
(POV) Yunian
"Ayo mama... makan yang banyak, ini sayur asamnya enak banget, buatan mama Marni, kalau mama perlu apa-apa, mama ngomong aja sama Yunian, jangan sungkan-sungkan ya ma, " ucapku pada mama mertua. Kalau aku perhatikan mama sepertinya cocok dengan masakan yang ada disini, terlihat mama makan begitu lahap.
"Kelihatannya makanan sederhana dan murah tapi rasanya enak juga ya, " ujar mertuaku sambil terus menyendok makanan dan memasukan kedalam mulutnya.
"Iya ma... ini masakan kampung, sepertinya mama tidak pernah masak beginian," sahutku.
"Nanti kalau sudah dirumah kita coba masak masakan tradisional, kamu bisa kan, " ujar mama, benar ternyata mama mertua menyukai masakan kampung, sekarang beliau terlihat lebih santai tanpa beban seperti waktu baru datang. Hari sudah sore, aku pun menawari mama untuk mandi air hangat seperti kebiasaan mama waktu dikota. Namun mama menolaknya. katanya dia ingin menyesuaikan diri dengan kehidupan disini.
"Kamu lihat Yunian, pak Langit dan bu Dinda, ternyata beliau rajin berbagi, dan sering kepanti asuhan. Mama jadi teringat kalau sering sekali berkumpul dengan ibu-ibu sosialita yang selalu berpenampikan gelamor tapi kami lupa kalau banyak orang-orang kehidupannya tidak beruntung dan memerlukan uluran tangan kita," ungkap mama mertua. Syukurlah kalau mama mertuaku sadar kalau hidup itu perlu berbagi karena dalam harta kita ada hak mereka orang miskin, yatim piatu dan seterusnya.
"Mama Retno apa kabar ma, tambah awet muda aja mama ini," sapa Fira yang berjalan kearah kami sambil mengelus perutnya, kemudian dia menyalami dan mencium punggung tangan mama.
__ADS_1
"Kamu ini bisa aja nak, kabar mama baik, selamat yah..atas kehamilan kamu, mama enggak nyangka kamu bisa hamil, aku fikir kamu dulu mandul. Makanya mama menyuruh Dion menikahi Santi agar mempunyai keturunan yang sah secara hukum agama dan hukum pemerintah. Seandainya saja kamu dulu cepat hamil mungkin mama tidak pernah menyuruh Dion menikahi Santi sehingga kamu tidak perlu menggugat cerai. Sebenarnya mama sangat menyesalkan Dion dan kamu bercerai, kadang mama masih sering berharap andai kamu dan Dion berjodoh kembali," ungkap mama mertua yang membuatku sontak mengernyitkan dahiku.
"Sudahlah ma!!... mungkin semua itu sudah takdir. Lagian rasa sedih Fira selama ini sudah terhapus dan terbayarkan dengan rasa bahagia karena pernikahan Fira dengan mas Galih. Fira tahu semua yang Fira alami dimasa lalu adalah ujian agar Fira menjadi pribadi yang kuat dan tidak mudah menyerah. Sekarang Fira sangat bersyukur sekali mempunyai pendamping hidup dan mertua yang sangat pengertian," jawab Fira. Sepertinya Fira sedang menyindir kalau suami dan mertua yang dulu tidak pengertian. Tapi syukurnya mama tidak paham, karena di lihat dari wajahnya tampak biasa saja.
Aku benar-benar tidak habis pikir dengan cara berfikir mama mertua, begitu mudah mengungkapkan kisah masa lalu yang menurutku memalukan andai aku berada di posisi mama mertua. Bagaimana tidak malu hanya karena belum dikaruniai momongan setelah satu tahun menikah tega-teganya dia menyuruh anak lelakinya menikah lagi. Tidakkah dia berfikir, andai dia berada diposisi Fira atau anak gadisnya diperlakukan seperti Fira. Yang membuat aku muak, kok bisa dia masih berharap mas Dion kembali bersama Fira untuk membina rumah tangga dan itu dikatakan di depanku istri sah mas Dion. Benar-benar tidak punya hati.
Pantas saja mas Dion enggan mengenalkan aku dengan mamanya diawal pernikahan. Mungkin mas Dion takut tak mendapatkan restu atau jika aku lambat hamil, mama akan menjodohkan mas Dion dengan wanita lain. Apalagi kalau melihat latar belakang keluargaku, nampak jelas sekali kalau mama menganggap keluarga kami dan keluarga mama tidak selevel.
Tapi aku dan mas Dion sudah beberapa tahun menikah dan dia merupakan suami yang bertanggung jawab dan sangat sayang serta perhatian kepada anak-anak dan istri. Selama kami terikat dalam ikatan pernikahan, tak sekalipun mas Dion dekat dengan perempuan lain. Dia selalu meyakinkanku, agar aku percaya padanya kalau tidak ada niat dihatinya untuk mengkhianati jalinan cinta kami.
Memang kadang orang menginginkan punya suami baik, penyayang, tanggung jawab, setia, tampan, kaya dan lain-lain serta mempunyai mertua yang baik, penyayang. Tapi kita harus menyadari jalan hidup seseorang tidak ada yang sempurna. Justru dari kekurangan mereka itulah kita bisa belajar bagaimana cara menyikapi hidup.
Seperti apa yang telah mama mertua lakukan terhadap Fira dan akhirnya kini dengan tidak ada rasa malu dia bilang menyesal. Semoga hal ini tidak akan pernah kulakukan pada rumah tangga anak-anakku nanti. Karena hal itu akan menyakiti perasaan para menantuku.
__ADS_1
Menantu memanng bukan darah daging kita, tapi dihari tua kita, disaat kita renta dan tak berdaya, menantu dan anak kitalah yang akan merawat kita. Jadi harus dimulai sejak dini, berbuat baik dan menjaga perasaan menantu serta tidak menyakiti hatinya dan memperlakukan dia seperti anak kandung kita sendiri.
"Wahhh kalian lagi asyik disini rupanya, bu Retno sehat, kabarnya bagaimana, " sapa bu Dinda di ikuti oleh pak Langit dan papa mertua serta papa dan mamaku dibelakangnya. Rupanya beliau baru saja selesai makan, kulihat piring dihadapan mama mertua pun telah kosong. Aku segera membereskannya dan membawanya kedapur, menyerahkan pada ART agar segera dicuci.
"Kabar saya tentu baik-baik saja bapak dan ibu semuanya. Kalau pak Langit dan bu Dinda kapan sampai disini," tanya mama mertua.
"Kami dari kemarin sudah disini, soalnya Fira sudah kangen berat sama mama Marni, dan saya juga sudah kepingin ngobrol dan curhat sama besan. Iyakan...besan, " jawab bu Dinda sambil merangkul mamaku dengan begitu akrab. Jujur aku iri melihat keakraban mereka, pak Langit dan bu Dinda sepertinya tidak mengkelaskan manusia berdasarkan jumlah harta yang dimilikinya. Mereka benar - benar menganggap semua manusia sama saja, yang membedakan hanya amal ibadahnya.
"Ya soalnya mama telepon katanya sudah beli belut buat dimasak pedas, Fira jadi enggak tahan, pengin cepat-cepat kesini, ingin makan oseng belut pedas," ujar Fira, kami terus berbincang bertukar cerita satu sama lain. Kulihat mama mertuaku mulai merasa nyaman.
Pagi-pagi sekali semua orang sibuk mempersiapkan acara Fira. Seluruh tenda dimuka rumah sudah terpasang. Aku merebuskan air, untuk mandi mertuaku, rasanya aku tak tega membiarkan mama mertua mandi air dingin di pagi hari, takutnya beliau masuk angin.
"Kamu repot-repot bawakan air panas untuk mandi mama, Yunian!.... tapi terimakasih ya Yunian, kamu memang menantu yang baik dan sangat perhatian sama mama," ujar mama mertua sambil bersiap-siap hendak mandi. Memang sih kalau ingat kata-kata mama mertua yang terkadang menyakitkan rasanya aku malas melayani kebutuhan mama. Tapi disisi lain aku juga tak tega, walau bagaimana pun mama Retno adalah ibu dari orang yang aku cintai dan nenek dari anakku.
__ADS_1
Semoga saja apa yang telah aku lakukan dengan ikhlas ini bisa mengubah sikap mama mertua yang cenderung menganggap rendah orang yang menurutnya dibawah levelnya.