
(POV) Fira
"Ayo kita langsung makan saja, ibu sudah masak masakan spesial untuk kalian berdua. Kebetulan Ayah mau makan dari tadi tapi ibumu melarang, katanya ingin makan bareng kalian, jadi ya...ayah tahan dulu laparnya demi menuruti keinginan istri tercinta. Tapi kalian pasti sudah lapar juga kan? " ungkap pak Joko, sambil terus merangkul pundak mas Edi seperti enggan untuk melepaskannya.
"Terus ayah... terus saja permalukan ibu, awas nanti malam enggak ibu kasih jatah," ucap ibu Minah dengan muka masam. Aku hanya tersenyum dalam hati melihat kelakuan absurd sepasang suami istri yang tak muda lagi.
"Ya jangan seperti itu bu, ya sudah ayah minta maaf ya bu, maaafff bangeett bu," sini ayah ambilkan nasinya, ibu mau lauk apa. sebaiknya ibu coba semua ya...sedikit-sedikit biar tau rasanya," ucap pak Joko sambil membantu ibu duduk dikursi kemudian mengambil piring dan mengisi dengan nasi dan diisi dengan sayur dan semua lauk yang ada di situ.
"Ayah, ibu.. kalian ini sudah tua masih aja lebay sok romantis enggak malu apa sama yang masih muda," ucap mas Edi sambil mengambil piring dan mengisinya dengan nasi di tambah semua sayur dan lauk seperti yang dilakukan oleh ayahnya.
"Nak, romantis itu bukan milik yang muda saja, buat kami-kami yang sudah bau tanah ini juga harus tetap romantis dan senantiasa menjaga kehangatan dan keharmonisan rumah tangga agar hidup selalu semangat dan bahagia. Itu kamu juga niru kelakuan ayah, tapi tidak boleh lebih dari itu yah, soalnya setan itu ada dimana-mana, " pak joko menasihati dengan penuh perhatian. Aku dan mas Edi hanya mengangguk sembari tersenyum.
"Tidak boleh lebih dari itu!!, memang lebihnya mau ngapain coba. Belum tentu cinta Edi diterima sama Juita. Jangan kepedean ayah, " ucap ibu sambil menyuapkan nasi kemulutnya dan mempersilakan kami semua untuk makan. Kami makan dengan nikmat, kulihat mas Edi dan pak Joko nambah dua kali, mereka pun menyuruh aku untuk nambah namun rasanya aku sudah kenyang.
Selesai makan kami berempat pun beristirahat diteras belakang rumah mas Edi, sambil menyaksikan ayam-ayam jantan yang sedang di kasih makan oleh pak Joko. Sesekali ibu tertawa ngakak karena mendengar candaan ayah. Sementara mas Edi hanya tersenyum melihat kelakuan kedua orang tuanya.
Tepat pukul setengah dua saat kami semua selesai shalat zuhur berjemaah, aku dan mas Edi pun bersiap-siap untuk berangkat menuju desa Padang Gatah. Desa dimana aku dan emakku tinggal.
__ADS_1
Sebelum berangkat ibu Minah mengajakku kedapur. Beliau ingin bicara empat mata denganku. Rasanya aku deg-degan sekali, apa mungkin ibu Minah ingin menyuruhku untuk meninggalkan mas Edi, karena sebenarnya aku memang tidak pantas untuk memjadi pendampingnya. Ah...kenapa aku jadi kepedean sih, belum tentu juga mas Edi menaruh hati padaku, siapa tahu dia hanya kasian padaku.
"Duduklah nak Juita, ada yang ingin ibu tanyakan, maaf kalau kesannya ibu terlalu lancang ikut campur urusan kalian. Tapi walau bagaimana pun kami sebagai orang tua Edi ingin yang terbaik untuk putra kami, kamu tentu paham bukan? " aku hanya mengangguk pasrah jika memang bu Minah menyuruhku untuk menjauhi mas Edi.
"Apa kamu mencintai Edi nak, " tanya bu Minah dengan sorot mata tajam seolah ingin menembus ruang hatiku dan mencari adakah kejujuran disana. Aku hanya mengangguk dengan mantap, aku tidak perlu malu mengakui perasaanku, walau pun nantinya cintaku bertepuk sebelah tangan, aku sudah siap dan aku sudah ikhlas.
"Kalau kamu mencintainya berjanjilah pada ibu, kamu akan bersedia menjadi pendamping hidupnya sampai kalian menua nanti. perlu kamu ketahui, sudah lama dia jatuh hati padamu, namun kami tidak pernah merestuinya. Hari ini setelah melihat perubahanmu, aku merestui cinta kalian, tapi dengan syarat, jangan pernah kamu khianati anak kami, sayangi dan cintailah dia, seperti dia begitu mencintaimu,"
Perlahan-lahan mengalirlah kristal-kristal bening melewati kedua belah pipiku, entah kata apa yang pantas untuk mengungkapkan betapa aku sangat bahagia mendengar kenyataan jika mas Edi begitu mencintaiku, bahkan sejak lama.
Setelah pamit pada kedua orang tua mas Edi, aku dengan dibonceng oleh mas Edi dengan menggunakan motor metik miliknya melaju meninggalkan desa Padang Sawit menuju desa Padang Gatah tempat tinggalku.
Sekitar dua puluh menit kemudian, kami pun sampai dirumah sederhana berbahan kayu yang hampir jabu dan beratap rumbiah. Aku segera turun dari motor mas Edi dan melangkah dengan tergesa-gesa. Sementara mas Edi mengikuti dibelakangku.
Perlahan aku ketuk pintu rumahku hingga beberapa kali. Tak lama kemudian, muncullah seorang ibu yang umurnya sekitar empat puluh enam tahun, namun tubuhnya tampak lemah sepertinya dia sangat lemah, mungkin emak sedang tidak enak badan.
"Emak...emak.... Juita datang, Juita mau minta maaf karena selama ini Juita sering menyakiti perasaan emak. Juita juga sering buat emak malu mak... Tapi sekarang Juita janji, Juita Tidak akan menyakiti emak lagi, Juita telah sadar mak, kalau apa yang Juita lakukan selama ini salah. Juita akan belajar jadi anak yang baik mak...biar bisa bikin emak bangga," ucapku sambil berlutut memeluk kaki Emak.
__ADS_1
"Juita... benarkah apa yang kamu ucapkan nak, benarkah kamu mau menjadi wanita baik-baik, kamu sudah sadar nak hu... hu... hu..." Emak Juita menangis tersedu-sedu sambil memeluk putrinya.
"Emak kangen kamu Juita, ema tidak ingin berpisah denganmu, maukah kamu pulang tinggal dirumah ini bersama emak Juita," emak Juita terus terisak.
"Juita tidak bisa pulang mak, Juita sekarang kerja dipabrik mau ngumpulin uang untuk masa depan. Bagaimana kalau emak ikut Juita saja ke kota, emak tidak usah kerja lagi, gaji Juita cukup kok buat hidup kita berdua, Juita masih bisa nabung malahan, gimana mak, " tanyaku pada emak dan emakku mengangguk setuju. Terlalu larut melepas rindu dengan Emak, aku sampai lupa mengenalkan mas Edi pada emak.
"Ma.. kenalkan ini mas Edi, dia yang tadi mengantarkan aku pulang. Mas Edi kenalkan ini emakku, orang sering memanggilnya emak Jelita, he... he... namanya mirip denganku. Mas Edi pun menyalami dan mencium punggung tangan emak.
"Kamu Edi yang dulu sering mengantar Juita saat Juita kemalaman di jalan kan?" mas Edi pun menganggukkan kepala.
"Dulu kamu sepertinya menaruh hati pada Juita, apakah sekarang kamu masih mencintainya," pertanyaan emak sontak membuat aku terkejut, aku takut mas Edi tidak berkenan dengan ecapan ema.
"Maafkan emak ya mas, " ucapku pada Mas Edi merasa tidak enak.
*********
.
__ADS_1