Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab. 23. Zahwa Hilang


__ADS_3

(POV) Dewanta


Hari ini Fira datang menyatakan cintanya kembali dan mengajakku menikah dihadapan Zahra istriku, bahkan dia sempat menawarkan sebagian hartanya pada Zahra. Syukurlah, Zahra bukan termasuk perempuan matrealistis sehingga dia sama sekali tidak tertarik dengan tawaran Fira. Sungguh tidak habis fikir, dimana hati nuraninya. ucapannya benar-benar membuatku naik pitam.


Dulu aku sangat menyayanginya bahkan boleh dibilang memujanya. Tak satu kalipun aku membentaknya, aku selau berbicara lemah lembut kepadanya karena bagiku perempuan hadir didunia ini adalah untuk dicintai, dijaga dan disayang.


Tapi hari ini aku benar-benar muak mendengar apa yang dia ucapkan. Dia benar-benar seperti wanita murahan. Jujur, jangankan menerima tawarannya, melihatnya saja aku jijik.


Selesai aku mengucapkan kalimat penolakan pada Fira aku langsung masuk karena rasanya aku sebel mendengar ocehan kasar daripada emosiku pecah dan mengeluarkan kata-kata yang tidak semestinya. Biarlah masalah Fira diurus oleh Zahra istriku. Aku percaya dia wanita yang sabar dan sanggup mengatasi masalah Fira. Mungkin ini jawabannya kenapa ayah ibuku tidak pernah merestui hubunganku dengan Fira dan selalu menginginkan aku menikah dengan Zahra. Sekarang baru aku tahu jawabannya.


"Abi malam ini Zahwa ingin tidur ditemani abi, bolehkan!!," Tidak biasanya Zahwa gadis kecilku minta ditemani tidur, padahal dia anak yang mendiri tidak pernah manja sebelum tidur. Tapi tak mengapa, aku juga rasanya kangen ingin menghabiskan waktu sebelum tidur dengan bercengkerama dengannya, daripada aku terbaring sendirian menunggu Zahra menyelesaikan tugas dari sekolah tempat dia mengajar.


Setelah pamit kepada Zahra istriku, aku melangkah menuju kamar Zahwa putriku. Sambil berbaring memeluknya aku membacakan beberapa dongeng pengantar tidur.


"Abi, bolehkah aku curhat kepada abi, tentang mimpi-mimpiku," ucap Zahwa dengan gaya manjanya yang begitu menggemaskan.

__ADS_1


"Tentu saja boleh sayang, Zahwa boleh curhat apa saja kepada abi, abi senang dijadikan teman curhat sama Zahwa," ucapku sembari membelai rambut Zahwa yang panjang.


"Abi, Zahwa sering mimpi dikejar-kejar om jahat yang lengan sama lehernya banyak gambarnya. Terus Zahra lari jauh, disamping kiri dan kanan Zahwa banyak pohon sawit, Zahwa takut sekali abi!!," ucap Zahwa, tangannya melingkar memeluk leherku.


"Makanya, Zahwa kalau mau tidur baca doa dulu, biar tidak mimpi buruk," ucapku sambil membalas pelukannya.


"Masih ada lanjutannya abi, ceritanya. Waktu Zahwa dikejar sama om jahat itu Zahwa lari jauuuuh!!, terus ada rumah lantainya tinggi, ada kaki-kakinya banyak terbuat dari kayu, terus ada nenek dan kakek disana, dia baik!, dia tolong Zahwa, dia kasih makan Zahwa, dia sayangi Zahwa, katanya Zahwa anak baik," aku terus mendengarkan cerita Zahwa, sampai dia lelah dan tertidur.


"Abi Zahwa sama umi berangkat dulu ya, jangan lupa kalau nanti Zahwa dikejar sama om jahat, Zahwa akan lari kerumah kakek dan nenek baik hati," ucap Zahwa, membuatku heran, kenapa dari malam tadi dia selalu cerita dikejar om jahat.


"Ah mungkin itu cuma kembang tidur atau cuma halusinasi dia sebagai anak-anak. Aku menatap kearah Zahwa yang dibonceng sepeda motor oleh Zahra, entah kenapa, seperti ada sesuatu yang hilang, ada rasa sedih menyayat hati.


Sampai disekolah, ternyata sekolah sudah sepi, rupanya murid-murid pulang lebih awal. Aku segera masuk kedalam kantor menemui ibu guru, menanyakan keberadaan Zahwa karena biasanya murid yang belum dijemput orang tuanya selalu diajak masuk kekantor oleh ibu guru TK.


"Tadi Zahwa kami ajak kekantor karena orang tuanya belum datang menjemput. Tapi dia menolak katanya menunggu uminya dipintu gerbang saja. Beberapa saat kemudian kami lihati dia sudah tidak ada, kami fikir uminya sudah datang menjemput," ucap salah satu guru TK dimana Zahwa sekolah.

__ADS_1


Aku segera menelpon Zahra menceritakan apa yang terjadi di sekolah dan menanyakan apakah anak kami ada bersamanya. Zahra dan aku langsung panik karena ternyata Zahwa pun tidak bersama uminya. Aku segera melapor kejadian kepada guru yang masih tersisa disekolah ini, semua guru keluar menyebar mencari zahwa disekitar sekolah. Semua wali murid yang biasa menjemput putra dan putri mereka sudah dihubungi. Namun tak satupun ada yang melihat kemana perginya Zahwa.


Zahra datang menemuiku dengan berurai air mata. Aku terduduk lemas dijalan berbatu. Kami semua sudah mencari Zahwa keseluruh penjuru kampung, bahkan setiap rumah kami temui, adakah diantara mereka yang melihat keberadaan Zahwa putri semata wayang kami.


Polisi sudah dihubungi bahkan kepala Kepolisian Kanit Reskrim telah menurunkan beberapa pasukannya untuk melakukan pencarian. Saat aku dalam keadaan putus asa, tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti dihadapanku.


"Mas Dewanta, bu Zahra, ada apa kalian duduk disini, kelihatannya kalian sedang bersedih? mungkin aku bisa bantu," ujar wanita yang baru keluar dari mobil yang ternyata Fira.


"Zahwa anak kami hilang bu Fira," ucap Zahra istriku yang terus terisak, dia kemudian menceritakan kronologis hilangnya Zahwa.


"Beberapa jam yang lalu saya lewat sini, saat itu sekolah sudah nampak sepi, aku melihat Zahwa berjalan tergesa-gesa kearah sana dan dibelakangnya ada dua orang laki-laki yang satu mempunyai tato dibagian lehernya dan yang satu lagi mempunyai tato dilengannya, tato mereka berbentuk seperti kembang. Aku fikir dia warga sini, jawab Fira, tangannya menunjuk kearah jalan sepi menuju area perkebunan sawit milik warga.


"Bagaimana kalau kalian ikut aku, kita cari Zahwa kearah sana?," ucap Fira, tanpa fikir panjang aku dan Zahra langsung masuk kedalam mobil Fira. Zahra duduk dibagian depan disebelah Fira sementara aku duduk dibelakang tanpa sepatah katapun. Rasanya aku enggan berbicara, yang ada dalam fikiranku adalah bagaimana cara menemukan Zahwa. Entah sudah berapa jauh jalan yang kita lewati, menyusuri jalan berbatu diperkebunan sawit yang begitu sepi. Hanya beberapa truk pengangkut sawit yang berpapasan dengan kami, saat itu pula kami selalu menyetop siapapun yang berpapasan dengan kami, guna menanyai mereka, apakah ada yang melihat seorang gadis kecil berumur sekitar lima tahun dengan seragam TK. Namu tak satupun dari mereka yang melihat keberadaan Zahwa.


Di tempat yang sepi jauh dari pemukiman penduduk, aku melihat sebuah rumah panggung yang sederhana terbuat dari kayu.

__ADS_1


"Siapa gerangan yang berani tinggal ditempat yang sepi dan sunyi seperti ini, mereka tidak takut kalau ada orang jahat yang akan merampas harta mereka atau bahkan nyawa mereka. Aku terus memandangi rumah itu seperti ada sesuatu yang aku ingat tentang rumah itu, tapi apa?.


Sementara mobil yang kami tumpangi terus dikemudikan oleh Fera dengan kecepatan sedang, semakin jauh meninggalkn rumah panggung sederhana itu. Anehnya aku merasa ada sesuatu yang tertinggal dirumah itu. Tapi apa mungkin ada yang tertinggal disana sedangkan aku saja tidak tidak pernah kesana.


__ADS_2