
(POV). Retno
Bu Retnooo....apa kabar bu, saya senang sekali bisa bertemu kembali sama bu Retno. Semoga kita semua bisa dikeruniai panjang usia yang bermanfaat agar kita sering bertemu dan saling melepas rindu," bu Marni besanku, orang tua Yunian berlari dari dalam rumah dan langsung menyapaku dibarengi dengan pelukan hangat, sementara dibelakangnya bu Tini, mama Santi pun menyalamiku dan langsung memelukku, sementara pak Warjito hanya tersenyum dan menyalamiku.
"Saya dengan segala kerendahan hati memohon maaf dan ampun atau prilaku buruk Santi putri saya bu Retno. Saya merasa sangat bersalah pada ibu sekeluarga atas apa yang telah Santi lakukan. Saya sangat berharap maaf dari ibu sekeluarga agar Santi yang Sedang hijrah dijalan yang benar senantiasa istiqomah dan jalannya dimudahkan," ujar bu Tini seraya berlinang air mata.
Tentu saja saya telah memaafkan Santi bu, karena saya juga bukan orang baik, saya banyak dosa. Saya senang sekarang Santi telah berubah, Semoga Santi cepat mendapatkan jodoh laki-laki yang baik, yang mampu membimbing dia dan anak-anaknya kelak.
Setelah berbicara dengan bu Tini. Aku kembali melihat apa yang dilakukan oleh bu Marni dan Yunian hatiku benar-benar terenyuh, meleleh tanpa mampu berkata-kata. Aku terdiam mengumpulkan segenap kekuatanku untuk memberikan reaksi positif atas sambutan mereka yang telah menyambut kedatanganku, orang yang selalu menganggap mereka tak selevel denganku.
"Yunian!!....maafkan mama nak, mama yang buta tak mampu melihat kebaikkanmu, mama yang buta tak mampu melihat betapa engkau teramat istimewa. Dion benar, dia sangat beruntung memilikimu, selalu menjaga dan menyayangimu salah satu langkah Dion yang tidak salah," aku bicara sambil terisak menahan haru, menyadadari betapa besar Tuhan memberikan nikmat kepadaku. Pandanganku mengarah kepada Marni besanku.
Bu Marni terimakasih telah begitu perhatian kepada saya, padahal selama ini saya tidak pernah seperhatian itu sama ibu. Ibu tetap baik kepada saya setelah apa yang saya lakukan pada putrimu. Ibu sama sekali tidak menaruh dendam pada saya, terimakasih atas kebaikan ibu," ujarku.
Kami semua pun masuk kedalam rumah Yunian dan Dion yang baru. Yunian dan bu Marni menggandeng tanganku, sementara kedua cucuku mengikuti dibelakang.
"Aku senang oma datang, biarpun oma sering cuekin aku, tapi aku tetap sayang sama oma, kata mama harus begitu," celotahan Jordan dengan suara yang sengaja dipelankan, namun aku masih mendengarnya.
__ADS_1
"Iya, walau kadang-kadang oma sering menegurku, aku juga tetap sayang, kata mama harus tetap sayang sama oma karena oma itu orang tua, kita harus hormat sama orang tua, mama Yunian selalu mengajarkan seperti itu," sahut Kiran.
Mendengar celotehan cucu-cucuku, aku jadi semakin kagum pada Yunian. Bagaimana dia telah mendidik anak-anaknya dengan begitu baik. Aku jadi malu dan merasa kecil di hadapan mereka.
sampai diruang tamu, aku memandang keseluruh sudut ruangan. Ada tangga yang terlihat begitu indah yang menghubungkan antara lantai satu dan lantai dua. Semua perabot dirumah ini terlihat mahal, ternyata Dion mempunyai tabungan yang terbilang lumayan. Memang beberapa usaha yang dia rintis sewaktu pergi dari rumah masih tetap dia kelola dan berkembang pesat. Ternyata putraku mempunyai bakat yang menurun dari papanya yang begitu lihay mengelola bisnisnya.
Kami pun langsung menuju ruang makan, menikmati hidangan yang dimasak oleh Yunian. Kami terus mengobrol sambil bercanda. Selesai makan kami pun istirahat. Yunian mengantarkan aku kekamar Dirgantara dilantai dua. Nampak sebuah koper berisi baju suamiku yang terlihat berantakan.
cekrekkkk......
"Ih...mama bisa aja, ternyata menduda satu minggu saja sudah enggak kuat. Kangen sama mama," sahut Dirgantara lelaki tampanku sembari memeluk dan menciumku. Aku masih terus merapikan pakaiannya tanpa peduli apa yang sedang dilakukannya pada tubuhku.
"Papa senang sekarang mama bisa bercanda seperti mereka. Waktu aku berada dirumah besan aku, pak langit, pak Warjito, pak Dodo dan Galih kerap bercanda, ada saja bahan candaan yang membuat suasana semakin hangat. Aku ingin kalau dikeluarga kita juga bisa seperti itu," ujar suamiku. Tangannya masih tetap sibuk membelai bagian tertentu dari tubuhku.
"Aku juga merasa iri melihat hubungan antara bu Marni dengan bu Dinda yang seperti teman akrab, mereka tak sungkan saling menggoda dan saling meledek kemudian tertawa terpingkal-pingkal tanpa beban. Fira juga tak segan-segan bermanja-manja dengan bu Marni seperti sama mama sendiri. Itu juga mungkin yang menjadi salah satu penyebab mama begitu mendambakan menantu seperti Fira, selain karena pengaruh dari teman sosialita mama yang selalu banyak gaya, dan selalu berusaha tampil memukaiu pada setiap ada kesempatan," aku menumpahkan segala unek-unek yang selama ini aku pendam di dalam dada.
Aku sudah merapikan semua baju suamiku dan memasukkan kembali kedalam koper sesuai keinginan Dirgantara. Karena besok aku dan Dirgantara akan kembali pulang kerumah, untuk menempati rumah mewah yang memiliki banyak kenangan bagi kami.
__ADS_1
Kini Dirgantara mengangkat tubuhku keatas pembaringan, suatu hal yang sering dia lakukan semasa pengantin baru. Lama sekali aku tidak mendapatkan perlakuan manis darinya.
"Yunian juga sebenarnya ingin bermanja sama mama seperti yang sering dilakukan pada mamanya. Tapi mungkin dia merasa sungkan. Karena kan mama selalu serius sama dia, seharusnya mama yang sering memanjakan dia sebagai orang yang lebih tua nanti lambat laun dia pasti mengikuti," ucapan papa Dion mungkin benar, aku terlalu kaku dan serius ditempat dan waktu yang seharusnya aku bersantai.
Usai kami melepas rindu, kemudian istirahat sejenak dan membersihkan tubuh. Karena sore ini kami berencana jalan-jalan di sekitaran komplek ini bersama Dion, anak dan istrinya serta Bu Tini dan bu Marni, tentunya tak mau ketinggalan pula Dirgantara, suami tampanku.
Kami hanya memakai pakaian santai, jalan kaki sambil ngobrol santai.
"Asyik yah jalan sore begini. Tidak ada debu, lingkungannya tertata rapi, tidak seperti di desa kita, kalau musim kemarau jalanan berdebu, kalau musim hujan jalan becek," cicit bu Tini sambil mencolek bahu ibu Marni.
"Mama jeruknya banyak banget, sudah masak-masak ini." seru Kiran dan Jordan yang berlari kecil kearah pohon jeruk yang berbuah lebat padahal tajuk daunnya masih belum begitu rindang.
"Mama coba dulu deh, manis jeruknya ma," Suamiku memetik jeruk lalu mengupasnya dan membelahnya jadi dua. Yang separo dia makan dan yang separo diserahkan kepadaku. Ternyata memang benar, jeruknya sangat manis dan masih segar. Kulihat pak Warjito dan bu Marni pun sedang duduk dibawah pohon jeruk yang lain sambil menikmati bulir-bulir jeruk sambil asik bercanda, begitupun Yunian dan Dion yang tampak begitu mesra saling menyuapkan jeruk kemulut pasangan. Bu Tini sedang asyik meladeni permintaan Kiran dan Jordan yang minta diputikkan jeruk.
"Mama ingin disuapi juga, satu siung jeruk dijejalkan oleh suamiku, aku pun langsung melahapnya tanpa ada niatan untuk menolaknya.
*********
__ADS_1