Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab. 40. Pulang


__ADS_3

(POV) Dion


Setelah mendengar nasihat Yunian istriku yang sekarang, akhirnya aku putuskan untuk pulang kembali kerumah orang tua kandungku.


Dulu saat pengadilan memutuskan perceraianku dengan Fira, aku merasa duniaku gelap, tak ada lagi senyum, tak ada lagi bahagia.


saat itu aku membenci semua yang menyebabkan aku dan Fira bercerai. pertengkaran demi pertengkaran terus terjadi dalam keseharianku. Hingga dipuncak rasa prustasiku aku menceraikan Santi dan pergi merantau kesebuah desa terpencil, disana aku mengembangkan usaha perkebunanan sawit dengan menggunakan modal dari hasil jerih payahku saat aku kerja di Amerika.


Di desa terpencil aku hidup sederhana selayaknya penduduk setempat. Aku mengontrak disebuah bedakan sederhana. disitulah aku berkenalan dengan Yunian, wanita cantik, sederhana namun mempunyai hati yang baik.


Suatu malam terjadi peristiwa kesalah pahaman yang menyebabkan aku dan Yunian harus menikah. Sebenarnya setelah bercerai dengan Fira tidak ada sedikit pun niat dihatiku ingin menikah lagi. bagiku tidak akan ada wanita yang menggantikan keberadaan Fira dihatiku.


Namun malam itu saat pernikahan telah terjadi, aku mencoba untuk menerima takdirku. Mungkin Yunian adalah wanita yang Tuhan kirim untuk mendampingiku yang terakhir. Aku terus berusaha memberikan kasih sayang kepada istriku hingga membuat dirinya jatuh hati kepadaku. Karena kelembutan hatinya jualah, semakin hari hatiku semakin berdebar bila dekat dan bersentuhan dengannya.


Hubungan suami istri yang dulu hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan biologis saja, kini terasa nikmat dan indah melebihi indahnya saat aku melakukan bersama Fira. Tubuh Yunian yang begitu sintal, padat berisi dibagian-bagian tertentu membuat aku terpesona ingin menyentuh dan menikmati setiap saat.


Yunian mengenalku sebagai salah satu karyawan dari pengusaha sawit didesa terpencil. Terkadang dia heran karena aku selalu memberi dia uang nafkah melebihi gaji karyawan pada umumnya. Padahal dimataku uang segitu tidaklah seberapa bila dibandingkan dengan penghasilanku sebagai pengusaha sawit. Aku selalu beralasan kalau aku dapat bonus dari bos karena aku rajin.


Aku sengaja merahasiakan identitasku, bukanlah tanpa alasan, aku cuma ingin tahu apakah dia menerimaku apa adanya, walau seandainya aku tak punya banyak harta sekali pun. Sampai akhirnya aku membeli kebun sawit di desa Padang Gatah, karena disana penduduknya lumayan ramai dan jaraknya tidak begitu jauh dari rumah mertuaku. Aku membangun rumah yang cukup layak untuk Yunian dan Jordan yang waktu itu umurnya baru satu tahun. Namun beberapa bulan kemudian usahaku semakin berkembang, hingga membuat aku jarang pulang. Aku selalu beralasan menjalankan tugas atasan.


Sebenarnya aku tidak tega meninggalkan mereka terlalu lama, tapi apa boleh buat, demi mengembangkan usaha untuk masa depan mereka," Dion terus merenung mengingat perjalanan hidupnya pasca bercerai dengan Fira.


"Papa kita mau kemana, ini kan bukan jalan yang biasanya kita ke mall, apa ada mall baru atau tempat rekreasi baru, " celoteh Jordan dengan gaya polosnya.

__ADS_1


"Bukan sayang kita mau kerumah opa dan oma," jawabku.


"Siapa opa dan oma itu papa, apakah mainan baru?" pertanyaan Jordan membuat aku dan istriku tersenyum.


"Oma itu mamanya papa dan opa itu papanya papa, jadi oma dan opa itu sama dengan nenek dan kakek," istriku menjelaskan kepada putra semata wayang kami.


"Horeee, Akhirnya Jordan punya kakek dua dan nenek dua, iyakan ma," ucap Jordan, yang membuat aku dan Yunian saling tersenyum.


"Kita sudah sampai sayang, tolong kamu banguni Jordan," ucapku sambil membelai kepala istriku.


Setelah menempuh perjalanan sekitar empat jam akhirnya kami sampai disebuah rumah yang megah dengan gerbang yang tinggi dan dijaga oleh seorang satpam. Satpam yang ada didalam pos satpam memandang kearah kami kemudian segera keluar dan membukakan pintu gerbang.


"mama dan papa ada pak," aku bertanya kepada satpam.


"Mas Dion!! lama sekali mas Dion tidak pulang, ibu dan bapak pasti senang melihat mas Dion pulang," ucap pak satpam sambil mengangguk hormat kepadaku dan istriku, kemudian memandang kearah Jordan.


"Papa ini rumah siapa, besar sekali seperti ditv yang sering Jordan lihat," ucap Jordan.


"Ini rumah oma dan opa kamu sayang, sebentar lagi kita ketemu opa dan oma kamu," jawabku.


Baru ingin memencet bel yang terpasang di daun pintu. Seketika mama telah membuka pintu dan memandang kearahku dengan mata Berkaca-kaca. Rupanya satpam telah memberi tahu keberadaanku.


"Dion!! kamu pulang nak," mama langsung menghambur kedalam pelukanku dan menangis bahagia.

__ADS_1


"syukurlah kamu akhirnya pulang, mama minta maaf atas semua yang telah mama perbuat sama kamu Dion, mama janji tidak akan mengatur hidup kamu nak," ucap mama.


"Dion sudah memaafkan kesalahan mama, Dion sayang mama dan papa, ma!! kenalkan ini Yunian istriku dan ini Jordan anakku. Aku sudah menikah, maaf tidak memberi tahu mama," aku melepaskan pelukan mama, kemudian mengenalkan anggota keluargaku satu persatu.


"Ini Istri kamu, " mama langsung merengkuh dan memeluk Yunian. Selamat datang nak, selamat datang dirumah kita. Sering main kesini ya, papa dan mama sudah tua, kalau bisa kalian kembalilah kesini, kita tinggal serumah agar rumah senantiasa terasa hangat.


"Omaaaaa!!! ini Jordan oma jangan dicuekkiin," Jordan berteriak memanggil mama.


"Masyaallah!! cucu oma, apa kabar sayang," pandangan mama Mengarah kepada Jordan, pelukannya pada Yunian pun dilepaskan, beliau berjongkok dan memeluk Jordan sambil menangis.


"Iya, Jordan senang bertemu oma, rumah oma besar sekali seperti sebuah istana dalam dongeng," ucap Jordan. anak cerdas berumur tiga tahun itu memandang kesegala arah, meneliti setiap pojok rumah secara detail.


"Rumah oma ini rumah Jordan juga, maukah Jordan tinggal sama oma biar kita bisa main sama-sama tiap hari," kata mama sambil memeluk dan mencium cucu yang baru saja dijumpainya.


"Ada tamu rupanya, siapa dia mama? " papa berjalan Tertatih-tatih keluar dari dalam kamar. Aku segera menyonsong kedatangannya, kemudian memeluknya dengan erat penuh rindu. Lama tidak pulang, ternyata kondisi papa tidak baik-baik saja, sungguh menyesal sekian lama aku telah mengabaikan mereka, membiarkan rasa rindu menyiksa hati mereka. Mulai sekarang aku akan memberikan perhatian dan kasih sayangku kepada mereka, aku yakin Yunian tidak akan keberatan, karena yang kutahu dia adalah wanita yang sangat mencintai orang tua.


Segera aku mengajak papa, mama, istri dan anakku untuk duduk santai di ruang tamu. Agar kita bisa mengobrol santai.


Beberapa asisten rumah tangga keluar menyuguhkan minuman dan beberapa toples camilan.


"Oma, Jordan mau itu," anaku Jordan yang dari tadi tidak mau lepas dari gendongan mama tiba-tiba meminta cemilan yang ada didalam salah satu toples.


"Jordan!! tidak boleh merepotkan oma ya," istriku Yunian menasihati putra kami.

__ADS_1


"Sudah tidak apa-apa nak, namanya juga anak kecil, Dion dulu juga seperti ini.


"Siapa mereka Dion?" lama tidak pulang, setelah pulang kamu membawa calon istri dan calon anak tiri untuk meminta doa restu buat menikah. Okey... kamu boleh menikah dengan perempuan ini. Asalkan setelah menikah kamu, istrimu dan anak kamu harus tinggal disini. Papa tidak mau kehilangan kamu lagi dan papa tidak mau dihari tua papa hidup kesepian.


__ADS_2