Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab. 93. Tidak Jadi Besan.


__ADS_3

(POV) bu Marni.


"Saya Marni bu, dan ini suami saya namanya pak Warjito, kami berdua adalah mertua Fira, kedatangan kami kasini ingin mengundang ibu dan bapak berdua untuk hadir diacara syukuran tujuh bulanan kehamilan Fira yang akan yang akan kami gelar di desa Mentereng," ucapku.


"Oh....silakan masuk bu, pak." Wanita setengah baya yang supertinya bu Wajirah pun mempersilakan kami berdua untuk masuk.


"Ayaaaah......ayaaah.... ada tamu ini, mertuanya Fira dari desa Mentereng," bu Wajirah berteriak memanggil suaminya.


"Ada apa bu, teriak-teriak, kebiasaan ibu ini kalau ada apa-apa selalu saja teriak-teriak, enggak tau ayah lagi mules dikamar kecil," Seorang laki-laki seumuran suamiku berjalan mendekati kami sambil mengelus-elus perutnya.


"Mertuanya Fira yang didesa Mentereng, kalau tidak salah namanya pak Warjito, benarkan," sapa pak Sukarta sambil menyalami kami berdua. Bu Wajirah pun memberi tahu suaminya kalau kami mengundang mereka diacara syukuran tujuh bulanan kehamilan Fira minggu depan.


"Terima kasih, ternyata Fira masih mengingat kami. Dia sebenarnya anak baik, karena perbuatan saya memisahkan dia dengan Dewanta membuat dia hampir salah jalan dengan mengganggu rumah tangga Dewanta, tapi saya memaklumi, mungkin dia sedang merasa sakit hati dan sedang berada di titik terendah," ungkap pak Sukarta.


"Tapi kan tidak seharusnya dia berbuat begitu pak, kalau dia gagal memiliki Dewanta karena tidak mendapatkan restu kita, seharusnya dia sadar diri dan lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta serta koreksi dirinya kenapa kami tidak memberi restu. Kalau ingat kelakuan Fira rasanya aku marah sekali. Kasian Zahra yang harus menahan rasa sakit karena suaminya dikejar-kejar Fira. Untung sekarang dia sudah punya suami jadi tidak lagi mengejar-ngejar Dewanta anak kita," Seloroh bu Wajirah.

__ADS_1


"Oh... ya.. bu Marni kok mau sih punya menantu model begituan. Hati-hati lho bu, kalau suatu saat dia berselingkuh dengan laki-laki lain," Sambungnya. Ternyata wanita terhormat seperti ibu Wajirah pun masih mempunyai pemikiran sempit. Tapi ya sudahlah, tak perlu aku fikirkan. Aku lebih tahu bagaimana Fira sebenarnya karena aku lebih mengenal Fira dari pada bu Wajirah.


"Bu jangan seperti itu bu, sekarang kan Fira sudah insaf bahkan dia sudah beberapa kali minta maaf secara langsung sama kita. Kita kan juga enggak tahu bagai mana lika-liku hidup manusia. Kita yang sekarang mengggap diri kita baik bisa jadi dikemudian hari justru kitalah yang jahat, istiqfar bu," titah pak Sukarta.


"Iya betul itu pak Sukarta, masa depan kita itu misteri tidak ada yang bisa menebak, tapi mudah-mudahan kita dan keluarga kita semua senantiasa istiqomah dijalanNya. Walau kita tidak tahu takdir akan membawa kita kemana, kita tidak boleh merasa kalau kita baik, dia tidak dan kita kaya terus dia miskin. Karena orang yang sekarang kita anggap jahat bisa jadi suatu saat dia baik bahkan dia yang menolong kita disaat kita terpuruk dan orang yang sekarang kita anggap miskin karena kerja kerasnya dan karena kesabarannya mendapatkan hinaan dari kita, Allah lalu menjadikan dia kaya," suamiku menimpali, sambil meneguk air yang baru saja disuguhkan oleh ART.


"Tuh dengar bu, betul itu apa yang dikatakan pak Warjito. Jadi ibu jangan seenaknya saja menghakimi orang lain yang menurut ibu kurang baik," nasihat pak Sukarta kepada istrinya sambil menepuk-nepuk pundaknya. Kami terus bercerita panjang lebar hingga akhirnya papa Galih pun pamit untuk melanjutkan perjalanan kedesa Padang Gatah, untuk mengundang pak Sasmito sekalian aku mau pesan belut untuk dibuat oseng belut pedas kesukaan Fira, dia pasti akan senang.


Sekitar jam satu siang aku dan suamiku mampir dimasjid desa Padang Gatah untuk menjalankan shalat zuhur. Selesai shalat kami segera menuju rumah pak Sasmito abah Zahra, lelaki yang telah menolakku menjadi besanku.


"Bapak dan ibu itu siapa ya, rasanya saya kok baru ketemu?" tanya pak Sasmita saat kami bertamu dirumahnya.


"Silakan pak, bu diminum airnya, ini cemilannya juga seadanya, oh... ibu sama bapak ini orang tuanya Galih suaminya Fira. Itu abah, Galih yang dulu melamar Zahra tapi abah tolak Terus, " ujar ibu Markonah mengingatkan suaminya.


"Iya betul itu pak, Galih yang melamar Zahra sebanyak tiga kali dan sampai ketiga kalinya bapak tolak terus," sahutku tidak sabar menunggu yang lain bicara. kami semua lantas tertawa ingat masa-masa itu.

__ADS_1


"Ya soalnya kan saya sudah janji mau menikahkan Zahra sama anaknya pak Sukarta sahabat saya dari kecil. Lagian Zahra juga tidak pernah bilang kalau dia mencintai Galih. Kalau ditanya soal jodoh selalu jawabannya, terserah abah saja mau dinikahkan sama siapapun, begitu katanya, padahal saya tahu sebenarnya Galih juga pemuda yang baik dan mandiri," ungkap pak Sasmito.


"Ya mungkin mereka tidak berjodoh ya..pak, soalnya si Zahra kelewat nurut sama orang tua hingga dia tidak berniat memperjuangkan cintanya. Sedangkan si Galih kelewat mandiri, setiap melamar Zahra selalu sendiri, enggak pernah bilang sama papa dan mamanya, kalau dia bilang kan saya bisa bantu nego sama pak Sasmito. Tahu-tahu dia patah hati karena lamarannya ditolak dan itu berlangsung hingga tiga kali pak ha.... ha... " seloroh suamiku seraya tertawa dan diikuti yang lain pun ikut tertawa.


"Mungkin mereka memang ditakdirkan tidak berjodoh ya bu!.., tidak ada yang perlu disesali. Lagian mereka sudah sama-sama mempunyai pendamping hidup yang terbaik buat meraka," bu Markonah menimpali sembari menyuap potongan pisang goreng ke mulutnya


"Betul itu bu, toh...tanpa harus jadi besan kita tetap bisa menjalin silaturrahmi, karena tidak jadi berbesan dengan saya pak Sasmito dan bu Markonah jadi besannya pak sukarta dan bu Wajirah dan saya jadi punya besan bu Dinda dan pak Langit yang kemarin beli belut kesini itu, "ucapku menyahut.


"Mama, jangan lupa beli belut, pak kami kasini sekalian pesan belut lima kilo. untuk menyambut menantu kami. Kebetulan Fira suka sekali sama belut dimasak pedas, " ucap suamiku.


Setelah ngobrol panjang lebar diselingi canda dan tawa akhirnya, kerena hari sudah menjelang sore kami pun pamit untuk pulang. Sebelum pulang pak Sasmito menangkapkan kami belut terlebih dahulu. Kemudian kami pun berpamitan kepada mama dan abah Zahra.


"Maaf ya bu, pak kalau selama disini ada kata-kata saya dan suami saya yang kurang berkenan dihati ibu dan bapak Sasmito, soalnya saya dan suami saya ini paling suka bercanda, kalau enggak bercanda kaya kurang akrab dan kurang pas, " ucapku pada pak Sasmito dan ibu Markonah.


Tepat pukul tiga sore kami meninggalkan rumah ibu Markonah dan pak Sasmito. Rencana selanjutnya kami akan mampir ke rumah kak Rupiah dan Dodo, selanjutnya kerumah Tini dan Tono. Mereka semua pun menyambut gembira kehamilan Fira.

__ADS_1


Kini semua undangan telah kami undang termasuk tetangga dan warga desa Mentereng.


********


__ADS_2