
(POV) Fira
Sudah beberapa hari ini, rasanya aku tidak enak badan. setiap pagi aku selalu mual dan perut bagian bawah terasa kencang dan sering buang air kecil.
"Sayang perutmu masih mual," tanya Mas Galih yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Tadi pagi sih masih, tapi kalo siang gini sudah enggak, cuma perut terasa kencang dan mau pipis terus," ucapku seraya menyingkap selimut dan bangkit melangkah menuju kamar mandi.
Hari ini aku bangun agak siang sekitar jam sembilan, menunggu mual dan pusing dikepalaku agak reda. Sementara mas Galih pagi-pagi sekali keluar, entah untuk urusan apa, hingga jam seguni baru pulang.
Sebelum mandi kamu coba gunakan test pack ini. sepertinya bulan ini kamu belum datang bulan, tadi sebelum ke restoran aku mampir ke apotik dua puluh empat jam untuk membelinya. Semoga hasilnya memuaskan seperti kamu yang selalu memuaskanku, " ucap mas Galih sambil memelukku.
Sebuah tes pack yaitu alat tes kehamilan telah berada ditanganku. Rasanya aku ragu-ragu untuk menggunakannya, takut hasilnya mengecewakan. Dulu saat berumah tangga dengan Dion aku sering sekali menggunakan alat ini, namun hasilnya selalu mengecewakan. Aku memang kerap kali telat datang bulan. namun datang bulan kali ini yang aku rasakan disertai mual, pusing dan bagian perut bawah juga terasa kencang, selain itu aku sering kali kebelet pipis. Mudahan ini adalah tanda-tanda kehamilan.
"Kenapa melamun, oh ya kemarin aku telepon mama, cerita tentang keadaanmu dan mama menyarankan agar membelikan tes pack karena apa yang kamu alami adalah ciri-ciri kehamilan, menurut mama. Dicoba aja di test pack siapa tahu dugaan mama benar, kalau belum nanti malam kita usaha lagi, pokoknya harus semangat," ucap mas Galih sambil menggerak-gerakkan sebelah alisnya ke atas dan kebawah. Aku hanya tersenyum dan masuk kedalam kamar mandi, kebetulan aku lagi sangat kebelet pipis.
Segera aku tampung air kencing pertamaku pagi ini, segera aku buka bungkusan test pack dan aku celupkan bagian ujungnya hingga beberapa menit setelah itu aku angkat, belum ada garis, aku coba menunggu beberapa saat, tiba-tiba muncul garis merah satu dan tak lama kemudian muncul satu garis lagi namun tak setebal garis pertama.
Aku segera keluar dan memperlihatkan hasilnya pada mas Galih. Hatiku rasanya deg-degan, apakah aku hamil? tapi kok garis satunya agak pudar.
__ADS_1
"Mas ini," aku menyerahkan test pack yang baru saja aku gunakan tadi. Mas Galih tersenyum menerima test pack dariku.
"Selamat ya sayang, kamu pasti bahagia sekali hari ini, akhirnya apa yang kamu impikan selama ini akan jadi kenyataan, kita akan memiliki bayi," mas Galih panjang memelukku dan menciumku bertubi-tubi.
"Tapi mas, garis yang satunya agak pudar, apa beneran hamil," tanyaku ingin memastikan.
"Memang seperti itu, dulu punya kak Yunian waktu hamil Jordan juga satu garisnya pudar," ucapan mas Galih membuat aku sangat bahagia. Dia benar sudah bertahun-tahun aku menginginkan kehadiran seorang anak. Ternyata rencana Tuhan sungguh tak terduga. Kini aku hamil dan akan melahirkan seperti wanita pada umumnya.
"Nanti aku antar kamu kedokter ya, sebaiknya hari ini kita libur kerja dulu, aku ingin menikmati hari bahagia ini dengan keluarga," ujar mas Galih, akupun kembali masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku dengan hati penuh rasa syukur.
Setelah menikmati sarapan pagi aku dan mas Galih pergi kerumah mama dan papaku.
"Mama aku hamil, " aku langsung menyampaikan berita gembira dan memperlihatkan test pack yang baru aku pakai tadi pagi.
"Benarkah!!... syukurlah mama sangat bahagia mendengar berita ini, semoga kamu dan bayimu sehat, akhirnya anak mama mau jadi mama," ucap mama sambil memelukku kembali dan menciumku bertubi-tubi.
"Ada apa ini, kalian kok saling berpelukan kaya lama enggak ketemu aja. Fira, Galih kalian tumben kesini pagi-pagi begini, memang kalian enggak kerja.
"Fira hamil papa, kita akan nambah cucu lagi," mama mendekati papa sambil memperlihatkan test pack yang aku bawa tadi. Pandangan papa langsung menyoroti test pack yang ada di tangan mama. Seketika papa langsung memeluk mas Galih.
__ADS_1
"Selamat ya Galih ternyata kamu juara," papa mengucapkan selamat pada mas Galih dengan ucapan yang tidak biasa. Aku dan mama hanya bengong mendengar ucapan papa pada mas Galih.
"Papa ucapan kok gitu banget sih,"seloroh mas Galih sembari tertawa. Aku dan mama masih memperhatikan interaksi antara menantu dan mertua.
"Iya kamu hebat sudah berhasil menghamili putri semata wayangku. Dulu Dion pernah berjuang sekuat tenaga untuk menghamili Fira namun hasilnya gagal lagi dan gagal lagi," ucap papa seraya terkekeh.
"Iya papa, Galih memang hebat, tidak sia-sia Galih mengurangi jam kerja Galih direstoran demi agar bisa lembur tiap malam bersama Fira. Akhirnya Galih berhasil!! yesss!! " Mas Galih terlihat begitu bahagia. Setelah ngobrol-ngobrol sebentar tiba-tiba mama mengambil hand phone dari atas nakas dan langsung menekan aplikasi hijau. Terdengar nada sambung dengan jelas karena mama me louud speaker hand phonenya. Hatiku pun bertanya-tanya siapa yang sedang mama telpon. Begitu juga papa dan mas Galih mereka pun saling pandang dan bertanya padaku dengan bahasa isyarat. Aku hanya bisa menggelengkan kepala karena aku pun tak tahu siapa yang sedang mama telepon.
"Hallo jeng Marni bagaimana kabarnya, semakin tua semakin mempesona bukan, ini lho jeng!!, aku punya kabar baik buat keluarga kita semua, kasih tau enggak yah? " ucap mama dengan gaya sosialitanya.
"Jeng Dinda pagi-pagi sudah heboh, ada kabar apa ya? ini aku baru bangun soalnya tadi malam habis lembur sama papanya Galih," Sontak. kami semua tertawa mendengar kelakar mama Marni.
"Enggak mama, enggak anaknya hobinya kok lembur ditempat tidur, tapi jangan lupa pintunya dikunci sebelum tancap Gas,"mama langsung menyikut papa, agar papa diam dan menyimak obrolan mama dengan mama mertuaku.
"Maaf ya jeng agak berisik soalnya anak-anak memang begitu kalau lagi ngumpul-ngumpul, suka asal nyambung kalau bicara. Begini lho jeng saya mau mengabarkan kalau Fira hamil, sebentar lagi kita akan punya cucu" ucap mama.
"Alhamdulillah ternyata kamu memang subur Fira, baru beberapa bulan menikah sudah hamil. Tapi yang lebih hebat lagi Galih dia yang itu juara bisa menghamili kamu, tidak seperti Dion, bertahun-tahun jadi suamimu nggak bisa buat kamu hamil," sontak papa,mama dan mas Galih pun tertawa terpingkal-pingkal mendengar celotehan mama mertua.
Usai acara teleponan sama keluarga mertua, aku dan mas Galih pun berangkat kedokter untuk memeriksakan kandunganku untuk pertama kalinya. Sebenarnya aku merasa Deg-degan bertemu dengan dokter kandungan, semoga saja semuanya baik-baik saja dan aku benar-benar hamil dan kelak anakku bisa menjadi anak Soleh dan solehah. kalau masalah jenis kelamin aku pasrah saja sama yang kuasa. Yang penting lahir sehat walafiat.
__ADS_1
***********