
(POV) Dewanta
Hari ini saat aku sedang bekerja mengawasi para karyawanku yang sedang mendodos sawit, tiba - tiba hand phone ku berdering. Aku segera mencari dan mengambilnya dari saku celanaku. Rupanya Zahra menelponku," ada apa dia menelpon siang-siang begini, semoga bukan berita buruk yang aku dengar.
"Assalamu allaikum kak," Zahra istriku mengucapkan salam dengan suara parau seperti habis menangis.
"Wa allaikum sallam, ada apa sayang," ucapku gugup.
"Kakak lagi dimana!, kapan pulang," suara Zahra masih terdengar serak seperti menahan tangis.
"Ada apa Zahra, kamu menangis," ucapku semakin bingung.
"Tidak apa-apa kak, aku hanya ingin dengar suara kakak, ya udah telfonnya aku tutup ya, assalamu allaikum," Zahra mematikan sambungan telponnya dan semakin membuatku bingung.
Rasanya hatiku tak tenang memikirkan Zahra, sejak kedatangan Fira ke desa ini, Zahra memang kerap sedih, dan cemburu dengan masa laluku dengan Fira. Memang sejak bertemu dengan Fira aku juga sering teringat kenangan-kenangan semasa kami bersama dulu. Tapi aku seorang laki-laki yang cenderung lebih mengutamakan logika dibanding perasaan. Mungkin seandainya aku laki-laki yang mudah memberikan cintaku kepada perempuan. Aku akan kembali terpesona dengan kecantikan Fira yang begitu memikat seperti dahulu. Tapi Dewanta yang sekarang bukanlah Dewanta yang dulu yang mudah tergoda oleh kecantikan wanita.
Lima tahun menjalani hidup dalam pernikahan sebagai suami Zahra dan menantu abah Sasmito membuat aku semakin matang dan dewasa dalam bertindak. Aku selalu ingat akan wejangan abah, cinta kepada istri dalam sebuah pernikahan bernilai ibadah dan cinta kepada wanita lain yang bukan mahram kita adalah dosa. Jadi aku selalu menepis dan membuang jauh-jauh cinta yang dulu pernah ada dan kini kembali menghampiri. Aku tidak mau hatiku bergelimang dosa. Aku tidak mau menyakiti wanita yang selama ini telah mendampingiku, mengurusku dan melayaniku dengan penuh cinta.
Hanya laki-laki bodoh yang rela manghancurkan rumah tangganya sendiri yang dia bangun bersama istri tercintanya demi bisa hidup bersama mantan pacar. Menyakiti perasaan seorang istri, seorang anak dan seluruh keluagaku. Mereka jauh lebih berharga dari pada seorang mantan.
Kalau aku tetap dikebun saja rasanya aku tidak bisa tenang, takut terjadi sesuatu pada Zahra atau Zahwa, lebih baik aku pulang saja, agar aku tahu kondisi Zahra.
Aku segera pamit pada para pekerja untuk pulang duluan. Sampai dirumah, Zahra sedang berbaring telungkup sembari terisak.
__ADS_1
"Zahra, ada masalah apa sayang," aku membangunkan Zahra menghapus air matanya. Zahra menceritakan tentang Fira yang menemuinya di sekolah Zahra tempat dia mengajar dan besok rencananya dia akan kesini menemuiku.
Aku tidak menyangka sekarang Fira sudah banyak berubah, Fira yang sekarang bukanlah Fira yang dulu. Entah bagaimana pergaulan dia sekarang hingga membuat hati nuraninya seakan mati.
"Mungkin itu adalah ujian pernikahan kita, kita hadapi sama-sama, kamu harus tetap percaya padaku demi keutuhan rumah tangga kita.
"Rasanya aku males bertemu Fira kak, dia sudah memandang rendah aku, seolah aku penggila harta yang mau menukar harta yang dia miliki dengan suamiku," ucap Zahra.
"Kalau aku menghadapi sendiri, bisa menjadi fitnah dan Fira akan semakin leluasa merayuku, kamu mau," ucapku dan dibalas Zahra dengan menggelengkan kepala.
"Berarti besok kita akan hadapi sama-sama ya. Tunjukan pada dia kalau kita suami istri yang saling mencintai. Dia tidak bisa seenaknya saja masuk dalam kehidupan rumah tangga kita. Sudah tidak usah cemberut terus, kamu harus percaya padaku.
Ayo kita makan, kita harus banyak makan agar kuat menghadapi ujian hidup, Zahwa mana," ucapku sembari mengaut nasi menggunakan entong dan menaruhnya dipiring istriku dan piringku sendiri.
Pagi ini sekitar jam delapan pagi saat aku duduk santai dimeja makan menikmati secangkir kopi buatan istriku, terdengar pintu depan diketuk.
"Sayang ada tamu tuh, bukain dong," Zahra yang sedang menemaniku dimeja makan berdiri sambil membenarkan jilbabnya dan melangkah menuju keruang tamu.
"Mari bu silakan duduk, saya panggil suami saya dulu," kudengar suara Zahra mempersilakan tamunya duduk dan melangkah kearahku.
"Kak, bu Fira sudah datang," ucap Zahra, wajahnya terlihat gugup. Aku langsung melihat jam tanganku yang ternyata baru jam delapan pagi.
"Kemarin janjinya jam sembilan tapi baru jam delapan bu Fira sudah datang," ucap Zahra menjelaskan.
__ADS_1
"Iya kamu buatin minum aja dulu, ajak ngobrol basa-basi baru nanti aku nyusul, aku mau menghabiskan kopiku dulu ya sayang," aku nyengir kepada Zahra agar dia tidak terlalu tegang. Aku sengaja menyuruh Zahra membuat kopi dulu biar Fira tidak punya waktu berduaan denganku, untuk.menjaga perasaan istriku.
Setelah kurasa Zahra telah menyuguhkan minuman dan beberapa cemilan, aku keluar dan menyapa Fira.
"Selamat pagi Fira, bagaimana kabarmu," aku menyapa Fira sembari duduk disamping istriku. Fira berdiri hendak menyalamiku namun aku hanya menangkupkan kedua telapak tanganku didada.
"Kamu berubah sekali mas, dulu setiap ketemu kamu selalu memelukku dan cipika-cipiki, sekarang boro-boro pelukan diajak salaman aja tidak mau," ucap Fira
"Tentu saja kita semakin dewasa harus terus berubah menjadi lebih baik. Dulu aku belum faham agama sehingga aku sering berbuat sesuatu yang tidak dibolehkan oleh agama. Tapi semenjak menikah dengan Zahra aku terus memperdalam ilmu agamaku agar kehidupanku menjadi lebih baik dan bermanfaat, baik didunia maupun akherat," aku mencoba menjelaskan agar dia tidak tersinggung dengan perubahanku.
"Langsung saja mas, aku kesini dengan tujuan dan niat baik. Kemarin aku sudah menyampaikan kepada istrimu tapi dia menyuruhku untuk bicara langsung denganmu.
"Bu Zahra bisa tinggalkan kami, saya mau mengobrol berdua saja dengan mas Dewanta," ujar Fira. Aku langsung memegang bahu Zahra agar dia tidak meninggalkanku dan tetap duduk ditempatnya.
"Tidak Fira, bicaralah!!, biarkan dia disini, dia istriku, dia harus tahu apa yang kIta bicarakan. Lagian aku tidak bisa ngobrol berdua denganmu karena kita bukan mahram. Dengan wajah kesal, Fira segera menyampaikan keinginannya untuk menikah denganku dan menjadi madu Zahra dengan imbalan separuh dari hartanya diberikan kepada Zahra. Dia juga bilang kalau dia sangat masih sangat mencintaiku.
Jujur aku merasa terkejut dengan kalimat yang di ucapkan Fira, bagaimana mungkin ada seorang wanita mengungkapkan perasaannya kepada laki-laki didepan istrinya.
"Maaf Fira, saya tidak bersedia, karena saya tidak ingin menyakiti istriku. Kamu juga perempuan, kamu rela bercerai daripada harus dimadu. Seharusnya kamu memikirkan perasaan Zahra, kamu seperti tidak punya harga diri saja menyatakan cinta kepada laki-laki didepan istrinya. pakai ingin memberikan imbalan harta kepada Zahra agar dia mau mengikuti keinginanmu. Kamu pikir aku ini barang yang bisa ditukar dengan harta. Apa yang kamu lakukan sudah merendahkan kami Fira. Sekarang aku baru sadar orang tuaku benar tidak merestui hubungan kita. Ternyata sifat aslimu seperti ini," aku hampir tidak mampu membendung emosiku. Zahra menepuk-nepuk bahuku untuk menenangkanku. Kulihat air mata Fira merembes keluar dari sudut matanya, namun tidak lantas membuatku iba.
"Mas semua itu aku lakukan karena aku sangat mencintaimu, aku rela merendahkan harga diriku demi bisa meraih cintaku kembali, bahkan aku rela kehilangan separuh hartaku agar kita bisa hidup bahagia seperti impian kita dulu.
**********
__ADS_1