
(POV) Fira
Hampir saja aku terkecoh dengan sikap manis Santi. Aku fikir dia sudah benar-benar berubah menjadi lebih baik. Ternyata kata maaf yang dia ucapkan hanyalah bohong belaka, hanya untuk mengalihkan perhatian keluarga agar tidak membencinya.
Sekarang dia mencoba bermain cantik dengan mengirim temannya untuk merusak rumah tanggaku.
Suara ketukan pintu mengejutkanku yang sedang terbaring santai dipangkuan mas Galih dengan cucuran keringat yang masih membasahi seluruh tubuh kami berdua. Sore ini mas Galih benar-benar tampil luar biasa karena pengaruh obat perangsang.
Perlahan aku dan mas Galih merapikan baju yang masih berantakan. Mas Galih membuka pintu dan masuklah Juita.ditemani oleh bi Rasmi.
"Maafkan saya bu, saya bersalah pada ibu dan bapak, silahkan hukum saya dengan cara apa saja, tapi tolong jangan laporkan saya kepolisi bu, pak, saya tidak mau masuk penjara. Saya takut, saya khilaf, saya mohon bu. Pak hu...huuu...huuuu...." Juita menangis sambil bersujud dihadapan mas Galih dan aku.
"Bangunlah Juita, tidak usah pura-pura minta maaf, simpan saja air mata buayamu itu. Diluar sana mungkin masih ada orang yang bisa kamu kelabuhi, tapi tidak denganku. Kamu minta maaf dan pura-pura khilaf kan gara-gara misimu gagal. Coba seandainya berhasil, mungkin sekarang kamu sedang tersenyum licik minta pertanggung jawaban untuk dinikahi oleh mas Galih. Aku tahu apa yang menjadi motif kamu melakukan ini. Harta, kamu menginginnkan harta mas Galih. Dengar ya Juita kalau kamu hidup mengejar harta, maka harta itu juga yang akan menghukummu, mencelakaimu dan bahkan membunuhmu," aku menumpahkan segala kemarahanku dihadapan Juita, mas Galih menepuk-nepuk pundakku untuk menenangkanku.
"Iya bu, mungkin ini jalan Tuhan agar saya bertobat seandainya rencana saya berhasil mungkin saya akan menjadi manusia jahat yang tidak punya hati nurani, tega menyakiti hati sesama wanita. Terimakasih karena kalian telah menggagalkan rencanaku yang sangat busuk dan memalukan," jawab Juita sambil terisak.
__ADS_1
"Sekarang kamu jujur, disini kamu bekerja sama dengan siapa karena sebelumnya kita tidak pernah saling mengenal darimana kamu tahu alamat rumahku, pasti ada seseorang yang menyuruhmu," mas Galih pun ikut bicara sambil duduk diranjang.
"Saya tahu dari Santi pak," jawab Juita dengan bibir gemetar, keringat dingin sudah membasahi sebagian dari tubuhnya.
"Kamu yakin kalau kamu menyesal dengan perbuatanmu, apa alasannya, apa untuk mengelabuhi kami," ucapku sambil menatap tajam kearahnya yang masih duduk bersimpuh dilantai.
Aku mencoba menggunakan instingku, apakah Juita benar-benar menyesal dan ingin memperbaiki diri, atau hanya pura-pura karena takut dipenjara. Namun dari mukanya yang pucat dan bibirnya yang gemetar sepertinya dia benar - benar menyesal, semoga saja dugaanku benar.
"Kalau aku boleh tanya, kenapa kamu selalu menginginkan lelaki beristri Juita, bukannya menyukai lelaki beristri itu ribet, butuh waktu dan butuh proses yang panjang untuk bisa memiliki seutuhnya. Kenapa sih kamu tidak mencari yang bujangan saja. Coba kalau kamu mencari yang bujangan, sudah sama - sama suka, orang tua setuju, langsung saja kepenghulu," aku mencoba mengorek bagaimana isi hati Juita.
Ada yang janggal dari ucapan Juita, dia tahu mas Galih beberapa bulan yang lalu adalah seorang bujang yang matang dan menurut dia, orang seperti mas Galih tidak mungkin suka dengan wanita seperti dia. Terus kenapa dia merayu mas Galih, kalau sudah tahu bakal gagal, aneeeh !!.
"Terus kamu sudah tahu pak Galih dulunya bujangan mapan, kenapa kamu nekat menggoda dia, bukannya kamu tahu semua itu akan sia-sia," ucapku melempar pertanyaan untuk memancingnya.
"PaK Galih memang bukan target saya, saya hanya membantu Santi dalam membalas dendamnya kepada ibu Fira yang telah merebut suaminya hingga kini dia menjadi janda tanpa mendapatkan harta gono gini.
__ADS_1
Kalau target saya adalah pak Dewanta, bos saya saat saya bekerja sebagai pembrondol sawit. Karena menurut saya pak Dewanta sudah lama menikah pasti dia sudah merasa bosan dengan istrinya. Apalagi bu Zahra orangnya biasa-biasa saja, bajunya kebasaran, apalagi kerudungnya terlalu lebar. Tidak terlihat lekuk-lekuk tubuhnya. Mana mungkin pak Dewanta bisa terangsang melihat wanita seperti itu. Saya cuma ingin menjadi istri keduanya untuk membahagiakan pak Dewanta dengan sensasi **** yang luar biasa yang tidak didapatkan dari istrinya. Dan kalau istrinya tidak terima kemudian menggugat cerai, ya itu urusan dia," ucap Juita sambil memperbaiki posisi duduknya.
Demi untuk bisa berbicara lebih nyaman akhirnya kami semua aku, mas Galih, bi Rasmi dan Juita pindah kesofa yang ada diruang tengah.
Sepertinya ada yang berbeda dengan cara berfikir Juita. Kalau sebagian orang ingin menikah dengan seorang gadis atau seorang perjaka kerena merasa sama-sama nyaman tidak harus mengurus anak tiri, atau mantan pasangan hidup yang terkadang urusannya belum selesai. Tapi itulah perbedaan, masing-masing dari mereka yang mempunyai alasan sendiri.
Akupun mengisahkan perjalanan cintaku, dengan Dion yang dirusak oleh Santi, kemudian mengisahkan hubunganku dengan Dewanta yang akhirnya Dewanta dijodohkan dengan Zahra, hingga aku dan Dewanta putus. Selanjutnya takdir mempertemukan aku dengan Dion dan kami memutuskan untuk menikah sampai akhirnya Santi hadir sebagai pelakor hingga rumah tanggaku dan Dion pun porak poranda. Sampai saat aku berusaha memasuki rumah tangga Dewanta dan Zahra yang berakhir dengan kekecewaan. Pada akhirnya aku mencoba ikhlas untuk menerima semua takdir dan ujian dari sang Maha Kuasa. Aku coba tak lagi mengganggu dan mengusik kebahagiaan rumah tangga orang lain. Aku terus berbenah memperbaiki diri untuk menjadi wanita yang baik dan selalu berdoa semoga kelak Tuhan memberiku jodoh laki-laki yang baik, yang mencintaiku sepenuh hati, jiwa dan raganya.
Aku tidak pernah menyangka Tuhan mendengar dan mengabulkan doa-doaku, aku bertemu dengan lelaki tampan, baik dan mapan yang yang membuatku bahagia dan sangat bersyukur, mas Galih begitu mencintaiku.
"Dari kisah perjalan cinta dan hidupku kamu bisa kan mengambil pelajaran bukan? Kamu bisa lihat bagaimana kehidupan Santi, orang yang suka menghancurkan kebahagiaan orang lain. Terus saat aku mengejar cinta Dewanta dan menghancurkan hati dan harapan Zahra, apa yang aku dapatkan, hanya kekecewaan dan sakit hati, sementara rumah tangga Dewanta dan Zahra seperti yang kamu lihat dipesta perkawinanku, mereka sangat bahagia, ikatan cinta mereka begitu kuat. Dan kamu lihat aku setelah berhenti mengejar suami orang dan memilih pasrah, menerima takdir dan berbenah diri, aku bertemu dengan mas Galih dan kami saling jatuh cinta.
"Sekarang kamu lihat dirimu sendiri, berapa suami orang yang sudah kamu kejar, apa hasilnya, sampai kapan kamu akan begini terus, apakah kamu tidak ingin bahagia, punya suami yang normal seperti orang pada umumnya dan bahagia selamanya walau hidup seadanya ," ucapku.
**********
__ADS_1