
(POV) Fira
Aku fikir-fikir saran mama dan papa benar juga, agar aku menemui dokter kandungan untuk memeriksakan kondisi rahimku, agar diketahui mengapa saat aku menikah dengan Dion tidak dikaruniai seorang anak.
Akhirnya aku ditemani oleh papa dan mamaku menemui dokter kandungan yang sedang praktek sore ini. Saat memasuki ruang pendaftaran, pandanganku menyapu keseluruh sudut diruangan ini. kulihat yang sedang mengantri rata-rata adalah ibu-ibu hamil dan ditemani oleh suaminya. Aku melihat beberapa pasang mata memandang kearahku, papa dan mama dengan pandangan ingin tahu.
Aku langsung memencet nomor antrean hingga keluarlah lembaran kertas kecil yang menunjukkan nomor antrianku. Aku, papa dan mama langsung duduk dan bergabung disamping ibu-ibu hamil tadi. Sontak ibu-ibu itu mengelus perutnya sambil komat-kamit berdoa terus memandang ke arahku. Entah aku tidak tahu mereka sedang berdoa apa.
"Suaminya mana mbak, kok tidak ikut mengantar, " tanya seorang ibu berdaster biru polos yang sepertinya sedang berbasa-basi.
"Saya belum menikah bu, mungkin sebentar lagi akan menikah,"jawabku singkat sambil tersenyum ramah.
"loh belum menikah kok sudah periksa kandungan, mbak nabung duluan ya " sahutnya dengan nada sinis. Kulihat ibu-ibu hamil yang lain langsung berbisik-bisik sambil memandang kearahku. Sekarang aku baru faham, mengapa mereka sejak tadi memandangku dengan pandangan menghakimi.
"Saya tidak sedang memeriksakan kandungan bu, tapi saya akan memeriksakan rahim saya. Karena enam tahun yang lalu saya pernah menikah selama satu tahun, namun saya tidak mempunyai anak. Sedangkan sekarang saya akan menikah lagi, jadi papa dan mama saya menyarankan agar saya memeriksakan rahim saya agar dapat diketahui apa yang menyebabkan saya susah punya anak. Serempak ibu-ibu hamil itu langsung tertunduk sepertinya mereka merasa malu.
"Maafkan saya ya mbak, karena saya sudah salah sangka, saya fikir mbak hamil diluar nikah dan akan memeriksakan kandungannya. Soalnya tidak membawa suami, ternyata baru calon pengantin. Maaf sekali ya mbak karena kami telah mengambil kesimpulan sendiri," ucap wanita yang barusan menyapaku. Sedangkan beberapa ibu-ibu yang tadi berbisik-bisik langsung diam tertunduk dan malu sendiri.
__ADS_1
"Iya enggak apa-apa, mungkin muka saya memang pantas dianggap sebagai penzinah karena muka saya kelihatan banyak dosa. Tidak seperti muka ibu-ibu disini yang terlihat seperti orang baik dan bersih dari dosa," ucapku sengaja menyindir mereka. Mereka hanya tertunduk tak berani bicara apapun. Tak berapa lama setelah aku mengantri akhirnya namaku dipanggil. Aku segera berdiri diikuti oleh papa dan mama. Aku mengarahkan pandanganku kearah ibu-ibu yang tadi mengira aku hamil diluar nikah, ternyata mereka sudah tidak ada. Mungkin sudah mendapatkan giliran untuk periksa karena sejak tadi aku malas memperhatikan mereka.
Aku, papa dan mama melangkah memasuki ruangan dokter. Tampak lah dihadapanku seorang Dokter berusia sekitar lima puluh tahun, dengan nama lengkap dr. Agus Sarwono, Sp.OG mempunyai kepala botak dan perut yang buncit, memakai kemeja berwarna navy biru dongker yang dilapisi jas berwarna putih, dengan bawahan celana bahan.
"papa, beginikah pria tampan dengan tatapan yang lembut versi mama, ternyata selera mama jauh dari ekspektasiku," bisikku pada papa, papa pun tersenyum menanggapi ucapanmu.
"Iya, ternyata botak papa kalah lebar dan perut papa kalah buncit," sahut papa sambil berbisik. Sedangkan mama hanya tersenyum santai. Sang Asisten dokter melakukan tensi terhadapku, hasilnya ternyata cukup bagus. Lalu dia memintaku untuk berbaring kemudian melumuri perutku bagian bawah dengan USG gel yang berfunsi sebagai pelumas dan juga memperjelas suara objek.
Dokter segera melakukan pengecekan rahim, Kemudian dokter tersenyum dan segera menyudahi pemeriksaan. Asisten yang mendampingi dokter langsung membersihkan perutku yang dilumuri gel dengan menggunakan tissu.
Kemudian dokter meminta papa, mama dan aku duduk bersama untuk memberitahukan hasil pemeriksaan tadi.
"Dua puluh tiga tahun dok dan itu sudah lima tahun yang lalu, "jawab Fira dengan suara sedikit parau karena merasa gugup menanti hasil pemeriksaan Dokter. Fira memang mempunyai otak yang cerdas sehingga dia mampu menyelesaikan pendidikan S1 hanya tiga tahun saja dengan Indeks Pretastasi kumulatif diatas tiga koma lima atau comloud.
"Oh, pantas saja, hasil pemeriksaan saat ini rahim ibu subur-subur aja, bahkan sangat subur," ucap Dokter Agus sembari tersenyum.
"Terus kenapa waktu menikah dulu putri saya tidak punya anak Dok, " tanya mama penasaran.
__ADS_1
"Kemungkinan karena saat itu sel telurnya masih kecil sehingga belum bisa dibuahi. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, sel-sel telur pun berkembang dan saat ini dalam kondisi siap dibuahi, apa perlu dikasih obat penyubur supaya terjadi pembuahan lebih cepat?," ucap Dokter Agus memberi saran.
"Bisa Dok sebagai wujud ikhtiar kami," papa menyahut. Dokter agus pun menulis resep dan memberikannya kepadaku. Aku langsung menerimanya dan kemudian mengucapkan terimakasih lalu kami bertiga pun pamit meninggalkan ruangan dokter.
"Semoga saja setelah resmi menikah dalam waktu tidak lama pembuahan segera terjadi, dan aku bisa hamil, " doaku dalam hati. Mama dan papa tersenyum bahagia. Kemudian kami bertiga pun melangkah menuju apotik yang terletak beberapa meter dari ruangan praktik dokter.
Selesai menebus obat dan membayar biaya lain-lain kami langsung menuju parkiran untuk pulang.
"Mama bahagia sekali ternyata rahimmu baik-baik saja nak, semoga saja setelah menikah kamu segera hamil, agar mantan mertuamu yang mengatakan kamu mandul itu kebuka matanya, terus terang mama masih sakit hati dengan cara dia memperlakukanmu dulu," ucap mamaku bersungut-sungut.
"Sudahlah ma, tidak usah mengingat-ingat kejelekan orang terus, mama banyak - banyak berdoa semoga orang-orang yang pernah menyakiti anak kita segera sadar," ucap papa menimpali ucapan mama sambil merangkul bahu mama.
"Iya tapi seharusnya kalau tahu menantunya tidak kunjung punya keturunan ya diperiksakan ke dokter, apa ada masalah dan kalau sudah tahu masalahnya ya dicari solusinya sama-sama. Bukan menantunya tidak punya anak malah dikatain mandul dan yang lebih parah anaknya disuruh nikah lagi, itu namanya penghinaan Pa, papa sadar enggak sih," ucap mama dengan nada tinggi karena merasa sangat kesal.
"Papa ngerti ma, papa juga kesel tahu!!, kalau Fira diperlakukan seenaknya sama bu Retno. Tapi masa kita harus menyimpan amarah terus, enggak baik ma untuk kesehatan. Mencobahlah untung berdamai dengan diri sendiri dan pasrahkan semua demdam yang ada kepada Allah SWT," ucap papa sambil mengelus pundak mama.
"Iya mama akan coba pa, mama akan mencoba damai dengan diri sendiri, agar rasa kesal mama pada keluarga Dion berangsur -angsur menghilang," ucap mama, akupun segera mengacungkan jempolku tanda setuju dengan ucapan mama.
__ADS_1
Tak terasa kami telah sampai halaman rumah. Supir segera memarkirkan mobil kami dicarspot rumahku. Aku, papa dan mama langsung keluar dam masuk kedalam rumah. Sementara sang supir segera mengangkut semua barang yang ada dimobil menuju keruang tengah. Ternyata dirumahk telah berkumpul keluarga kecil mas Gading dan keluarga kecil mas angkasa kakakku. Para keponakan langsung berlari menghambur dalam pelukanku, ada juga yang memeluk mama dan papa. Suasana rumah terlihat ramai sekali. Tampaknya mereka sedang bahagia seperti halnya Fira, mama dan papanya.