
(POV) Dion
Aku sangat terkejut saat mataku bersitatap dengan seorang wanita yang tak asing bagiku. Fira, ya dia adalah Fira yang sedang melangkah turun dari eskalator, tangannya bergandengan mesra dengan seorang lelaki, namanya Galih adik iparku. Sontak batinku bertanya-tanya apakah diantara Galih dan Fira ada hubungan spesial. Kalau memang ia, bagiku tak mengapa!!, toh perasaanku terhadapnya kini biasa-biasa saja, getaran cinta yang dulu begitu kuat menggetarkan rongga dadaku kini telah lenyap tak tersisa. rindu padanya yang dulu terasa begitu menyiksa kini telah berganti menjadi rindu pada istriku tercinta Yunian.
"Fira, Galih kalian lagi jalan-jalan juga, Rasanya aku kangen banget sama kamu Fira," Yunian dan Fira berpelukan membuat aku, mama dan papa terkejut.
"Aku juga kagen sama kak Yunian, aku dan mas Galih telah jadikan, rencananya kami akan segera menghalalkan hubungan kami, tinggal menunggu kedatangan papa dan mama dari Paris," ucap Fira.
"Fira, kenalkan ini mas Dion Suamiku, dan ini pak Dirgantara dan bu Retno, beliau adalah papa dan mama mertuaku," ucap istriku. Fira seketika memandangku kemudian memandang kearah mama dan papa.
"Dion, jadi kamu menikah dengan Yunian, selamat atas pernikahan kalian, aku ikut bahagia," ucap Fira seraya menyalamiku. Kemudian dia mendekati mama dan papa.
" Maaf
kan mama Fira, gara-gara keegoisan mama kamu dan Dion berpisah, mama selalu berdoa agar kebahagian dan keberkahan senantiasa mengiringi langkahmu," ucap mama sambil memeluk Fira dan terisak.
"Fira sudah ikhlas dengan semua takdir hidup Fira ma, mama tidak perlu merisaukan kebahagiaan Fira, Fira saat ini sudah bahagia, Fira sebentar lagi akan menikah dengan Galih," ucap Fira dengan penuh binar bahagia.
"0h iya, papa, mama kenalkan ini adiknya Yunian namanya Galih, kebetulan juga Galih sudah membina hubungan serius dengan Fira, Galih ini papa dan mama Mas Dion," ucap Yunian kepada mama dan papa mertua serta Galih. Galih segera menyalami dan mencium punggung tangan papa dan mama.
"Kakak kok enggak pernah bilang kalau kakak menantunya pak Dirgantara," sahut Galih terkejut.
"Kakak juga baru saja dipertemukan sama papa dan mama mertua. Karena mas Dion selama ini merahasiakannya.
__ADS_1
"Maafkan saya Galih, selama ini saya tidak pernah mengenalkan dua keluarga besar kita karena ada trauma dengan pernikahan ku yang terdahulu," aku menjelaskan agar Galih tidak salah paham.
"Tak masalah mas Dion, tapi kalau ada waktu sebaiknya ajaklah bu Ratna dan pak Dirgantara untuk berkunjung kedesa Mentereng berkenalan dengan papa dan mama, "ucap Galih.
"Mainlah ke desa Mentereng om, tante, disana pemandangan indah sekali, Fira aja suka," ucap Galih.
"Papa rasa dunia ini semakin lama semakin sempit, Fira dulu mantan istri Dion tapi sekarang jadi adik ipar Dion, ya enggak Fira," pak Dirgantara melangkah mendekati Fira kemudian menepuk - nepuk bahu Fira yang sedang melepas rindu dengan mama.
"Iya papa, semoga saja keluarga kita selalu dilimpahi kebahagiaan lahir dan batin, papa sehat terus ya agar bisa menyaksikan kehidupan anak dan cucu," ucap Fira sambil tersenyum kemudian mencium punggung tangan papa.
"Untuk merayakan pertemuan kita, bagaimana kalau kita makan direstoran yang dekat-dekat sini, nanti mama yang traktir," seru mama sambil menggendong Jordan dan setujui oleh semua. Aku segera merangkul Galih menuju restoran langganan kami yang ada di mall ini, Fira dan Yunian berjalan dibelakangku sambil bergandengan tangan, nampaknya hubungan mereka begitu dekat. Sementara papa dan mama yang menggendong Jordan berjalan diurutan paling belakang.
"Jordan biar digendong sama mama, kasian omanya cape,"aku dengar Yunian mengajak Jordan.
Kami semua berjalan beriringan menuju restoran terdekat. Mama dan papa langsung menuju deretan kursi yang masih kosong dan mereka duduk berdampingan di hadapan mama duduk Fira dan Galih yang masih memangku Jordan. Aku bingung hendak duduk dimana. Hingga beberapa pelayan berinisiatif untuk mengambilkan beberapa kursi dan meja disusun membentuk lingkaran hingga kami semua bisa duduk bersama.
Pelayan membagikan beberapa buah buku menu, kami pun melihat dan mencatat masing-masing menu yang kami pesan.
"Bagaimana kabar papa dan mamamu Fira, apa mereka masih tinggal diParis," mama mulai membuka pembicaraan sambil menunggu makanan datang.
"Ia ma, mereka selalu betah diParis. Tapi mungkin beberapa hari lagi beliau akan datang karena orang tua mas Galih akan datang untuk melamar Fira," ucap Fira sambil menyeruput minuman yang baru saja di hidangkan oleh pelayan restoran.
"Galih, nanti kalau mama dan papa kamu sudah datang kekota ini, bagaimana kalau kamu ajak beliau kerumah kami, terus kita berangkat bersama-sama kerumah Fira," usul mama.
__ADS_1
"Ide bagus itu bu, Galih setuju, nanti papa dan mama Galih ajak kerumah ibu," ucap Galih sambil membantu Jordan minum.
"Panggil mama sama papa Galih seperti yang lainnya. Kita ini kan keluarga besar, " ucap papa, menepuk bahu Galih. Galih pun menngiyakan sambil tersenyum ramah. Makanan datang semua makan dengan penuh rasa nikmat. Tidak menyangka hari ini adalah hari yang istimewa bagiku. Aku berkunjung kerumah mama dam papa. Alhamdulillah kedua orang tuaku menerima kehadiran Yunian istriku dan Jordan anakku dengan penuh binar bahagia.
Dihari yang sama aku bertemu dengan Fira mantan istriku yang lama telah lama berpisah dan aku tak pernah tahu kabarnya. Aku bersyukur Fira sudah menemukan cintanya kembali, dia telah move on dariku seperti halnya aku, jadi rasa bersalahku karena sudah menghianatinya sudah tidak ada lagi. karena kami sudah sama-sama ikhlas menerima takdir dari Yang Maha Kuasa.
Selesai makan kami semua berpisah, Galih pulang mengantar Fira kerumahnya. Begitu juga aku dan keluargaku. Kami semua pulang untuk beristirahat.
Sampai dirumah, papa segera menggendong Jordan yang tertidur.
"Malam ini Jordan biar tidur bareng papa Dion, biar malam ini kalian bisa fokus," ucap papa sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Dion. Aku mendadak salah tingkah dihadapan Yunian. mungkin karena sudah sekitar tiga bulan kami tidak berhubungan suami istri. Namun sepertinya kali ini suasana berbeda dari biasanya.
Aku menarik selimut untuk menutupi tubuhku dan tubuh Yunian istriku yang telah terlelap dalam kondisi tanpa busana. Samentara keringat ditubuhku belum juga mengering usai bertempuran panjang penuh kenikmatan yang Baru saja berlangsung. Rasanya kebahagiaanku lengkap sudah, aku memiliki anak, istri dan kedua orang tua serta mertua yang sama-sama baik, membuat hidupku semakin tenteram. Rasa was-was jikalau kedua orangtuaku menolak kehadiran Yunian kini telah sirna.
Dulu awal perikahanku dengan Fira akupun merasa bahagia. Namun kehadiran Santi dan Kiran telah menghancurkan kebahagiaanku dan Fira.
Bila mengingat tentang Kiran. Sebenarnya aku pun sangat menyayangi Kiran seperti aku menyayangi Jordan. Namun kelakuan Santi yang selalu memperalat Kiran untuk meraih semua impian jahatnya membuat aku harus menjaga jarak dengannya. Semoga dia dalam kondisi sehat dan bahagia dalam asuhan Santi, mudah-mudahan dia tidak mencontoh prilaku ibunya.
Aku baru ingat aku dan Santi pernah menikah secara sah dimata hukum dan agama. Aku juga telah membuat surat pernyataan yang isinya berupa pengakuan bahwa Kiran adalah anak kandungku, yang disertai bukti tes DNA.
Kalau mengingat hal itu sepertinya aku bisa menuntut hak asuh Kiran agar jatuh ketanganku. Tapi kira-kira dimana dia sekarang. Mungkin aku harus diam-diam mencarinya. Setelah aku mendapatkan hak asuh Atas Kiran, aku yakin Yunian akan menerima Kiran dengan senang hati.
**********
__ADS_1