
(POV) Galih
Aku melihat Wanita yang dikenalkan Santi kepada kami sedang ngobrol dengan Santi sambil menikmati hidangan dimeja paling pojok. Sesekali kulihat dia melirik kearahku. Sepertinya mereka sedang membicarakanku. Kalau aku nilai gaya berpakaiannya wanita itu gadis baik-baik. Tapi jika memperhatikan tingkah lakunya terlihat genit dan suka mencari-cari perhatian. Aku seperti mencium gelagat yang tak beres diantara Santi dan Juita, sempat aku tadi perhatikan meraka menatap Fira dengan tatapan sinis dan kebencian, tapi itu hanya berlangsung sekilas saja, selanjutnya senyum manis penuh kepalsuan yang mereka persembahkan kepada kami.
Kira-kira Fira menangkap firasat yang sama denganku tidak ya!!, tapi sebaiknya aku pura-pura tidak mengerti saja, agar Fira tidak berfikir yang macam-macam. Walau sudah seharusnya aku waspada dengan tingkah laku mereka. Mungkin Santi masih manaruh dendam pada Fira walau dia telah mengakui dan meminta maaf akan kesalahannya dimasa silam. Tapi siapa tahu, hati manusia tak bisa disangka.
Aku tidak boleh lengah, tidak akan membiarkan ada orang yang berniat jahat terhadap keberlangsungan rumah tangga aku dan Fira.
"Selamat ya nak Galih, nak Fira semoga rumah tangganya selalu harmonis langgeng hingga maut memisahkan," Seorang lelaki seumuran papaku dengan seorang wanita berbusana muslim. Aku mengajak beliau untuk berkenalan, karena aku sangat penasaran. Bapak dan ibu tadi pun memperkenalkan diri dengan nama bapak Sukarta dan ibu Mujirah. Beliau adalah orang tua kandung Dewanta atau mertua Zahra, wanita yang pernah menjadi sosok istimewa dihatiku namun kehadirannya kini tak berarti apa-apa lagi.
Terimakasih atas doanya, semoga bapak dan ibu diberi panjang umur yang bermanfaat bagi sesama dan senantiasa sehat selalu,"ucapku.
Maaf ya nak Fira, nak Galih, atas kesalahan kami para orang tua yang telah menjodohkan Dewanta dan Zahra. Bapak baru menyadari, kalau apa yang bapak lakukan pernah meninggalkan luka yang sedemikian parah di hati kalian. Kami sebagai orang tua waktu itu memang sangat egois, hanya mementingkan keinginan kami sendiri. Tanpa berfikir kalau apa yang kami lakukan telah melukai banyak pihak," ucap pak Sukarta.
__ADS_1
"Lupakan saja masalah itu pak, dulu memang kami terluka, hati kami sangat sakit!!, tapi bapak lihat kami sekarang ini. Hari ini kami sangat bahagia, mungkin apa yang terjadi dimasa lalu adalah takdir dan rentetan ujian yang harus kami jalani dan mungkin semua itu juga sudah menjadi rencana Tuhan yang begitu indah hingga membawa kami pada pertemuan-pertemuan yang menggetarkan jiwa anatara saya dan Fira hingga sampai ke pelaminan.
"Allhamdulliah, kalian berdua telah berbesar hati untuk menerima takdir ini. Selanjutnya kita jalin silaturrahmi yang baik hingga sampai ke anak cucu kita nanti. jangan lupa main kerumah, saya dan ibu hanya tinggal berdua. Senang hati kami andai kalian berdua sudi datang mengunjungi kami, " ucap pak Sukarta.
"Selamat menempuh hidup Baru Galih,Fira semoga selalu bahagia hingga tua renta bersama, " Dewanta yang menggandeng tangan Zahra, tiba-tiba menyalamiku setelah bu Sukarta dan istrinya berlalu meninggalkan pelaminan.
"Terimakasih atas doa-doa dan kedatangannya di acara kami Dewanta," ucapku sambil memeluk Dewanta. Kulihat Zahra dan Fira pun berpelukan.
"Entah harus mulai dari mana Galih, yang jelas aku mau minta maaf kalau seandainya aku bersalah sama kamu, atas perjodohanku dan Zahra. Karena saat itu mungkin kami memang di takdirkan bersama. Sedangkan kamu dan dia memang tidak berjodoh atau mungkin itulah rencana Tuhan. Tuhan yang lebih tahu apa yang terbaik bagi kita," bisik Dewanta ditelingaku.
"Kak itu kan Juita, Katanya dia sakit, tidak bisa kerja, kok malah dia ada disini," Ucap Zahra kepada Dewanta suaminya.
"Mungkin sakitnya cuma alasan, mau menghadiri pernikahan Galih dan Fira, biarkan sajalah. Nanti kalau dia tidak mau memenuhi persyaratanku untuk bekerja dikebun kita, dia akan keluar dengan sendirinya.
__ADS_1
"Memang kakak kasih persyaratan apa agar dia bisa tetap bekerja, " tanya Zahra sembari mengelus perutnya yang sedang hamil besar.
"Aku memberikan waktu seminggu agar dia berpakaian sopan saat membrondol sawit. Terus terang aku sudah muak dengan gaya berpakaian dia yang terkesan kekurangan bahan," aku terus menyimak obrolan Dewanta dan Zahra tentang wanita bernama Juita. Kalau mendengar dari obrolan mereka seperti Juitanya adalah salah satu pekerja di kebun milik Dewanta. Dalam setiap bekerja seperti pakaiannya kurang sopan hingga mendapat teguran dari bosnya. Tapi kenapa sekarang dia berpakaian begitu sopan. Sepertinya aku harus menyelidiki sebelum terlambat.
"Bu Fira bisa enggak kita foto bareng, untuk kenang-kenangan, entah mengapa tiba-tiba aku ingin foto bareng kalian, mungkin ini bawaan bayi kali yah, " ucap Zahra sambil memeluk lengan Dewanta dengan manja. Aku Jadi membayangkan suatu saat Fira akan memperlakukan aku seperti itu, pasti rasanya sungguh bahagia.
Aku segera memanggil seorang fotografer yang bertugas diacaraku ini untuk melakukan sesi foto bersama, antara keluargaku dan keluarga Dewanta. Selesai Foto aku mempersilakan mereka untuk menikmati hidangan yang telah kami sediakan.
Alhamdulillah pada sore hari acara pun telah usai, semua undangan yang kami undang pun telah datang. Kuperhatikan keluarga besar Zahra dan Dewanta dan keluarga besarku dan Fira sedang terlibat dalam obrolan hangat. Tampaknya mereka sangat akrab, Fira memang ada cerita kalau dia dan orang tuanya pernah berkunjung kerumah orang tua Zahra untuk membeli belut bersama bude Rupiah dan pakde Dodo.
Aku dan Fira segera bergabung dengan mereka. Dewanta segera menyongsong kedatanganku dengan merangkulku.
"Wah.. wah... yang telah bertukar pasangan ternyata akur juga, aku kira bakalan perang dunia ke tiga kalau bertemu," bude Rupiah beraksi untuk menggoda dan mengoloku.
__ADS_1
"Sekarang bukan jamannya menyelesaikan masalah dengan adu otot bude. Sekarang itu kalau menyelesaikan masalah dengan bicara baik-baik dan menggunakan kepala dingin. Lagian apa juga yang mesti diributkan, aku sudah cinta mati sama Fira, kulihat Dewanta dan Zahra bagaikan romeo dan juliet, ya enggak Dewanta? " ucapku seraya menatap Dewanta.
"Betul broo!! kita sama-sama merasa mendapatkan istri yang istimewa untuk diri kita. Rasanya buang-buang waktu kalau harus ribut. Justru dari peristiwa ini, kita tahu rencana Tuhan begitu indah walaupun caranya begitu pahit. Kami dulu mengira yang pahit itu racun, tapi ternyata obat, yang mampu mengobati apa yang terasa sakit dan membuat hidupku lebih sehat dan menyenangkan," ucapku yang membuat beberapa dari mereka memperlihatkan jempol tangannya. Saat semua asyik bercanda sambil ngemil, aku yang duduk disamping Dewanta mulai mengorek keterangan tentang Juita. Ternyata juita selalu mencari-cari perhatian Dewanta, dia sudah dikenal sebagai kupu-kupu malam oleh beberapa temannya. Akupun segera meminta tolong kepada Dewanta untuk mengawasi gerak-gerik wanita bernama Juita. Aku menceritakan tentang kecurigaanku tentang Santi dan Fira, aku juga bercerita tentang masa lalu Fira dan Santi. Akhirnya Dewanta mau aku mintai tolong, dan kami semakin semangat dan waspada untuk menjaga keutuhan jalinan cinta kami dan pasangan. Jangan sampai ada pelakor dan Febinor masuk kedalam rumah tangga kami.