
(POV) Fira
Aku sangat bahagia akhirnya aku bisa membina rumah tangga kembali bersama lelaki yang aku cintai. Kali ini mama sangat peduli dengan kebahagiaanku. banyak sekali nasehat yang mama berikan kepadaku sejak masih dirumah hingga sampai aku resmi menjadi istri mas Galih. Semua nasihat yang diberikan tidak jauh dari seputar keharmonisan rumah tangga, terutama rutinitas suami istri di tempat tidur. Andai mas Galih mendengar semua nasihat mama kepadaku, mungkin aku akan sangat malu sekali.
Saat semua tamu telah pergi, aku merasa gugup sekali, terbayang sudah kegiatan yang mendebarkan yang akan kami lalui. Kutatap wajah tampan suamiku, kegiatan panas diatas ranjangpun langsung terbayang. Betapa nikmatnya meraba dadanya yang bidang, bibirnya itu,sepertinya lezat sekali. Belum apa-apa rasanya sudah lemas begini. Mas Galih mendekatiku, memelukku dari belakang, tangannya meraba area sensitifku, oooh aduuuh nikmaaat. Hampir saja aku mendesah, aku segera masuk kekamar mandi untuk menetralisir perasaanku. Lebih baik aku pamit mandi agar badan terasa lebih segar.
Aku segera membersihkan seluruh tubuhku didalam kamar mandi. Saat aku keluar kamar mandi kulihat mas Galih tak ada didalam kamarnya. Aku segera mengenakan pakaian sembari mengeringkan rambutku.
Kreet.. .
Aku terkejut saat tiba-tiba pintu kamar terbuka. Mas Galih muncul hanya mengenakan handuk sebatas pinggang. Rupanya dia habis mandi dikamar mandi yang lain. Baru kali ini aku masuk kedalam rumah mas Galih, aku belum tahu seluk beluk ruangan dirumah ini. Sejak datang aku baru melangkah antara ruang tamu, kamar mandi, kamar tidur dan ruang makan.
"Kira-kira seperti apa ya dapurnya si jomblo, "batinku seraya tersenyum - senyum sendiri.
"Apa kamu sudah siap," mas Galih berbisik ditelingaku. Aku mengarahkan pandanganku kearah dadanya yang bidang, turun kebawah kulihat perutnya kotak-kotak seperti roti sobek. Seketika aku langsung menengguk salivaku yang hampir saja menetes.
__ADS_1
"Aku tahu kamu sudah tidak tahan lagi, tapi kamu malu untuk memulai, ayolah....tidak perlu malu untuk memulai, kita sudah halal, apa yang kita akan lakukan bernilai ibadah," bisik mas Gilang sembari mengangkat tubuhku dan membaringkan di atas ranjang. Aku hanya pasrah dan menurut apa pun yang dilakukan. Sebagai seorang laki-laki yang belum pernah menikah, menurutku mas Galih cukup piaway dalam menjalankan aktivitas suami istri sebelum tidur, walaupun belum begitu profesional, tapi disitulah letak keindahannya. Beberapa kali aku menuntunnya agar apa yang dilakukan semakin terasa indah.
sekitar satu jam sudah kami melakukan aktifitas baru di atas pembaringan, kurasakan gerakan mas Galih semakin terasa menyenangkan. tidak ada lagi keragu-raguan seperti permulaan tadi.
"Terimakasih ya atas keindahan yang kamu berikan hari ini. Akhirnya aku merasakan juga manisnya madu pernikahan yang selalu membuat penasaran seseorang yang belum pernah menikah," Sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh polos kami yang masih bermandikan peluh.
"Apa mas Galih bahagia hari ini," tanyaku sambil bergeser dan mendekatkan tubuhku lalu membelai perutnya yang seperti roti sobek yang membuat aku harus meneguk saliva. Mas Galih memejamkan mata saat aku membelai perut hingga dadanya.
"Tentu saja aku sangat bahagia sayang. Baru kali ini aku merasakan keindahan yang tiada tara. Pantas saja orang rela mengorbankan waktu uang demi hanya bisa melakukan kegiatan seperti ini," ucap mas Galih sambil memelukku kembali kemudian mencium keningku.
"Tentu saja tidak, ada banyak alasan yang membuatku berkeinginan untuk menikahimu dan memilikimu seutuhnya. yang pertama karena aku jatuh cinta padamu. Alasan selanjutnya karena aku yakin kamu wanita baik yang akan menjadi ibu terbaik bagi anak-anakku kelak. kamu tahu, hanya saat bertemu denganmulah hatiku begitu bergetar, hansrat ingin memilikimu begitu kuat hingga mengalahkan rasa ego dan rasa malu pada diriku.
Selama ini aku begitu dingin, semenjak jalinan cintaku kandas sebelum dimulai aku sudah tidak punya keinginan untuk mengejar wanita. Bagiku wanita bukanlah sosok yang pantas dikejar, karena hanya buang-buang waktu dan biaya. Bagiku mengejar wanita sama saja mengulang kebodohanku dimasa silam. Tapi saat pertama bertemu denganmu, semuanya berubah. Hari-hariku, disela-sela aktifitasku, hanya namamu yang ada dalam fikiranku, hanya wajahmu yang selalu terbayang dalam pelupuk mataku. Hatiku resah gelisah ingin sekali mencarimu, menanyakan pada siapa saja yang aku temui tentang keberadaamu, " mas Galih terdiam, tangannya membelai rambutku.
"Benarkan sampai segitunya arti kehadiranmu untukmu?," aku semakin penasaran seberapa besar cintanya padaku.
__ADS_1
"Ya, tentu saja, andai kehadiranmu mempunyai arti yang sama seperti perempuan lainnya,mungkin aku sudah menikah dari dulu. Kamu sangat berbeda dengan perempuan lain yang pernah aku temukan disepanjang perjalanan hidupku.
"Apakah dihatimu aku seistimewa Zahra waktu itu, " hatiku semakin penasaran ingin tahu bagaimana isi hati mas Galih.
"Bagiku kamu jauh lebih istimewa, Zahra wanita pertama yang membuatku mengenal cinta, tapi kamu adalah tujuan terakhir bagiku. Kamu adalah tempat kemana aku harus pulang setelah aku menjalankan kewajiban seorang laki-laki yaitu mencari nafkah. Tolong jangan pernah tinggalkan aku, jangan pernah hianati cintaku. Karena aku tidak tahu bagaimana hancurnya hatiku jika harus menjalani hari-hari tanpa diri dan cintamu. Dari tadi aku terus yang diinterogasi. Boleh aku tanya banyak hal tentangmu agar aku lebih mengenalmu, hatimu dan tubuhmu," mas Galih tersenyum, tangannya kembali meraba bagian tubuhku yang sekarang sudah menjadi pavoritnya. Aku pun memejamkan mata menikmati dan menerima setiap sentuhannya.
"Sayang, apa yang membuatmu mau menerima cintaku. Lebih istimewa mana dihatimu, aku atau mantan suamimu," ucap suamiku, tangannya masih tetap berada diposisi seperti tadi.
"Bagiku mas Galih sangat istimewa. Kalau dibanding dengan mantan, sulit rasanya untuk menceritakan karena aku sudah lupa bagaimana perasaanku dulu pada mantan suami. Apa yang sudah dia lakukan telah menghapus semua rasa yang pernah ada. bahkan terkadang aku tidak percaya kalau aku pernah jatuh cinta padanya. Aku selalu menanamkan dalam fikiranku kalau mas Galih adalah laki-laki yang pertama aku cintai, aku tidak pernah membayangkan laki-laki lain, walau laki-laki yang pernah hadir dimasa silam sekalipun. Bagiku mas Galih adalah dewa penolong yang telah hadir ditengah keterpurukan hidupku. Disaat aku merasa dititik terendah, disaat hatiku hancur karena cinta. Mas Galih adalah obat dari segala rasa sakitku. Saat pertama netraku bertatapan denganmu seketika itu pula, semua rasa sakit, pedih dan perih yang sekian lama menggerogoti tubuhku hilang tak berbekas.
"Terimakasih ya sayang, karena kamu telah menganggap aku sedemikian berharganya bagimu. Aku akan selalu menjaga rasa ini. Rasa cinta yang suci dan hanya kepersembahkan untuk orang teristimewaku, aku tidak akan menghianati dan menodai sucinya jalinan cinta ini. semoga rumah tangga kita senantiasa diberkahi, semoga kita mendapatkan kebahagiaan walau dengan cara sangat sederhana. Yang penting kita nikmati dan syukuri kebersamaan kita.
Kami segera menarik selimut saling memeluk seolah takut terpisahkan, kami mulai memejamkan mata menikmati udara dingin disiang ini karena diluar sedang turun hujan.
*****
__ADS_1