Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab. 105. Pagi Yang Indah


__ADS_3

(POV) Juita


Suara azan membuat aku terbangun dari tidur nyenyakku. Saat menggeliat, tubuhku terasa berat seperti ada sesuatu yang menindihku. Aku mengarahkan pandanganku kebagian tubuhku. Sebuah tangan yang kekar tepat berada diatas dadaku, sebuah kaki yang kokoh dan berotot menindih bagian pahaku.


"Sudah bangun sayang!!...," suara bariton yang serak-serak merangsang menyapaku. Dia semakin mempererat pelukannya ditubuhku. Aku baru ingat apa yang terjadi malam tadi. Entah sudah berapa kali kami melakukan ibadah suami istri untuk yang pertama kalinya.


"Masih ada waktu sepuluh menit lagi, mari kita nikmati," ujarnya dengan mata tetap terpejam. Tangan mas Edi kembali merengkuh tubuhku dalam dekapannya. Aku pun membalas dengan membelai pucuk kepalanya.


Bahagia, itulah kata yang mewakili perasaanku saat ini. Setelah berulang kali mengalami kegagalan untuk meraih bahagia dengan jalur pintas yaitu dengan merenggut kebahagiaan orang lain. Akhirnya kini aku bahagia dengan jalan yang Tuhan Ridhoi. Hanya kata syukur yang besar tiada tara aku lirihkan dalam doaku, pada Tuhanku sang pencipta jaga raya.


Tak terasa sepuluh menit pun telah berlalu, suamiku menatap jam dinding sederhana yang terpajang di dinding kamarnya. Dengan perlahan dia singkapkan selimut yang menutupi tubuh polosnya. Dengan langkah sempoyongan dia bangun menyambar handuk dan menuju kamar mandi.


Aku terkejut saat dia berbalik tiba-tiba, menarik tanganku dan mengajaknya masuk kamar mandi.


" Kita mandi bersama," ucapnya seraya menarik tanganku. Aku tak mampu berbuat apa-apa, selain karena terkejut, berat rasanya hatiku untuk menolak keinginannya. Selesai mandi bersama, kami pun memakai pakaian santai dan keluar dari kamar menuju ke meja makan. Aku membantu mertuaku yang sedang menyiapkan sarapan pagi.


"Bagaimana acara malam pertama kalian, lancarkan," aku tersipu mendengar pertanyaan ibu mertuaku. Tapi aku berusaha bersikap biasa saja agar tidak ada terbesit niat usil ibu mertua untuk menggodaku.


"Lancar aja bu," jawabku singkat sambil menunduk tanpa berani menatap wajah ibu mertua yang tersenyum menyeringai.


"Enak enggak," aku semakin gelabakan menjawab pertanyan ibu mertua yang terdengar begitu absurd. Sesaat aku terdiam, fikiranku berkecamuk bingung harus menjawab apa.

__ADS_1


"Juita, kok kamu diam aja, malah kaya bingung, coba angkat wajahmu dan lihat tangan ibu, enak engga," ujar ibu mertuaku. Dengan penuh rasa gugup aku pun mengangkat wajahku dan menyorotkan pandanganku kearah tangan ibu mertuaku, yang beliau sodor kepadaku. Astaga....ternyata aku salah paham, sepotong daging ayam masak asam manis di atas piring kecil dia berikan untukku, agar aku mencobanya untuk mengetahui enak atau enggaknya.


"Ya... Ampun mama, kenapa aku jadi gagal fokus begini ya!!..."aku terkekeh, dengan malu-malu aku pun mengambil sepotong ayam yang ada di atas piring kecil kemudian mencicipinya.


"Enak, enak banget malah, Jawabku masih menahan rasa malu.


"Apanya yang enak," tanya ibu mertuaku lagi, sepertinya beliau memang sengaja menggodaku. Kali ini aku tidak boleh terkecoh, aku harus bersikap senatural mungkin.


"Ayamnya bu!!...nanti aku boleh yah bu!!...belajar masak makanan kesukaan mas Edi," ucapku sembari terus mengunyah sepotong ayam pemberian ibu mertua hingga dikunyahan terakhir.


Setelah semua makanan tertata rapi diatas meja, kami semua segera sarapan pagi. Aku mengambilkan sepiring nasi beserta lauknya untuk suamiku yang telah membuatku bahaga sepanjang malam tadi. Semoga malam-malam berikutnya kami terus bahagia hingga terlahirlah generasi penerus jalur keturunan keluarga kami.


Kulirik ibu mertuaku pun mengambilkan makanan untuk suami terkasihnya. Aku melirik emak, beliau sudah mengambil sepiring nasi, aku membantunya mengambil sayur dan lauk lalu meletakkannya di piring emak.


"Emak ini mikirnya jauh banget sih. Baru juga nikah sehari, masa sudah mikir ada janin diperut Juita. Kurasakan tangan mas Edi yang sedang duduk disampingku meraba perutku. Aku hanya tersenyum menatap wajahnya yang terlihat segar tampan mempesona.


"Ya, enggak. Apa-apa Juita, cepat atau lambatnya hamil itu kan bukan kita yang tentukan, tapi Tuhan Sang Pemberi Hiduplah yang menentukan. Ada yang berbulan-bulan, ada yang bertahun-tahun dan ada juga yang baru nikah kemarin sekarang periksa sudah hamil enam bulan, itu cepat banget kan, seperti si sopiyah itu, ibu tahukan," ujar ayah mertuaku sambil memandang kearah ibu mertuaku.


"Itu bukannya cepat ayah!!.... Tapi itu bikin duluan, jangan sampai deh anak keturunan kita melakukan hal seperti itu, kalian tidak begitu kan?" ujar ibu mertuaku, memandang kearah kami berdua secara bergantian. Mungkin karena aku dulunya perempuan nakal jadi ibu mertua mengira aku sudah menyerahkan kesucianku pada laki-laki yang tak setia kepada istrinya.


"Tentu saja tidak bu, ibu bisa cek ke kamar, darah perawan yang tumpah disepray belum kami bersihkan," Jawab suamiku santai.

__ADS_1


"Syukurlah...kamu memang anak lelaki kebanggaan ayah," ujar mertuaku sembari menepuk-nepuk pundakku.


Selesai sarapan pagi, aku langsung mengangkat piring kotor dan membawanya kedapur dan selanjutnya aku cuci. Selesai mencuci piring aku, hendak menyapu area dapur. Namun ibu mertua justru melarangku.


"Tidak usah repot-repot bekerja didapur Juita, kan sudah ada pembantu. Sebaiknya kamu temani saja suamimu, tanya kepingin apa lagi, turuti segala keinginannya. Ibu sangat bahagia kalau kehidupan rumah tanggamu bahagia.


Sudah seminggu aku dan mas Galih tinggal di desa Padang Sawit. Dipenghujung cuti kami kembali ke kota. Ini adalah hari pertama aku dan suamiku tinggal bersama dirumah kontrakan yang lebih besar. Ada tiga kamar tidur dan dua kamar mandi di kobtrakan. Satu kamar tidur utama dilengkapi fasilitas kamar mandi adalah kamar tidur aku dan suamiku. Sedang satu kamar tidur ditempati oleh emak dan satu lagi persedian jika suatu saat orang tua mas Edi datang dan menginap disini.


Pagi ini aku ditemani emak, sedang menyiapkan sarapan pagi didapur, yang merupakan kegiatan rutinku setiap pagi, mas Edi sedang menyapu ruang tamu dan menyiapkan sepeda motor untuk kami berangkat kerja. Kami selalu mengerjakan pekerjaan rumah tangga secara gotong royong. Sebenarnya dari gaji kami berdua, kami sanggup untuk membayar asisten rumah tangga. Namun kami lebih suka mengerjakan semuanya berdua, walau terkadang emak lebih banyak membantu.


Kami ingin nabung agar secepatnya bisa beli rumah sendiri, kebetulan mas Edi sudah mempunyai tabungan dengan jumlah yang lumayan dan tinggal mencari tambahan sekalian mencari informasi rumah yang akan dijual dengan harga terjangkau di dekat sini.


Selesai masak aku segera masuk kekamarku untuk bersiap berangkat kerja. Ternyata mas Edi suamiku sedang merapikan kemejanya di depan cermin. Aku segera mendekatinya membantu merapikan pakaiannya.


"Udah ganteng kok sayang," ujarku sambil mencium pipi suamiku.


"Memang dari dulu aku ganteng, tapi sayang baru aja nikahnya, soalnya baru aja ada yang mau, andai ada yang mau dari dulu, mungkin aku sudah nikah dari dulu, nyesel aku baru nikah sekarang. Ternyata nikah itu enak," ujar mas Edi.


"Bukannya dari dulu banyak yang mau sama mas Edi, mas Edinya yang engga mau," jawabku yang mengingatkan aku akan bisik-bisik ibu-ibu diacara pernikahan kami.


"Ya gimana....hatiku sudah mentok sukanya sama kamu, enggak bisa diganti yang lain," jawaban suamiku benar-benar membuat aku merasa teramat bahagia.

__ADS_1


********


__ADS_2