
(POV) Fira
Hari ini adalah hari pertama aku kembali menjalani kehidupan baruku di kota ini. setelah beberapa tahun aku menetap di Paris untuk melupakan Dion mantan suamiku. Hingga akhirnya pindah ke desa Padang Sawit. Sekarang aku kembali kesini untuk melupakan Dewanta, kalau difikir - fikir lucu juga lika-liku hidupku, selalu berpindah domisili hanya untuk melupakan seseorang yang aku cintai.
Tapi kisahku mengejar cinta Dewanta, sungguh memalukan, bagaimana mungkin aku bisa mengejar laki-laki yang telah beristri dan sudah tidak mencintaiku lagi. Ternyata sebegitu besarnya kekuatan cinta, hingga kita bisa melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hati kecil kita. Memang benar, cinta adalah ujian, cinta yang datang diwaktu dan tempat yang tidak tepat harus bisa dikendalikan, karena keberadaannya akan merugikan banyak pihak termasuk sang pencinta itu sendiri. Banyak orang, yang karena cinta tega menyakiti hati sesamanya bahkan mereka rela melakukan dosa dan terkadang berakhir petaka.
Namun jika cinta tumbuh ditempat yang semestinya, maka akan menjadikan hidup lebih indah, menjadi ladang pahala, karena cinta mampu membuat orang bersemangat untuk meraih berbagai prestasi hidup, dan senantiasa menebar kebaikan.
Apa yang aku alami di desa Padang Sawit akan aku jadikan pelajaran hidup yang sangat berharga, bagiku, orang terdekatku dan keturunanku kelak.
Hari ini adalah hari pertama aku masuk kerja menggantikan mas Gading yang tengah sakit.
"Bu hari ini kita kedatangan tamu dari beberapa pengusaha minyak sawit
dari daerah, terkait kerjasama penyediaan pupuk dari limbah pabrik sawit bagi lahan sawit kita yang masih dalam masa pertumbuhan atau belum menghasilkan," ucap sekretarisku yang bernama Rio. Rio adalah sekertaris mas Gading, karena sekarang aku menggantikan posisi mas Gading maka Rio pun sekarang menjadi sekertarisku. kalau mas Gading Tidak menyukai sekertaris wanita, dengan alasan tak ingin membuat hati istrinya khawatir dan cemburu sedangkan aku tidak pernah mempermasalahkan jenis kelamin seorang sekertaris, mau dia perempuan atau pun laki - laki, yang penting dia bisa diajak kerjasama bagiku sama saja.
"Jam berapa mereka datang, hubungi beberapa staf divisi yang berkaitan dengan hal tersebut, kita akan adakan meeting, oh ya, untuk konsumsinya kamu bisa order makanan dari restoran yang makanannya kamu pesan tadi pagi untuk sarapanku, karena rasanya lebih enak dari restoran yang lain, " ucapku pada Rio. Rio segera melaksanakan semua perintahku.
Hari ini semua pekerjaanku dapat aku selesaikan tepat waktu, meeting tadi siang pun berjalan lancar. Aku meletakkan beberapa snack sisa meeting dimeja kerjaku, rencananya akan aku bawa pulang untuk cemilanku nanti dirumah.
Setelah aku kemasi semua peralatan kerjaku, segera aku melangkah menuju mobil kesayanganku. Aku mengemudikan mobilku membelah jalanan kota yang ramai lancar di disore hari. Saat diperempatan lampu merah, aku melihat dua anak kecil seumuran Zahwa. Aku jadi teringat kelakuanku yang sangat memalukan.
Saat pengemis itu merapat kemobilku aku segera memanggilnya, memberinya uang pecahan seratus ribu masing - masing satu lembar dan snack yang aku bawa dari kantor aku kasihkan semuanya.
__ADS_1
"Setelah ini aku bisa membelinya lagi kerestoran langsung ke alamat yang tadi diberitahu oleh Rio," batinku.
Aku terus mengemudikan mobilku menuju ke alamat restoran tadi. sampai disana aku langsung memarkirkan mobilku dan menuju kearea display dengan dilayani oleh pelayan yang ramah-ramah. Ternyata disini bukan hanya menjual berbagai macam snack saja melainkankan aneka makanan seperti : minuman, kue ulang tahun, dessert, salad dan lain-lain.
Ketika aku tengah asik memilih makanan kesukaanku, tiba-tiba seorang pelayan membawa berbagai macam kue dan menabrakku dari belakang. Sontak kue yang dia bawa pun tumpah kebajuku dan membuat bajuku belepotan krim dan coklat.
Maaf bu, saya tidak sengaja, seorang
pelayan tadi berlutut dikakiku.
"Tapi bagaimana dengan baju saya yang kotor," ucapku pada pelayan yang ceroboh tadi.
"Maafkan karyawan saya bu, saya akan ganti kerugian ibu," seorang pria bertubuh atletis datang menghampiri kami. Sepertinya dia pemilik restoran ini.
"Kenapa perasaanku jadi begini, mudah-mudahan ini bukan perasaan cinta, karena rasanya aku belum ingin jatuh cinta lagi. kenangan sakitnya patah hati untuk yang kesekian kali sungguh membuatku trauma.
"Bu, mari ikut saya, ibu kenapa melamun, apa ibu terpesona sama saya, kalau bisa jangan bu. soalnya istri saya sudah banyak," ucap Galih yang membuatku seketika langsung tertawa. Ternyata dia orang yang suka bercanda.
kami sama-sama melangkah menuju butik yang ada disebelah restoran milik Galih.
"Desy, tolong kamu layani Ibu-ibu ini untuk berganti pakaian, suruh saja dia pilih pakaian yang dia suka, nanti biar aku yang bayar," ucap Galih.
"Mas Galih jangan panggil bu dong, kesannya aku tua banget, panggil saja Fira, " ucapkan, entah kenapa aku merasa nyaman ngobrol sama mas Galih. mungkin karena orangnya yang hamble.
__ADS_1
"Oh namanya Fira, aku kira tadi ibu siapaa gitu!, tapi emang kamu seperti ibu - ibu kalo lagi cemberut. Tapi kalau lagi senyum kaya nona - nona, " ucap Galih lagi yang membuatku gemas.
"Kamu cocok pakai baju itu Fira!!, nanti kalau kamu sudah selesai ganti baju, aku traktir kamu makan salat direstoranaku, salat itu, produk favorit direstoran aku loh, mau ya cantik!!" ucap Galih. Sambil menangkupkan kedua telapak tangannya didada.
"Maaf, aku enggak bisa, takut dilabrak istri-istrimu," ucapku seraya tersenyum.
"He.. he... yang tadi ku bilang itu istri yang masih dalam khayalan, tapi sekarang tidak lagi dalam khayalan melainkani sedang diperjuangkan, diajak makan dulu, siapa tahu jodoh," ucap Galih sembari terkekeh.
Ternyata kota ini selalu membuatku bahagia, walau kebahagiaan yang aku dapat dikota kelahiranku sifatnya hanya sementara, ya sementara!!, Dion dan Dewanta mereka adalah laki-laki yang singgah dihatiku untuk membuatku bahagia namun hanya sementara, selanjutnya mereka akan pergi meninggalkan torehan luka yang begitu pedih.
"Ayo dimakan, salatnya Fira, jangan sungkan, anggap aja di restoran calon suami," ucap mas Galih membuat tawaku langsung pecah. Hari ini merupakan titik balik dimana hatiku yang selama ini dirundung kesedihan, mengejar ambisi untuk bisa memiliki seseorang yang tak seharusnya kumiliki. menyusun strategi yang sudah membuatku hampir gila. Kini senyumku kembali tersungging seperti dulu karena hadirnya mas Galih dihadapanku yang aku tahu sementara, tapi tak apalah!!.
"Kamu kalo bercanda ternyata bisa bikin orang klepek-klepek yah, tapi jujur aku senang kenal denganmu, bisa dijadikan pelipur lara," ucapkan sambil menyuap salat yang ada dihadapkanku.
"Kamu suka, kalau suka boleh nambah atau mau bungkus buat anak dan suami mungkin," ucap Galih. kemudian Galih memanggil karyawannya. Selang Beberapa saat, sang pelayan datang dengan beberapa tote bag ditangannya.
"Ini belanjaanmu tadi dan ini salat buat anak dan suamimu, semuanya gratis" ucap Galih.
"Karena anakku belum lahir dan suamiku sudah jadi milik orang lain, jadi biar salatnya buat aku semuanya," ucapku sedih. Aku teringat kisah rumah tanggaku dengan Dion.
"Jadi kamu sudah menikah?" tanya Galih.
"Iya, mas aku sudah menikah, karena suamiku menikah lagi makanya aku meminta cerai," ucapku santai.
__ADS_1
"Semoga cepat mendapatkan gantinya, seorang suami yang yang baik, luar dalam. Kalau kita jodoh pasti akan bertemu lagi," ucap Galih sembari melangkah mengantarku hingga kemobil.