang tua. Aku samakin kagum padanya. Andai kelak aku berjodoh dengan lelaki seperti mas Edi pasti Emak akan merasa sangat bahagia. Karena dihari tuanya mempunyai menantu yang baik yang akan menjaganya sampai beliau tutup usia.
"Ayo dimakan, dari tadi aku aja yang makan. Kamu cuma sibuk memperhatikan aku he.... he... kamu tau itu sangat membuat aku senang. Nanti kalau kamu sudah ada waktu untuk pulang, kabari aku yah, sekalian kamu mampir kerumahku, berkenalan dengan ibu dan ayahku. Tapi maaf kami hanya keluarga sederhana bukan keluarga yang mempunyai harta yang berlimpah, " ungkap mas Edi sambil mengelap bibirnya dengan tisu kemudian menenggak minuman dengan begitu seksi menurutku. Aku hanya mengangguk menyetujui semua ajakan lelaki tampan yang ada didepanku. Sepertinya baru kali ini aku menganggap mas Edi tampan, sepertinya selama ini aku terlalu sibuk mengejar cinta laki-laki hidung belang hingga tak pernah sekalipun melirik wajah tampan mas Edi, tapi mudah - mudahan aku belum keduluan wanita lain untuk masuk mengisi hatinya.
***********
__ADS_1