
(POV) Fira
Sudah lebih dari satu bulan aku dan Dewanta berpisah, namun entah mengapa kabut perpisahan masih meyelimuti hatiku. Hari demi hari aku lalui dengan derai air mata, dirumah, dikantor dan dimana saja hanya Dewanta yang terus memenuhi ingatanku.
Sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara, aku selalu hidup sendiri. Kedua kakakku telah menikah dan tinggal diluar pulau mengelola perusahaan papa yang ada disana. Sementara papa dan mama lebih banyak tinggal diParis.
Saat aku sendirian dan merindukan mereka, Dewanta selalu menemaniku, tapi kini dia lenyap bagai ditelan bumi, aku mencoba menghubunginya tapi nomornya sudah tidak aktif. Aku sudah mencoba datang ke kantor dimana dia bekerja, tapi salah satu temannya mengatakan kalau dia telah resign. Dia benar-benar serius ingin berpisah denganku. Sehebat apa sebenarnya wanita yang dijodohkan dengannya, sehingga begitu mudah dia menuruti kehendak orang tuanya dan memutuskan hubungan yang sudah enam tahun kita lalui.
Apa kurangnya aku dari wanita itu. Seandainya aku bertemu dengan orang tua Dewanta, ingin sekali aku menanyakan apa sebenarnya yang membuat aku tak layak untuk menjadi menantunya. Seharusnya beliau mengatakan itu padaku. Agar aku punya kesempatan untuk memperbaiki diri, jangan malah mencari perempuan lain untuk dijodohkan dengan Dewanta dan mengabaikan aku begitu saja.
Tok...
Tok...
"Masuk bi, kudengar asisten rumah tanggaku yang bernama bi Rasmi mengetok pintu kamarku. Ini jam makan siang, dia memang selalu mengingatkanku saat tiba makan siang.
"Non, makanannya mau dibawa ke kamar atau di meja makan saja," ucap bi Rasmi.
"Di meja makan saja bi, nanti aku kesana," ucapku sembari merapikan rambutku yang berantakan. Aku berdiri dan melangkah menuju cermin untuk mengamati wajahku yang terlihat sembab.
"Masak apa bi, baunya bikin perutku minta diisi.
"Bibi masak masakan kesukaan non, ini lihat, ayam rica-rica," jawab bi Rasmi. Melihat masakan bi Rasmi nafsu makanku langsung meningkat. Aku memang termasuk orang yang doyan makan, walaupun sedih, stres atau pun banyak fikiran tak akan mempengaruhi nafsu makanku. Aku beruntung, sebanyak apapun aku makan tidak membuat badanku gemuk. Selesai makan aku langsung masuk kekamar mandi untuk membersihkan tubuhku. Rencananya selesai mandi aku akan jalan-jalan ke mall untuk refressing. Aku tidak ingin terus larut dalam kesedihan, rasanya sia-sia hidupku kalau hanya diisi dengan patah hati, memikirkan pria yang belum tentu memikirkan aku.
__ADS_1
Perlahan aku mengemudikan mobilku membelah jalan raya menuju mall terbesar dikota ini. Sebelum ke mall sebaiknya aku mampir dulu kesalon, aku ingin perawatan agar tubuhku terasa segar kembali. Aku tidak ingin menyia-nyiakan hidupku dengan pasrah saja menerima rasa sakit yang di torehkan Dewanta kepadaku.
"Hai Fira...lama nih nggak nyalon, sendirian aja nih," Sinta pemilik salon sekaligus sahabatku saat kuliah menyambutku dengan ramah.
"Udah cepat, enggak usah bawel aku mau perawatan, lama enggak perawatan, kangen ucapku.
"Kebetulan semua karyawanku sibuk, bagaimana kalau aku saja yang melayani kamu," ucap Sinta sambil menyiapkan peralatan salon. Dengan senang hati, suatu kehormatan buat aku bisa dilayani oleh pemilik salon ini," ucapku.
Kalau boleh tahu bagaimana hubunganmu dengan kekasihmu Dewanta, baik-baik saja kan," pertanyaan Sinta barusan membuatku terdiam dan teringat kembali kisah pahit yang aku alami.
"Soalnya kemarin kan gini, temanku yang dari kampung namanya Galih. Dia itu lagi patah hati, karena wanita yang dicintainya dijodohkan oleh orang tuanya. Kemarin mereka melangsungkan pernikahan dan kamu tahu siapa nama mempelai prianya?," ucap Sinta sembari menatap wajahku.
"Ya mana aku tahu, kaya aku kenal aja, emangnya aku dukun yang bisa menerawang gitu," ucapku sewot, karena dia yang cerita, eh dia juga yang tanya.
"Bisa jadi dia Dewanta mantan aku," ucapku.
"Apa, jadi kalian sudah putus, sontak Sinta langsung menghentikan pekerjaannya dan memandang kearahku dengan pandangan tak percaya. Akupun membalas dengan anggukan.
"Sebulan yang lalu dia memutuskan hubungannya denganku karena dia dijodohkan dengan wanita pilihan orang tuanya," ucapku tertunduk menahan air mata yang akan kembali jatuh.
"Yang sabar ya, mungkin kalian belum berjodoh.
Selama apapun kalian menjalin hubungan kalau Allah tidak menghendaki kalian berjodoh maka tidak akan ada pernikahan diantara kalian. Mungkin Tuhan sedang menyiapkan seseorang yang lebih baik untuk menjadi pendampingmu," ucap Sinta sembari mengelus punggungku. Aku hanya mengangguk menanggapi ucapan Sinta.
__ADS_1
Sekitar tiga jam aku melakukan perawatan di salon Sinta. Setelah selesai dari salon aku melanjutkan pergi ke mall. Rasanya hari ini aku akan belaja sepuasnya. Sampai di mall aku langsung memarkir mobil diarea parkir kemudian melenggang kesebuah butik ternama yang ada di mall ini. Aku mulai memilih gaun yang aku sukai.
"Fira, kamu Fira kan?," seorang lelaki tampan menyapaku.
"Iya namaku Fira, abang ini siapa yah kok tahu namaku," aku kembali bertanya.
"Rupanya kamu sudah melupakan aku Fira, aku Dion teman SMA kamu dulu," ucap lelaki tampan dihadapanku. Sesaat aku terdiam memikirkan siapa Dion. Beberapa detik kemudian aku baru ingat dia adalah Dion mantan kekasihku waktu SMA, dia adalah cinta pertamaku.
Dulu aku dan Dion saling mencintai. Teman-teman bilang kami adalah pasangan serasi. Kedua orang tua kami telah menyetujui hubungan kami berdua karena mereka merupakan fatner bisnis. Kami sudah sepakat ingin menghalalkan hubungan kami setelah selesai kuliah.
Setelah menikah Dion mengikuti keinginan orang tuanya untuk melanjutkan kuliah di Amerika, karena dia adalah anak laki-laki satu-satunya di keluarganya. Sehingga dialah yang akan menduduki pucuk pimpinan diperusahaan papanya.
Sampai pada suatu hari aku memergoki Dion dan Santi sedang tertidur pulas sambil berpelukan diapartemen milik Dion. Waktu itu berulang kali Dion menjelaskan bahwa itu sama sekali bukan keinginannya. Menurutnya Santilah yang datang keapartemen miliknya dan menyuguhkan makanan. Setelah memakan makanan dari Santi dia merasa mengantuk dan akhirnya tertidur.
Aku tahu Santi memang menyukai Dion. Sebenarnya hati kecilku percaya dengan ucapan dion namun amarahku mengalahkan logika. Aku langsung memutuskan hubunganku dengan Dion dan menolak bertemu dengannya. Sejak saat itu aku dengar dia menetap diluar negri dan tak pernah pulang. Aku tidak pernah menyangka hari ini aku dipertemukan kembali, kulihat dia semakin tampan dan dewasa.
"Fira... Fira, kenapa bengong," ucap Dion sembari menepuk-nepuk bahuku.
"Oh iya maaf aku baru ingat. Kapan kamu pulang ke Indonesia," aku bertanya dengan masih diliputi rasa gugup.
"Sekitar beberapa bulan yang lalu, kamu sendirian aja atau sama suami, atau pacar barang kali, sorry ya kalau aku mengganggu," ucap Dion gugup.
"Nggak apa-apa, aku sendiri kok, suami belum punya, pacar baru putus, kalau kamu katanya sudah nikah, istri dan anakmu tidak diajak," ucapku asal saja.
__ADS_1