Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab. 77. Jadi supir


__ADS_3

(POV) Edi


"Jadi begini Dewanta, mantan karyawanmu yang bernama Edi, dia melamar jadi supir di restoranku. Aku mau tanya, waktu Edi bekerja dikebun milikmu, apakah kenerjanya bagus, aku perlu minta pendapatmu untuk memutuskan apakah menerima dia atau menolaknya," ucap pak Galih pada pak Dewanta lewat sambungan telepon. Aku hanya diam dengan sedikit tegang menunggu komentar pak Dewanta tentang bagaimana kinerjaku saat bekerja pada pak Dewanta. Kalau menurutku selama bekerja di kebun pak Dewanta, aku selalu bekerja dengan baik, seingatku, aku tidak pernah berbuat sesuatu yang merugikan usaha pak Dewanta. Namun aku tidak tahu bagaimana pendapat pak Dewanta tentang aku.


"Kalau selama bekerja padaku sih, Edi itu rajin, selalu bekerja dengan serius, loyalitasnya juga bagus, orangnya jujur dan dapat dipercaya. Kalau menurut aku sih jika memang kamu memerlukan supir lebih baik diterima saja. Sekarang mencari orang yang bisa dipercaya itu susahnya setengah mati. Banyak para pengusaha seperti kita yang bangkrut gara-gara punya karyawan yang khianat. Sebenarnya aku juga sayang kehilangan pekerja seperti Edi, tapi aku juga kan tidak boleh egois, siapa tahu dikota rezeki dia lebih bagus, syukur-syukur ketemu jodohnya," ungkap pak Dewanta sembari terkekeh.


Setelah merasa tidak ada hal penting lagi yang perlu dibicarakan, pak Galih pun mengakhiri panggilannya pada pak Dewanta dengan ucapan salam.


"Okey Edi, karena kamu mantan karyawan pak Dewanta jadi saya menanyakan tentang kinerjamu pada dia. Karena kita sama-sama tahu, saat ini banyak orang jahat disekitar kita berkeliaran pura-pura jadi siapa gitu atau dia menyamar, jadi pembantu, jadi tukang baiki AC, jadi pengangkut sampah dan lain sebagainya. Makanya kita harus hati-hati dalam memasukan orang baru dalam lingkaran kehidupan kita. Tapi setelah mengetahui kinerjamu pada Dewanta saya memutuskan untuk menerimaku sebagai supir restoran. Sekarang kamu lihat draft kontraknya. Kalau kamu setuju dengan isi draft kontrak itu maka silakan kamu tanda tangan. Tapi jangan lupa lihat nominal gaji kamu, apakah kamu setuju, kalau tidak setuju kita aka bicarakan kembali hingga mencapak mufakat.


"Terimakasih pak karena bapak telah menerima saya sebagai supir direstoran yang bapak miliki, saya sangat setuju dengan isi kontrak ini," ucapku sambil menandatangi draft kontrak yang pak Galih berikan kepadaku dan menyerahkan kembali pada Pak Galih.


"Oh iya Edi, setelah ini kamu pulang kemana, apakah kamu sudah punya tempat tinggal dikota ini" tanya pak Galih. Tentu saja aku menjawab belum sesuai faktanya. Rencananya aku akan mencari kontrakan setelah aku positif diterima kerja, sedangkan untuk malam ini dan hari-hari berikutnya sebelum aku mendapat pekerjaan.

__ADS_1


"Kalau kamu belum punya tempat tinggal,kebetulan ada kamar kosong direstoran ini. Letaknya disebelah gudang. kamu bisa menempatinya gratis tapi sekalian jagakan restoran ini, ujar pak Galih. Aku pun menerima tawaran pak Galih untuk menempati kamar disamping gudang makanan. Aku sangat bersyukur, selain mempunyai pekerjaan aku juga mempunyai tempat tinggal gratis. Pak Galih menyuruhku membawa barang-barangku kedalam kamar. Aku pun melakukan yang diperintahkan oleh pak Galih.


Saat pintu kamar aku buka ternyata kamar itu lumayan luas, ada ranjang kasur. Batal, ada lemari dan gantungan baju. Akupun langsung memasukan baju-baju yang aku bawa dari kampung dengan menggunakan sebuah tas ransel. Setelah itu aku kembali menemui pak Galih diruangannya. Tadi pak Galih minta antar pulang dengan menggunakan mobil restoran sekalian mengetes kemampuanku mengemudi.


Aku mulai melajukan mobil dengan kecepatan sedang melewati jalan raya yang ramai lancar.


"Apa kamu sudah hafal seluk-beluk jalan dikota ini," tanya pak Galih. Akupun langsung menjawab jujur kalau aku hanya hafal jalan raya atau jalan-jalan besar saja. Sedangkan jalan pintas atau jalan tikus aku sama sekali tidak hafal.


"Sebaiknya kamu juga harus hafal jalan-jalan pintas dikota ini. Karena tugasmu kan mengantar pesanan pelanggan. Jika kamu tahu jalan pintas maka makanan yang dipesan oleh pelanggan akan sampai lebih cepat. Hal ini akan berpengaruh pada kualitas layanan direstoran kita," terang pak Galih.


"Sore sayang, kenalkan ini Edi supir baru direstoran kita. Edi kenalkan ini Fira istriku," pak Galih mengenalkan aku dengan perempuan cantik itu yang ternyata ibu Fira istri pak Galih.


"Ayo Edi masuk sekalian makan dirumah kami. Kamu pasti belum makan, betul kan mas," ucap bu Fira sembari menggandeng tangan suaminya dengan mesra. Akupun mengikuti mereka dibelakangnya.

__ADS_1


Kini kami bertiga duduk dimeja makan. Bu Fira sibuk memindah nasi, sayur dan lauk kedalam piring pak Galih dan juga piringnya sendiri.


"Ayo Edi di makan nasi dan teman-temannya, ada lauk, ada sayur, aku memang malas makan diwarung, makanya tadi aku tidak mengajakmu makan diwarung, bukannya pelit, tapi aku lebih suka memakan masakan istriku," ungkap pak Galih. Akupun mulai memindahkan makanan kepiringku kemudian menyatap makanan lezat dihadapanku.


Selesai makan aku langsung pamit pulang ke restoran. Sampai direstoran ternyata restoran hampir tutup. Para karyawan sibuk membersihkan peralatan dapur dan juga meja kursi serta lantai.


"Mas karyawan baru ya disini, kenalkan namaku Rio" seorang lelaki seumuranku menyapa dengan ramah.


"Saya supir baru mas, bagian ngantar-ngantar pesanan. Namaku Edi, aku dari kampung, belum punya tempat tinggal jadi pak Galih menyuruh aku menempati ruangan di sebelah gudang makanan," terangku sambil mengelap meja makan sampai bersih.


"Syukurlah kalau ada yang tidur direstoran, jadi kalau kami berangkat pagi enggak sendirian disini," jawab Rio. Setelah para karyawan restoran semua pulang, aku segera membersihkan tubuhku dikamar mandi, kemudian membaringkan tubuhku diranjang yang empuk.


Ingin rasanya aku menelpon Juita dan mengabarkan bahwa aku sudah sampai dan diterima kerja direstoran pak Galih. Aku sangat berterima kasih padanya, karena berkat dialah kini aku bisa bekerja dikota dengan gaji dua kali lipat daripada waktu aku kerja dikebun. Setelah aku melihat jam di hand phoneku ternyata sudah jam sebelas malam. sebaiknya besok subuh saja aku menelpon Juita, Sementara aku tahan saja dulu rasa kangenku ini. Sabar... sabar... wahai hati yang sedang jatuh cinta. Karena aku belum tahu apakah Juita benar-benar telah berubah, lagian belum tentu juga kan Juita mau menerima cintaku. Soalnya aku cuma orang miskin, tau sendiri bagaimana selera Juita, dia hanya menyukai orang kaya. Tapi itu kan dulu, sekarang siapa tahu berubah.

__ADS_1


Aku sudah beberapa kali merubah posisi tidurku namun tak jua aku terlelap. Akhirnya aku bangkit, aku melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu. Setelah itu aku mencoba salat malam untuk meminta ketenangan hati, dan memohon kepada Tuhan agar diberikan jodoh yang terbaik buat aku, siapa pun itu. Syukurlah aku merasakan. ketenangan setelah selesai shalat. Aku kembali merebahkan tubuhku diatas pembaringan.


*******


__ADS_2