
(POV) Dion
Aku sangat marah dengan rencana buruk mama agar aku mendekati Fira kembali. Hari ini, dihadapan Yunian istriku, aku benar-benar malu terlahir dari wanita seperti mama. Bagaimana mungkin seorang wanita tega menyakiti hati wanita, dengan menyuruhku menikah lagi dengan wanita yang sedang bahagia dengan pasangannya. Sangat tidak masuk akal, itulah rencana mama. Demi supaya nama keluarganya tersohor hingga kepelosok negeri, dia rela memaksakan kehendak dan menyakiti hati kami.
"Ayo Yunian kita pergi dari rumah ini," Aku menggandeng tangan istriku masuk kedalam kamar untuk berkemas. Kubawa bajuku, istriku dan kedua anakku secukupnya saja.
Dengan dua buah koper aku keluar menemui mama dan papa untuk pamit pergi. Rencananya untuk sementara aku akan menginap dihotel sebelum mendapatkan hunian yang nyaman untuk anak dan istriku.
"Yakin kamu akan keluar dari rumah ini, Dion, Yunian, ingat kalian sudah terlanjur hidup nyaman selama tinggal disini. Kalian pasti akan menyesal meninggalkan harta yang berlimpah ini," teriak mama.
"Maaf ma... Dari kecil Yunian sudah biasa hidup susah, jadi kalau sekarang kami hidup sederhana lagi, tak masalah bagiku. Yang penting rumah tanggaku utuh dan tidak berbagi suami dengan wanita lain, Rumah tangga Galih dan Fira adikku tetap utuh dan bahagia, tanpa harus terusik sedikit pun," ucap istriku.
"Yunian benar ma, sebelum kami pindah kesini, kami hidup bahagia walau hanya dengan usaha yang aku rintis sendiri dari nol. Yunian selalu menerima nafkah dariku. seberapa pun jumlahnya. Dia istri yang baik dan tak pernah menuntut lebih diluar kemampuan suaminya, hanya kesetiaan yang selalu dia minta dariku, dia juga menantu yang baik, selalu melayani aku dan mama dengan setulus hati," Dion terus membela istrinya.
"Terus saja kamu bela istrimu itu, sejak kamu kembali dan membawa Yunian kerumah ini. Kasih sayangmu sama mama sepertinya sangat berkurang, kamu lebih perhatian kepada istrimu saja. Ingat Dion dia itu cuma perempuan kampung," teriak mama histeris.
__ADS_1
"Cukup ma!!.... Dion cepat bawa istrimu pergi keluar dari rumah ini. Jangan biarkan mamamu, terus menghina dan menyakitinya. Dia adalah hartamu yang paling berharga, jadi jagalah dia dengan sepenuh hati," ucap papa spontan. Papa benar terlalu lama aku dirumah ini sama saja dengan memberi kesempatan mama untuk menghina dan menyakiti Yunian.
"Iya pa, Dion berangkat dulu, ma...Dion berangkat dulu," aku segera menyalami papa dan mencium punggung tangannya yang di ikuti juga oleh Yunian. Aku juga menyalami dan pamit pada mama. Walaupun tindakan mama amat menyakitkan bagiku, namun sebagai anak, aku tidak lantas membencinya. Aku akan tetap berbakti dan menyayangi mama sepenuh hati. Tak ada rasa dendam sedikitpun yang aku rasa atas pelakuan mama.
Waktu aku akan menyalami mama, beliau menepisnya tanda beliau tak mau meridhoi kepergianku. Namun aku tetap akan pergi demi menjaga hati istriku tercinta.
Walaupun melihat uluran tanganku untuk menyalami mama ditolak oleh mama, namun Yunian tetap berusaha menyalami mama dan memohon restunya. Aku tidak menyangka uluran tangan Yunian untuk menyalami mama, justru disambut dengan tamparan oleh mama. Melihat mama menampar istriku spontan aku langsung memeluknya dan mengelus pipinya yang memerah akibat tamparan mama. Yunian menangis sesenggukan dalam pelukanku.
"Puas kamu Yunian, Puas kamu sudah membuat putraku pergi meninggalkanku. Puas kamu sudah membuat kami semua bertengkar hingga anak dan suamiku membenciku. Dasar perempuan tak tahu diri, kurang apa aku sebagai mertua, aku sudah memberikan kehidupan yang nyaman sama kamu, tapi ini balasanmu," teriak mama histeris.
Tanpa banyak bicara, aku langsung menarik tangan Yunian dan membawa koper-koper kami keluar rumah menuju kemobil.
Papa akan menghabiskan masa tuanya ?bersama anak, cucu dan menantu. Aku yakin Yunian menantu yang baik, dia pasti akan mengurus masa tuaku dengan sangat baik. Papa ingin hidup tenang dan tentram dihari tua, bukan hidup yang penuh ambisi. Aku pergi ma!" Papa yang sudah siap dengan kopernya berjalan menyusulku.
Kami bertiga naik kedalam mobil. Tujuan utama kali ini adalah menjemput Jordan dan Kiran disekolah. Masih sempat aku memandang kearah mama, wanita yang melahirkan dan membesarkan aku dengan penuh kasih sayang. Beliau menatap mobilku dengan tatapan nanar.
__ADS_1
Sebenarnya aku tak tega berbuat demikian pada wanita yang sangat aku hormati, namun apa yang di inginkan sudah di luar batas kewajaran. Sambil aku menyetir mobil, kulirihkan doa agar wanita yang paling aku hormati dan aku sayangi di beri hidayah, agar cepat menyadari bahwa apa yang di kehendakinya adalah salah.
"Papa kapan menyiapkan koper, kok tahu-tahu sudah siap," tanyaku pada papa, karena aku sempat heran,melihat papa sudah menyiapkan koper.
"Sejak malam tadi papa sudah siapkan pakaian. Tadi malam papa dan mama berselisih pendapat. Mama bersikeras dengan semua ide dalam fikirannya yang bertolak belakang dengan pemikiran papa, mama sudah tidak sanggup mengendalikannya. Yang membuat papa merasa terhina, mama menyuruh papa tidak usah ikut-ikutan, katanya biar semuanya jadi urusan mama. Papa disuruh terima beres saja," ungkap papa sembari menekan-nekan kening. Sepertinya papa sangat tertekan dengan kelakuan mama.
"Sebagai seorang suami, papa telah gagal mendidik istri, papa benar-benar tidak berguna, jadikan kisah hidup papa ini menjadi pelajaran hidup dalam rumah tangga kalian Dion. Kesalahan papa selama ini adalah, papa selalu menurut apa maunya, karena papa sangat mencintainya. Apapun papa lakukan demi memenuhi ambisinya, semua itu karena cinta yang ternyata menjerumuskan dan menjadi bemerang dalam hidup papa sendiri. Papa benar-benar menyesal nak !" ucap papa sembari tertunduk dan menutup mukanya dengan kedua telapak tangan, sementara bibirnya terus terisak.
"Sudahlah papa, kita berdoa saja, semoga apa yang kita lakukan pada mama, membuat mama sadar bahwa yang dia lakukan adalah salah, karena telah menyakiti hati banyak pihak," sahutku. Papa pun setuju dengan pendapatku.
Setelah setengah jam kemudian, sampailah mobil kami di parkiran sekolah Kiran. Yunian langsung meminta izin kepada kepala sekolah yang kebetulan sedang berdiri dihalaman sekolah untuk mengajak Kiran pulang karena ada urusan mendesak. Tentu saja kepala sekolahnya langsung mengijinkan.
Selesai dari sekolah Kiran kami langsung menuju ke sekolah Jordan. Kebetulan ini sudah waktunya anak sekolah TK harus pulang. Benar sekali, lima menit setelah kami memarkirkan mobil kami, anak TK terlihat sudah pulang. Kulihat Jordan berlari kecil mencari keberadaan kami. Yunian dengan sigap menyongsong kedatangan putranya dengan tubuh berjongkok dan kedua tangan direntangkan siap memeluk buah hatinya.
Rasa bahagia tak ternilai, kala
__ADS_1
melihat wajah-wajah orang terkasih saling melempar senyum bahagia. Setelah kami semua telah berada dalam mobil, aku segera melajukan kendaraan roda empat milikku ke sebuah hotel ternama dikota ini. Bagaimana mungkin mama berpendapat, kalau kami akan hidup sengsara setelah keluar dari rumah. Padahal selama ini aku dan Yunian selalu hidup sederhana sehingga aku mempunyai tabungan yang lumayan untuk masa tua nanti.
********