
(POV) Retno
Rasanya aku sangat bersyukur sekali, karena Dion putra kesayanganku yang selama ini menghilang karena perceraiannya dengan istri yang begitu dicintainya kini telah kembali. Dan yang membuat aku dan suamiku lebih bahagia karena dia telah berhasil melupakan Fira mantan istrinya, terbukti dengan dia pulang membawa anak dan istri. Sebuah oleh-oleh terindah menurut kami.
"Assalamualaikum" suara seseorang mengucapkan salam mengejutkanku, sepertinya diluar ada tamu. Bergegas aku keluar kamar berusaha mempercepat langkahku menuju ruang tamu.
"Wa allaikum sallam, Galih kamu datang nak," ucapku pada Galih yang sedang berdiri membawa koper, sementara dibelakangnya seorang perempuan seumuran denganku dan seorang laki-laki seumuran papanya Dion mengangguk hormat kepadaku. Sepertinya mereka adalah kedua orangtua Galih dan Yunian atau besanku. Aku segera mempersilakan mereka masuk dan duduk diruang tamu.
Aku memberi kode kepada ART dirumah agar membawakan minum dan beberapa cemilan ala kadarnya.
"Maaf ma, mengganggu tidur siang mama, Galih kesini membawa papa dan mama dari kampung untuk berkenalan dengan keluarga ini. Sekallian rencananya saya dan orangtua saya ingin melamar Fira nanti sore," Ucap Galih.
"Jadi ini pak Warjito dan bu Marni besan saya, salamat datang bu, pak, salam kenal saya Retno mamanya Dion menantu bapak dan ibu. kebetulan Dion, Yunian dan papanya sedang kekantor, karena rencananya perusahaan akan dikelola oleh Dion dan istrinya karena papa sudah tua, kepingin pensiun, dirumah aja sambil momong cucu," ucapku setelah menyalami mereka berdua dan mempersilakan duduk.
"Oh iya bu, terimakasih telah menerima Yunian dengan baik sebagai menantu, karena kami cuma orang kampung. Saya tidak menyangka ternyata nak Dion mantu saya anaknya pak Dirgantara, seorang pengusaha yang sering muncul ditelevisi, saya sangat bangga bisa berbesan sama ibu dan bapak," ujar pak Warjito.
"Bapak ini bisa saja, tapi maafkan anak saya yang telah memperistri anak bapak tanpa mengenalkan kedua orangtuanya, rasanya kok tidak sopan sekali. Saya malu sekali lho pak, bu," jawabku lagi.
"Tidak apa-apa bu, saya memakluminya, mungkin dia punya alasan dan pertimbangan tertentu hingga melakukan semua itu.
"kakek, nenek, Jordan kangen, " Tiba-tiba Jordan yang tadi tengah tidur keluar dan langsung menghambur kedalam pelukan besanku.
"Cucu nenek ada disini, Jordan senang tinggal disini?," tanya bu Marni kepada cucunya sambil membelai rambutnya.
__ADS_1
"Tentu saja senang, disini rumah oma besarrr, Jordan dibelikan mainan buaaanyak sekali. Jordan mau pindah sekolah, sekolah barunya Jordan halamannya luaaas.
"Waoaaah!! sepertinya seru sekali ya, Tapi Jordan harus jadi anak yang pintar, harus patuh sama nasihat oma dan opa, juga papa dan mama," ucap bu Marni.
"Iya nek, Jordan sekarang pintar, Jordan juga rajin belajar," Jordan terus saja bercerita dengan gaya yang sangat menggemaskan.
Hari sudah siang aku menyuruh Galih dan kedua orangtuanya untuk menyantap makan siang yang sudah disiapkan asisten rumah tangga. Tadi aku menyuruh asisten untuk memasak agak banyak. Galih dan kedua orang tuanya makan dengan lahap, sepertinya dia cocok dengan menu masakan dirumah ini. Tentu saja akupun merasa senang menyaksikan semua itu.
Selesai makan aku mempersilakan Galih dan kedua orangtuanya untuk beristirahat dikamar tamu. Kebetulan dirumah ini ada beberapa kamar tamu.
Pada sore hari setelah menunaikan shalat magrib. Aku, suamiku, Dion, Yunian, Jordan, Galih dan kedua orang tuanya berangkat menuju kerumah Fira untuk bersilaturahmi dengan kedua orang tua Fira sekaligus melamar Fira untuk menjadi istri Galih. Galih, Jordan dan kedua orangtuanya berada dalam satu mobil. Sementara aku, Dion, suamiku dan Yunian juga menggunakan satu mobil. Setelah mempersiapkan beberapa oleh-oleh yang sengaja Galih bawa dari kampung sebagai buah tangan, kami semua berangkat menuju kerumah Fira.
Setibanya dihalaman rumah Fira kami segera memarkir mobil kemudian melangkah bersama-sama menuju keteras rumah dimana disana pak Langit dan bu Dinda sedang berdiri menyambut kedatangan kami.
"Sabar, ditahan dulu sebentar lagi juga halal," ucapku yang dibalas Galih dengan cengiran saja. Kami semua dipersilakan masuk oleh tuan rumah.
Diruang tamu kami segera bertegur sapa, pak langit dan bu Dinda nampak terkejut melihat kedatanganku, suamiku dan Dion. Suamiku pun sontak menyapa terlebih dahulu.
"Bu Dinda pak Langit apa kabar, maaf ya kalau kedatangan saya kurang berkenan dihati bapak dan ibu. Mungkin kalian bingung melihat saya datang bersama keluarga Galih. Saya dan orangtua Galih adalah besan, karena Dion dan Yunian kakak kandung Galih telah menikah dan mereka telah dikaruniai satu anak yaitu Jordan," ucap suamiku menjelaskan dan mengenalkan anggota keluarga baru kami.
"Saya sekeluarga kesini, selain untuk silaturrahmi juga ingin meminta maaf secara langsung atas kesalahan yang telah kami perbuat dimasa lalu, karena bagaimana pun kita akan menjadi sebuah keluarga besar, " ucap suamiku.
"Kami sudah memaafkan dan bahkan melupakan peristiwa berpisahnya Dion dan Fira. Mungkin sudah takdir mereka harus seperti itu. mereka sudah ketemu jodohnya masing-masing walaupun tak disangka-sangka jodoh mereka berasal dari sebuah keluarga yang sama," ucap pak Langit.
__ADS_1
Setelah kami ngobrol kesana kemari akhirnya, pak Warjito mengutarakan maksud kedatangannya.
"Begini pak Langit dan ibu Dinda, perkenalkan nama saya Warjito dan istri saya Mani kami disini selaku orang tua Galih bermaksud melamar putri bapak yang bernama Fira untuk menjadi istri Galih putra kami yang masih jomblo dan belum laku-laku.
"Papa!! jangan bikin malu Galih, " ucap Galih sambil berbisik. Pak Warjito hanya senyam senyum melihat anaknya sewot.
"Kalau saya dan mama Fira sih terserah Firanya saja, dia yang akan menjalani, bagaimana kamu Fira, mau enggak dilamar untuk menjadi istrinya Galih.
"Fira mau papa, mama, " ucap Fira sembari tertunduk.
"Tuh Dianya mau katanya pak, berarti lamaran bapak diterima, sekarang kita tinggal membicarakan tentang acara pernikahan mereka. Tapi sebelumnya perlu saya tegaskan bahwa Fira anak saya statusnya sudah janda, mau kamu kawin sama janda? " ucap pak Langit pandangannya mengarah kepada Galih.
"Tentu saja saya mau om, " jawab Galih tegas, semua yang ada disitu pun tersenyum puas mendengar jawaban Galih.
"Bagus, saya tidak mau suatu saat kamu menyesal karena telah memperistri seorang janda sedangkan kamu masih perjaka," ucap pak langit lagi.
"Tentu saja saya tidak akan menyesal saya akan bertanggung jawab penuh dengan wanita pilihan saya," ujar Galih.
"Ya, semoga ini adalah pernikahan terakhir buat kamu dan juga anak saya. kasian putri saya sudah berulang kali merasakan patah hati, papa berharap kamu tidak membuatnya kecewa. Mungkin kali ini kalau ada yang menyakiti hati anak saya maka dia harus berhadapan dengan saya, saya sudah lelah melihat kekecewaan demi kekecewaan yang dirasakan putri saya, " ucap pak Langit tegas, pandangannya menatap tajam kearah Galih dan sesekali mamandang kearah aku Dion dan papanya. Namun kami hanya mampu tertunduk menyadari kesalahan kami pada mereka.
Selanjutnya mereka membicarakan mengenai akad nikah, untuk akad nikah rencananya akan diadakan disebuah masjid tidak jauh dari kediaman Fira. Sedangkan untuk resepsi perkawinan mereka merencanakan mengadakan acara di desa Mentereng di sebuah tempat wisata yang katanya sangat indah. Setelah semua rangkaian acara dan biaya disepakati oleh kedua belah pihak, akhirnya kami semua pamit meninggalkan kediaman Fira.
*****
__ADS_1