
(POV) Santi
Rasanya aku sudah lelah bersandiwara dengan seluruh anggota keluarga besarku. Aku lelah kalo harus berpura-pura baik kepada Fira. Enak sekali dia, cerai dengan mas Dion sekarang dia malah menikah dengan Galih sepupuku. Dan yang paling membuatku ilfeel adalah kini semua orang memujinya sebagai wanita yang cantik paripurna. Sangat berbanding terbalik dengan nasibku. Kini aku seorang janda, dengan satu anak, aku harus mencari uang sendiri untuk hidup aku dan anakku. Dulu ada papa Kiran yang selalu kasih uang, tqpi semenjak dia menceraikan aku. Tak pernah lagi dia menafkahi anaknya sendiri. Dia menganggak kesalahanku begitu besar sehingga aku diceraikan dia, diusir mertuaku. Semua itu gara-gara ulah Fira yang meminta cerai kepada mas Dion. Padahal apa susahnya sih terima nasib tidak usah minta cerai segala, dasar perempuan tak tahu diri.
Sekarang aku terpaksa menjadi buruh cuci dari rumah kerumah, tak ada yang mau memperkerjakanku secara tetap menjadi Asisten dirumahnya, alasan mereka tak mau ada pelakor yang mengganggu rumah tangganya. Aneh sekali psra wanita itu. Kenapa mereka selalu menyalahkan pelakor. Bukankah salah suami mereka sendiri yang gampang tergoda. andai suami mereka tidak gampang tergoda mungkin rumah tangga mereka akan aman dari godaan para pelakor. Sebenarnya yang membuat seorang laki-laki mudah tergoda wanita lain adalah kesalahan istri yang tidak pandai merawat diri, mereka juga jarang merawat diri dengan alasan cape mengurus rumah tangga. Selain itu mungkin suami mereka jenuh berhubungan ranjang dengan gaya yg begitu-begitu saja. Tidak sepertiku yang ahli dalam berbagai gaya, karena aku selalu memprioritaskan perawatan organ intimku sehingga membuat ketagihan para lelaki yang telah merasakan permainanku di tempat tidur.
Ya, walaupun itu tidak berlaku pada mas Dion mantan suamiku. Setelah melakukan hubungan badan karena pengaruh obat perangsang, berulang kali aku menggodanya. Bahkan setelah kami menikah, aku selalu berpakaian transparan bila didekatnya. Bahkan aku telah mencoba menggunakan obat perangsang namun dia sama sekali tak memakan makanan pemberianku. Dirumah dulu sepertinya semua asisten pun telah di minta hati- hati dan dan waspada dengan makanan yang ada didekatku. Dia selalu melarangku kedapur, makananku selalu asisten yang membuatnya.
Saat ini aku tidak akan mengganggu rumah tangga Fira, begitu juga Dion yang ternyata telah menikah dengan Yunian sepupuku. Sekarang aku akan bekerja sama dengan Juita sahabat baikku. Kami mempunyai satu misi dan satu pemikiran yaitu mempunyai suami dengan materi yang berlimpah, tak peduli mereka telah beristri. Bahkan kami rela menjadi istri kedua, tentu saja tidak selamanya. Kami akan menyingkirkan istri pertama setelah berhasil memasuki sebuah rumah tangga lelaki kaya raya dengan cara apapun.
Kali ini aku mungkin akan masuk kedalam rumah tangga pak Dewanta yang sesungguhnya merupakan target Juita sedangkan Juitalah yang akan masuk kedalam rumah tangga Galih dan Fira, mantap bukan ide kami.
Diacara pernikahan Galih ternyata semuanya berkumpul Dewanta, Galih dan mas Dion. Aku tak perlu lagi mencari tahu bagaimana wajah target. Ternyata yang namanya pak Dewanta wajahnya sangat tampan, badannya tinggi semampai. Bila kulihat bentuk perutnya yang terhalang kemeja batik dengan bawahan berupa celana bahan berwarna hitam. sepertinya sangat berotot. Melihatnya saja sudah membuat hatiku meleleh. Namun sayang, dia begitu dingin, tak sekalipun pandangannya diarahkan kepadaku, dia hanya sibuk memperhatikan istrinya yang kelihatannya tengah hamil tua. Kalau dilihat sekilas pak Dewanta sepertinya tipe laki-laki yang sangat penyayang. Sungguh beruntung andai aku bisa menjadi istri pak Dewanta nantinya.
__ADS_1
Tapi perlu perjuangan keras untuk bisa menaklukkan hati seseorang yang sangat menyayangi keluarganya. Sepertinya lagi-lagi aku harus menjebaknya, kalau hanya pendekatan dan merayunya aku rasa tak akan pernah berhasil. Karena mungkin dia sudah biasa digoda oleh para perempuan nakal.
Kriiiing.....
kriiiiiing.....
Hari sudah malam siapa yang menelpon, aku bangun dari pembaringan dan melangkah menuju nakas karena sejak tadi ponselku tergeletak disana. Sekilas aku melihat jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam. Siapa gerangan yang menelponku malam-malam.
" Halo mbak Santi, mbak Santi jadi kan bekerja diperkebunan tempatku bekerja. Soalnya aku tadi sudah ngomong sama Edi, mbak disuruh menemui pak Dewanta langsung. Maaf mbak aku tidak berani menemui Pak Dewanta karena aku masih ada masalah sama dia," suara Juita sahabatku dari seberang sana.
"Okey...... sippplah. Jangan lupa bagaimana caranya agar aku bisa menjadi asisten di rumah mas Galih," jawabnya lagi.
"Nanti aku mintakan alamat mereka, aku akan pura-pura mau berkunjung ke rumahnya. Tapi biar tidak terlalu kentara sebaiknya kamu datang sendiri dan temui ibu Fira. Buat akting meyakinkan agar kamu bisa diterima bekerja disana," jawabku.
__ADS_1
"Oh ya sudah, saya tutup dulu telponnya..., semoga semuanya lancar," akhir setelah mengucapkan kalimat perpisahan kami pun menyudahi panggilan tersebut.
Keesoknya harinya setelah aku mendapat alamat pak Dewanta, tanpa menunggu lama aku langsung melajukan sepeda motorku ke desa Padang Sawit dan terus menuju rumah pak Dewanta. Kebetulan ini jam sekolah pasti bu Zahra tidak dirumah. Sesampainya dimana aku hanya bertemu dengan asisten rumah tangga yang bekerja dirumah pak Dewanta. Sedangkan menurut keterangan asistennya pak Dewanta sedang bekerja di kebun.
"Maaf bi, apa ada lowongan untuk bekerja dirumah pak Dewanta sebagai asisten, barangkali pak Dewanta mau nambah personil baru, " tanyaku pada seorang ART yang berumur sekitar empat puluh lima tahun. kalau ada lowongan jadi asisten aku pilih jadi asisten, karena tidak harus kepanasan dan juga bisa cari-cari kesempatan untuk bisa bersama pak Dewanta agar bisa mengenalnya lebih dekat.
"Kebetulan pak Dewanta tidak pernah menambah asisten dan kami juga betah kerja disini, jadi tidak ada lowongan tapi kalau dikebun selalu ada, soalnya kebun bapak semakin lama semakin luas," ucap asisten pak Dewanta.
"Kalau begitu aku akan melamar bekerja di kebun saja bi, soalnya saya sangat perlu pekerjaan untuk biaya makan, anak sekolah dan lain-lain. Saya ini saya seorang singel bi, jadi bekerja apa saja tidak masalah," ucapku. Setelah bincang-bincang sejenak dengan asisten pak Dewanta, aku pun segera pamit untuk menuju kebun dimana pak Dewanta berada, baru saja aku telpon Juita agar share lokasi mereka berada.
Sekitar setengah jam kemudian, aku telah sampai di kebun pak Dewanta, dengan bantuan Edi aku dipertemukan dengan pak Dewanta. Kami duduk di sebuah Gazebo yang sepertinya sengaja dibangun untuk istirahat para pekerja. Pak Dewanta menatapmu sekilas, namun setelah itu beliau membuang pandangannya kearah lain.
"Apakah mbak sudah siap bekerja dikebun saya sebagai pembrondol, karena disini cuma pekerja itu yang kami cari," ucap pak Dewanta sembari membolak-balik berkas lamaran yang baru saja aku serahkan.
__ADS_1
"Saya sangat perlu pekerjaan pak, buat sekolah anak saya dan biaya makan sehari-hari. soalnya saya seorang single parent," sahutku.
********