
(POV) Dewanta
Hari ini aku dan Zahra pergi kedokter untuk melakukan pemeriksaan kandungan Zahra yang selalu kami lakukan rutin setiap satu bulan sekali. Aku sangat shock saat dokter menjelaskan kalau kepala bayi belum masuk kejalan lahir yang artinya bahwa bayi tersebut sungsang. Menurut dokter dengan kondisi bayi sungsang akan sangat beresiko jika harus melahirkan secara normal. Dokter menyarankan agar Zahra melahirkan dengan operasi Caesar.
Mendengar kata operasi rasanya aku sangat takut seandainya terjadi kegagalan atau kesalahan tim dokter hingga menyebabkan istriku meninggal. Rasanya aku tidak sanggup jika harus berpisah dengan orang yang sangat aku cintai.
Sepulang dari dokter Zahra pamit mau ke desa Padang Gatah, katanya kangen sama abah dan namanya. sementara dirumah aku terus merenung memikirkan kondisi Zahra. Namun Aku lihat tadi sepertinya Zahra Tenang-tenang saja, tak ada resah tak ada yang gelisah. Dia sepertinya sudah siap dengan resiko yang akan dia hadapi. Sebegitu siapkah dia sudah berpisah denganku dan Zahwa.
Usai pulang mengaji Zahwa menanyakan dimana uminya. Langsung saja aku ajak dia menemui uminya didesa Padang Getah rasanya aku kangen sekali dengan Zahra walaupun baru sekitar setengah jam dia meninggalkan rumah menuju rumah mertuaku, lagi-lagi aku terkejut melihat banyak tamu disana. Diantara tamu-tamu itu ternyata ada Fira dan kedua orangtuanya.
Melihatku mama Fira sontak memarahiku didepan semua orang dia mengungkit keputusanku yang memutuskan hubungan dengan Fira. Beliau juga mengungkit janjiku bahwa aku akan selalu setia kepada Fira.
"Apakah kandungan Zahra bermasalah karena karma dari dosa-dosaku yang telah menyakiti Fira dan keluarganya. Tanpa fikir panjang aku langsung memohon maaf dan ampun kepada mama Fira.
berkat nasihat dari beberapa orang yang menurutku mereka sangat bijaksana dan tidak menyalahkanku serta mengangap semua itu adalah takdir dari yang kuasa akhirnya mama Fira memaafkanku.
Namun kenyataan bahwa Zahra akan menjalani operasi caesar masih mengganjal dihatiku, hingga saat tamu telah pergi aku memilih menyendiri dikolam abah yang ada dibelakang rumah. Disana aku meratap dan menangis.
Abah memergoki aku yang tengah bersedih, lalu akupun menceritakan tentang kekhawatiranku tentang Zahra. Menurut abah operasi caesar tidaklah semengerikan bayanganku. Aku merasa lumayan lega setelah menumpahkan segala beban dihati kepada abah. Tapi Zahra justru berprasangka lain terhadapku.
__ADS_1
Melihat mataku sembab karena menangisinya, dia mengira aku menangisi pernikahan Fira dan menyesal telah memutuskan hubungan dengannya. Aku sudah menjelaskan bahwa prasangkanya tidaklah benar, tapi dia sama sekali tidak percaya. Aku bingung harus bagaimana lagi menjelaskan pada wanita tercintaku.
"Mama, kak Dewanta habis menangisi pernikahan Fira ma, dia masih mencintai Fira, terus Zahra selama ini dianggap apa ma, " ucap Zahra mengadu kepada mamanya dengan suara parau.
"Betul apa yang dikatakan Zahra itu Dewanta, " tanya mama mertua dengan muka tegas dan sorot mata tajam seolah-olah ingin menelanku hidup-hidup.
"Tidak ma, aku menangis justru takut terjadi sesuatu sama Zahra karena dokter memfonis Zahra melahirkan dengan cara caesar, "ucapku yang sudah tidak sanggup lagi menahan air mata.
"Benar itu abah," tanya mama pada abah dengan pandangan menyelidik.
"Benar, dari tadi aku menemani Dewanta," abah menceritakan apa yang terjadi sebenarnya, tentang bagaimana perasaanku saat ini dan betapa aku sangat bersyukur mempunyai menantu Dewanta. Zahra kamu tidak boleh berprasangka buruk pada suamimu, perasaanmu terlalu sensitif mungkin itu bawaan bayi," ucap abah mertua yang terus membelaku.
"Sayang kamu harus percaya sama aku. Aku sangat mencintaimu, aku sangat takut kehilanganmu, aku tidak pernah menyimpan nama perempuan lain dihatiku selain kamu dan Zahwa. Kamu harus percaya padaku, agar rumah tangga kita tetap harmonis," ucapku sambil membersihkan air mata Zahra yang mengalir dikedua pipinya yang mulus.
"Zahwa kamu tidur ya nak, abi dan umi baik-baik saja, iya kan Umi? " ucapku pada Zahwa yang belum begitu paham tentang apa yang terjadi dan Zahra pun tersenyum lalu membelai rambut Zahwa dan mencium pucuk kepalanya.
"Iya abi, umi, Zahwa tidur dulu, umi jangan nangis ya, abi tuh sayaaang banget sama umi," Zahwa mencium punggung tanganku, Zahra, abah dan mama secara bergantian. kemudian melangkah masuk kedalam kamarnya.
"Ayo mama kita masuk kekamar, abah juga mau romantis-romantisan kaya mereka. Mereka fikir cuma mereka aja yang bisa romantis," ujar abah sambil menggandeng tangan mama melangkah masuk kedalam kamar.
__ADS_1
"Ayo kita tidur, sudah malam, kasian dedek bayi di dalam perut nanti ikutan begadang,'" ucapku sembari membelai perut istriku yang terus bergerak hingga membentuk tonjolan-tonjolan dipermukaan perut. Sampai dikamar aku membantu Zahra mengganti bajunya dengan baju tidur yang longgar dan nyaman untuk tidur. Lalu kami berbaring bersama sambil saling berpegangan tangan.
"Zahra kamu masih percaya kan sama kakak, tolong jangan curiga lagi yah, aku tulus mencintaimu. Aku sudah tidak pernah memikirkan Fira bahkan sejak kita resmi menjadi suami istri. Fira juga sudah melupakanku. Kamu lihat sendiri kan waktu kita bertemu di wisata air panas, Fira dan Galih begitu mesra, sama seperti kita," ucapku pada Zahra sambil memeluknya dari belakang dan mencium rambutnya yang harum karena baru saja tadi sore dia keramas.
Pagi-pagi setelah sarapan aku, Zahra dan Zahwa pamit kepada abah dan mama aku pergi bekerja sedangkan Zahra mengantarkan Zahwa kesekolah lalu pergi mengajar di PAUD Buah Hati Bunda.
Sore harinya sepulang kerja aku langsung pulang kerumah ayah di desa Padang Sawit karena barusan Zahra memberi kabar kalau dia dan Zahwa ada dirumah ayah dan ibu.
Baru saja aku masuk kedalaman ruang tamu ibu langsung menyongsong kedatanganku, akupun langsung mencium tangan ibu sembari duduk dihadapannya.
"Zahra mana bu, kok enggak kelihatan," tanyaku pada ibu.
"Ada itu dikamar lagi istirahat sama Zahwa, biasalah orang hamil memang mudah lelah, makanya kamu harus lebih perhatian sama dia, buat dia selalu bahagia, jangan buat dia sedih, " ibu menasehatiku.
"Dewa, kata Zahra Fira mantan kamu mau menikah sama Galih anaknya pak Warjito dari desa mentereng. Galih itu yang dulu sempat melamar Zahra sampai tiga kali kan, tapi ditolak oleh abah Zahra karena dia sudah janji kepada kami akan menikahkan putrinya denganmu," ucap ibu.
"Iya bu,tadi mama dan papa Fira berkunjung kekolam abah untuk melihat budidaya belut sekalian beli belutnya juga. Terus mereka mengundang kita semua termasuk Ayah Dan ibu untuk hadir diacara resepsi perkawinan mereka yang berlokasi di Wisata Air Panas. Ibu ingat kan tempat itu, dulu kita pernah kesana," tanyaku pada ibu.
"Iya semoga mereka tidak lagi mengganggu rumah tangga kalian. Ibu jadi Khawatir kalau-kalau mereka bekerja sama untuk menghancurkan pernikahan kalian. Pokoknya dunia akhirat ibu tidak terima kalau mereka berniat macam-macam pada kalian," ucap ibu, aku pun bercerita kalau tadi kami sudah saling memaafkan dengan keluarga Fira. mama dan papa Fira menitipkan salam pada ayah dan ibu," ucapku.
__ADS_1
*************