Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab. 98. Keluarga Fira


__ADS_3

(POV) Wajirah


Sebenarnya aku tidak begitu tertarik menghadiri acara syukuran tujuh bulanan Fira, wanita yang pernah menjadi kekasih putra semata wayangku Dewanta dan pernah berniat menjadi orang ketiga dalam pernikahan putraku. Untung saja Dewanta adalah laki-laki setia, paham agama dan selalu memuliakan wanita. Kalau bicara soal Dewanta dia memang lelaki yang nyaris sempurna dimataku, ibu yang telah melahirkannya, aku sangat bangga padanya. Apakah semua ibu juga merasakan perasaan yang sama seperti aku terhadap anaknya?.


Selesai menjalankan serangkaian acara tujuh bulanan kulihat bu Marni mertua Fira begitu perhatian dengan menantunya. Terlihat sekali kalau dia begitu menyayangi Fira. Sesekali ku lirik bu Retno mantan mertua Fira yang datang dengan penampilan yang begitu gelamor. Wajarlah dia istri pak Dirgantara seorang pengusaha yang sering muncul di tv.


Yang lebih mengejutkan, bu Retno masih mendambakan Fira jadi menantunya, padahal mantan suami Fira, anak kandung bu Retno sudah menikah dan Fira sendiri juga sudah menikah. Apa sebenarnya keistimewaan seorang Fira, hingga bu Marni dan bu Retno begitu senang mempunyai menantu seperti dia, padahal aku sama sekali tidak terterik memiliki menantu gadis kota itu. Mungkin dia kaya dan terpandang tapi bagaimana dengan akhlaknya, bagaimana dengan agamanya.


Tapi tak perlu aku merisaukan mereka. Toh Fira sepertinya sudah hidup bahagia dengan lelaki pilihannya.


"Ibu ini ibunya Dewanta yah," Seorang wanita setengah baya yang masih sangat cantik walau penampilannya tidak segelamor bu Retno. Namun aura kecantikannya memancar begitu indah. Yang membuat aku bahagia, wanita ini tanpa malu menyapanya. Padahal jelas sekali aku bukanlah level dia. Aku hanya istri pengusaha sawit kelas kampung yang hanya memiliki ratusan hektar kebun sawit.


"Maaf yah, ibu ini siapa sih, saya seperti sering lihat ibu tapi tidak tahu dimana," ucapku sungkan.


"Wah bu Wajirah ternyata belum mengenal saya, saya ini Dinda istrinya pak Langit Perkasa orang tua Fira yang punya acara tujuh bulanan. Mungkin Dewanta tidak pernah cerita tentang saya, tapi Fira waktu masih menjadi kekasih Dewanta sering cerita tentang ibu Wajirah dan Pak Sukarta," ucap wanita cantik dan berkelas itu yang ternyata bu Dinda istri pak Langit Perkasa, orang kaya nomor empat di negri ini.

__ADS_1


Ternyata aku baru sadar kalau otakku lumayan bebal. Sering kali aku nonton tv, dimana wajah pak Langit dan bu Dinda sering muncul dilayar kaca. Ternyata aku baru sadar kalau beliau adalah orang tua Fira, wanita yang dulu pernah menjalin hubungan dengan putra semata wayangku.


"Maafkan saya bu, Dinda karena saya baru mengenal ibu Dinda," ucapku merasa malu karena kami pernah menyakiti hati anak gadisnya dengan menjodohkan Dewanta dengan Zahra. Padahal waktu itu kami tahu Dewanta dan Fira saling mencintai.


"Tidak apa-apa bu, saya cuma sedang ingat Fira waktu patah hati ditinggal menikah oleh Dewanta. Dulu Fira sering merengek ditelepon waktu saya masih diparis, seperti anak kecil hingga berhari-hari lamanya. Fira sering bertanya pada saya, ingin sekali mendatangi ibu, untuk mencari tahu apa kekurangannya agar dia tahu bagaimana cara memperbaiki diri agar ibu berkenan menerima dia sebagai menantu. Tapi sekarang disaat anak-anak sudah bahagia kita malah dipertemukan. Kalau difikir-fikir takdir itu memang ajaib. Kita tidak bisa tahu siapa jodoh dari anak-anak kita," ucap bu Dinda seraya merangkulku.


Sekarang aku baru sadar keluaga Fira ternyata istimewa. Mereka kaya raya, terkenal yang aku sering lihat di tv pak Langit Perkasa itu usahanya ada dimana-mana dan mencakup berbagai bidang.


Seandainya dulu kami tidak menjodohkan Dewanta dengan Zahra mungkin sekarang kami sudah menjadi besan dan mungkin juga kami jadi ikut tersohor. Pak Sukarta pengusaha sawit dari desa Padang Sawit berbesan dengan pak Langit Perkasa seorang pengusaha kaya yang bisnisnya dimana-mana hingga ada yang di Paris.


"Tidak ada yang perlu minta maaf dan menyesalkan apa yang terjadi dimana lalu. Karena itu sudah jadi perjalanan takdir mereka untuk meraih bahagia. Toh... kita sekarang bisa jadi teman seperti sebuah keluarga yang saling menjalin tali silaturrahmi tanpa harus jadi Besan, " ujar bu Dinda, tangannya kembali menepuk-nepuk pundakku. Mimpi apa aku malam tadi bisa berbicara begitu akrab dengan istri pak Langit Perkasa.


"Bu Wajirah nanti pulangnya mampir kerumah yah, tadi pagi kami panen belut, nanti pulangnya bawa belut," bu Markonah besanku mendekat dan berseru kepada kami.


"Bu Dinda nanti kekotanya bawa belut yah, buat oleh-oleh. pokoknya saya beri gratis sebagai tanda persahabatan kita. Nanti biar anak buah abah mengantar kesini. Sekalian buat bu Retno juga," ternyata bu Markonah dan bu Dinda sudah kenal begitu dekat.

__ADS_1


"Terima kasih banyak bu, rencananya memang saya mau kerumah ibu, tapi kalau diantar kesini belutnya ya alhamdulillah, rencananya mau aku suruh Rupiah buat masak oseng pedas. Bu Retno belutnya mau dibuat oseng pedas juga, kalau mau biar dimasak sekalian oleh Rupiah, " ujar Bu Dinda.


"Boleh bu, kebetulan saya kurang bisa masak belut, tapi kalau makannya jago banget, he.... he.... bu Retno yang tadi sempat bersitegang dengan bu Dinda sepertinya sudah akrab kembali.


Ternyata tidak sia-sia aku datang di acara syukuran kehamilan Fira. Kini aku bisa mengenal bahkan berfoto dengan pengusaha terkenal dinegri ini. Selain itu aku tak lagi menaruh kebencian terhadap Fira. Setelah mengetahui latar belakang keluarganya. Selain itu sikapnya dan sikap papa dan mamanya juga sangat ramah. Beliau sangat merakyat, sikapnya terlihat begitu supel dan tidak sombong. Apalagi pak Langit bicaranya ceplas-ceplos dan humoris. Senang rasanya hati ini bisa ngobrol dan dekat dengan beliau, apalagi bu Dinda beberapa kali menekankan kalau kita harus tetap berhubungan baik dan menjalin tali silaturrahmi walau anak-anak kita tidak berjodoh.


Acara telah selesai, kami semua pun segera pamit pulang setelah ngobrol panjang lebar dengan beberapa keluarga besar yang saling berbesan.


"Kalau kekota jangan lupa mampir kerumah kami ya bu Wajirah, bu Markonah. Nanti saya share alamat rumah saya," ucap bu Dinda sambil menyerahkan bungkusan oleh-oleh kemudian beliau menyalami dan memelukku.


"Apa tidak mengganggu kalau saya mampir kerumah ibu, saya ini kan cuma orang desa bu Dinda,"ujarku merasa tidak pantas kalau harus berteman dengan kaum sosialita seperti bu Dinda.


"Bu Wajirah ini ada-ada saja, kita ini sama saja bu, sama-sama doyan sambel he... he... tapi saya suka berteman sama orang biasa karena cenderung apa adanya tidak seperti kaum sosialita yang berpenampilan gelamor tapi memaksakan diri, kalo ketemu teman emas kaya toko berjalan tapi ngutang he... he.. "jawab bu Dinda sambil terkekeh.


"Si Dinda mana mau pakai perhiasan ngutang, bu Rupiah pun menimpali ucapan bu Dinda. Konon kabarnya bu Dinda dan bu Rupiah berteman dari kecil. Kalau memang begitu adanya berarti benar keluarga bu Dinda memang keluarga yang rendah hati dan bersahaja.

__ADS_1


*******


__ADS_2