
(POV) Fira
Semangatku untuk memperjuangkan kebahagiaanku Kembali berkobar saat mendengar ucapan calon mama mertua. semoga saja calon mama mertua konsisten dengan apa yang sudah diucapkannya.
Selesai kami bercengkerama dengan keluarga mas Galih, papa dan mama mas Galih menyuruh aku dan mas Galih untuk beristirahat, begitupun papa Dan mama mas Galih yang langsung masuk ke kamarnya karena malam telah larut. Setelah menyelesaikan shalat isya aku langsung membaringkan tubuhku diranjang. Rasanya badanku terasa lelah sekali hari ini, namun tak dapat dipungkiri hatiku merasa sangat bahagia.
"Pagi tante, masak apa nih, Fira bisa bantu apa tante? sapaku pada calon mama mertua. Rasanya hari ini tubuhku terasa segar sekali.
"Pagi calon mantu, kamu buat teh aja, sarapannya sudah masak tadi bi Onah yang masak, " jawab calon mama mertua.
"Kamu sudah mandi sayang," tiba-tiba mas Galih muncul dibelakangku. .
"Ya sudah dong mas, Fira mana pernah pagi-pagi keluar kamar sebelum mandi," jawabku.
"Tapi kok rambut kamu masih kering, enggak keramas Emang?, " tanya mas Galih sambil cengar cengir padaku. calon mama mertua seketika melotot.
"Apa yang kalian lakukan malam tadi," ucap calon mama mertua, dengan wajah penuh selidik.
"Galih malam tadi tentu saja tidur ma, Fira juga tidur dikamarnya. kami kelelahan setelah jalan-jalan dipematang sawah. kemarin aku menyuruh Fira keramas karena rambutnya kusut terpapar sinar matahari," jawab Galih.
__ADS_1
"Ooh, mama kirain kalian sudah nggak tahan, soalnya yang satu janda dan yang satu jomblo akut, " ucap calon mama mertua sambil tersenyum.
"Mamaaaa, mama pikir kami ini nggak punya iman," teriak Galih dan disambut tawa kami bertiga.
"Ada apa ini, pagi-pagi sudah ribut, buat papa kaget saja," ucap pak Warjito sambil berjalan kemeja makan, mengambil segelas air hangat lalu meminumnya.
"Ini loh Pa, mama pikirannya mesum terus, masa Galih tanya Fira udah keramas apa belum, eh dikira mama kita habis ngapain, " ucap Galih.
"Kalian malam tadi enggak berbuat aneh-aneh kan?, "tanya pak Sasmito sambil terkekeh.
"Suami istri ternyata fikirannya sama, begituan melulu," ujar Galih sambil menyuap makanan yang sudah ada di dalam piringnya. mereka semua makan sambil ngobrol ringan saling menggoda dan saling mengolok.
"Mbak Marni....mbak Marni.. teriak seseorang dipintu ruang tamu. Calon mama mertua segera melangkah keruang tamu diikuti oleh aku, mas Galih dan calon papa mertua. Aku melihat seorang ibu berumur sekitar empat puluh lima tahun sedang berdiri diruang tamu, netranya langsung menatapku dengan penuh kebencian. Aku bingung siapa dia sebenarnya, bukankah aku baru beberapa hari menginjakkan kakiku didesa ini, apa mungkin ada orang yang sedemikian bencinya sama aku.
"Ada apa de, pagi-pagi sudah bertamu kesini, ayo kita makan dulu, sudah lama sekali kamu tidak pernah lagi makan disini," ucap calon mama mertua dengan ramah.
"Mbak fikir aku kesini mau minta makan, aku memang miskin, tidak kaya seperti mbak Marni, tapi aku masih mampu beli makanan sendiri. Aku kesini hanya ingin memperingatkan mbak Marni dan Mas Warjito agar tidak semena-mena memfitnah Santi anak saya. Santi memang sekarang seorang janda, dia diceraikan karena suaminya diambil pelakor. Mbak bukannya membela Santi keponakan sendiri malah membela Fira anak kota yang doyan suami orang. Mentang-mentang orang kaya, percuma kaya, banyak harta, tapi sukanya merusak rumah tangga orang, benar-benar tidak punya akhlak. Apa orang tuamu terlalu sibuk mengejar harta hingga dia tidak sempat mendidikmu dengan baik dan benar. Atau saat orang rame-rame berbagi akhlak kamu tertidur karena kelelahan setelah melayani suami orang," fitnahan dan hinaan terus keluar dari bibir wanita itu tanpa bisa dicegah lagi. Kalau didengar dari apa yang diucapkannya sepertinya dia adalah mama Santi. kulihat para tetangga mulai keluar rumah untuk menonton adegan yang begitu menarik perhatian mereka.
"Cukup bule Tini, jangan pernah menghina calon istriku, dia wanita baik-baik. Justru Santi anak bule yang seorang pelakor, dia yang menjebak Laki-kaki dengan menggunakan obat perangsang kemudian menyerahkan tubuhnya untuk dinikmati hingga lahirlah Kiran seorang anak yang tidak mempunyai papa," ucap mas Galih berteriak hingga tetangga semakin banyak yang datang untuk melihat kejadian tersebut. aku mengelus pundak mas Galih agar dia mengendalikan emosinnya.
__ADS_1
"Sebelum kamu kesini sebaiknya pikirkan dulu apakah yang Santi katakan itu benar, kamu tanya baik-baik, benar atau tidak ucapan Santi itu, Kalau de Tini tahu kebenaran yang sesungguhnya, mungkin de Tini akan sangat malu dengan kelakuan putri kesayanganmu," ucap calon mama mertua dengan kata-kata yang lembut.
"Sekarang sebaiknya kita duduk bareng, kita selesaikan dengan kepala dingin, biar Fira menjelaskan kronologis kejadian yang sebenarnya dan dengan disertai bukti-bukti," pak Warjito calon papa mertuaku memanggil seorang penduduk untuk menjemput Santi, agar dia membawa bukti surat nikah dia dan Dion dan bikti-bukti lainnya kalau memang ada. Orang suruhan papa mertuaku pun langsung berangkat. Papa juga memanggil beberapa orang tetangga sebagai saksi untuk membersihkan namaku yang sudah tercemar oleh kelakuan Santi.
Selang beberapa saat kemudian Santi datang dengan wajah tertunduk, wajahnya terlihat pucat.
Dengan disaksikan oleh keluarga mas Galih, bule Tini, beberapa warga desa Mentereng, pak RT juga ikut dimintai kesaksian oleh calon papa mertua dan tidak ketinggalan juga Santi tentunya sang pembuat masalah. aku menceritakan masa lalu aku, Santi dan Dion sejak aku menjadi pacar Dion hingga menikah dan pernikahan kami hancur berantakan karena ulah Santi. Aku juga memperlihatkan copy surat nikah aku dan Dion, copy surat nikah Santi dan Dion serta copy surat gugatan cerai yang aku ajukan kepengadilan agama.
"Saya meminta kalian semua menyaksikan semua ini agar Fira calon mantu saya tidak terus-terusan difitnah oleh Santi dengan tuduhan yang tidak benar. Bukan maksud kami ingin membuka aib Santi, kami terpaksa demi membersihkan nama baik keluarga kami," ucap pak Warjito.
"Keterlaluan sekali kamu Santi, kamu benar-benar sudah mempermalukan ibu dihadapan banyak orang, ternyata Kiran cucuku itu anak hasil perbuatan kamu yang begitu menjijikkan. Kamu minta maaf pada Fira atau ibu usir kamu dari rumah ibu," teriak bule Tini pada Santi. Bule Tini kemudian menarik Santi dan membawanya kehadapanku.
"Maafkan aku Fira, terlalu banyak kesalahan yang telah aku perbuat sama kamu, selama ini hatiku selalu dipenuhi, rasa iri dan dengki atas semua takdir baik yang selalu berpihak kepadamu. Ambisiku ingin memiliki Dion telah membuatku gelap mata, menghalalkan segala cara, aku tidak peduli perasaan orang lain. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Sekali lagi maafkan aku Fira..maafkan aku," Santi berucap sambil menangis berlutut dikakiku. Aku segera mengangkat bahunya, membantunya berdiri sejajar denganku.
"Kalau memang kamu tulus meminta maaf padaku, aku ikhlas memaafkanmu, asal jangan pernah kau ulangi lagi perbuatanmu, baik padaku ataupun pada wanita lain. Kamu tahu Santi saat rumah tangga kita hancur karena ulah orang ketiga rasanya sakit sekali. Memulailah hidup baru, menjadi wanita baik - baik. Lebih baik kita miskin harta tapi hasil keringat dan jerih payah sendiri daripada kaya harta tapi dari hasil merenggut hak orang lain. Ingat seorang laki-laki beristri itu hartanya hak istri dan anak-anaknya. Jangan pernah kamu berfikir untuk memilikinya dengan cara menistakan diri sendiri,'" aku menasihati Santi sembari menghapus air matanya.
*******
.
__ADS_1