Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab 83. Ingin Berubah


__ADS_3

(POV) Santi


Akhir-akhir ini hatiku terasa hampa, setelah berkali-kali rencanaku gagal. Selama ini aku seperti tidak perduli dengan perasaan orang lain. Tapi kini aku sering kali merasa bersalah setiap ingat pada orang-orang yang pernah aku sakiti. Tapi disisi lain aku juga iri pada orang-orang yang nasibnya begitu beruntung seperti Fira, berulang kali aku menghancurkan kebahagiaannya namun dia selalu bangkit dan nasibnya justru semakin mujur setelah hancur. Dulu waktu hubungannya putus dengan Dion, dia mendapatkan Dewanta, putus dengan Dewanta eh... malah menikah sama Dion. Padahal aku dengan susah payah dan penuh pengorbanan mengejar cinta Dion, tiba-tiba dia hadir menikah dengan Dion. Setelah aku berhasil merebut Dion dari dia. la.. kok..malah Dionnya yang menghempaskan aku dan itu juga gara-gara Fira. Hingga kini Fira menikah dengan Galih dan tadi aku dengar dari bude Marni kalau Fira hamil, semakin sempurnalah kehidupan Fira.


Pedih rasanya kalau melihat kehidupan Fira yang semakin lama semakin bahagia sementara aku semakin menderita saja. Apa benar semua itu adalah karma dari perbuatan yang telah aku lakukan, apa benar nasib buruk yang terjadi padaku adalah doa dari orang-orang yang pernah aku sakiti dikabulkan Allah.


Mungkin jika aku berhenti menjadi orang ketiga dalam rumah tangga orang lain dan berhenti merayu laki-laki hidung belang hidupku akan berubah lebih baik. Sepertinya aku harus mencobanya. Kudengar Juita yang baru saja insaf saja sekarang hidupnya lebih tenang dan nyaman. Bahkan sebentar lagi dia akan menikah, walau hanya dengan Edi lelaki biasa yang tidak punya banyak uang.


Juita sepertinya sangat mencintai calon suaminya yang miskin itu. Mungkin cinta telah membuatnya buta.


"Santi kalau lagi masak jangan melamun liat tuh ikannya hampir gosong, " teriak ibu sambil membalik ikan yang sedang aku goreng. untung ibu datang, kalau tidak mungkin ikan yang sedang aku goreng tidak bisa di makan. Saat aku sedang masak di bantu oleh ibu, ayah datang menghampiriku.


"Santi itu di depan ada temanmu Meri, sana temui dia, biar ibumu yang neruskan masak," titah ayah padaku. Aku segera membuat dua cangkir teh dan membawanya keruang tamu.


"Hai Meri gimana nih kabarmu," sapa Santi kepada sahabat masa kecilnya sembari menghidangkan dua cangkir teh bersama beberapa camilan.

__ADS_1


"Kabarku ya beginilah, masih jadi janda belum laku he... he.... "seloroh Meri.


"Kamu ini kaya aku sudah laku aja. Aku ini berulang kali mendekati cowok tajir tapi selalu gagal dan gagal lagi," jawab Santi tangannya menepuk paha Meri yang hanya memakai rok mini.


"Kamu yang mendekati gagal itu wajar, la aku yang didekati cowok aja bisa gagal, padahal nih yah.... dia itu bukan lah cowok idamanku seperti mantan suamiku dulu. dia itu cowok miskin mempunyai dua anak, kerjanya dodos sawit, aku terima dia apa adanya. Dan aku juga sudah berhasil membuat dia cerai dari istrinya. Eh....giliran aku minta dia menikahi aku, dianya menolak dengan alasan tidak sudi menikahi wanita perusak rumah tangga orang dan dia bilang masih sangat mencintai mantan istrinya. Kesel banget aku rasanya. Mana setelah bercerai kehidupan istrinya makin makmur, padahal dia tidak bekerja, tapi bisa beli motor baru, renovasi rumah, bajunya dia dan anaknya bagus-bagus dan mahal, sudah gitu mukanya tambah glowing," dengan penuh rasa kesal Meri menceritakan pengalaman hidupnya kepadaku.


"Berarti kisah hidupmu hampir mirip dengan kisahku. Semua orang yang pernah aku rusak rumah tangganya sekarang hidupnya lebih bahagia. Terkadang aku berfikir ingin mengakhiri petualanganku mendapatkan pria kaya. Rasanya aku sudah bosan harus mengalami kegagalan terus-menerus. Keluargaku juga menginginkan aku insaf jangan lagi menyakiti hati orang lain. Karena doa orang yang kita sakiti biasanya dikabulkan Allah, begitu kata ibuku. Aku sedang berusaha menjadi wanita baik-baik, agar kehidupanku menjadi lebih baik dan berkah, mendapatkan rezeki dengan jalan yang benar dan tidak mempunyai banyak masalah seperti saat ini," ujarku pada Meri seraya menyeruput teh buatanku yang hampir dingin. Akupun kembali mengingatkan agar Meri meminum tehnya.


Seperti Meri tertarik dengan jalan sedang akan aku lalui. Diapun sudah bosan karena hidupnya selalu dinistakan orang, dianggap sebagai sampah dimasyarakat. Para istri yang mempunyai suami jelalatan sering memandang sinis kepadanya. Yang membuatnya lebih sakit hati, putra semata wayangnya sering berkelahi disekolah lantaran dibuli oleh temannya dengan diejek sebagai anak seorang pelakor dan wanita murahan.


"Ya kalau dia dalam kondisi lajang sikat aja. Yang penting tidak ada yang tersakiti, begitu menurutku. Memang ada laki-laki kaya yang mau sama kamu? aku sih enggak percaya, yang ada kamu yang mengejar-ngejar dia.


"Saat ini belum ada sih, tapi siapa tau suatu saat ada, kalau kita sudah menjadi wanita baik-baik siapa tahu kan banyak yang tertarik," ucap Meri sambil terkekeh. Kami terus berbincang ringan, saling menceritakan pengalaman hidup yang begitu pahit dan rencana-rencana kami selanjutnya hingga hari menjelang siang. Karena waktunya menjemput anak sekolah Meri pamit untuk menjemput putranya. Aku juga segera menjemput Kiran disekolah.


"Tumben mama yang jemput Kiran, biasanya kakek yang jemput Kiran" ucap Kiran sambil naik keatas kendaraanku.

__ADS_1


"Hari ini mama lagi enggak sibuk, enggak ada kerjaan jadi bisa jemput kamu," ucapku pada putriku.


"Aku senang mama enggak kerja, jadi bisa jemput Kiran, tapi bagaimana kita memenuhi kebutuhan kita ma!!, Kiran kan lagi pengin beli baju baru seperti punya teman Kiran sekelas. Mana sekarang papa enggak pernah kasih duit kita lagi, " ucap Kiran Sedih.


"Sudahlah enggak usah ingat-ingat papa lagi, dia sudah bahagia sama tante Yunian, kita jalani saja hidup kita dengan baik. Toh kamu masih punya kakek dan nenek yang sering memberimu uang jajan," aku berusaha menghibur Kiran yang selalu menanyakan tentang papanya yang tidak pernah menemuinya pasca kami bercerai.


Mas Dion memang keterlaluan, dia sudah tidak perduli lagi pada putrinya mentang-mentang sekarang sudah punya istri lagi dan juga seorang anak laki-laki yang bisa meneruskan bisnis keluarganya. Aku terus melajukan kendaraanku yang bunyinya terdengar kasar pertanda minta dibawa kebengkel. Namun sayang aku belum bisa membawanya karena belum mempunyai uang untuk itu.


Tak terasa kini aku telah sampai memasuki halaman rumahku.


"Mama ada tamu, mobilnya bagus sekali, kira-kira siapa yah... Mungkin teman mama, semoga saja dia bawa oleh-oleh buat Kiran," ucap Kiran sembari menunjuk ke arah mobil mewah yang terparkir dihalaman rumahku.


Aku segera melangkah memasuki pintu menuju ruang tamu. Aku sangat terkejut melihat siapa tamu yang datang kerumah kami. Kiranpun segera berlari memeluk salah satu tamu yang sedang berbincang dengan ayah dan ibuku dengan begitu akrab.


**********

__ADS_1


__ADS_2