
(POV) Edi
Hari ini aku sangat bahagia karena aku telah berhasil membawa Juita ke hadapan ke dua orang tuaku. Telah lama ayah dan ibu menginginkan aku menikah. Mereka sangat ingin menimang cucu dariku. Sebenarnya ayah dan ibuku sudah mempunyai lima orang cucu dari kakak dan adik perempuanku yang telah menikah dan mengikuti suami bekerja jauh di propinsi tetangga. Kakak dan adikku hanya bisa pulang setahun sekali, itulah sebabnya mereka jarang sekali bisa ketemu cucu. Hanya dari anak-anakkulah ayah dan ibu berharap bisa hidup berdampingan dengan cucunya kelak.
Sudah beberapa kali ibu memjodohkan aku dengan gadis tetangga, namun tak ada satu pun dari mereka yang menarik perhatianku. Bukan mereka tidak cantik, namun karena hatiku telah terisi satu nama yaitu Juita. Terkadang aku merasa bodoh dan benci akan perasaanku ini. Mengapa aku harus mencintai gadis seperti Juita. Kalau dilihat wajah dan poster tubuh, Juita adalah tipe wanita yang banyak disukai para lelaki. Tapi bila melihat bagaimana pribadinya dia sama sekali tidak pantas dijadikan istri, siapa sih yang mau punya istri yang kerjaannya menggoda suami orang. Banyak sudah yang menjadi korban Juita, namun tak satupun lelaki itu berhasil menikahi Juita dan menurut cerita para lelaki, Juita selalu menolak untuk disentuh sebelum menikah, namun lelaki itu selalu mundur teratur saat dimintai mahar pernikahan yang begitu fantastis, Juita juga selalu meminta rumah mewah, mobil mewah dan sejumlah uang yang Jumlahnya tidak sedikit.
Jika melihat dari situ, Juita termasuk wanita yang bisa menjaga kesuciannya. Dia bukanlah wanita murahan yang mau saja disentuh oleh sembarang lelaki. Walau penanpilannya terlihat seronok dan tidak pantas. Ternyata ada sisi istimewa dibalik seorang Juita.
Ayah dan ibu tak bosan-bosannya menasehatiku, agar aku melupakan perempuan seperti Juita. Karena diluar sana masih banyak wanita yang lebih cantik dan pribadinya lebih baik daripada Juita. Tapi lagi-lagi hatiku seperti tak mampu melihat keistimewaan wanita lain. Hanya Juita dan Juita yang terus terlantum dalam setiap doa doa-doaku.
Suatu hari Juita menelponku kalau dia telah bekerja dikota. Dia memang lumayan akrab denganku dan sering kali minta tolong bila mendapatkan kesulitan dan dia juga selalu terbuka setiap ada masalah yang menimpa dirinya. Beberapa kali aku mengantarkan ke rumahnya dan berkenalan dengan ibunya yang terlihat lebih tua dari usia sebenarnya.
Saat dikota Juita menelpon menceritakan pengalamannya selama bekerja dikota hingga dia mengatakan telah menyadari jika apa yang selama ini dia lakukan adalah suatu kesalahan. Dia ingin sekali memperbaiki diri menjadi wanita yang lebih baik. Aku pun sangat mendukung Juita untuk bermetamorfosa dari perempuan yang nakal menjadi wanita Soleha. Kini penampilan dia sudah sangat berubah, baju kekurangan bahan yang selalu membalut tubuhnya yang seksi kini entah dibuang kemana. Sekarang dia selalu memakai baju longgar yang tidak memperlihatkan lekuk tubuhnya. Bagi lelaki hidung belang mungkin sekarang Juita tak seksi lagi, namun bagiku dia justru terlihat semakin mempesona.
__ADS_1
Akupun selalu menceritakan perubahan Juita pada kedua orang tuaku. Namun mereka tidak serta merta langsung percaya. Orang tuaku ingin aku menyelidiki dan mengenal Juita lebih dekat lagi agar tahu bagaimana Juita yang sebenarnya.
Hari ini akhirnya aku berhasil membawa Juita kerumah, agar kedua orang tuaku bisa menilai bagaimana watak dan perilaku Juita sebenarnya.
Saat aku akan mengantar Juita kerumahnya ibu mengajak Juita berbicara empat mata saja di dapur. Setelah mereka keluar bersama-sama dan menemuiku yang tengah menunggu Juita, ibu diam-diam mengacungkan jempolnya padaku dan berbisik kalau beliau menyetujui hubunganku dengan Juita.
Sekarang emak Juita pun menanyakan tentang bagaimana perasaanku pada Putrinya.
"Maaf ya mas, tempatnya seperti ini, kurang terawat mungkin karena emak, sedang tidak enak badan. Aku tinggal kebelakang dulu ya," Juita melangkah meninggalkan aku dan emak menuju kedapur, mungkin dia ingin membuatkan kami minum.
"Maaf ya nak Edi kalau pertanyaan emak tadi terlalu lancang, mungkin emak terlalu berharap punya menantu lelaki baik-baik seperti kamu, emak tidak sadar diri, seperti apa kelakuan anak emak, "ucap emak sambil berlinang air mata.
"Tidak apa-apa, itu hal yang wajar, semua orang tua pasti menginginkan anak-anaknya mendapatkan jodoh yang baik," ucapku. Juita datang dengan membawa tiga buah cangkir teh hangat dan beberapa camilan yang tadi sempat kami beli dijalan. dia mempersilakan kami untuk minum. Akupun mengambil satu cangkir meniupnya perlahan dan menyeruputnya sedikit demi sedikit.
__ADS_1
"Begini Juita, ada yang ingin aku sampaikan sama kamu, sengaja ini aku ucapkan di hadapan emak sebagai bukti kalau aku serius dan tidak akan pernah main-main. Juita sebenarnya sudah sejak dulu aku jatuh hati sama kamu, tapi dulu aku tidak berani mengungkapkanya karena kamu terlalu berambisi bersuamikan lelaki kaya. tapi saat ini sepertinya kamu sudah berubah, kamu menginginkan lelaki yang baik menjadi pendampingmu. Aku memang bukanlah lelaki yang biak, aku lelaki biasa saja, tidak istimewa apalagi kaya, tapi aku akan selalu berusaha menjadi lelaki baik agar aku layak menjadi suamimu," ucapku seraya tertunduk, suasana terasa hening, perlahan kupandang wajah Juita, butiran bening mengalirkan melalui kedua pipi Juita yang putih bersih.
"Mas Edi bi... bicara serius, Aku tidak salah dengarkan mas, " ucap Juita terbata-bata.
"Tentu saja tidak, apa kamu bersedia menerima cintaku dan bersedia menjadi istriku serta menjadi ibu dari anak-anakku," ucapku sedikit grogi.Gimana tidak grogi, ini adalah pertama kali aku mengungkapkan perasaanku pada wanita yang selama ini ada di dalam hatiku, tanpa rencana dan tanpa latihan.
"Tentu saja aku bersedia mas, aku bahagia sekali akhirnya ada lelaki baik-baik yang menginginkan aku jadi pendamping hidupku. mak....mas Edi ternyata mencintaiku mak, aku ingin sekali menjadi istri dan ibu yang baik untuk anak-anakku nanti," Juita menangis sambil memeluk emak, begitu juga emakpun membalas pelukan Juita sembari menitikkan air mata.
"Terima kasih Juita karena kau telah menerima cintaku dan bersedia menjadi pendampingku. Aku bahagia sekali, sudah lama aku menunggu hari bahagia hari dimana kamu menerima cintaku," Jawabku sangat terharu, aku pun tak terasa menitikkan air mata.
"Terima kasih nak Edi atas cinta yang kau berikan pada putriku ini. Emak berharap kalian selamanya bisa saling mencintai hingga sampai pelaminan dan menua bersama, menjalani hidup berumah tangga dengan penuh cinta. Sebagai orang tua emak hanya bisa mendoakan yang terbaik buat kalian berdua. Tapi bagaimana dengan kedua orang tuamu nak, apa mereka mau menerima Juita jadi menantunya," Ucap emak merasa khawatir. aku pun menjelaskan kepada emak, kalau aku, sudah meminta restu kedua orang tuaku. Dan mereka menerima Juita jadi pendampingku, bagi orang tuaku siapapun pendamping akan direstui, asalkan kami sudah saling mencintai. Emak pun merasa bahagia mendengar pengakuanku. Sore itu juga aku pulang ke kota membawa sepeda motor. Dan Juita pulang ke kota bersama emak menggunakan angkutan umum.
**********
__ADS_1