Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab. 75. Bahagia


__ADS_3

(POV) Juita


Sudah beberapa bulan ini aku bekerja sebagai karyawan pabrik ibu Fira. Kalau ngomongin penghasilan sih gajiku standar aja sama seperti karyawan lainnya. Tapi yang membuatku heran sekaligus senang, hatiku selalu merasa damai dan nyaman. Tidak ada pandangan sinis dari teman-temanku, tidak seperti waktu aku masih dikampung dan kerap menggoda suami orang. Aku sering dicemooh dan diaggap perempuan hina. Itu juga yang membuatku yakin akan memasuki dunia hitam. Karena di duniaku saat itu pun aku tidak pernah dihargai.


Kriiiing.....


Kriiing


Aku mengambil hand phone didalam tas. Kulihat waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Siapa gerangan yang menelponku malam-malam begini. Setelah aku berhasil mengeluarkan hand phone kulihat dilayar hand phone ku tertera nomor mas Edi yang menelponku.


"Assallamualaiku mas, Edi, apa kabar? " sapaku pada mas Edi diseberang sana.


"Wa allaikum sallam dek Santi, kabar mas baik-baik saja. Mas cuma mau nanya, apa dipabrik tempatmu bekerja ada lowongan, kalau ada tolong kabari ya, karena aku ingin sekali bekerja di kota, supaya mendapat pengalaman baru" ucap mas Edi sambil terkekeh," tumben mas Edi ingin cari kerja dikota. Akhir-akhir ini mas Edi memang sering menelponku, walau hanya sekedar berbasa-basi menanyakan kabar.


Setiap kali mas Edi menelpon, saat itu pula ada getar bahagia yang menelusup relung hatiku. Namun aku mencoba membuang jauh-jauh perasaan itu. Rasanya mas Edi terlalu baik jika harus bersanding denganku


"Iya mas, untuk sementara belum ada, nanti kalau ada saya kabari. Apa mas Edi hanya berminat bekerja di pabrik saja, siapa tahu ada lowangan lain," ucapku pada mas Edi.

__ADS_1


"Oh yang lain bisa juga, aku bisa jadi supir atau bekerja dibengkel kendaraan roda empat," ujar mas Edi. Setelah mengobrol ringan sebentar kami pun mengakhiri sambungan telpon. Entah mengapa mendengar mas Edi ada niatan ingin bekerja dikota, hatiku merasa bahagia. Tapi aku tidak boleh berharap lebih, mungkin mas Edi hanya berniat merubah nasib, karena melihat aku selalu damai-damai saja disini.


Keesokkan harinya, ternyata dipabrik akan ada kunjungan dari sang empunya pabrik yaitu bapak Langit Perkasa. Kami pun semua karyawan segera bahu membahu mempersiapkan kedatangan beliau. Semua lantai dan peralatan pabrik dicuci bersih, semua dinding juga dibersihkan. Sementara dibagian administrasi semua sibuk menyiapkan data siapa tahu nanti diperlukan. Begitu juga bagian perdonalia dan devisi-devisi lainnya, semua sibuk menyiapkan kedatangan big bos beserta anak buahnya.


Sekitar jam sebelas, rombongan pak langit pun telah datang. Beliau disambut oleh beberapa petinggi pabrik dan karyawan bagian resepsionis. Kami semua karyawanpun ikut menyambut beliau, namun sambil menjalankan pekerjaan kami masing-masing.


Aku tidak menyangka, ternyata ada bu Fira dalam rombongan pak Langit Perkasa. Aku baru ingat kalau pak Langit Perkasa adalah orang tua kandung ibu Fira.


"Juita, bagaimana kabarmu, kamu kerasan kerja disini," ucap bu Fira seraya tersenyum dan memelukku. Sungguh aku sangat bangga mendapat pelukan dari putri kandung orang terkenal seperti pak Langit Perkasa. Tapi jika ingat perbuatanku yang ingin merebut pak Galih suami bu Fira, aku sangat malu dan hina sekali. Syukurlah Tuhan segera memberikan hidayah kepadaku hingga aku sadar kalau perbuatanku salah besar. Sejak aku tidak lagi berambisi mempunyai pendamping hidup orang kaya, rasanya hatiku ini begitu damai, tak ada iri, dengki dan benci kepada siapapun. Semua orang disekitarku begitu perhatian.


"Sudah jangan menangis, saya senang kamu menjadi orang baik sekarang. Oh iya bagaimana kabar Santi, apa kalian masih sering berhubungan," tanya bu Fira.


" Sejak saya menyadari kasalahan saya saya langsung memblokir nomor Santi, karena saya tidak mau menerima kemarahan Santi sebab saya telah gagal menjalankan misi kami. Lagian sedikit banyak saya sering berbuat buruk dan hina karena pengaruh dari Santi. Jadi mulai sekarang saya hanya akan berteman dengan orang yang sepemahaman dengan saya. Sedang Santi tak lagi sepaham dengan saya. Tapi yang jelas saya takut terpengaruh lagi bu he....he..."


"Syukurlah kalau begitu, kalau perlu sesuatu, kamu bisa bilang sama aku, siapa tau aku bisa bantu, sekarang kita berteman yah," sambung bu Fira. Aku pun mencoba mencari tahu lowongan pekerjaan untuk laki-laki kepada bu Fira, siapa tahu dikantor bu Fira, atau restoran pak Galih atau bahkan temannya bu Fira atau pak Galih ada yang mau nambah karyawan.


"Kebetulan sekali mas Galih sedang butuh supir satu lagi untuk restoran, apa temen kamu bisa nyetir mobil?" tanya bu Fira. Aku sangat bahagia karena akhirnya mas Edi mendapatkan pekerjaan dikota. Nanti sore setelah pulang kerja aku akan menghubungi mas Edi untuk mengirimkan berkas lamaran ke alamat bu Fira, sesuai saran bu Fira.

__ADS_1


Hari telah menunjukan jam lima tepat, para karyawan segera bersiap-siap untuk segera pulang, begitupun aku. Dengan membawa tas slempang aku melangkah meninggalkan pabrik. Jarak antara kontrakan dan baprik tempatku bekerja hanya berjarak sekitar dua ratus meter. Jadi aku selalu pulang dengan berjalan kaki. Lagian aku belum membawa motorku, mungkin tepatnya tidak ingin membawa motor karena disini tidak terlalu penting, kalau pas kebetulan ingin jalan, aku bisa naik angkutan umum.


"Juita tunggu," Rima temanku satu Shif datang menghampiriku, kebetulan kami pun tetangga di kontrakan. Sepertinya dari tadi dia ingin bertanya tentang kedekatanku dengan bu Fira. Saat jalan berdua dia kembali meminta penjelasan mengapa aku begitu dekat dengan bu Fira, anak seorang owner pabrik tempat kami bekerja. Aku hanya menjelaskan kalau bu Fira adalah teman kakakku, dia sudah menganggap aku seperti adiknya sendiri.


"Aku sudah mengira kalau kamu bukanlah keluarhga bu Fira, soalnya kalau dilihat dari penampilan kalian beda banget," aku hanya tersenyum menaggapi ucapan Rima.


Setelah beberapa saat kemudian, akupun membuka pintu kontrakan. Kuhempaskan tubuhku di atas pembaringan, rasanya hari ini banyak sekali pekerjaan yang menguras energi, tapi aku tetap semangat.


Setelah mandi aku mengecek hand phoneku. Ada dua panggilan tak terjawab, setelah aku lihat ternyata dari mas Edi. Langsung saja aku berbaring mencari posisi senyaman mungkin dan menelpon mas Edi. Setelah bebarapa saat akhirnya mas Edi mengangkat teleponku.


" Assallamuallaikum Juita, apa kabar rasanya sudah lama aku tidak menelponmu," ucap mas Edi diseberang sana.


"Wa allaikum sallam mas, bukannya baru kemarin malam ya, mas Edi telpon aku. Mas aku telepon mas Edi kerena ingin ngasih tau mas kalau ada lowongan supir untuk restoran pak Galih suaminya bu Fira," dengan penuh semangat aku memberitahu kabar bahagia ini.


"Alhamdullilah kalau ada pekerjaan disana, aku akan segera datang kerumah pak Galih untuk melamar jadi supir. Tolong kamu share alamat beliau. Terimakasih ya Juita atas kesediaanmu telah memberitahu kalau ada lowongan. Setelah sekitar setengah jam mas Edi nengajakku ngobrol akhirnya kami mengakhiri panggilan jarak jauh kami karena aku sudah beberapa kali menguap.


**********

__ADS_1


__ADS_2